
"Selamat pagi, Pak Bagas...," sapa
Crescencia dengan riangnya.
Bagas, satpam sekolah yang masih berkepala tiga itu langsung menoleh menuju asal suara yang sudah tidak asing lagi dalam waktu satu minggu ini.
"Pagi juga, Icha," jawab Bagas.
Crescencia tersenyum senang. Di sepanjang langkahnya menuju kelas, anak itu menyapa siapapun yang berada di dekatnya. Walaupun ini hari pertama Crescencia sebagai murid resmi SMA Amarilis, namun nama anak itu telah tersohor se antro sekolah. Khususnya para murid baru.
"Icha ...!"
Crescencia langsung menoleh saat namanya dipanggil seseorang. Kini senyumannya melebar, menampilkan sederet gigi putihnya yang rapi. Ara, salah satu teman kelasnya berlarian kecil menghampiri.
"Pagi, Ara," sapa Crescencia saat teman satu kelasnya itu sudah berada di sebelahnya.
"Pagi juga, Cha!" jawab Ara sedikit menunduk karena tinggi badan Crescencia hanya sebatas bahunya.
"Udah berapa orang lo ucapin selamat pagi?"
"MMM..." Crescencia terlihat mengingat-ngingat. Bahkan kesepuluh jarinya mulai bersiap untuk menghitung. Hampir dua menit anak itu menarik turunkan jarinya dan akhirnya menjawab, "Enggak tahu Ara. Icha lupa."
Ara tertawa renyah. Kepalanya menggeleng kecil melihat temannya itu. Dan tanpa terasa, keduanya kini telah sampai di dalam kelas.
"Selamat pagi ...." sapa Crescencia pada seluruh teman kelasnya yang belum penuh.
"Selamat pagi, Icha ...." Seisi kelas kompak menjawab salam dari gadis super ceria dari masa MOS.
Crescencia tersenyum senang, lantas duduk di bangku nomor tiga dari belakang. Di sebelahnya ada Ara yang Crescencia pinta untuk jadi teman bangkunya.
"Hai, Cha!"
Crescencia menoleh menyambut kedatangan sumber suara. Namun detik itu juga matanya membulat dengan mulutnya yang hanya bisa mengeluarkan gumaman. Nando, orang yang sedari MOS memang gemas dengan pipi gembul milik Crescencia itu kini memainkan pipi Crescencia bak mengaduk sebuah adonan.
"Dho, lephashin!"
Nando terkekeh. Begitupun dengan teman kelasnya yang ikut tertawa. Nando melepaskan bekapan tangannya, namun kedua jari telunjuk dan jempol Nando kini saling mengapit kedua sisi pipi Crescencia dengan gemas.
"Dho, sahkhit. Lephas."
Nando kian terkekeh melihat raut wajah Crescencia yang meringis. Ia melepas kedua tangannya dari pipi Crescencia lantas mengacak rambut anak itu gemas.
Bibir bawah Crescencia maju beberapa senti. Kedua tangannya mengusap pipinya yang terasa panas. Mata bulatnya menatap Nando dengan pandangan tidak suka.
"Nando gak boleh pegang-pegang pipi Icha lagi! Ini namanya penganiayaan anak di bawah umur! Pipi Icha sakit tahu di jewer ke sana-kemari! Emangnya pipi Icha squishy!" celoteh Crescencia dengan wajah menekuk dan bibir yang kian mengerucut.
Nando dan beberapa teman kelasnya yang melihat ekspresi Crescencia kian tertawa lebar. Benarkah yang masuk di kelasnya kini gadis berusia lima belas tahun? Atau anak TK yang tersesat masuk di kelas sepuluh IPA-3? Entahlah, mereka semua hanya bisa geleng-geleng kepala dengan menahan gemas melihat teman barunya itu.
"Awas ya kalau Nando nakal lagi! Icha gantung leher Nando di pohon cabe!" tegas Crescencia dengan wajah galaknya. Namun bukannya takut, Nando justru tertawa sejadi-jadinya. Benar-benar terhibur dengan wajah menggemaskan milik Crescencia.
"Iya-iya, gak lagi," ucap Nando dengan membentuk tangannya sebagai tanda peace. "Tapi kalau keulang lagi, berarti gue khilaf."
"Nando! Khilaf itu gak boleh keseringan! Nanti kalau pantat Nando digebok malaikat, Icha gak tanggung jawab loh," Crescencia berucap serius dengan wajah yang terlihat meyakinkan.
Nando tertawa gemas dengan mengangguk-anggukkan kepala menurut. Semua orang yang mengerubungi Crescencia mulai beranjak menuju bangkunya masing-masing saat guru wanita muda melangkah memasuki kelas.
