Crescencia

Crescencia
Bab 19



BRAKKKKK!!!!


Motor Dika menabrak pembatas jalan dengan keras. Motor itu langsung meluncur jauh hingga membentuk bunga api akibat goresan besi dengan aspal. Sementara tubuh Dika terpental beberapa meter. Semua orang yang berada di sana langsung menegap dan melotot menatap percikan api yang keluar dari permukaan aspal malam ini.


"KAK DIKAAAA!!!!" Crescencia berteriak kencang. Air matanya langsung turun dengan deras. Sementara Bima berhasil membobol garis finis dengan kecurangannya.


"KAK DIKAAA!!!" Crescencia berlari kencang menyusul Dika yang kini tergeletak tak berdaya di ujung sana. Suara deru motor saling bersahutan di belakangnya. Beberapa rekan Dika langsung menghampiri anak itu.


"Kak Dika, bangunnn!!" Crescencia terisak-isak dengan menggoyangkan bahu Dika yang jatuh tengkurap.


Sementara itu pandangan Dika menggelap beberapa detik. Dadanya terasa sesak sekali. Hanya suara tangis Crescencia serta suara-suara berat dari teman-temannya yang terdengar di telinganya.


"Angkat-angkat!" Seseorang berkata panik. Dibantu dengan empat rekannya yang mengangkat tubuh Dika.


"Bajingan, Bima, Cok! Main curang dia!" Pria dengan topi hitam terlihat emosi. Membantu tubuh Dika untuk duduk, seraya membuka helm anak itu.


"Sadar, Dik, sadar!" Kawan lainnya menepuk-nepuk pipi Dika. Mata Dika terbuka tipis sekali. Napasnya terembus berat. Dia seakan mau berbicara namun tidak bisa.


"Minum, minum!" Seseorang memenangi Dika untuk minum. Dan saat itu juga napas Dika mulai kembali teratur dengan perlahan.


"Kak Dika...." Crescencia masih terisak di tempatnya. Bahkan tangisannya terdengar memilukan.


Dengan perlahan, Dika mulai membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pengelihatannya. Tatapannya langsung jatuh pada Crescencia. Gadis polos yang tidak tahu apa-apa akan menjadi tumbal malam ini.


"Bangun-bangun." Tiga orang kawannya membantu Dika untuk bangkit. Bibir Dika sedikit meringis kesakitan akibat tulang-tulang tubuhnya yang terasa remuk dan sakit sekali.


"Ayo Kak Dika, pulang...." Crescencia membantu kakaknya untuk berjalan. Mereka semua disambut oleh tim Bima dengan senyum meremehkan.


"Ini yang lo bilang mau bayar mulut gua?" Bima menatap Dika dengan pandangan paling rendah.


"Lo curang bangsat!" maki Dika hendak mengajar Bima. Namun tubuhnya kembali ambruk dan langsung ditangkap teman-temannya.


"Hahahaha!" Tawa menggelegar dari mulut Bima dan teman-temannya.


"Gak usah cengeng, lo! Kalah mah kalah aja. Sekarang, beri cewek itu ke gua."


"Bangsat lo! Gue bunuh lo, Bim!" Dika berteriak kesetanan. Melepaskan genggaman teman-temannya. Dika maju dengan susah payah untuk menghajar Bima saat itu juga. Namun, sebuah bogem mentah dan menyakitkan datang terlebih dahulu menghantam pipi kanannya. Membuat tubuhnya langsung ambruk kembali mencium tanah.


"Gua yang bakal bunuh lo!" Bima langsung menginjak punggung Dika dengan keras. Erangan kesakitan langsung keluar dari mulutnya.


"Kak Dika!" Crescencia dengan beraninya mendorong tubuh Bima  dengan kasar untuk menjauhkan kakinya dari punggung kakaknya.


Bima otomatis melangkah mundur. Bibirnya menyeringai lantas memilin bibirnya yang kering. Crescencia membantu Dika untuk bangkit dari sana. Dibantu dengan rekan-rekan Dika yang menatap Bima dengan bengis.


Sepasang mata Dika langsung membulat sempurna kala Bima tiba-tiba mencengkeram tangan Crescencia. Menarik gadis itu untuk melangkah mundur.


