
"Selamat pagi dunia ...." Seorang gadis mungil berseragam putih abu-abu berteriak dengan lantangnya. Kedua kakinya yang pendek berpijak pada pedal motor ojek online yang ia pesan. Kepalanya menengadah dengan kedua tangan yang bertumpu pada bahu tukang ojek, menikmati semilir angin yang membelai ujung rambutnya yang panjang.
Crescencia Calya, begitulah nama yang tertera pada name tag di seragamnya. Gadis itu tersenyum merasakan angin yang segar seolah tidak ada polusi. Kedua mata bulatnya terus memerhatikan jalanan yang tidak terlalu ramai.
"Mbak, jangan berdiri terus, nanti bisa jatuh."
Entah ke berapa kali bapak tukang ojek itu memperingatkan dirinya untuk duduk. Namun dasar gadis bebal, Crescencia justru semakin mengembangkan senyumannya.
"Tidak apa, Bapak. Icha pernah juara satu jalan di atas tali sirkus!" jawab Crescencia enteng.
"... dalam mimpi tapi, hehe," imbuhnya dengan cengiran. Bapak ojek itu hanya bisa mengembuskan napas lelah, lantas menggelengkan kepalanya. Sangat tidak mengerti melihat kelakuan penumpangnya yang satu ini.
"Halo ... selamat pagi, Bapak!" Crescencia tersenyum ramah ke arah seorang lelaki berkumis tebal dengan jaket hitam yang tengah mengendarai motornya.
Orang itu menoleh ke arah Crescencia dengan wajah bingung di balik kaca helmnya. Namun tak urung, kepalanya mengangguk kecil.
Crescencia tersenyum lantas mengedarkan pandangan ke arah pengendara lain.
"Selamat pagi, Kakak ...!" Senyuman Crescencia kini tertuju pada dua orang perempuan yang ada di atas motor. Sontak keduanya langsung mengarahkan pandang dengan raut bingung. Dapat Crescencia lihat perempuan yang ada di boncengan tengah tersenyum geli melihatnya.
Motor yang ditumpangi Crescencia berhenti karena lampu lalu lintas berganti warna merah. Angka 60 detik berjalan mundur terpampang di atas sana.
"Halo ... Adek!" Crescencia melambaikan sebelah tangannya ke arah anak kecil berbando merah muda dengan pipi gembul yang sangat menggemaskan. Anak itu duduk di antara kedua orangtuanya.
Ketiganya langsung menolehkan pandang ke arah Crescencia dengan sedikit terkejut, terkecuali anak kecil yang berusia sekitar satu tahun justru menatapnya dengan datar.
"Om, Tante, anaknya lucu banget. Cantik kayak Icha. Doain, semoga Icha nanti juga punya anak selucu anak Om dan juga Tante, ya!" Sebelah tangan Crescencia terulur untuk membelai pipi gembul anak itu.
Ibu dan ayah anak itu terkekeh geli mendengarnya.
"Aamiin, kamu juga cantik." Ibu dari anak itu menjawab ramah sekali.
Dahi wanita itu mengernyit melihat tingkah Crescencia yang masih berdiri di atas pedal. Terlebih melihat tubuh Crescencia yang terbungkus seragam putih abu-abu.
"Hati-hati, kamu bisa jatuh kalau terus berdiri seperti itu," peringat wanita itu sedikit khawatir.
"Oh, tenang, Tante! Icha pernah juara satu jalan di atas tali sirkus!" jawab Crescencia dengan bangganya.
Kedua mata wanita itu kian membulat terkejut. Mulutnya hendak berucap kembali, namun terhalang oleh lampu lalu lintas yang sudah berubah warna menjadi hijau.
Crescencia semakin mengembangkan senyumnya. Perasaan sedihnya akibat harus pindah dari kota kelahirannya terhapus sudah. Ternyata, Kota Malang tidak buruk juga. Bahkan orang-orangnya sagat ramah. Meskipun dirinya harus jatuh sakit selama satu minggu karena beradaptasi dengan suhu Malang yang dingin.
"Selamat pagi adek ..., selamat pagi Kakak ..., selamat pagi Tante ..., selamat pagi Om ..., selamat pagi pohon, rumput ... selamat pagi semuaaa ...." Di sepanjang perjalanan, mulut Crescencia tak hentinya untuk mengucapkan selamat pagi pada objek yang dilihatnya. Bahkan tubuh mungil Crescencia bergoyang ke sana ke mari, membuat motornya sedikit oleng.
"Mbak, jangan gerak-gerak, motornya ikut oleng."
Bukannya diam, Crescencia justru tertawa lebar dan semakin menggoyangkan tubuh mungilnya. Membuat Bapak tukang ojek langsung berteriak panik dengan mulut yang terus bercerocos agar Crescencia menghentikan aksi gilanya.
"Mbak, Mbak, udah, Mbak! Nanti bisa kecelakaan!"
Crescencia tidak menurut. Ia terus menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga motor itu oleng kesana-kemari, membuat kendaraan lain meneriakinya dengan klakson panjang. Crescencia tidak peduli dan terus tertawa. Hingga akhirnya suara pluit mengalihkan fokusnya.
Motor yang ditumpangi
Crescencia digiring untuk menepi dari jalan raya. Crescencia tersenyum, lantas melompat turun dari atas motor.
