
Dika menyesap minuman di tangannya. Napasnya terembus dengan berat. Fokus Dika tertuju pada satu titik di hadapannya. Pikirannya dibuat kalut tanpa sebab. Dika bahkan memutuskan untuk bolos sekolah dan berdiam diri di sarangnya. Mengabaikan penampilannya yang acak-acakan, karena sedari semalam anak itu tidak bisa tidur.
Dika menarik napasnya kala deru motor terdengar menggelegar di luar sana. Dika memilih tidak peduli kali ini. Dan menyesap minumannya sekali lagi.
Saat ini Dika berada di sebuah bangunan terbengkalai, bekas pabrik kertas yang telah ditinggali pemiliknya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Bangunan kumuh itu kini dijadikan sebagai markas komplotan geng motor liar yang diisi oleh Dika dan banyak lainnya. Bangunan yang terperosok dan jauh dari pemukiman warga, sangat tepat untuk mereka jadikan sarang mabuk-mabukan, serta melakukan ajang perjudian setiap harinya. Bahkan, di tempat itu telah ada sebuah mini bar, hingga menyediakan tempat untuk permainan biliar dan catur sebagai ajang senang-senang. Member mereka kini telah mencapai seratus dua puluh orang yang mereka juluki sebagai member Dark House. Dan Dika sendiri telah tergabung sebagai member inti yang berisikan dua puluh orang di dalamnya.
Dika menoleh kala seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Membuat kursi sofa hitam itu beringsut turun. Dika kembali mengalihkan perhatiannya kala tahu orang itu adalah Bima. Bima sendiri adalah kepala suku geng motor yang paling disegani. Namun, Bima bukanlah kepala suku utama pendiri klub ini. Melainkan, anak buah kepercayaan dari bos besar pendiri Dark House, yaitu Ardi. Ardi adalah orang yang paling ditakuti dan disegani semua member. Orang yang memiliki postur tubuh berperawakan besar, tinggi, berotot, serta pancaran mata yang penuh keberingasan itu sekarang sedang bermain biliar dengan lainnya. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani melawan Ardi. Karena ... berkat Ardi, mereka bisa bebas menjalani kehidupan yang mereka mau.
Dika menghabiskan minumannya pada gelas kecil. Hari ini dia membatasi diri untuk tidak minum-minum terlalu banyak. Karena sekarang dirinya merasa biasa-biasa saja, sehingga rasa minuman itu menjadi sangat tidak enak di lidahnya. Berbeda sekali saat ia sedang merasa kesal dan penuh amarah. Minuman setan itu layaknya jus anggur manis yang memberikan kenikmatan di setiap tegukannya.
"Gimana kabar lo?"
Dika sama sekali tidak menolehkan kepalanya. Entah mengapa, Dika cukup malas meladeni pertanyaan itu. Bibir Dika juga terkunci rapat. Pikirannya berkelana entah kemana. Sehingga ia hanya memfokuskan diri melihat orang-orang yang tengah bermain biliar di seberang sana.
"Gue tanya ya dijawab! Lo gagu?!" Bima membentak dengan memukul kepala belakang Dika keras sekali. Membuat Dika tersentak, dan menatap Bima dengan tajam. Dika bahkan menegapkan tubuhnya untuk membalas perlakuan Bima. Namun, Bima terlebih dahulu mendorong tubuhnya, membuat dirinya kembali menghantam sofa.
Dika menggenggam erat gelas di tangannya. Rahangnya mengeras dengan sisi-sisi gigi gerahamnya yang saling menindih. Dika menatap nyalang pada Bima yang kini justru berdiri tegap dengan berkacak pinggang, melihatkan gaya angkuhnya.
"Woy, santai!" peringat Bima menyeringai. Sementara Dika langsung membuang mukanya dengan kasar. Dika menahan mati-matian menahan kepalan tangan untuk tidak melayang saat ini juga. Karena jika sampai itu terjadi, kedepannya dapat dipastikan, dirinya akan jauh lebih buruk lagi.
"Gue gak mau cari masalah sama lo, tenang aja!" Bima menegak minuman di gelasnya. Sementara Dika acuh dan tidak peduli. Meskipun dalam satu geng motor yang sama, Dika memang tidak terlalu dekat dengan Bima. Keduanya sering terlihat adu mulut dan bersitegang. Bahkan sering juga keduanya baku hantam di jalanan karena sama-sama memliki ego yang besar.
Bima menghempaskan diri untuk kembali duduk di sebelah Dika. Sebelah tangannya mengusap-usap dagunya, seraya pandangannya menerawang jauh ke depan. Bibir Bima tiba-tiba tersenyum picik, dan bertanya, "Siapa perempuan yang ada di rumah lo? Gue baru tahu kalau lo diem-diem nyimpen perawan."
