
Crescencia tiba di sekolah dengan senyum cerianya. Menyapa siapapun yang berpapasan dengan dirinya. Crescencia menggenggam erat tali ranselnya. Berjalan sendirian menyusuri koridor yang cukup lenggang.
"Cha!" sapa seseorang yang tiba-tiba mengacak rambutnya yang telah ia sisir rapih.
Crescencia tidak menjawab panggilan Nando. Dia justru sibuk merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya.
"Kemarin seru kan?" tanya Nando yang membuat kepala Crescencia tergerak menatap dirinya.
"Hmm. Makasih, Nando!" Crescencia tersenyum. Membuat Nando langsung mencubit sebelah pipinya dengan gemas.
"Minggu depan gimana kalau jalan lagi? Gue bakal ajakin lo ke manapun lo mau!" Nando menaik-turunkan dua alisnya. Sementara Crescencia langsung terlihat berpikir.
"Emm, Icha mau ke pantai. Icha seumur hidup gak pernah pergi ke pantai," sahut Crescencia terlihat menggebu. Dibalas oleh Nando dengan mengangkat tangannya seraya hormat dan berseru, "Baik, ibu negara!"
Crescencia tertawa renyah. Hingga tak sadar jika keduanya kini telah sampai di depan kelasnya. Crescencia meletakkan tasnya di atas meja. Membuat Ara yang tadinya berdebat dengan Zikri langsung kembali ke tempat duduknya.
"Ciee-ciee, yang kemarin habis jalan sama Nando!" goda Ara memaksakan senyumannya. Sementara itu Crescencia justru terlihat mengerutkan dahinya.
"Kok Ara tahu?" tanya Crescencia. Pasalnya dia tidak memberitahukan siapapun.
"Nando posting foto lu di akun media sosialnya!" Perjelas Ara. Membuat Crescencia cukup terkejut. Karena dia memang jarang sekali bermain-main dengan ponselnya.
"Lo gak tahu?" tanya Ara yang melihat wajah Crescencia. Crescencia pun langsung menggeleng kecil.
Ara mendengus. Mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan foto Crescencia di sana. Crescencia meraih ponsel Ara. Dia menggeser foto beberapa saat Nando ternyata memposting dirinya tidak hanya satu foto. Bibir Crescencia sedikit mengerucut melihat banyaknya foto candid dirinya. Namun tak urung anak itu tersenyum lagi.
"Ciee, ngapain aja lu kemarin, Cha?"
Crescencia mengembalikan ponsel Ara yang terus saja menggodanya. "Enggak ngapa-ngapain, Ara. Cuma jalan-jalan aja. Nando ajak Icha biar tahu Malang katanya."
Ara mengangguk, lantas merangkul temannya itu. Ara membuka kamera di ponselnya. Lantas membidik foto mereka berdua. Crescencia pun langsung melebarkan senyumannya. Pasalnya, mereka memang belum pernah foto berdua selama ini.
...🌹...
Pelajaran pertama di hari Jumat ini adalah olahraga. Rata-rata siswa pasti menyukai mata pelajaran ini. Namun tidak bagi Crescencia, olahraga justru pelajaran yang paling membosankan baginya. Pasalnya, Papanya telah berpesan pada Pak Joko, guru olahraganya itu agar dirinya tidak diikutsertakan turun ke lapangan. Papanya menjelaskan tentang kondisi kesehatannya pada Pak Joko dan kepala sekolah. Kedua gurunya itu menyetujui permintaan Dimas, namun diganti dengan pemberian tugas tulis setiap minggunya.
Seperi biasa di saat jam pelajaran olahraga, Crescencia hanya duduk di tepi lapangan basket. Melihat semua teman kelasnya yang seru-seruan berlari ke sana ke mari menggiring bola basket. Bibir Crescencia mencebik sedih, sedikit merasakan iri di dalam benaknya.
"Ngelamun aja! Kerasukan lo ntar!" Entah dari mana, Nando tiba-tiba saja mengacak kepala Crescencia dari belakang. Sontak saja Crescencia sedikit terkejut dan langsung melayangkan tatapan tak suka pada temannya yang usil itu.
"Bodo amat!" balas Crescencia menirukan kebiasaan Nando.
"Hahaha." Nando tertawa renyah. "Tolong bukain jam tangan gue," lanjutnya seraya duduk di sebelah Crescencia.
"Manja banget sih. Kayak gak bisa lepasin sendiri!" gerutu Crescencia menolak.
"Tangan gue sibuk, Cha. Lo gak lihat gue megang bola basket?" Crescencia menatap bola basket yang cukup kotor di tangan anak itu.
Embusan napas berat keluar dari bibir Crescencia. Gadis itu akhirnya menurut saja. Meskipun sepasang matanya melirik tajam saat Nando meletakkan bola basketnya dan malah menyodorkan tangan kanannya.
"Nando itu bukan bayi lagi, kenapa copot jam tangan aja harus--"
"CHAAAA!"