"BIM!" Dika membentak kencang. Sementara Crescencia langsung pucat pasi ketakutan.


"Apa?" Bima balas membentak. Mengeratkan cengkeraman tangannya yang membuat Crescencia mengaduh kesakitan.


"Terima kasih lo udah nepatin janji buat bawa hadiah gua. Seenggaknya lo membuktikan kalau lo bukan pengecut. Walaupun lo selamanya ada di bawah kaki gua..."


"Mati lo Bim!" Dika hendak menerjang tubuh Bima lagi. Namun, gerakannya tercuri kala Bima lebih dulu menendang dadanya. Dika jatuh yang kesekian kalinya. Matanya terpejam dengan memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak sekali.


"Kak Dika!" Crescencia kembali terisak. Merasakan sakit di pergelangan tangannya yang membiru dan terasa kebas. Dirinya masih tidak mengerti akan hal ini. Tubuh Crescencia meronta-ronta kala Bima menggeret tubuhnya untuk dibawa ke dalam sebuah rumah yang memang dibangun sebagai basecamp balap liar di Kemayoran ini.


"Kak Dika, tolongin Icha! Kak Dika Icha gak mau dibawa ke sana! Kak Dika...." Crescencia meraung-raung. Tubuhnya terseret-seret di balik punggung Bima. Wajah gadis itu telah merah dan basah. Rambutnya acak-acakan dengan napas yang mulai tersengal-sengal.


Bima membuka pintu kamar dengan kasar. Menghempaskan tubuh Crescencia ke atas kasur, lantas mengunci pintu itu.


Tubuh Crescencia bergetar bukan main. Crescencia meraih bantal di sana dan langsung membekapnya. Sementara Bima semakin menyeringai lebar.


"Apa yang mau kamu lakukan?!" Crescencia meraung-raung. Membawa tubuhnya untuk melangkah mundur kala Bima mulai mendekatinya.


"Jangan macam-macam!" teriak Crescencia ketakutan. Bima menyentuh wajah Crescencia yang sembab dan berantakan. Membuat gadis itu langsung mengalihkan kepalanya ke tempat lain.


"Lo hadiah gua malam ini. Jadi, lo nikmati saja acara malam ini."


"Lo hadiah gua malam ini. Jadi, lo nikmati saja acara malam ini."


Tubuh Crescencia bergetar bukan main. Bahkan tangisnya yang sesak dan memilukan seolah tidak menggoyangkan belas kasih Bima.


"Icha bukan hadiah! Icha mau pulang! Kak Dika tolongin Icha!" Crescencia terisak. Memeluk erat bantal di tangannya. Mulutnya meraung-raung memanggil nama Kakaknya.


"Berisik!" Bima membentak. Tangannya yang besar memukul kepala Crescencia dengan keras. Telinga Crescencia langsung berdengung. Merapatkan bibirnya kala rasa sakit dan pusing menyerang kepalanya.


Bima mencengkeram kedua pipi Crescencia. Mengangkat kepala anak itu untuk menatapnya.


"Jangan buat malam gua terusik gara-gara mulut lo ini! Atau, gua gak akan segan-segan buat nyiksa lo!" Bima menghempaskan kepala Crescencia. Membuat gadis itu tersungkur menghantam kasur di bawahnya.


Bima membuka kaus di tubuhnya. Memperlihatkan dada bidang hitam penuh keringat. Bima langsung menarik baju kerah leher Crescencia. Gadis itu menggeleng dan meraung meronta-ronta tidak terima. Bima kembali memukul kepala Crescencia keras-keras. Tangisan dan erangan gadis itu sama sekali ia hiraukan. Bima tak tahan lagi, dia langsung menerjang tubuh Crescencia. Mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua tangan besarnya yang berada di sisi tubuhnya.


"Jangan .... Icha mohon...." Crescencia semakin mendekap bantal yang masih di tangannya. Bima lantas menarik kasar bantal itu. Membuang bantal itu ke sembarang tempat.


"Diem!" Bima menampar pipi Crescencia yang terus menangis. Tangannya turun untuk merobek baju Crescencia. Crescencia tidak tinggal diam. Gadis itu terus mempertahankan diri untuk melindungi tubuhnya.


Telinga Crescencia mendengar suara keributan di luar sana. Mulutnya langsung berteriak kencang memanggil nama kakanya.


