Crescencia

Crescencia
Bab 20



Setelah dua Minggu penuh, Crescencia diperbolehkan untuk pulang. Disusul Dika yang delapan hari kemudian baru boleh pulang. Beberapa Minggu yang lalu, semua teman-teman Crescencia dan bahkan seluruh warga SMA Amarilis geger dan gempar mendengar kabar kecelakaan yang menimpa dirinya. Banyak teman dan guru-gurunya datang berkunjung ke rumahnya untuk mengecek dan menanyai kondisinya.


Beberapa hari kemudian, banyak juga member Black House yang berkunjung untuk menjenguk Dika yang sampai saat ini masih terbaring di kamarnya.


Crescencia masuk ke dalam kamar Dika dengan nampan di tangannya. Crescencia masuk begitu saja. Karena dia tidak mau merepotkan kakaknya yang masih terpincang-pincang untuk membuka pintu.


Dilihatnya Dika tengah mengotak-atik sebuah rubik di tangannya. Crescencia mengambil mangkuk yang telah isi dengan sup buatannya. Lantas duduk di sebelah Dika, membuat kasur dengan seprei biru tua polos itu beringsut turun.


"Kak Dika makan sendiri apa disuapin?" tanya Crescencia. Sementara Dika diam saja. Masih sibuk dengan rubik yang hampir jadi warnanya.


Crescencia mengembuskan napas panjang. Kalau Dika diam begini, tandanya dia harus menyuapi orang yang lagi manja itu. Dan Dika mau-mau saja menerima suapan dari Crescencia. Pasalnya tidak ada lagi orang yang mau merawatnya sekarang. Sialnya lagi, Mira izin pulang kampung karena ada anggota keluarganya yang meninggal.


"Enak gak sup buatan Icha?" tanya Crescencia yang masih telaten menyuapi Dika.


Dika mengunyah pelan makanan itu. Tetap bergeming dengan mulutnya yang tertutup. Bahkan, mengangguk saja tidak.


"Yang sakit itu bada Kak Dika! Mulut Kak Dika seratus persen masih berfungsi buat jawab pertanyaan Icha!" Crescencia jadi kesal sendiri dianggurin seperti ini. Kayak jemuran tetangga yang gak diangkut-angkut pemiliknya.


"Kak Dika itu harusnya bersyukur dan terima kasih dikasih Adek cantik, baik, pengertian, jago masak, pinter--"


"Berisik!"


Kalimat Crescencia terpotong begitu saja kala Dika akhirnya membuka suaranya.


"Giliran ngatain aja bisa nyaut. Pas ditanya baek-baek malah mingkem. Lama-lama Icha tuang sup ini ke muka Kak Dika!" celotehnya kesal betul. Lantas menyuapkan sup terakhir ke mulut kakaknya itu.


Crescencia melamaskan pundaknya. Dia menghela napas. Menatap lurus-lurus kakaknya yang sama sekali tidak melihatnya dari tadi. Luka-luka memar di wajah Dika tidak mengurangi sedikitpun kharismatiknya. Dika benar-benar memesona bagi siapapun yang memandang.


"Untung kita masih selamat ya, Kak." Crescencia bersuara lirih. Tragedi itu sedikit mengguncang pikirannya. Malam itu ... merupakan malam terburuk di dalam sejarah hidupnya.


"Bukannya elo pengen mati?" tanya Dika tanpa repot mengangkat kepalanya.


"Icha tidak mau dilahirkan, bukan berarti Icha mau mati saat itu."


Dika mendesis. Memutar lagi rubik itu untuk menyamakan kelompok warna. "Tidak mau dilahirkan? Tapi faktanya lo lahir kan? Dan itu fakta yang gak akan bisa diubah. Tidak mau dilahirkan berarti sama saja mati. Mati dengan bebas, kapan pun lo mau."


Pipi Crescencia mengeras. Jantungnya berdetak cepat. Dia cukup terkesiap mendengar ucapan Dika yang cukup panjang.


