Crescencia

Crescencia
Bab 17



"Busett-busett, lo kerajinan apa emang doyan nugas?" Ara yang baru masuk ke dalam kelas itu langsung terheran-heran melihat Crescencia berkutat serius dengan banyak buku di mejanya.


"Perasaan hari ini kagak ada tugas deh," imbuh Ara lantas duduk di sebelah Crescencia setelah membanting tasnya ke atas meja.


Crescencia tampak mengembuskan napas panjang. Menusuk-nusuk pelipisnya menggunakan ujung pensilnya. Sepagi ini keringatnya telah mengucur akibat otaknya dipaksa berpikir keras.


"Ra, kamu tahu gak caranya nomor dua ini?" Crescencia menyerahkan soal fisika milik Dika yang dia tidak bisa.


Kepala Ara tampak manggut-manggut. Membaca soal itu dengan saksama. Wajahnya tampak meyakinkan, membuat Crescencia menunggu dengan sabar.


"Kagak ngerti, hehe." Ara nyengir kuda. Dibalas dengusan panjang dari Crescencia. "Lo aja gak bisa apalagi gue, Cha."


Crescencia menarik buku itu kembali, lantas menutupnya. Dan satu-satunya cara ia bisa memecahkan soal itu adalah bertanya pada Bu Rani, selaku guru fisikanya.


"Btw, itu kan mapel buat kelas sebelas, Cha. Ngapain juga lo capek-capek kerjain?"


"Icha kan rajin, Ara." Crescencia memasukkan dua buku Dika ke dalam tasnya. Karena bisa gawat kalau Ara sampai membaca nama indentitas di buku itu.


"Busettt!" Ara geleng-geleng kepala. Matanya menyorot ketakjuban untuk temanya itu.


"Oh iya. Cha, sepulang sekolah, lo bisa mampir ke rumah gak? Mama bikin kue cokelat, loh. Lo diundang ke rumah. Sebagai bentuk terima kasih udah nganterin gue kemarin."


"Wah, serius?" Crescencia tampak senang. "Iya bisa. Baik banget ibunya Ara."


Ara tersenyum. Lantas menolehkan kepala kala seseorang masuk ke dalam kelas dengan suara sembernya.


"Good morning everybody!" teriakan super cempreng itu sama sekali tak digubris warga kelas. Semuanya langsung melengos tidak peduli.


Nando berjalan menghampiri Crescencia. "Besok jadi, kan?" tanya Nando sembari duduk di kursi depan Crescencia, karena pemilik tempat itu belum datang.


"Jadi dong!" Crescencia nampak tak sabar. Pasalnya, besok adalah kali pertamanya ke pantai. Dia sangat ingin merasakan embusan angin laut beserta suara debur ombak yang menenangkan.


"Ciee, mau pergi berdua, mau ke mana lagi kalian?" Ara tampak penasaran dengan menatap kedua temannya itu.


"Ke pantai, Ra! Ara mau ikut?" tawar Crescencia berharap.


"Wah, seru tuh, kapan?"


"Besok." Nando yang menjawab.


"Yahh, besok gue ada acara sama keluarga. Kapan-kapan aja deh," kata Ara merubah raut wajahnya menjadi tak enak.


"Yah, sayang banget. Yaudah kapan-kapan kita pergi bertiga, ya! Ajak Zikri juga boleh."


"Ngapain juga lo ajak si curut itu!" tanya Nando tidak menyetujui ide Crescencia.


"Ya gapapa dong, Nando! Biar makin ramai."


"Bakar rumah aja sini biar ramai!"


Crescencia melotot. menurunkan kedua bibirnya ke bawah.


Nando mendengus. Kemudian bangkit dari duduknya. "Besok siang ya gue jemput."


Crescencia mengangguk. Menekuk jari telunjuknya ke ujung jempol untuk membentuk huruf O di sana.


...°°°...


Jam pelajaran pertama dimulai. Dika sedari tadi terlihat begitu serius memahami deretan rumus dan angka di buku tulisnya. Dan tiba-tiba saja dirinya teringat sesuatu. Dia pun membuka halaman buku paling terakhir. Saat itu juga, bibirnya tersenyum tipis melihat coretan kurang ajar di sana.