"Kak Dika! Kak! Tolongin Icha! Kak Dika!"


"Diem!" Bima langsung membekap mulut Crescencia. Tangan besarnya menelusup masuk ke dalam pakaian Crescencia. Detik itu juga, tangis Crescencia langsung pecah. Dapat dipastikan, itulah akhir perlawanan Crescencia. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. bahkan wajahnya mulai memerah dan kehabisan napas. Crescencia hanya bisa menangis kala Bima menerjang leher, bibir serta dadanya dengan sangat kasar.


BRAKKKKKK


"ANJING LO!"


Pintu kamar itu langsung rusak akibat dobrakan dari banyak orang. Dika masuk dengan sepasang matanya yang melotot marah. Napasnya memburu dengan otot-otot lehernya yang menonjol keluar. Botol kosong bekas alkohol di tangannya langsung ia hantaman ke kepala Bima.


"Mati lo bangsat!" Dika langsung menendang tubuh Bima. Memukul kembali botol di tangannya ke wajah Bima hingga pecah. Erangan menyakitkan langsung keluar dari bibir Bima yang berdarah-darah.


Dika menarik tubuh Bima hingga jatuh ke lantai di bawahnya. Menghajar wajah Dika dengan kepalan tangannya.


Buagh buagh buagh


Dika memukul dan menendang tubuh Bima yang tergeletak di bawahnya. Bima sendiri tidak tinggal diam, anak itu langsung menendang dada Dika hingga terpental menabrak dinding di belakangnya. Crescencia jejeritan bukan main. Menarik selimut untuk membungkus tubuhnya. Karena kaus yang ia kenakan telah sobek dan memperlihatkan sebagian tubuhnya.


Dika kembali bangkit dengan menahan dadanya yang sesak. Begitupun dengan Bima mengusap bibir dan beberapa giginya yang pecah.


"Bangsat!" Dika menyerang kembali. Kakinya melayang ke arah dada Bima. Namun, Bima dengan cepat menghindari serangan itu.


Malam ini, Dika benar-benar kesetanan. Dika menghajar Bima membabi-buta. Menghiraukan rasa sakit yang semakin menggerogoti tubuhnya sendiri. Bima yang mendapatkan serangan brutal seperti itu mulai kewalahan. Tubuhnya terpental, kepalanya menghantam tembok dengan keras. Dika menendang kepala Bima yang terlihat bocor di bagian samping. Tak sampai di sana, Dika juga menginjak-injak kepala dan dada Bima yang mengeluarkan banyak darah.


"Kalem, Dik, kalem, Dik!" Seorang rekannya menarik tubuh Dika ke belakang.


"Gue mampusin lo, Bim!" Dika kembali menerjang tubuh Bima. Bima terguling ke samping dengan tubuh yang menelungkup. Bima terlihat terbatuk-batuk dengan mulut yang mengeluarkan banyak darah. Napasnya putus-putus seiring pompa dadanya yang memberat.


Kala Dika hendak menyerang tubuh Bima yang sekarat, Ardi tiba-tiba datang dan menendang dada Dika. Otomatis, Dika langsung terpental dan menabrak lemari yang terbuat dari triplek hingga pintu depannya pecah.


"Mu gua bunuh lo di sini?!" Ardi melotot dengan sepasang matanya yang memerah. Semua orang langsung terdiam dengan kedatangan Ardi. Semuanya tidak ada yang berani membuka suaranya. Begitupun dengan Dika yang terlihat terengah untuk mengatur napasnya.


"Bawa dia ke rumah sakit," perintah Ardi pada anak buahnya. Mereka pun mengangguk, mengangkat tubuh Bima yang terkulai dengan bau amis yang begitu menyengat hidung.


"Kak Dika ...." Suara yang mirip seperti cicitan burung itu membuat semua kepala menoleh ke sumber suara.


"Lo urus dia. Biar gua yang nangani Bima," kata Ardi lantas pergi dari sana. Dia tidak bisa menyalahkan keduanya. Karena baik Bima ataupun Dika sama-sama berbuat salah.


Dika berjalan mendekat ke arah Crescencia yang ketakutan. Melepaskan jaket di tubuhnya, lantas ia sampirkan ke pundak Crescencia.


