Crescencia

Crescencia
Bab 22



Selepas kejadian itu, terdengar sebuah pengumuman dari setiap penjuru sekolah, jika hari ini sekolah terpaksa dipulangkan. Padahal sekarang masih pukul sembilan kurang. Dan kabar itu langsung disambut meriah oleh seluruh warga sekolah. Bahkan, mereka sempat bertanya-tanya mengenai kabar mendadak ini. Pasalnya, SMA Amarilis jarang sekali pulang pagi.


"Serius nih dipulangkan? Ada apasih emang?" Ara bertanya pada Crescencia. Kupingnya cukup sakit mendengar kehebohan teman-teman kelasnya. Semuanya senang bukan main.


"Icha juga gak tahu, Ra. Padahal Icha juga baru aja masuk sekolah," jawab Crescencia seraya bangkit dari tempat duduknya. Beberapa teman kelasnya pun sudah meninggalkan kelas.


"Woy! Kalian berdua mau langsung pulang apa?" Nando menghampiri. Dia memang bertanya pada Ara dan Crescencia. Namun sorot matanya hanya menatap Crescencia.


"Iya," jawab Crescencia. Dirinya langsung menunduk untuk menghindari kontak mata dari Nando.


"Main dulu yuk! Masa pagi-pagi gini mau langsung pulang sih..."


"Nah, bener tuh, Cha!" sahut Ara. "Gimana kalau kita makan bakso di Jalan Palapa?" imbuh Ara mengusulkan.


"Hmm, kayaknya Icha gak bisa ikut deh..., Lain kali aja ya. Soalnya Icha harus cek up hari ini. Maaf yaa...." kata Crescencia tidak enak hati.


"Yah ...." Ara tampak kecewa.


"Lain kali deh, Icha ikut. Gimana kalau Ara sama Nando aja yang beli baksonya?"


Ara menatap Nando yang juga tengah menatapnya. Namun segera ia panglingkan menatap Crescencia. Kepala Ara menggeleng kecil. "Gak usah deh, Cha. Kita nunggu lo ikut aja. Yaudah, lain kali deh."


"Yah, kok gitu...." Crescencia mencebikkan bibir bawahnya.


"Gapapa kita berdua aja, Ra," kata Nando kemudian.


Mendengar itu, membuat kepala Ara langsung menegak. Kedua matanya membulat menatap Nando tidak percaya.


"Lo gak keberatan kan jika jalan berdua sama gua?" tanya Nando. Sementara Ara justru menelan salivanya. Tenggorokannya terasa kering dalam seketika. Kedua tangannya bahkan meremas-remas sisi rok seragamnya.


"Eng-enggak papa," jawab Ara dengan gugup. Jantungnya langsung berpacu lebih cepat. Dia sama sekali tidak percaya jika Nando mengajaknya jalan berdua. Sudut bibir Ara tersenyum senang. Ini adalah pertama kalinya jalan berduaan dengan Nando. Keinginannya dari dua tahun yang lalu, yang ia kira hanya mimpi itu, ternyata terkabulkan hari ini.


Crescencia tersenyum senang. Ia melemparkan senyum hangat pada Nando. Dibalas anggukan kecil dari laki-laki itu.


"Yaudah, kalau gitu, Icha pulang duluan ya..., Kalian berdua yang akur. Jangan cekcok terus!" kata Crescencia dengan tawa kecil di ujung kalimatnya.


"Yoi! Hati-hati!" Seperti biasa, Nando mengacak lembut kepala Crescencia. Gadis itu pun melangkah pergi dari sana. Ara menatap punggung Crescencia yang semakin menjauh. Entah mengapa, dirinya dibuat gugup dan tidak tenang jika ditinggalkan berdua saja dengan Nando.


Sementara Nando terus menatap tangan kanannya. Kepalanya mendongak melihat tas merah muda yang telah menjauh. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.


"Ndo ..., Jadi jalan?" tanya Ara. Kepalanya masih menunduk. Merasakan debaran jantungnya yang kian kuat.


Nando menggenggam tangan kanannya. Memasukkan sesuatu di kantung seragamnya. Kepalanya mengangguk, kemudian melangkah  dan diikuti oleh Ara di sebelahnya.


Keduanya sama-sama bungkam. Ara sendiri bingung mau bicara apa lagi. Dia dibuat mati kutu jika sudah berhadapan dengan Nando. Sesekali, Ara melirik orang di sebelahnya. Bibirnya terus menyembunyikan senyumannya. Merasakan panas yang menjalar di kedua pipinya.