"Selamat pagi, Bapak Polis ...."
Seorang Polisi berperawakan tinggi, dengan berwajah garang kini menunduk dan melotot ke arah gadis mungil yang tingginya hanya sampai perutnya.
"Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?!" Polisi itu langsung membentak Crescencia yang tengah menengadah tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Mata polisi itu membulat mendengar pernyataan gadis itu. Wajah yang tadi menyala-nyala kini berubah menjadi keterkejutan.
"Pagi," jawab Polisi dengan dingin.
Crescencia kembali tersenyum. Namun polisi di hadapannnya kembali memasang wajah galak.
"Tindakan kamu tadi bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain!" ucap Bapak Polisi dengan penuh penekanan di setiap katanya. Crescencia masih menampilkan senyumnya dan menunggu polisi di depannya untuk melanjutkan amarahnya.
"Tindakan kamu itu bisa mendapat sanksi! Duduklah dengan benar saat berkendara. Paham?!"
"Siap, paham, laksanakan!" Crescencia menghentakkan satu kakinya, lantas berdiri tegap seraya mengangkat tangan kanannya bak tengah mengikuti upacara bendera.
Polisi itu mengangguk lantas menyuruh Crescencia untuk melanjutkan perjalannya. Crescencia tersenyum senang, lantas menulurkan tangan kananya.
"Nama saya Icha, nama Bapak siapa?"
Polisi itu kembali terkejut bukan main. Baru kali ini dirinya memberi teguran kepada si pelanggar lalu lintas, justru mendapat timbal balik yang diluar prediksi. Dengan ragu, dirinya mau tidak mau menerima uluran tangan itu.
"Hendrick."
"Oke, Pak Hendrick." Crescencia terus tersenyum tanpa melepaskan tangannya. "Pak Hendrick, doakan Icha, ya, semoga nanti jodoh Icha seorang polisi tampan seperti, Bapak."
Untuk keterkejutan yang ketiga kalinya. Kini polisi bernama Hendrick itu dibuat melongo. Namun tak hurung, wajah galaknya tadi berubah menjadi lebih lunak. Bahkan bibirnya kini melengkung menampilkan senyuman.
Crescencia melepaskan tangannya lantas kembali duduk di atas motor denagn benar. Sebelum motornya kembali melaju, Crescencia sedikit memutar tubuhnya ke belakang. Mengangkat kedua tangannya lantas mengucapkan salam perpisahan. "Bye-bye, Pak Hendrick!"
Crescencia akhirnya bisa duduk dengan anteng. Namun mulutnya tak henti untuk menyapa siapapun pada pagi yang cerah ini. Hingga akhirnya, motor itu terhenti di depan pagar sekolahnya. Crescencia melompat turun dan melepaskan helmnya.
"Terima kasih, Bapak! Jangan bosan-bosan ya, anterin Icha!" Crescencia tersenyum sangat manis, dengan memberikan helm itu kepada pemiliknya.
"Bosaaan!" Bapak ojek berucap cepat. Cukup sekali dalam hidupnya saja dia mengantarkan gadis itu. Mungkin hari ini dirinya selamat. Tapi tidak untuk lain hari, bisa saja bangun-bangun sudah di alam kubur akibat ulah Crescencia.
Crescencia sedikit cemberut dengan tangan kirinya merapikan rambut yang sedikit berantakan. Sedangkan tangan kanannya terulur untuk membayar biaya transportasi.
"Tapi kalau Icha order lagi, dan dapat nama Bapak, Bapak pasti senang kan ketemu lagi sama Icha yang cantik, imut dan gemesin ini, iya kan?" tanya Crescencia dengan penuh keperyaan diri.
Bapak ojek online langung terbelalak setelah mendengar kalimat mengerikan itu. Kepalanya dengan cepat menggeleng dengan raut penuh ketakutan.
"Kalau dapat, Mbak Icha lagi, saya langsung cancel saja. Daripada mempertaruhkan nyawa saya yang limited edition ini."
Crescencia kembali mencebik, kedua matanya menatap tidak suka.
"Tapi, rezeki tidak boleh ditolak. Nanti dipatok sama cicak!" Crescencia merenggut marah.
"Gapapa, Mbak. Untung-untung sedekah sama ojek online lainnya."
"Aamiin. Icha suka sama orang yang suka bersedekah. Doakan, Icha, ya, Pak. Semoga jodoh Icha nanti orangnya juga suka bersedekah, biar selamat dunia akhirat!"
Bapak itu hanya bisa mengangguk-angguk lantas kembali menghidupan mesin motornya. Sepertinya beliau benar-benar tidak betah berada terlalu lama bersama Crescencia. Sebelah tangan Crescencia melambai, dirinya berteriak melihat kepergian Bapak itu. "Bye-bye Pak Ojek!"
Crescencia memegang tali ranselnya. Sedikit menaikkan tas merah muda yang ada di punggungnya. Kedua kakinya mulai melangkah memasuki gerbang sekolah dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir mungilnya. Karena hari ini adalah hari pertama dia menjadi siswa resmi kelas sepuluh di SMA Amarilis.
...Cast Crescencia (Icha) Gadis mungil nan cantik ini akan menemani jalannya cerita.🤗🌻...