Gadis itu kembali menangis di tempatnya. Entah dorongan dari mana, Dika langsung menarik tubuh Crescencia yang masih bergetar hebat ke dalam dekapannya. Sorot matanya masih terpancar penuh amarah dan kebencian. Kedua tangan Dika terkepal erat. Dia masih tidak terima atas perbuatan bejat Bima pada gadis ini.


Mereka berdua duduk bersebelahan di dalam mobil yang dipinjamkan Satria, salah satu teman dekat Dika. Karena Dika tidak mungkin bisa mengendarai motornya dengan kondisi babak belur dan menyakitkan di sekujur tubuhnya. Selain itu, motornya masih tergeletak di pinggir jalan dengan kondisi yang mengenaskan.


Crescencia duduk terdiam dengan menatap keluar jendela. Sementara Dika terfokus dengan setir mobil di tangannya.


"Kak Dika seriusan kasih Icha buat hadiah ya...." Crescencia berkata serak. Namun air matanya tidak lagi turun. Hanya saja dadanya terasa sesak dan perih. Crescencia mencengkeram kuat jaket besar yang membungkus tubuhnya.


"Sebenci itu kah Kak Dika sama Icha? Sebenarnya, apa salah Icha?  Apa kelahiran Icha memang sebuah kesalahan?" Crescencia seolah berbicara sendiri. Tatapannya terus tertuju pada deretan pepohonan di luar sana.


Sementara itu, bibir Dika terbungkam rapat. Dia sama sekali tidak menatap gadis itu. Dadanya sama sesak. Dika seperti tahu sesakit apa perasaan gadis itu yang nyaris diperkosa seorang bajingan macam Bima.


"Asal Kak Dika tahu ya, jika Icha bisa memilih, lebih baik Icha gak dilahirkan saja." Bibir Crescencia tersenyum kelu.


Dan detik itu juga, sepasang mata Crescencia langsung membulat saat mobil yang ia tumpangi tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi. Kepala Crescencia menoleh, menatap Dika yang mengeraskan rahangnya. Tatapan matanya terlihat kosong ke depan.


"Kak Dika!" Crescencia berkata panik. Menggenggam erat sealt belt di kursinya.


Keringat Crescencia mengucur deras. Jantungnya berdetak kencang. Tubuh Crescencia terseok ke kanan dan kiri kala mobil ini membelok curam di setiap tikungan.


"Kak Dika!" Bahkan teriakannya sama sekali. Crescencia semakin menahan napasnya. Entah apa yang merasuki Dika. Anak itu terlihat menantang maut. Bunyi roda mobil itu berdecit nyaring seiring geberannya gas yang semakin dalam.


"Lo pingin gak dilahirkan kan? Gua juga. Kalau gitu, lebih baik, kita mati bersama malam ini."


Kepala Crescencia menegap. Gadis itu menggeleng keras. Air matanya langsung turun saat itu juga.


"Nggak, Kak Dika! Icha belum mau mati!!" teriak Crescencia dengan memejamkan matanya. Tubuhnya semakin terpontang-panting mengikuti belokan arah setir Dika.


"Kita mati, Cha!"


TINNNNNNNNN!!!!


"KAK DIKAA!!!!!"


BRAKKKKKK


Bunyi klakson panjang dengan teriakan dari Crescencia, mengiringi suara tabrakan benda besi yang sangat kuat dan terdengar memekak telinga. Mobil mereka langsung terguling-guling di atas aspal panas setelah menabrak truk tronton di persimpangan jalan. Seketika itu, dua ruas jalan berhenti total. Mobil mereka jatuh terbalik dengan asap putih yang keluar dari sela-sela mobil. Sedangkan truk tronton menabrak pembatas jalan hingga remuk. Banyak orang mulai turun memadati jalan raya. Wajah-wajah mereka terlihat tegang dan ngeri. Tidak ada yang berani mendekat untuk melihat kondisi korban. Mereka semua hanya berbisik-bisik dan mengambil gambar ataupun video di area itu.Hingga beberapa lamanya, suara sirine mobil ambulans dan juga sirine dari mobil polisi yang saling bersahutan datang dengan cepat untuk menangani korban.


