
Pagi ini, Crescencia kembali membawa keranjang rotinya ke sekolah. Hari ini Crescencia membawa roti lebih dari lima puluh buah. Karena kemarin lusa, saat ia membawa hanya lima belas roti, banyak dari temannya yang tidak kebagian. Dan hal itu membuat yang lainnya saling berebut. Crescencia sedikit sedih melihatnya. Namun, di sisi lain dirinya senang karena teman-temannya suka dengan roti buatannya.
"Hai, selamat pagi!" Sapa Crescencia pada dua perempuan yang berpapasan dengannya di koridor.
"Pagi juga, Cha!" Sahut dua perempuan itu.
"Kalian mau roti?" tawar Crescencia pada dua orang perempuan yang Crescencia sendiri tidak tahu namanya. Dan anehnya kedua orang itu justru mengenali dirinya. Crescencia membuka tutup keranjangnya, lantas memperlihatkan isinya pada perempuan itu.
"Ambil aja," ucap Crescencia yang menjawab kebingungan mereka.
"Serius, Cha?"
Crescencia mengangguk semangat. "Serius. Icha buat sendiri loh. Ayo diambil. Semoga kalian suka!"
Melihat senyum ramah Crescencia, membuat dua orang itu mengambil roti kukus dengan senang hati.
"Terima kasih, Cha!" kata keduanya bersamaan.
"Sama-sama. Kalau gitu, Icha duluan, ya!" Crescencia tersenyum.
Crescencia kembali melangkah. Menghampiri orang-orang yang berpapasan dengannya untuk menawarkan roti-rotinya. Crescencia semakin mengembangkan senyumannya. Dirinya merasa sangat senang melihat orang-orang yang mengucapkan terima kasih dan tersenyum kepadanya. Rasa rindu pada kota kelahirannya sedikit terobati. Karena dulu saat ia masih bersekolah di Jakarta, Crescencia melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sekarang.
"Bagi-bagi roti lagi, Cha?" seru Nando yang berada di depan kelas. Nando pun tanpa sungkan langsung mencomot satu roti saat Crescencia hendak melangkah masuk ke dalam kelas.
Belum juga dirinya duduk, Crescencia sudah dikerubungi teman-temannya yang berebut mengambil rotinya. Membuat Crescencia sedikit kewalahan dan hampir saja oleng kalau saja Nando tidak menahan tubuhnya dari belakang.
"Woy! Santai dong! Kalian gak lihat Icha kewalahan!" bentak Nando, membuat semua teman-temannya langsung sedikit menjauh dari Crescencia.
"Ya maaf, gue takut gak kebagian lagi kayak kemarin." Zikri menyahut. Lantas melahap rotinya dengan nikmat.
"Gausah dorong-dorongan, lah! Lo gak lihat Icha hampir jatoh?!" Nando terlihat semakin emosi. Sementara semua teman-temnanya langsung menunduk dan menatap tak enak pada Crescencia.
"Maaf, Cha," kata Sisca merasa bersalah.
"Gue juga minta maaf, Cha," sahut Revan.
"Gue juga, Cha."
Crescencia tersenyum. Kini dirinya justru yang dibuat tidak enak saat teman-temanya meminta maaf kepadanya.
"Iya, gak apa. Icha taruh di atas meja. Kalian ambilnya jangan rebutan. Icha bikin lima puluh roti. Pasti kalian semua kebagian," ucap Crescencia yang membuat semua temanya bersorak senang. Crescencia berjalan ringan ke mejanya. Diikuti teman-temannya yang mengekor di belakangnya. Crescencia meletakkan keranjang rotinya itu di atas meja, kemudian semua temannya mengambil roti itu dengan lebih tertib.
Ara yang melihat keributan kecil itu hanya geleng-geleng kepala. Lantas menatap Crescencia yang ada di sebelahnya. "Buat gue?"
"Ambil sendiri, Ara!"
Bibir Ara mencebik, lantas berdiri sebentar untuk mengambil roti.
"Lo kapan buat roti sebanyak itu?" tanya Ara sembari melahap rotinya.
"Kemarin malam, terus dilanjut subuh tadi."
"Lo gak capek?"
Crescencia menggeleng sebagai jawaban.
"Kenapa gak lo jual aja, Cha. Dari pada lo bagi-bagi gratis gini. Kan lumayan dapet duit."
Kepalanya menggeleng lagi. "Icha lebih suka bagi-bagi, Ara. Soalnya orang kan suka gratis daripada harus bayar."
"Betul sekali!" seru Ara mengangkat jempolnya. Sementara Crescencia semakin mengembangkan senyumannya.
...°°°...