Seperti pada sekolah biasanya, hari pertama masuk hanya diisi dengan perkenalan diri masing-masing. Dan kini giliran Crescencia yang dipersilahkan untuk mengenalkan diri. Suara riuh tepuk tangan menggelegar menyambut Crescencia, seolah Crescencia kini tampil dalam ajang perlombaan.
"Haiii, semuaaa ...." ucap Crescencia mengawali perkenalannya. Sapaan ceria itu langsung dijawab oleh warga kelas dengan senyuman.
"Perkenalkan, nama aku Crescencia Calya. Biasa dipanggil Icha. Soalnya kalau Crescencia lidahnya suka muter. Jadi, gampangnya panggil Icha saja tidak apa. Icha baru saja pindah dari Jakarta ke Malang karena Papa Icha dipindahtugaskan di sini. Icha berharap, kita semua bisa berteman baik hingga kakek-nenek dan bercucu!" Crescencia tersenyum lebar mengakhiri perkenalannya yang berbeda dari yang lain.
Guru muda itupun menahan tawa melihat perkenalan diri yang seperti itu. Beliau pun menyuruh Crescencia kembali ke tempat dan bergantian dengan yang lain.
...🌹...
^^^ ^^^
Suara canda dan tawa menggelegar di area kantin yang terlihat cukup ramai. Saat ini Crescencia dan sebagian teman kelasnya duduk berkelompok pada satu meja panjang yang ada di sana.
Crescencia melahap roti sandwich yang ia bawa dari rumah. Sementara yang lainnya kompak membeli bakso panas dari stan Buk Yul. Pada pertengahan makannya, Crescencia dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di depan mejanya dengan memanggil namanya.
"Kamu ... Icha, kan?"
Semua orang yang satu meja dengan Crescencia langsung mendongak menatap seorang cowok dengan bad bewarna hijau, menandakan bahwa cowok itu masih kelas sepuluh, sama dengan dirinya.
"Iya, aku Icha," jawab Crescencia ramah seusai menelan makanannya.
"Perkenalkan, aku Galang. Siswa kelas sepuluh IPA-3." Galang menjulurkan tangan kanannya, dibalas langsung oleh Crescencia dengan senyuman.
"Iya, Galang. Ada apa?" Crescencia bertanya sedikit bingung. Apalagi tangan Galang barusan terasa sangat dingin. Crescencia menatap kulit wajah Galang yang terlihat tegang dan pucat.
"Aku ... suka sama Icha saat pertama kali lihat Icha pas MOS kemarin."
Seluruh orang yang mendengar pengakuan siswa bernama Galang itu langsung cengo dengan mulut yang menganga. Bahkan, sesaat suasana menjadi sehening kuburan.
"Galang suka sama Icha?" tanya
"Iya, aku suka sama Icha. Boleh minta nomor ponsel kamu?" Galang menyodorkan ponselnya dengan sangat gugup. Bahkan ponselnya kini basah karena keringat di tangannya yang membanjir. Suasana kantin yang mendadak hening kini lebih terasa hening. Bahkan mereka yang menyaksikan adegan langka itu menahan napasnya.
Crescencia tersenyum lantas menggeleng kecil. "Gak perlu minta nomor ponsel Icha. Kalau Galang suka sama Icha, yasudah ayuk kita pacaran!" seru Crescencia ceria.
"Hah?!" Galang tersentak dengan muka cengo. Begitupun seluruh teman-temannya langsung menganga lebar mendengar ucapan Crescencia yang sangat frontal dan tanpa pemikiran panjang.
"Galang suka kan sama Icha?" tanya Crescencia memastikan. Galang menganga. Kepalanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Kalau gitu kita pacaran, Galang!" ucap Crescencia gemas. Ara yang berada tepat di samping Crescencia langsung menatap temannya itu dengan pelototan. Kalau saja dia sudah berteman lama dengan Crescencia, bisa dipastikan Ara akan memukul kepala belakang Crescencia dengan sangat keras.
"Pa-pa-pap-pacaran?" Galang menyahut dengan gagap. Dadanya kian terasa sesak, seolah udara sukar memasuki paru-parunya.
Crescencia mengangguk mantap dengan menampilkan senyum manis di bibirnya. Membuat pipi tembemnya semakin terlihat mengembang.
"Kan Galang suka sama Icha, yasudah kita pacaran. Karena cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit, Galang." jelas Crescencia mantap.
"Se-se-serius? Kita pacaran?!" Galang terlihat heboh dengan kedua matanya yang terbelalak. Dada dan perutnya kini terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu yang siap berterbangan.
"Serius, Galang. Kita sekarang pacaran," kata Crescencia penuh kesabaran menjawab pertanyaan Galang yang terus berulang-ulang.
Brakk!