Dika menggelengkan kepalanya. Menertawai tulisan tangan Crescencia yang sangat buruk. Dika lantas menyerahkan buku tugasnya pada Sari yang memang ditugaskan Pak Romi mengumpulkan tugas matematika di meja beliau. Karena pagi ini, semua guru tengah mengadakan rapat dadakan, membuat jam pertama dan kedua mereka kosong.


"Lo jadi rajin akhir-akhir ini. Abis dapet wangsit, lo?" ujar Sari menerima buku itu. Sementara Dika hanya diam saja. Bahkan anak itu tidak menatap sari sama sekali. Sari pun hanya bisa mendengus kasar menyadari sikap itu.


Dika meraih ponselnya yang bergetar. Di sana tertera notifikasi dari anggota Black House. Dika lantas membuka sebuah pesan yang dikirim oleh Bima. Membaca pesan itu dengan saksama.


"Jangan lupa besok sama janji kita. Bawa gadis itu sebagai hadiah. Kalau lo sampai kabur, berarti lo emang badjingan, Dik!"


Dika meremas ponselnya dengan kuat. Rahangnya langsung mengeras dengan tatapan mata yang berubah berang. Dia tidak membalas pesan itu. Harga dirinya mulai dipermainkan. Dan seorang Dika tidak mungkin tinggal diam. Dika bersumpah dalam hatinya, secepatnya, dia akan membuat Bima jatuh hancur di tangannya.


...°°°...


Jam istirahat berdering nyaring. Selepas makan bekalnya di kelas, Crescencia bergegas menuju ruang guru untuk bertemu Bu Rani. Kala langkahnya mendekati ambang pintu, dirinya baru tersadarkan jika Ellen hari ini tidak masuk sekolah. Crescencia mengembuskan napas panjang. Bibirnya tersenyum kelu mengingat kejadian kemarin sore.


"Apa Ellen sakit, ya?" bantin Crescencia sedih.


Crescencia melanjutkan langkahnya. Tangannya membekap buku paket milik Dika. Saat menyusuri koridor, sepasang mata Crescencia menyipit untuk melihat orang yang sepertinya ia kenali. Orang itu terlihat terburu-buru karena membawa banyak buku di tangannya.


"Galang!" panggil Crescencia sedikit berlari menghampiri orang itu. Orang yang menjadi pacar sekaligus mantan pertamanya di sekolah ini.


Galang otomatis menoleh. Wajahnya cukup terkejut melihat Crescencia yang berlari ke arahnya. Tubuhnya langsung mematung. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat dan berbicara dengan gadis itu.


"Galang mau ke mana?" Crescencia membuka suaranya untuk menyadarkan Galang dari lamunannya.


"Eh, Cha!" Galang menelan salivanya. Masih saja merasa gugup jika ada di dekat gadis itu. Karena sejujurnya, Galang masih menyimpan perasaan pada gadis ini.


"Mau ke ruang guru buat ngumpulin tugas anak-anak di meja Bu Rani," jawab Galang menahan kegugupannya. Bahkan, telapak tangannya langsung berkeringat basah.


"Wah sama! Icha juga mau menemui Bu Rani. Kalau gitu, biar Icha bantu Galang bawa buku. Kasian Galang kayak keberatan."


"Eh, gak usah, Cha! Aku bisa kok." Galang sedikit membekap buku-buku itu kala tangan Crescencia hendak mengambilnya.


"Gapapa, Galang. Biar Icha bawa setengahnya." Crescencia tersenyum. Dan senyuman itu lah yang mampu membuat dada Galang berdebar-debar. Ia pun mengiakan saat Crescencia mengambil beberapa buku di tangannya.


"Terima kasih, Cha." Galang tersenyum. Menatap lekat wajah Crescencia yang cerah di matanya.


"Sama-sama, Galang."


Keduanya kini berjalan beriringan di sepanjang koridor. Sepanjang itu juga Galang tak henti melirik wajah gadis di sebelahnya.