Semua orang di kelas X-IPA 2 terlihat fokus mengerjakan soal kimia yang baru saja ditugaskan. Meskipun guru kelasnya sedang ada rapat, namun semua orang di kelas itu benar-benar mengerjakan tugas yang diberikan. Bahkan, tidak ada satu pun dari mereka yang mengobrol atau asik dengan dunianya sendiri.
Crescencia yang tengah fokus mengerjakan soal-soalnya harus terhenti saat merasakan panas yang menjalar di hidungnya. Kedua matanya mengerjap saat pandangannya sedikit mengabur. Crescencia mulai memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Dadanya mulai terasa sedikit sesak. Crescencia sedikit menunduk. Membuka ritsleting tasnya yang ia letakkan pada laci meja. Mengambil tempat obat yang langsung ia jejalkan di saku seragamnya. Kedua tangan Crescencia mulai berkeringat. Rasa mual pun mulai ia rasakan. Crescencia memejamkan kedua matanya. Mencoba mengambil napas dengan perlahan. Bibir pucat Crescencia sedikit merintih kesakitan, diiringi dengan cairan kental bewarna merah pekat mengalir dari hidungnya. Kedua tangan Crescencia langsung menutup hidungnya rapat-rapat.Crescencia langsung berlari kencang keluar kelas saat merasakan Tetesan darahnya keluar dengan deras.
Ara yang tengah terganggu fokusnya langsung menolehkan kepalanya. Sepasang matanya langsung melebar kala melihat Crescencia keluar kelas dengan tergesa. Ia pun memanggil nama temannya itu, namun tidak ada respons sedikitpun dari Crescencia.
"CHA!"
Crescencia terus berlari menuju toilet sekolah. Ia langsung mengunci diri pada salah satu bilik toilet. Crescencia berlutut saat kedua kakinya terasa nyeri. Kepalanya mendongak menahan denyutan hebat yang menyerangnya. Crescencia merogoh tempat obat di sakunya, menelan banyak obat yang ada di sana. Pahit. Crescencia mulai memukul-mukul dadanya kala napasnya semakin tersengal dan sesak. Sepasang matanya ia pejamkan rapat-rapat. Merasakan cairan bening dan terasa panas keluar dari sudut matanya. Cairan itu mengalir membasahi pipinya, diringi rasa sakit yang menjalar menggerogoti seluruh bagian tubuhnya.
Crescencia berdiam diri hampir tiga puluh menit. Napasnya perlahan membaik. Serta rasa sakit yang ia rasakan pun memudar. Crescencia mengusap hidungnya, memastikan darahnya sudah berhenti mengalir. Anak itu bangkit dari posisinya dengan perlahan. Berjalan tertatih menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Crescencia mengambil tisu lumayan banyak untuk membersihkan noda darah di beberapa bagian seragamnya.
Crescencia mengangkat kepalanya. Mematut diri di depan cermin lumayan lama. Crescencia mulai merapikan rambut dan seragamnya yang sedikit berantakan. Sorot matanya jatuh pada bibirnya yang terlihat pucat. Ia pun merogoh lipbalm di sakunya, lantas memolesnya dengan warna merah muda. Crescencia mengangkat sudut bibirnya dan mencoba untuk tersenyum. Setelah itu, dia melangkah pergi untuk kembali ke dalam kelas.
Langkah kaki Crescencia mendadak terhenti di koridor, tepatnya di seberang lapangan indoor. Sepasang matanya langsung terfokus pada Pak Romi yang terlihat mengomeli Dika. Lipatan kecil di dahi Crescencia tampak jelas saat Dika melakukan hormat bendera di sana. Dan Crescencia dapat menebak dengan pasti bahwa kakaknya itu tengah diberi hukuman.
Crescencia sedikit berlari kecil menghampiri Pak Romi yang melangkah pergi dan berjalan ke arahnya. Gadis itu langsung menghadang Pak Romi di tengah jalan.
"Pagi, Pak Romi!" sapa Crescencia berbasa-basi sebentar dengan menjabat tangan gurunya.
"Pagi, Cha!" jawab Pak Romi yang masih menunjukkan sedikit kekesalan di wajahnya.
"Kalau boleh tahu, kenapa Bapak menyuruhnya hormat bendera? Kan sekarang enggak ada upacara, Pak?" tanya Crescencia sok lugu dengan menunjuk ke arah Dika berdiri.
Pak Romi terlihat mengembuskan napas berat dengan menoleh sebentar ke arah tujukan Crescencia.
"Iya. Dia murid baru, tapi dua kali pertemuan di kelas saya, dia sama sekali tidak mengerjakan tugas yang saya berikan. Kali ini dia beruntung, lapangan utama lagi dipakai kelas olahraga. Jadi saya sangat terpaksa menghukum dia di lapangan indoor. Padahal saya mau dia terbakar sinar matahari biar tahu diri!" jelas Pak Romi terlihat emosi.