Kepala Dika otomatis tergerak cepat, menatap Bima dengan mata yang menajam bagai tombak. Dirinya sangat tahu siapa gadis yang tengah dibicarakan Bima. Dika mengembuskan napas berat, lantas menjawab dengan malas. "Bukan siapa-siapa gue," lanjutnya dengan mengalihkan wajahnya.
Bima kian menarik sudut bibirnya. Memilin sebentar bibirnya yang kering seraya menyatukan kedua tangannya. "Boleh juga dia."
"Maksud, lo?" Dika kembali menatap Bima dengan kerutan di dahinya. Sementara Bima tersenyum penuh arti.
"Gue mau kasih lo tantangan. Minggu depan kita balap di Kemayoran. Kalau lo menang, gue bakal bayar lo sepuluh juta. Tapi kalau gue yang menang...." Bima menggantungkan kalimatnya. Memberikan seringai menyeramkan di bibirnya.
".... Lo bayar gue dengan gadis itu."
Dika terdiam sebentar. Cukup terkejut dengan tantangan Bima. Kedua mata Dika melebar dan berkata keras, "Lo gila?!"
Bima tertawa di tempatnya. "Lo baru sadar kalau gue gila?" Bima menegak minumannya lagi hingga habis. Sangat tidak terpengaruh dengan tatapan Dika yang kian menusuk tajam.
"Gue gak pernah korbankan orang lain buat bayar orang kayak lo!" Dika membentak. Membuat rahangnya kian mengeras. Sementara Bima langsung menurunkan bibirnya dengan mengangguk-angguk.
"Ternyata, lo udah luluh lagi sama cewek? Lo udah punya perasaan?" Bima mendesis. Menatap Dika dengan pandangan paling rendah. "Gue baru tahu, kalau lo ternyata masih mau jadi korban pengkhianatan setelah Dinda."
"BIM, LO?!" Dika langsung membuang gelas di tangannya hingga pecah. Meraih kerah Bima dan menariknya dengan kasar. Sepasang mata Dika kini memerah dengan pancaran mata yang penuh kebencian.
"Gue udah bilang apa yang gue mau." Bima tersenyum. Menyundul pipi dalamnya menggunakan lidahnya. Bima membalas tatapan berang Dika dengan tersenyum santai. Lantas ia menepis tangan Dika, sedikit mendorong bahu Dika untuk menjauh dari hadapannya.
"Gue tanya untuk terakhir kalinya. Lo terima atau enggak tantangan dari gue? Atau ... Lo emang udah takut duluan sebelum perang? Apa lo sekarang ngaku kalau lo itu emang gak bisa kalahin gue? Ah, iya. Lo kan emang gak pernah bisa maju di depan gue. Lo gak lebih dari pecundang yang selalu di belakang gue." Bima menyeringai dan tertawa sinis. "Loser!"
"LO?!" Dika berteriak dan langsung mendorong tubuh Bima dengan kasar, membuat punggung Bima ambruk menghantam sofa yang mereka duduki. Dika kembali meraih kerah Bima dan menggenggamnya erat. Kedua mata Dika semakin terlihat berang dengan dadanya yang naik-turun, dirinya benar-benar tidak terima atas segala ucapan Bima yang merendahkannya.
Bima turut menampakkan emosinya. Sepasang matanya menatap Dika dengan beringas. Rahangnya turut mengeras, balas menatap Dika tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Kalau lo emang bisa kalahin gue, gue tunggu lo Minggu depan di Kemayoran! Kalau lo tetep gak bisa kalahin gue, lo harus sadar diri kalau lo itu emang pengecut!" Bima menikam dada Dika dengan sangat keras. Membuat Dika melangkah mundur dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Jangan lupa bawa gadis itu buat hadiah gue. Karena gue tahu, lo gak akan pernah peduli sama dia. Jadi, gak ada alasan lagi lo nolak tawaran gue. Atau enggak, lo ngaku diri kalau lo emang pengecut yang selalu ada di bawah kaki gue!" Setelah berucap demikian, Bima langsung pergi meninggalkan Dika yang sedikit terbatuk-batuk.
Kedua tangan Dika langsung terkepal erat. Seluruh giginya saling menindih, menatap tanah di bawahnya dengan penuh rasa dendam. Wajahnya yang putih berubah menjadi merah padam. Sementara kini dirinya menjadi fokus perhatian banyak orang di sana. Namun, semuanya justru terlihat tidak peduli. Begitupun dengan Ardi yang hanya menarik sudut bibir kanannya ke atas. Tersenyum remeh, lantas beralih lagi pada stik biliarnya.
...°°°...
Siang ini, Crescencia harus menjalankan kemoterapi bersama Dokter Paulus dan Kak Dara. Dikarenakan, Dokter Paulus baru mengizinkan dirinya pulang setelah kemoterapi. Crescencia menarik napas dalam. Mengalihkan kepalanya ke sisi lain kiri, saat dokter Paulus meraih tangan kanannya. Sebab, Crescencia tidak pernah mau melihat jarum-jarum runcing yang akan menembus kulit tangannya.