"Tapi Icha gak mau mati dulu, Kak. Mati dengan kehendak sendiri juga dibenci Tuhan. Icha gak mau kalau Tuhan marah sama Icha. Icha juga gak mau Papa sedih. Icha pasti meninggal kok kalau memang sudah waktunya. Icha masih mau ada di sini, bahagiain Papa."


Crescencia merasakan napasnya mulai memberat. Jantungnya berdetak lemah. Wajahnya memanas. Tenggorokannya bahkan seperti ada benda yang mengganjal di dalam sana.


Crescencia menarik napasnya dalam-dalam. Dia menoleh. Menatap kakaknya yang sepertinya berhasil memainkan rubik itu. Bibir Crescencia terbuka dan bertanya irih, "Memang, Kak Dika pingin mati?"


Dika terdiam untuk beberapa saat. Raut wajahnya masih datar tanpa ekspresi. Dika melempar rubik di tangannya ke ujung ranjang. Saat itulah Dika baru mengangkat kepalanya. Menatap lurus-lurus gadis pucat dengan netra hitam miliknya.


"Dari dulu gue pengen mati. Tapi gak mati-mati. Seolah dunia dan Tuhan belum puas lihat gue menderita."


"Kak Dika, Minggu depan kan ujian akhir semester, Kak Dika juga masih punya utang kna ujian sama guru-guru lain? Kak Dika belajar ya, biar bisa naik kelas terus cepat lulus deh ...." Crescencia meletakkan mangkuk ke atas meja. Lantas mengambil gelas yang telah ia isi air putih. Meminumkannya ke dalam mulut Dika.


"Terus, utang ujian yang belum Kak Dika ambil apa?" Crescencia bertanya lagi setelah Dika selesai menegak minumannya.


"Kimia."


"Aduh, kok kimia sih! Ngebul otak Icha lama-lama. Baru sembuh juga disuruh mikir rumus-rumus!" keluh Crescencia dengan malas. Namun tak urung beranjak mengambil buku kimia kakaknya yang berada di meja belajar. Tidak, tidak, meja kotor dengan banyak barang berceceran, bahkan berdebu seolah tidak pernah dipakai itu tidak cocok untuk disebut meja belajar.


"Kak Dika yang kemarin-kemarin sudah paham kan?" Crescencia bertanya cemas. Tidak mungkin dia menjelaskan mulai dari materi awal. Bisa-bisa bibirnya keriting duluan.


"Hmm." Hanya jawaban dingin, singkat dan menyebalkan yang keluar dari mulut Dika.


Crescencia mengembuskan napas panjang. Tangannya sudah siap dengan pulpen dan kertas buram. Gadis itu duduk menghadap Dika yang kini menurut.


"Icha mulai dari yang ini." Crescencia mulai menjelaskan. Dika menyimak penuh konsentrasi. Sesekali anak itu juga mengumpat kesal saat penjelasan Crescencia kurang dimengerti oleh otaknya. Jelas saja Crescencia tidak tinggal diam. Gadis itu balas memarahi Dika layaknya seorang guru pada muridnya. Crescencia benar-benar harus ekstra sabar membantu Dika belajar, walaupun mau mengulang penjelasan sebanyak dua sampai tiga kali, sampai kakaknya itu benar-benar paham.


"Nah, yang ini, semua x dikeluarkan dulu. Baru dimasukkan angka-angkanya. Baru dibagi dua semuanya. Ingat rumus yang sudah Icha buat sesederhana mungkin."


Dika mengangguk-angguk. Di tengah-tengah ajarnya, Crescencia tiba-tiba menahan napasnya yang mencekik tenggorokan. Sepasang mata bulat anak itu mengerjap kala jarak pandangnya memburam. Bibir Crescencia mengeluarkan rintihan kecil merasakan sesuatu yang seolah menggerogoti kepalanya. Rasanya sakit sekali sampai dia harus menutup kedua matanya.