Tubuh Crescencia dan Dika yang sudah tidak sadarkan diri, dikeluarkan dari dalam mobil yang membutuhkan waktu tiga puluh menit lebih. Dika terlihat babak belur dan bersimbah darah di wajahnya akibat terkena serpihan kaca. Darah segar mengucur deras di kepala bagian kanan Crescencia yang bocor akibat terkena hantaman keras. Kedua korban remaja itu langsung dibawa ke dalam mobil ambulans untuk ditangani lebih lanjut. Sementara banyak polisi yang langsung mengevakuasi tempat kejadian dan segera membubarkan warga yang masih memadati jalan.


...🌹°°°🌹...


Crescencia membuka kedua matanya dengan perlahan. Tubuhnya terasa sangat lemas tak bertulang. Wajahnya yang putih terlihat kian pucat. Tangan kanannya telah tertancap jarum yang menghubungkan selang dengan infus. Gadis itu terlihat menetralkan napasnya. Sebenarnya, ia telah sadar dua jam yang lalu selepas dilarikan ke rumah sakit. Namun tertidur kembali saat suntikan obat menyebar di dalam darahnya.


Beruntungnya anak itu tidak terlalu parah. Hanya luka-luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Balutan kain putih menahan darah yang terus keluar dari dahi kanannya. Sepertinya hanya di bagian itu luka yang cukup buruk.


Kepala Crescencia sedikit menoleh, menatap Papanya dan juga mama tirinya yang ternyata telah duduk di sofa sana. Tenggorokannya tercekat, merasakan haus yang luar biasa.


"Pa ...." Suara Crescencia terdengar serak dan lirih sekali.


Dimas yang tengah berbincang ringan dengan Ellis kontan menolehkan kepalanya. Segera melangkahkan kakinya untuk menemui putrinya.


"Iya, Cha ... Kamu udah gak apa-apa? Apanya yang sakit?" Dimas menggenggam tangan Crescencia yang dingin. Sebelah tangannya mengusap lembut kepala Crescencia.


Gadis itu menggeleng lemah. Napasnya terembus dengan perlahan.


"Kak Dika gimana ....." Suara yang mirip cicitan burung kecil itu terdengar khawatir. Sepasang matanya langsung berkaca-kaca. Entah kenapa, dirinya langsung dilanda rasa takut yang luar biasa.


Dimas terdiam. Sorot matanya terlihat kosong. Bibirnya berusaha menampilkan senyuman, yang justru terlihat seperti ringisan. Genggaman di tangannya kian erat.


"Kita berdoa saja yan..., Dokter masih berusaha semaksimal mungkin."


Dada Crescencia langsung teramat sesak seperti terhimpit batu besar. Air matanya langsung mengalir di sudut matanya. Dengan sigap, Dimas mengusapnya pelan.


Dika sendiri masih terbaring lemah di dalam ruang ICU. Anak itu dinyatakan dalam tahap koma. Kondisinya paling parah dan mengenaskan. Bukan hanya luka fisik yang terkena, melainkan tubuh bagian dalamnya pun ikut terkena imbasnya. Tubuhnya sempat terjepit badan mobil yang ringsek di sisi kemudi. Membuat tangan kanan dan kedua kakinya terkilir cukup parah.


"Icha mau lihat Kak Dika...." Bibirnya mulai meracau. Tangisnya langsung tumpah membasahi kedua pipinya.


"Iya-iya, nanti kita lihat Dika kalau Dika sudah sadar. Kamu bantu doa sama Tuhan, biar Dika cepat bangun dan temui kamu." Dimas mengusap-usap kepala putrinya penuh sayang. Memberikan seluruh kekuatannya untuk menenangkan Crescencia.


Crescencia mencoba menghentikan tangisannya yang semakin membuat dadanya sakit dan sesak. Telinganya mendengar suara high hells yang ia yakini punya Ellis melangkah mendekat ke arahnya.


"Ayo, Mas, aku sudah telat." Katanya dengan mengamit lengan Dimas. Sepasang matanya melirik tajam gadis manja yang menatapnya tidak berdaya.


Kepala Dimas menoleh. Cukup terkejut dengan ucapan Ellis.


"Tapi anak aku baru sadar lagi. Memangnya kamu gak mau nunggu sampai anak kamu sadar? Nanti kalau Dika sudah siuman, siapa yang dampingi dia?" kata Dimas masih mempertahankan genggamannya pada tangan Crescencia.