Crescencia langsung menutup mata serta bibirnya rapat-rapat. Dirinya sedikit merintih kesakitan. Air matanya langsung mengalir dengan perlahan. Rasanya sakit sekali. Seluruh tubuhnya terasa remuk dengan kepalanya yang teramat pusing. Crescencia mengatur napasnya yang mulai tersengal. Dadanya pun kini terasa sesak akibat tangis yang ia tahan.
Setelah menjalankan proses penyuntikan, Crescencia masih harus melewati pengobatan melalui sinar radiasi yang akan diarahkan ke beberapa bagian tubuhnya. Dua jam setelahnya, Crescencia diantar menggunakan kursi roda menuju mobil yang telah disiapkan oleh Bimo. Karena kondisinya yang sangat lemas, sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk berjalan di lorong rumah sakit yang jauh dan panjang.
Crescencia mengembuskan napas berat. Kepalanya terus menghadap jendela mobil. Dirinya cukup sedih kala Papanya tidak bisa menemaninya pulang. Namun Crescencia mengerti, jika papanya itu sedang bekerja keras demi membiayai semua pengobatannya yang tidak bisa dikatakan murah. Crescencia menunduk lesu, menatap jari-jari tangannya yang kurus. Dirinya hanya takut jika papanya jatuh sakit akibat bekerja terlalu keras. Terlebih lagi karena dirinya. Crescencia menarik napas panjang untuk mengisi dadanya yang sesak. Kepala Crescencia tergerak menatap Bimo, kala pria itu tiba-tiba bertanya padanya.
"Icha sebenarnya sakit apa? Saya lihat wajahnya Icha pucat banget."
Bibir Crescencia tersenyum tipis, lantas menjawab lemah, "Icha baik-baik saja, Pak Bim. Cuma kurang darah aja mungkin." Crescencia meyakinkan Bimo dengan senyumannya. Namun, sorot matanya kini berkata lain.
"Oh, yang saya tahu kalau orang kurang darah itu harus rajin minum jus buah, makan sayur, tidur yang cukup, dan gak boleh stres. Emang, Icha stres? Tapi ya, pelajaran anak zaman sekarang emang bikin stres, Cha! Saya aja dulu sering gak kerjain PR. Lah mau kerjain gimana, saya baca soalnya aja udah gak ngerti mau diapain. Parah, kan? Rasanya mau saya gigit aja itu yang bikin soal!"
Crescencia tertawa kecil mendengar curhatan Bimo, ditambah dengan sebuah ekspresi kekesalan di sana. Mendengar Crescencia tertawa, membuat Bimo turut mengeluarkan tawanya. Entahlah, tawa Crescencia seolah kaca pemantul yang membuat bibirnya turut bahagia.
"Jangan sakit-sakit lagi, Cha. Dan Bapak berpesan, kalau Icha harus sehat demi, Bapak."
Tawa Crescencia berubah menjadi senyuman miris. Rasanya seperti ribuan benda tajam yang menancap di dadanya. Sesak dan perih kala Papanya berharap dirinya bisa tumbuh dengan sehat. Namun, selagi napasnya berembus, Crescencia akan sekuat tenaga tetap bertahan. Walaupun setiap harinya, tubuhnya mulai terasa sakit dan lelah. Crescencia masih belum siap bertemu Mamanya di sana. Karena Crescencia masih menginginkan sebuah kesempatan untuk membahagiakan Papanya. Papa yang telah banting tulang pagi hingga malam demi merawatnya. Sosok luar biasa pemberian Tuhan yang sangat berharga di hidupnya.
Crescencia menggenggam erat liontin hati di lehernya. Matanya terpejam erat dan berkata di dalam hatinya, "Ma, kuatin Icha, Ya. Icha masih mau sama Papa. Icha masih mau bahagiakan Papa. Icha masih mau lihat kalau Papa bangga sama Icha, walaupun Icha hanya anak penyakitan. Mama sendiri apa kabar? Icha kangen Mama. I love you, Ma. Semoga Mama juga bangga punya anak kayak Icha. Maafin Icha yang selalu merepotkan Papa. Mama yang tenang ya di sana. Icha selalu mendoakan Mama."
Crescencia membuka kedua matanya. Tanpa dia sadari, wajahnya telah basah karena air matanya yang turun dengan deras. Crescencia tersenyum simpul, lantas mengusap kedua matanya. Kepala Crescencia kembali terfokus pada kaca mobil yang tertutup rapat. Mendengarkan alunan musik klasik yang Bimo putar. Bibirnya menguap dengan mata yang terkantuk-kantuk. Pandangannya mulai memudar, hingga akhirnya, ia terlelap dalam tidurnya.
...🌹°°°🌹...