Dika mengangkat kepalanya saat suara Crescencia menghilang. Menatap lurus-lurus gadis yang kini menunduk. Telinga singa menangkap ringisan halus dari gadis itu. Sepasang mata Dika melebar sempurna saat Cairan merah menetes dari lubang hidung Crescencia. Jatuh begitu saja membasahi buku paket kimia yang berada di pangkuan Crescencia.


"Hei! Lo mimisan!" kata Dika sedikit berteriak. Cukup panik melihat darah Crescencia yang jatuh semakin cepat.


Crescencia menyingkirkan buku itu dari tubuhnya. Menyembunyikan hidung dan dagunya menggunakan telapak tangan. Crescencia berlari secepat mungkin menuju toilet yang berada di sebelah kamar Dika. Crescencia langsung membasuh wajahnya. Mengabaikan rambut berserta sebagian pakaiannya basah begitu saja.


Tubuhnya beringsut turun dengan kepala yang menengadah. Lagi-lagi matanya terpejam. Merasakan sesak di dada dengan napas yang mulai sukar untuk terembus. Gadis itu masih merasakan darah yang keluar dan mengalir hingga lehernya. Crescencia membiarkan itu. Sudut matanya mulai berair merasakan sakit yang menggerogoti seluruh tubuhnya.


Hampir setengah jam lebih Crescencia duduk di lantai toilet yang dingin. Setelah merasa sakitnya cukup pudar, dan darah yang tak lagi mengalir, Crescencia mulai bangkit dengan perlahan. Kembali mencuci wajahnya serta membersihkan noda darah di pakaiannya. Dia baru teringat jika sudah melewatkan jam minum obat.


Dika membisu di kamarnya. Kedua tangannya terkepal. Merasakan dingin yang menyerang kakinya. Sudah dua kali dia melihat gadis itu mimisan. Apa karena ini semua karena dirinya? Karena beban-beban buku tugas tahi kucing itu? Sepertinya memang dia sudah keterlaluan. Walau bagaimanapun, gadis itu pasti merasakan lelah.


Kepala Crescencia mendongak. Menatap lurus-lurus pantulan dirinya di dalam cermin. Melihat dengan jelas wajahnya yang pucat, bibirnya yang kering, serta sorot mata yang semakin redup. Crescencia juga merasakan tubuhnya semakin kurus dan mudah lelah. Crescencia mengembuskan napas panjang. Kepalanya menunduk. Dia bahkan tidak tega melihat kondisinya sendiri.


Detik itu juga, netra matanya melebar cepat saat mendapati luka-luka mirip sebuah memar kebiruan di beberapa area lengannya. Padahal, kemarin tidak ada memar apapun di tangannya.Crescencia melangkah mundur. Napasnya langsung tercekat di tenggorokan. Sepasang matanya memanas dengan rasa takut luar biasa langsung menyerang kepalanya.


"Icha kenapa ...." Gadis itu bertanya pada diri sendiri. Air matanya langsung jatuh mengalir membasahi pipinya.


Crescencia semakin menelisik setiap tubuhnya. Luka lebam dan memar itu tak hanya menyerang tangannya saja, paha kanannya juga terdapat luka itu. Tidak besar, namun membuat dada Crescencia semakin tertusuk.


Kaki Crescencia melangkah mundur. Bibirnya ia paksakan untuk tersenyum kelu. Walau bagaimanapun ia berusaha, sekeras apapun ia menolak, dan se eogis apa dia dengan inginnya, lambat laun, tubuhnya ini memang akan roboh dengan perlahan. Dia tidak akan bisa lari untuk menghindar dari rasa sakit yang setiap detiknya terus menggerogoti sel-sel yang akan melumpuhkan tulang-tulangnya.


Punggung Crescencia meluruh lagi. Lantai dingin itu kembali terasa di kedua telapak kakinya yang telanjang. Crescencia Menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya yang bergetar. Membiarkan helai rambut hitam panjangnya menjuntai begitu saja. Kedua bahunya mulai berguncang. Crescencia ... gadis itu menumpahkan tangis di dalam ruangan dingin dengan tetes-tetes air yang berjatuhan dari keran menjadi saksi bisu penderitaannya.


...°°°...