Sementara pikiran Nando terus menggerayangi Crescencia. Entah mengapa dirinya merasa jika anak itu tidak dalam kondisi baik. Keduanya terus melangkahkan kaki menelusuri Jalan Palapa yang rindang. Menikmati ramainya kota di pagi hari ini. Karena memang ada sesuatu yang ingin Nando sampaikan kepada gadis yang telah menyukainya sejak lama. Sedikit merasakan takut akan melukai hati gadis itu. Namun, bagaimana pun, dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Dia juga tidak mau menerima Ara hanya karena belas kasihan. Dan semoga saja Ara mengerti, sehingga pertemanannya tidak menjadi runyam.


Keduanya sampai di warung bakso sederhana. Mereka pun melangkah masuk ke dalam warung tersebut. Tidak begitu ramai, hanya diisi beberapa siswa dari sekolahnya dan orang berpakaian bebas yang terlihat antre di depan sana. Nando menarik napas dalam-dalam. Mencoba merangkai kata-kata di dalam pikirannya untuk menyiapkan diri berkata yang sejujurnya pada gadis itu.


Setelah memesan bakso, keduanya langsung duduk berhadapan di salah satu meja yang memang dikhususkan untuk dua orang. Nando menggenggam sendok dan garpu di tangannya. Menatap lurus-lurus Ara yang mulai melahap baksonya.


Nando menarik napas dalam, lantas mengeluarkan dengan perlahan. Merasakan gejolak aneh yang sedari tadi mengobrak-abrik perasaannya. Dia jadi gak enak hati pada gadis itu. Namun, bibir tipisnya mulai terbuka dan bersuara,


"Ra ...." panggil Nando menegur anak itu. Kepala Ara otomatis terangkat dengan mulut yang masih mengunyah baksonya pelan.


"Gua mau ngomong sesuatu sama lo," lanjut Nando tanpa menunggu lama. Ara terdiam. Menatap lekat-lekat lawan bicaranya. Sisa makanan di mulutnya ia telan dengan cepat. Tubuhnya terasa panas dingin dan membeku.


"Sebenarnya, gua tahu lo suka sama gua udah lama Ra ...." Nando berkata parau. Dia memang tidak suka berbasa-basi.


Ara tertegun. Detak jantungnya serasa terhenti saat itu juga.


"Gua udah coba buka hati buat lu, Ra. Tapi ... Gua bisanya nganggep lu cuma temen."


Ara menundukkan kepalanya. Matanya mulai memanas. Dadanya sesak dan sakit sekali.


"Gua minta maaf, Ra. Maaf gua belum bisa balas perasaan elu...."


"Gua minta maaf banget Ra..., lo pasti paham kan sama siapa orang  gua suka sekarang?"


Ara menutup bibirnya rapat-rapat. Air matanya telah turun sejak tadi.


"Jangan nangis ...." pinta Nando melihat bahu Ara yang semakin bergetar. Bukannya berhenti, tangis Ara justru semakin deras dan kini terdengar isakan yang keluar dari mulutnya.


"Gimana gue gak nangis. Orang perasaan gue ditolak, kok!" kata Ara di sela tangisnya. Anak itu mengangkat kepalanya. Menunjukkan wajah dan hidungnya yang memerah. Seketika itu, Ara tertawa kecil dengan menghapus air matanya. Namun, tidak lama anak itu menangis lagi.


"Hahaha. Nangis aja dulu gapapa. Gua tahu kok perasaan lu sekarang. Lu pasti kecewakan? Tapi maaf Ara, gua juga gak bisa bohongi perasaan gua sendiri." Nando sedikit tertawa. Namun senyumannya justru terlihat seperti ringisan. Dia pun merasakan perih yang menyayat-nyayat dadanya.


Ara menundukkan kepalanya lagi. Mencoba menetralkan tangsinya, namun justru semakin terisak-isak. Nando tidak peduli lagi tatapan orang-orang yang kini menatapnya penuh menyalahkan. Fokus matanya terus menyorot Ara dengan ketidaktegaaan.


Hampir dua puluh menit ia menunggu Ara sampai benar-benar tenang. Bahkan, baksonya belum ia sentuh sama sekali. Karena tujuan utamanya datang ke tempat ini hanya untuk mengatakan itu.


"Lo gak usah minta maaf, Ndo...." Ara menghapus bercak air matanya. Suaranya terdengar serak karena sesegukan kecil masih keluar di mulutnya. Ara mengangkat kepalanya. Tidak peduli dengan wajahnya yang kini pasti berantakan.