"Ngomong-ngomong, kamu ada keperluan apa ketemu Bu Rani?" Galang bertanya. Dirinya memang ingin terus mengobrol.


"Icha mau minta ajari soal fisika yang Icha kurang paham."


Sepasang mata Galang membulat dan berseru, "Wah, bagus tuh. Aku boleh gabung juga gak? Soalnya aku suka banget sama fisika. Kali aja nambah ilmu buat aku."


"Galang suka sama fisika?" Crescencia bertanya sedikit takjub. Diangguki kecil oleh Galang.


"Wah, hebat." Crescencia memuji orang di sebelahnya itu. Sementara Galang tersenyum malu-malu.


Keduanya telah sampai di ruang guru. Menghampiri Bu Rani yang tengah memoles sedikit wajahnya dengan bedak di tangannya.


"Permisi Bu Rani, saya mau mengumpulkan tugas kelas sepuluh IPA 3."


Bu Rani menoleh, menatap dua orang yang tersenyum ramah ke arahnya. " Ah, iya. Kamu letakkan di sini. Terima kasih ya...."


"Sama-sama, Bu," jawab Galang. Mereka berdua pun meletakkan buku itu di atas meja.


"Bu Rani, Icha boleh minta ajari soal fisika? Icha ada yang kurang paham," tanya Crescencia dengan sopan. Hal itu membuat Bu Rani cukup terkejut namun terlihat senang.


"Oh, boleh. Tentu saja. Mana sini yang kamu gak bisa."


"Ini Bu, soal nomor 2 sama lima." Crescencia menggeser buku itu. Bu Rani terlihat membaca soalnya sekilas.


"Ini bukannya materi kelas sebelas, ya?" tanya Bu Rani memastikan. Pasalnya, baru kemarin dia mengajar materi ini di kelas sebelas IPA 5.


"Iya, Bu. Icha cuma iseng-iseng saja pinjam buku kakak dan coba kerjain soal-soal itu. Dan ternyata ada yang Icha gak bisa." Crescencia nyengir kuda. Sementara Bu Rani terlihat terheran.


"Kamu iseng apa disuruh kakak kamu buat kerjain?" tanya Bu Rani yang membuat Crescencia terdiam beberapa saat. Tenggorokannya terasa kering sekali. Terlebih, Bu Rani kini menatapnya penuh selidik.


"Eng...enggak, Bu. Icha murni cuma pingin kerjain aja. Lagian, Kakak Icha udah kelas dua belas, kok. Terus, buku-bukunya dikasih ke Icha," jawab Crescencia berbohong. Rasanya sakit sekali setiap dia melakukan ini.


Bu Rani terlihat manggut-manggut. Bibirnya tersenyum simpul. Kemudian, beliau langsung menjelaskan cara pemecahan soal di nomor itu. Baik Crescencia maupun Galang, keduanya sama-sama fokus dan menyimak baik penjelasan Bu Rani. Bahkan saking seriusnya, Crescencia sampai minta diajari hingga halaman-halaman berikutnya. Sampai-sampai tidak tersadar jika waktu istirahat telah habis.


Crescencia dan Galang terlihat merenggangkan otot-ototnya. Begitupun Bu Rani yang menutup pulpen di tangannya.


"Terima kasih banyak buat waktunya, Bu. Icha jadi ngerti sekarang," kata Crescencia sembari menutup buku itu.


"Iya, sama-sama. Kalian kalau ada yang kesulitan lagi silakan langsung menemui saya. Saya suka dengan semangat belajar kalian." Bu Rani tersenyum. Membuat Galang dan Crescencia mengangguk senang.


"Kalau gitu, kami pamit ke kelas, Bu. Sekali lagi terima kasih atas ilmunya." Galang menyalami tangan Bu Rani. Kemudian Crescencia melakukan hal yang sama.


...°°°...