DOOMM
Tiba-tiba saja bola basket yang entah dari mana asalnya menghantam tepat di atas kepala Crescencia. Sontak saja hal itu membuat semua orang heboh dan beberapa dari mereka langsung berlarian menghampiri Crescencia.
Nando dengan sigap menangkap tubuh Crescencia yang hampir saja tersungkur. Anak itu terlihat sangat panik. Apalagi Crescencia langsung memejamkan matanya dan tak bergerak sama sekali.
"Cha! Sadar, Cha!" Nando menepuk-nepuk sebelah pipi Crescencia berulang kali.
"Yaampun, Icha!" Sepasang mata Ara langsung melotot saat melihat darah segar mulai keluar dari lubang hidung Crescencia. "Ndo, bawa Icha ke UKS! Cepet Ndo!"
Nando yang juga menyadari itu langsung membopong tubuh Crescencia. Sedikit berlari menuju UKS yang tak jauh dari lapangan basket. Diikuti Ara dan Zikri yang mengekor di belakangnya. Sedang Pak Joko langsung menelpon Dimas untuk mengabari kondisi putrinya itu.
Hampir tiga puluh menit saat Crescencia pingsan, gadis itu belum juga sadar diri. Darah di hidungnya pun tak henti mengalir. Hingga akhirnya, Crescencia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil sekolah. Bukan hanya teman kelasnya, guru-gurunya pun ikut panik melihat kondisi Crescencia yang kian pucat dan dingin.
Tubuh Crescencia dibopong memasuki mobil sekolah. Ara yang menangis histeris bersikukuh untuk menemani sahabatnya itu. Begitupun dengan Nando dan Zikri yang sampai melawan Pak Joko dan kepala sekolah yang melarang murid-muridnya untuk ikut ke rumah sakit. Hampir semua orang yang melihat kejadian itu langsung cemas dan panik. Terlebih melihat darah di hidung Crescencia yang terus merembes mengotori seragam putihnya.
Mobil mereka merayap bagaikan ular di atas panasnya aspal Kota Malang. Mobil putih yang tengah melaju cepat itu membawa beberapa orang, diantaranya Ara, Nando, Zikri, Pak Joko, serta Pak Damar sebagai sopirnya. Sesampainya di rumah sakit, Crescencia langsung dipindahkan ke atas brankar yang telah disiapkan oleh tiga suster di depan pintu, lantas membawa tubuh Crescencia kedalam ruang UGD.
"Cha ...." Ara terisak di depan pintu UGD yang telah tertutup rapat.
"Tenang, Ra! Tenang!" Zikri mulai emosi. Pasalnya, sedari tadi Ara terus menangis. Bahkan sekarang tangisannya lebih keras, dan itu sangat mengganggu indra pendengarannya.
Sementara Nando terus hilir mudik seperti setrikaan di depan ruang UGD. Kedua tangannya pun terkepal erat. Pak Joko terduduk lemas di salah satu kursi besi, tak jauh dari mereka dengan tatapan nanar. Beberapa menit kemudian, Dokter Paulus dan beberapa asistennya memasuki ruang UGD yang dingin.
Hampir dua jam berlalu. Akhirnya Dokter Paulus keluar dari ruang UGD. Ara, Zikri, Nando dan Pak Joko langsung berlari menghampiri dokter itu.
"Bagaimana, Dok?!"
"Icha baik-baik aja kan, Dok?"
"Bagaimana kondisi murid saya?"
Pertanyaan beruntun itu membuat Dokter Paulus mengangkat kedua tangannya, pertanda menyuruh mereka untuk tenang. Dan semuanya langsung terdiam sembari menatap Dokter Paulus dengan penuh kekhawatiran.
"Tenang, Icha sudah saya tangani. Dia baik-baik saja. Tadi sudah sadar sebentar, dan sekarang Icha tidur karena kondisinya yang masih lemas. Untuk sekarang, belum bisa ditemui siapapun, biarkan dia beristirahat. Nanti kalian bisa menemuinya saat sudah dipindahkan ke kamar inap."
Napas lega langsung terembus setelah mendengar penjelasan dari Dokter Paulus. Ara, dan Nando langsung menyandarkan tubuhnya di tembok yang dingin. Merasakan tubuhnya yang lunglai tak bertulang.
...🌹...
Dimas memasuki area rumah sakit dengan sangat kacau. Jas yang ia kenakan terlihat kusut, rambutnya pun telah berantakan. Dirinya sampai rela meninggalkan pekerjaannya dan membatalkan semua rapat penting demi melihat kondisi putrinya itu. Kamar VIP 203. Itulah pesan yang tertera pada layar ponselnya yang tadi sempat dikirim oleh Dokter Paulus. Dimas langsung bernapas lega setelah membuka pintu kamar itu, dan melihat putrinya telah tersenyum di atas ranjang pasien.