"Lo gak perlu minta maaf. Karena lo gak salah. Gue paham kalau perasaan gak akan bisa diatur, Ndo. Gue suka sama elu, bahkan gue sayang sama lu, tapi gue gak minta lu balas perasaan gue, kok...."


"Bohong. Tapi lu sakit hati kan kalau gua suka sama orang lain?"


Ara menunduk. Dadanya terasa nyeri dan sesak. Seolah batu besar menghimpit paru-parunya. Ara mengambil napas banyak-banyak. Kemudian mendongak lagi. Menatap lekat-lekat netra hitam Nando.


"Siapa yang gak sakit hati sih lihat orang yang kita suka justru suka sama orang lain?" balas Ara dan tersenyum kelu.


"Tapi tenang aja. Gue bahagia kok kalau lu bahagia, Ndo. Gue gapapa. Gue ngerti. Lo gak usah mikirin perasaan gue. Tapi, izinin gue buat nyimpen perasaan gue ke elo ya, Ndo...." pinta Ara penuh harap.


Nando mengembuskan napasnya panjang. Meletakkan sendok dan garpu di tangannya ke atas mangkuk yang telah cukup dingin.


"Tapi bukannya malah nyakiti perasaan lo, Ra? Terlebih gue suka sama sahabat lo sendiri?"


Ara tersenyum. Kepalanya menggeleng kecil. Senyuman yang terlihat tulus itu justru membuat dada Nando semakin terasa sesak.


"Sama sekali enggak Ndo. Kasih gue kesempatan biar puas-puasin suka sama elu. Nanti kalau udah capek, gue mundur sendiri kok. Tapi selama itu juga, gue gak maksa elu suka balik sama gue. Tenang aja, Ndo, gue bisa nguasai perasaan gue sendiri kok. Lu gak keberatan kan, Ndo?"


Lagi-lagi Nando terlihat mengembuskan napas berat. Anak itu sedikit menimbang-nimbang permintaan Ara. Namun, melihat sorot matanya yang memeles membuat tubuhnya lemas dan merasa tidak tega.


"Yaudah deh, terserah elu. Tapi, gua gak nanggung ya kalau lu sakit hati lihat gua manis-manis sama Icha. Gua gak tega aja kalau lu sampai nangis-nangis di pojokan. Yang penting udah gua kasih tahu loh...."


"Dih! Ngapain juga gue nangis-nangisin elu. Kurang kerjaan apa! Pacar bukan, Abang bukan, suami bukan! Jangan kepala gede deh. Mentang-mentang gue suka sama elu juga. Gue gak segila itu ya orangnya! Lu pikir gue cewek apaan!"


"Hahahaha." Nando tertawa melihat kekesalan dalam diri Ara. Dia merasa lega mendengarnya. Ara memang gadis yang cukup dewasa pemikirannya.


Melihat Nando tertawa, membuat Ara turut mengembangkan senyumannya. Ia juga merasa lega jika Nando telah mengetahui perasaan yang sebenarnya.


"Yaudah, sekarang makan dah baksonya. Keburu gak enak," kata Nando.


"Yee, udah kagak enak emang. Kuahnya udah dingin!" balas Ara yang sudah tidak tertarik lagi dengan baksonya.


"Elu sih pakai segala drama nangis! Gua kan jadi nungguin!"


"Siapa juga yang nyuruh lu nungguin gue  nangis! Lo sih resek buat gue nangis!"


"Yaudah, iya dah. Gua salah iya. Maap-maap!" jawab Nando dengan pasrah.


"Dari tadi maap-maap mulu! Lo kira lagi lebaran?!"


"Eh, busettt! Salah mulu gua jadi cowok!"


"Ya emang, itu kan emang nasib cowok disalahkan mulu!"


Nando memberengut. Kemudian tertawa keras.


"Hahahaha." Keduanya langsung mengeluarkan tawanya. Membuat orang-orang di sekitarnya menatap mereka dengan heran.


Kedua remaja itu kini dapat mengerti satu sama lain. Dan ternyata menang benar adanya, cinta tidak selalu dapat dimiliki. Setidaknya kalimat memberi tanpa menerima itu benar. Meskipun ada rasa sakit yang menggores hati, namun itulah makna dari kata mencintai yang sesungguhnya. Dimana mencintai dengan penuh ketulusan, tanpa mengharapkan sebuah imbalan.