Bel pulang sekolah berdering nyaring. Terlihat Pak Romi tengah berdiri di parkiran sekolah. Dirinya seperti menunggu seseorang, karena netra matanya terus mencari-cari sesuatu. Pak Romi dibuat bungkam oleh pikirannya yang terus terngiang-ngiang ucapan Crescencia kala itu. Dirinya merasa jika terlalu keras terhadap anak didiknya. Dirinya pun baru tersadar jika selama ini yang ia lihat hanya berdasarkan satu patokan sudut pandang. Melihat perilaku anak dirinya di sekolah saja. Dia sama sekali tidak perduli kehidupan mereka jika sudah di luar sekolah. Baginya, jika melanggar aturan sekolah, hukuman akan selalu menimpa mereka. Tidak peduli apa itu alasannya.


Pak Romi terlihat mengembuskan napas panjang. Tatapan matanya berubah menjadi merasa bersalah. Dia sangat membenarkan ucapan Crescencia. Sikap  anak didiknya yang nakal, melunjak, dan sering bikin makan hati itu, bisa saja didasarkan atas pelampiasan mereka yang hanya bisa dilakukan di sekolah. Bisa saja anak yang selama ini ia hukum terus-menerus adalah korban ketidak puasan orangtuanya. Atau tengah mengalami hal-hal lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


Pak Romi mengembuskan napas panjang. Sepasang matanya langsung membulat saat menemui orang yang ia cari. Bibirnya mulai terbuka dan berteriak, "Dika!"


Yang dipanggil namanya itu menoleh. Kerutan di keningnya terlipat tipis sekali. Matanya langsung menyalang tajam. Dika dibuat terheran menatap guru killer itu sedang memasang tampang senyum dan penuh keramahan. Jauh berbeda seperti biasanya. Dika memasukkan kedua tangannya pada saku celana. Kepalanya menegap, sedikit menunduk untuk menyejajarkan tinggi Pak Romi yang dibawahnya.


"Kamu mau pulang?" tanya Pak Romi. Sementara Dika tidak menjawabnya.


"Bisa kita berbicara sebentar?" kata beliau dengan ramah. Dan tanpa ba-bi-bu, Pak Romi langsung merangkul pundak Dika. Membuat Dika sedikit terjingkat kaget.


Pak Romi membawa Dika untuk duduk di salah satu meja kantin yang kosong. Mereka berdua kini duduk saling berhadapan. Keduanya saling diam cukup lama. Hingga akhirnya Dika membuka suaranya yang dingin.


"Apa yang ingin Anda katakan?"


Pak Romi mengembuskan napas panjang. Menyatukan kedua tangannya. Balas menatap netra Dika yang terlihat tidak sabar.


"Saya dengar dari para guru, katanya kamu sudah mau mengerjakan tugas dan mengikuti pelajaran. Saya cukup lega dan sedikit tidak percaya kamu bisa berubah cepat. Yang saya tanyakan, apakah sebelum ini kamu ada masalah internal? Kamu bisa ceritakan apapun kepada saya. Saya ini kan guru kamu, kamu bisa berkonsultasi apapun kepada saya. Sehingga saya bisa tahu Maslah apa saja yang menimpa anak didik saya."


Dika terdiam. Mencoba mencerna setiap perkataan gurunya itu. Netra hitamnya tampak menelisik. Kemudian, sudut bibir kanan atas Dika menyeringai tipis. Dia sudah tidak bisa membedakan lagi, mana orang yang benar-benar peduli atau hanya ingin tahu saja. Dika lantas berdiri dari duduknya. Menarik tas ransel yang tersampir di sebagian pundaknya. Kemudian pergi begitu saja tanpa berucap apapun.


Pak Romi jelas saja menatap punggung Dika yang semakin menjauh. Kedua tangannya terkepal erat. Sisi-sisi gigi gerahamnya pun saling menumbuk kesal.


"Ughhhh! Tahu gini saya jitak saja kepala anak itu! Kurang ajar!" Pak Romi kesal betul. Bagaimana tidak, niat baiknya justru dibalas acuh tak acuh seperti ini. Kalau gini ceritanya, lebih baik menjadi diri sendiri yang terkenal galak dan kasar. Daripada diacuhkan dan tidak dianggap seperti ini jauh lebih menyakitkan. Jika para siswa didiknya melampiaskan emosi di sekolah, dia juga bisa melampiaskan emosinya ke mereka. Impas!