Ellis mengembuskan napas kasar mendengarnya.


"Udahlah, lagian dia juga udah gede. Biar ini jadi pelajaran buat dia. Aku lelah ya, Mas, ngurus kasus-kasus dia karena dapat laporan dari polisi oleh tingkah Dika di jalan yang suka kebut-kebutan dan melanggar lalulintas. Aku juga sudah muak nebus dia karena ke gap ikut balap liar. Kalau sudah seperti ini, biar dia bisa introspeksi diri. Aku gak bisa terus-terusan ngurusi dia yang semakin tidak tahu diri!"


Sepasang mata Crescencia melebar sempurna mencerna perkataan Ellis yang cukup buruk di telinga. Begitupun dengan Dimas yang tidak percaya kata-kata seperti itu keluar dari seorang ibu.


"Tapi dia anak kamu loh. Dia butuh kamu. Terlebih kita juga jarang pulang. Anak-anak pasti butuh kita."


Kedua mata Ellis melotot. Cuping hidungnya mulai kembang-kempis mendengar ocehan suaminya.


"Sudahlah, Mas. Jika Mas gak mau nemenin aku bilang aja! Aku sudah sabar loh nungguin Mas kerja yang selalu lupa waktu. Mas selalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai lupa ada aku yang selalu nunggu Mas pulang! Apalagi ditambah masalah kayak gini. Kenapa sih semua orang gak ada yang pernah ngertiin aku!" Ellis membentak marah. Rona merah mulai merambat di wajah wanita itu seiring napasnya yang bekerja cepat. Ellis melepas genggamannya dengan sedikit menghempaskan tangan Dimas. Selanjutnya, ia melangkah pergi dengan derap langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.


"El! Ellis!" Dimas melepas genggamannya. Kedua kakinya sedikit berlari untuk mengejar istrinya. Karena dia takut jika Ellis melakukan hal yang diluar kendali. Karena beberapa hari yang lalu, Ellis dengan gilanya mau menegak racun tikus akibat egonya yang tidak terpenuhi. Dan Dimas tidak mau melihat kejadian itu lagi.


Crescencia mengembuskan napas lelah. Dia merasakan nelangsa melihat sikap mama tirinya yang sepertinya tidak peduli lagi dengan kondisi Dika. Persis seperti yang telah Mira ceritakan kepadanya.


Beberapa saat kemudian, seorang suster muda dan cantik masuk ke dalam kamarnya. Suster itu tersenyum ramah melihat Crescencia.


"Bagaimana kondisi kamu? Apakah ada keluhan?" Suster itu mengecek suhu dan detak jantung Crescencia. Sementara pasiennya menggeleng kecil sebagai jawabannya.


"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya suster itu sangat ramah.


"Icha haus. Boleh Icha minta minum?"


Suster itu mengangguk. Lantas mengambil segelas air putih yang tersedia di nakas meja.


Suster itu dengan baik hatinya membantu Crescencia untuk minum.


"Pelan-pelan," kata suster itu saat Crescencia tersedak dan batuk oleh air di tenggorokannya.


Lega...


Rasa kering dan haus yang teramat sangat di tenggorokannya langsung menghilang. Bibir Crescencia tersenyum. Lantas berterima kasih pada suster berhati malaikat di depannya.


"Sus, bagaimana kondisi Kak Dika?" tanya Crescencia menahan langkah suster yang hendak pergi.


"Dika siapa?" tanya suster tidak mengerti.


"Dika Cakra Adelard, yang mengalami kecelakaan satu mobil bareng Icha."


"Ohh, itu." Suster langsung teringat dengan nama pasien yang sempat juga ia tangani. "Dia baru sadar, dan mungkin akan segera dipindahkan ke kamar perawatan."


Sepasang mata Crescencia berbinar sempurna. Dirinya langsung berucap syukur pada Tuhan.


"Untuk saat ini belum bisa dijenguk. Dia harus melewati beberapa proses lagi."


"Terus, kapan Icha bisa lihat Kak Dika?" tanya Crescencia sudah tak sabar.


"Untuk itu, saya kurang tahu. Karena luka Dika cukup parah. Oleh sebab itu, kita masih menunggu prosesnya lebih lanjut."