Suara gebrakan keras mengagetkan semua orang. Kini pandangan mereka semua langsung tertuju pada Nando yang sudah berdiri tegap dengan pandangan melotot kesal menatap Crescencia.
"Icha ...! Lo udah gila?!" Nando berteriak dengan mata yang menyala-nyala.
"Icha satu juta persen waras, Nando!" Crescencia merengut. Bibir mungilnya kian maju beberapa senti.
"Otak lo yang gak waras!" tajam Nando benar-benar tidak habis pikir denan jalan pikiran temannya itu.
Crescencia mendengus kesal. Tangannya bersedekap di bawah dada dengan memandang Nando tidak suka.
"Dengar ya, Nando kapucino! Galang sama Icha udah pacaran! Jadi, Nando gak boleh ikut campur, nanti pantatnya ditabok pacar Icha, mau?"
"Tapi-tapi—" Nando megap-megap dengan melongos pasrah. Kedua matanya memicing menatap Galang yang kini tersenyum seolah menertawakannya.
"Tapi, Icha. Aku gak bawa cokelat atau bunga buat Icha." Galang menyelutuk sedih. Jika dia tahu bahwa Crescencia akan langsung menerima dirinya sebagai pacar, mungkin bunga satu toko beserta pabrik dan pegawainya akan Galang beli pakai uang monopoli mainan adiknya.
Crescencia manggut-manggut. Sebelah tangannya menumpu dagu. Kepala Crescencia sedikit meneleng menatap satu kedai yang ada di kantin. Seketika senyumnya kembali cerah.
"Beliin Icha cilok di stan Pak Yono aja. Icha suka sama rasa cilok Pak Yono," kata Crescencia lantas menatap Galang yang kembali terlihat tolol.
"Ci-ci-cilok? Cuma cilok?" Kedua mata Galang membulat. Ternyata dia menyukai gadis yang benar-benar berbeda dari yang lain.
"Iya, Galang." Crescensia menyahut sedikit kesal. "Namanya cilok aja, gak pakai ci-ci-ci, Galang gugup ya ketemu Icha?" tanya Crescencia dengan PD-nya. Dirinya sedikit tertawa geli melihat wajah Galang yang merah padam.
"Iy-iya," jawab Galang dengan kepalanya yang kembali mengangguk kaku.
Crescencia terkikik mendengar pengakuan Galang. Walaupun bukan kali pertama ia melihat reaksi seseorang yang telah menyatakan suka terhadap dirinya, namun wajah Galang seakan tidak ada berdanya dengan orang yang kebelet kencing.
"Icha mau aku beliin berapa?" tanya Galang antusias.
"Segerobak-gerobaknya gak apa-apa, Galang. Sama Pak Yononya juga gapapa."
"Sip!" Galang mengangkat dua jempolnya lantas berlari ke arah stan Pak Yono.
Crescencia tersenyum, lantas sepasang matanya mengedar ke seluruh teman satu mejanya yang masih menatapnya sebagai pusat perhatian dengan mulut yang terbuka.
"Ada apa?" kata Crescencia dengan polosnya.
"Lo ... beneran jadian sama Galang?" kata Zikri tidak percaya.
"Serius lo, Cha?" Kini Ara bertanya tegang.
Crescencia cemberut. Kenapa semua temannya itu meragukan hubungannya dengan Galang? Crescencia kini memilih untuk melengos, mengabaikan pertanyaan sama yang membuat telinganya panas.
Nando kembali menggebrak meja dengan keras. Sebelah kakinya naik di atas bangku dengan pancaran mata yang terlihat tidak terima.
"Kalau begitu gue juga suka lo, Cha! Jadi sekarang kita pacaran!" teriak Nando.
"Gue juga suka sama lo, Cha!" Zikri berteriak tak kala keras.
"Gue yang paling suka sama Icha!" Kini Adam ikut-ikutan berteriak. Dan seluruh teman laki-lakinya pun mulai menyatakan bahwa mereka pun sama-sama menyukai
Crescencia.
Crescencia menengadah, memijit pelipisnya yang kian berdenyut. Teman-temannya terus saja menyudutkan dirinya untuk menjadi pacar seperti yang ia lakukan kepada Galang. Wajah-wajah iri nan dengki tercetak jelas di wajah mereka. Membuat Crescencia ingin sekali menjejalkan roti sandwichnya pada mulut teman-temannya yang terus saja mengoceh.
Crescencia mengangkat kedua tangannya menyerah, lantas berjalan cepat meninggalkan teman-temannya yang kini berteriak memanggil-manggil namanya.
Namun, langkah Crescencia mendadak terhenti. Tubuhnya kembali berputar kala mengingat cilok pesanannya yang masih berada di tangan Galang. Crescencia berjalan berderap. Oke, demi cilok! Hidup cilok!