...°°°...


Sesuai kesepakatan tadi pagi, sepulang sekolah, Crescencia mampir sebentar ke rumah Ara. Kedatangannya langsung disambut baik oleh Bu Nana, ibunya Ara. Dia dijamu dengan kue cokelat yang sangat enak. Bu Nana juga sampai repot-repot membuat kudapan yang spesial hari ini.


"Icha kenyang banget...." Crescencia merebahkan tubuhnya di atas kasur Ara. Begitupun dengan Ara yang melakukan hal yang sama.


"Iya. Tumben banget Mama mau masak enak-enak Kayak gini."


Bibir Crescencia tersenyum. Menatap Ara yang tengah mengatur napasnya dengan teratur.


"Oh, iya! Gue kemarin buat es krim Oreo. Lo mau Cha?" tanya Ara sembari menegapkan tubuhnya.


Crescencia mengangguk. Ikut menegakan tubuhnya. Ara pun berlalu dari sana untuk mengambil es krim. Sementara itu kepala Crescencia mengedar untuk melihat kamar Ara yang cukup luas dan sederhana. Kamar bercat putih bersih tanpa ada hiasan apapun di dinding itu. Crescencia melangkahkan kakinya untuk melihat pigura dengan ukuran cukup sedang di atas meja belajar. Ia meraih pigura itu. Melihat foto-foto kecil di balik kacanya. Bibir Crescencia tersenyum. Itu adalah foto-foto masa kecil Ara hingga remaja.


Crescencia mengembalikan kembali pigura itu ke tempat semula. Keningnya tiba-tiba berkerut. Tatapannya tertuju pada sebuah buku bersampul biru yang bertuliskan dear diary. Sebenernya dia tidak mau lancang menyentuh buku privasi itu. Namun yang membuat dia tertarik karena ada sebuah foto Nando di atasnya.


Crescencia menempatkan diri untuk duduk di atas kursi meja belajar. Tangannya tergerak untuk meraih foto itu. Dan entah kelancangan dari mana, sehingga Crescencia membuka halaman buku itu. Dirinya dibuat bertanya-tanya mengenai Ara yang menyimpan foto Nando. Saat itu juga, sepasang mata Crescencia melebar. Semua halaman dari buku itu pasti ada unsur nama Nando di dalamnya. Bibir Crescencia tersenyum kecil dan tidak menyangka jika sahabatnya itu mempunyai perasaan pada Nando. Orang yang justru menyebalkan di matanya.


Crescencia membaca sebuah caption di lembar ke lima yang bertuliskan; "Kelebihanku adalah, tidak pernah ada laki-laki yang membalas perasaanku dengan tulus." Kening Crescencia semakin berlipat. Seperti tidak asing dengan kata-kata itu. Dan sepertinya Ara pernah mengatakannya.


"Apa Ara sudah menyampaikan perasaannya pada Nando?" Crescencia bertanya pada diri sendiri. Cukup tidak paham dengan arti kalimat itu.


"Ini, Cha, es krim lo!" Ara tiba-tiba masuk. Crescencia pun segera menolehkan kepalanya.


"Lo ngapain?" Sepasang mata Ara terlihat melotot. Tubuhnya seketika menegang. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ara dengan cepat menutup buku itu dengan kasar. Wajahnya tampak pucat dan ketakutan.


Crescencia tersenyum jahil. Menatap Ara penuh arti.


"Cha...gu-gue ...."


"Ara suka sama Nando ya? Cieee...." goda Crescencia yang membuat wajah Ara merah padam.


"Gak-gak gitu. Cuma ...." Ara tidak bisa melanjutkan lagi kalimatnya. Kalimatnya seakan tercekat di tenggorokan.


"Ara suka Nando kok gak bilang-bilang, Icha sih...." Crescencia tampak sedih. Kemudian tersenyum lagi. Sementara Ara langsung mengembuskan napas panjang. Dirinya tidak bisa mengelak lagi. Ara duduk di atas kasur sembari mendekap buku itu.