Ara, Zikri dan Nando langsung menatap Dimas dengan tatapan asing. Pasalnya mereka semua belum pernah bertemu dengan Dimas. Dimas melangkah cepat. Menggeser posisi Nando yang tadinya berada di sebelah Crescencia.
"Kamu gak apa-apa? Apa yang sakit? Beri tahu Papa." Dimas mengusap kepala Crescencia lembut menggunakan tangannya yang besar dan dingin. Sepasang mata yang menghitam kare kurang tidur itu tersorot penuh kecemasan.
"Icha gak apa, Papa. Cuma sedikit pusing. Nanti juga hilang. Papa gak usah khawatir."
Dimas mengecup kening Crescencia lembut. Menahan sesak yang kini menggerogoti dadanya. "Jaga diri baik-baik. Papa gak mau lihat Icha sakit lagi."
Crescencia tersenyum miris mendengar itu. Namun, Crescencia menggangguk saja dan tidak mau melihat Papanya cemas seperti ini.
"Iya, Pa."
Dimas menarik napas berat. Tersenyum kecil pada ketiga teman putrinya. Kemudian tatapannya berubah dingin saat menatap Pak Joko yang duduk di kursi sofa dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Mari ikut saya, Pak Joko. Saya mau berbicara dengan Anda," perintah Dimas dingin dan berjalan keluar. Diikuti oleh Pak Joko yang mengembuskan napas pasrah.
...°°°...
"Saya minta penjelasan Anda, bagaimana anak saya bisa terkena bola basket? Saya sudah meminta Anda untuk tidak mengikut sertakan anak saya dalam pelajaran Bapak!" Dimas terlihat sangat menahan emosi. Sisi-sisi gerahamnya saling menindih, memperlihatkan urat lehernya yang menonjol keluar.
"Maaf, Pak. Tadi Icha hanya duduk di pinggir lapangan. Dan tidak sengaja terlempar bola dari yang lain," jelas Pak Joko mencoba tenang.
"Kenapa Bapak biarkan dia di pinggir lapangan? Kenapa tidak suruh Icha ada di kelas?" Napas Dimas mulai naik-turun. Kedua tangannya terlihat mengepal erat. "Sekali lagi saya dengar Icha kenapa-napa, saya bisa saja langsung menuntut Bapak!" tegas Dimas lantas pergi dari hadapan Pak Joko untuk menemui Dokter Paulus. Sementara itu, Pak Joko hanya bisa tersenyum pasrah. Ia sangat tahu rasanya kecemasan dari seorang ayah jika melihat anaknya kenapa-napa. Pasalnya, dirinya sendiri pun telah berumah tangga dan baru saja memiliki seorang anak. Melihat kondisi Crescencia yang seperti itu ... dirinya juga pasti akan melakukan hal yang sama.
...°°°...
"Sore, Dokter," ucap Dimas setelah membuka pintu ruangan Dokter Paulus.
"Sore. Silakan masuk Pak Dimas."
Dimas pun melangkah masuk, kemudian duduk di hadapan Dokter Paulus. Dokter Paulus meletakkan penanya. Lantas menunjukkan berkas data Crescencia kepada Dimas.
"Dari data enam bulan terakhir, kondisi Crescencia semakin menurun, Pak. Icha harus lebih ekstra menjaga kesehatannya. Dia tidak boleh stres dan harus mengatur pola makannya. Obat yang saya berikan tidak boleh telat minum. Icha juga harus melakukan kemoterapi selama satu Minggu sekali. Saya yang kan menjadi pengawas Icha selama itu. Jika kondisinya sudah benar-benar siap, maka Icha bisa menjalankan transplantasi sumsum tulang. Sembari menunggu kondisi Icha, kami akan mencari pendonor dengan sel yang cocok," jelas Dokter Paulus panjang dan lebar sembari menunjukkan berkas di mejanya.
Seketika itu, Dimas langsung menunduk lesu. Seluruh badannya terasa lemas tak bertulang. Pria berkepala tiga itu mengembuskan napas panjang. Menatap nanar kertas riwayat kesehatan putrinya yang membuat sepasang matanya mulai memanas. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Sel tulangnya berbeda dari Crescencia. Namun yang bisa Dimas lakukan hanya berdoa dan bekerja lebih giat. Dirinya akan membayar berapapun asal putrinya bisa sembuh dan hidup dengan normal.
Dimas mengapit pangkal hidungnya kala air matanya mulai mengalir. Dimas merasakan tubuhnya yang bergetar lemah. Jikalau ia punya kuasa merubah takdir, Dimas sangat ingin menggantikan posisi Crescencia. Biarlah dia saja yang berada di balik alat-alat menyakitkan. Biarlah dia saja yang kesakitan. Namun manusia bisa apa? Manusia hanya bisa menerima semua takdir yang telah Tuhan tetapkan. Karena sesungguhnya, Tuhan maha adil dan baik kepada semua hambanya. Dan selagi Dimas masih hidup, dirinya akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat putri satu-satunya bahagia.
...🌹°°°🌹...