"Sejak kapan Ara suka sama Nando?" Crescencia menghampiri. Menatap penuh jahil pada sahabatnya itu.


"Kenapa lo liatin gue kayak gitu? Mau mata lo gue colok?!" Ara bertanya kesal. Sementara Crescencia justru terkekeh geli.


Ara mengembuskan napasnya. Membuka setiap halaman buku itu dengan perlahan. "Gue dulu satu SMP sama Nando, Cha. Gue suka dia sudah lama banget," kata Ara mulai curhat.


"Ara sudah bilang ke Nando kalau Ara suka Nando?"


Ara menggeleng menjawab pertanyaan itu. "Gue gak berani, Cha. Gue takut kalau gue bilang, Nando malah jauhi gue."


"Kalau Ara gak ngomong, gimana Nando tahu!"


Ara meletakkan buku itu di sisi yang lain. Kepalanya mendongak untuk menatap langit-langit kamarnya.


"Gue gak butuh Nando tahu. Gue juga gak berharap Nando mau balas perasaan gue, Cha. Bagi gue, bisa lihat Nando dari jauh aja udah buat gue seneng. Gue gak butuh lebih. Lagi pula gue sadar diri."


Crescencia mencebikkan bibirnya tidak suka mendengar penjelasan menyakitkan itu. Ia pun berucap, "tapi mencintai sendirian dan bertepuk sebelah tangan kan sakit, Ra. Apa Ara gak mau tanya Nando sekali saja. Mungkin aja Nando juga ada perasaan sama Ara. Atau, seenggaknya Nando tahu kalau Ara ada perasaan. Ara juga lega kalau mendengar jawabannya langsung dari Nando."


Ara tersenyum. Matanya mulai berkaca-kaca. "Gak perlu, Cha. Gue udah tahu jawabannya. Karena, Nando lagi suka sama orang lain."


"Iya kah? Ara yakin? Siapa emang orang itu?" Crescencia bertanya kaget. Bahkan, sepasang matanya melebar sempurna.


"Lo Cha." Ara meringis seiring air matanya yang jatuh. Namun, Ara dengan cepat menghapusnya. "Orangnya itu lo, Cha. Nando suka sama elo."


Crescencia terdiam tidak percaya. Bibirnya bahkan terasa kelu. "Gak, gak mungkin Nando suka sama Icha. Ara salah." Dada Crescencia terasa sesak. Dia juga hampir menangis. Apalagi melihat senyum Ara yang sangat tulus , justru kian mengiris hatinya.


"Gue gak salah, Cha. Nando jelas- suka sama elo."


Seketika itu, Crescencia langsung menangis. Sejujurnya saja, ia juga sudah merasakan itu. Akan tetapi, dirinya tidak percaya jika sahabatnya ini justru menyimpan rasa pada orang yang sama.


"Maafin, Icha!" Ara kelimpungan melihat Crescencia yang menangis kencang. Dia tahu jika Crescencia pasti tidak enak padanya. Ara pun memengang tangan Crescencia lembut. Membuat kepala Crescencia terangkat. Menampakkan senyuman ketegaran di bibirnya.


"Ini bukan salah lo Cha. Perasaan emang gak bisa diatur." Crescencia  semakin terisak. Ara lantas mengusap punggung Crescencia untuk memberikan ketenangan.


"Lo pernah denger kata-kata kalau cinta itu memberi tanpa harus meminta kembali?" Ara bertanya dengan tegar. "Dan di situ lah posisi gue sekarang, Cha. Ini risiko yang harus gue ambil. Di mana gue berani naruh perasaan pada seseorang, gue juga harus siap akan risiko besar di mana orang itu mau menerima gue balik, atau gue harus menyimpannya sendirian. Karena yang gue bisa kasih cuma ketulusan, tanpa berharap sebuah imbalan. Gue gak peduli sama perasaan gue sendiri, Cha. Seenggaknya gue bisa belajar dan tahu rasanya mencintai seseorang dengan ketulusan."


...🌹°°°🌹...