Bibir bawah Crescencia langsung maju beesenti-senti, sangat tidak suka mendengar niat jahat Pak Romi yang mau menyiksa kakaknya.
"Bahkan, guru-guru lain juga mengeluhkan anak itu. Pantas saja dia dikeluarkan dari sekolah lamanya. Yang saya heran, kenapa kepala sekolah mau saja menerima anak itu. Belum satu bulan dia di sekolah ini, tapi sudah dua kali mencoba lompat pagar sekolah." Hidung Pak Romi kembang-kempis. Sepasang matanya yang berada di balik lensa kacamata menatap nyalang ke arah Dika.
"Sabar, Pak, sabar," ucap Crescencia mencoba menenangkan gurunya itu. "Kalau Bapak marah terus, nanti cepat tua loh," imbuhnya memperingatkan.
Pak Romi mendengus. Mengalihkan pandangannya dari Dika. "Iya, Cha! Kurang sabar apa saya ini. Kalau gitu saya mau lanjut rapat lagi. Kamu ke kelas sana! Belum waktunya istirahat kok keluyuran! Dari mana kamu!" Kini tatapan tajam Pak Romi langsung tersorot pada Crescencia.
"Icha dari toilet, Bapak. Icha tadi kebelet. Gak mungkin dong kalau Icha sampai pipis di kelas," jawab Crescencia meyakinkan. Membuat kepala Pak Romi langsung mengangguk.
"Yasudah saya duluan. Kamu ke kelas sekarang!"
"Baik, Pak! Laksanakan!" Crescencia menghentakkan satu kakinya dan memberikan hormat pada gurunya itu. Pak Romi menggeleng kecil dan pergi dari hadapan Crescencia. Sementara itu, bibir Crescencia tiba-tiba tertarik ke atas. Ia pun langsung berlari kecil. Bukannya menuju kelas, Crescencia justru menghampiri Dika dan langsung memosisikan diri di sebelah kakaknya itu.
Kepala Crescencia mendongak dengan mengangkat satu tangannya. Bibirnya kian tertarik ke atas saat sudut matanya mencuri-curi untuk melihat Dika. Dika yang tahu pasti siapa orang yang kini berada tepat di sebelahnya itu langsung memasang wajah dinginnya. Otomatis, Dika menggeser satu langkah menjauh dari Crescencia.
Crescencia tersenyum jahil. Ia ikut menggeser tubuhnya agar tetap berdekatan dengan Dika. Dapat Crescencia tebak, kalau Dika kini pasti kesal. Karena saat Dika menggeser tubuhnya lagi. Crescencia pun akan melakukan hal yang sama.
"Ngapain, lo!" bentak Dika tanpa menoleh sedikitpun pada Crescencia.
Akhirnya suara berat dan dingin yang dinanti-nanti Crescencia terdengar juga. Crescencia tersenyum, lantas menjawab, "Hormat bendera."
Pipi Dika semakin mengeras. Membuat otot-otot lehernya menonjol keluar. "Gue udah peringatin elo! Gak usah sok kenal sama gue. Gak usah ikut cam--"
"Icha gak sok kenal ya sama Kak Dika! Jangan ke PD-an!" balas Crescencia memotong ucapan Dika begitu saja. "Icha itu juga lagi dihukum sama Pak Romi, tahu!" lanjutnya mengada-ada. Sementara Dika langsung terdiam menahan geram. Sebelah tangannya yang lain terkepal dengan erat.
Crescencia mengembuskan napasnya. Dirinya terus menatap bendera yang berkibar tertiup angin. Walaupun ia terus mencuri pandang ke arah kakaknya itu.
"Pak Romi itu nyebelin ya. Dikit-dikit marah. Dikit-dikit ngomel. Dikit-dikit kasih hukuman. Icha denger, orang yang suka marah-marah itu bisa jantungan loh! Padahal kan enggak ada salahnya kalau coba senyum. Senyum itu bisa bikin hati sama pikiran adem. Orang yang liat pun juga akan seneng. Icha heran, deh. Kok ada ya orang yang sebelas dua belas sama tembok dicampur es batu."
Crescencia melirik Dika yang terlihat sangat tidak peduli. Sementara Dika sangat tahu jika orang di sebelahnya itu tengah menyindir dirinya.
Crescencia mengambil napas panjang, kembali bersuara. "Kak Dika kenapa bisa dihukum Pak Romi? Kalau Icha kena hukum gara-gara Icha mau menghibur Pak Romi biar gak marah-marah terus, kayak gini ..."
Crescencia menurunkan tangannya. Sedikit menyerongkan tubuh menghadap Dika. Kepala Crescencia sedikit meneleng, menempatkan kedua tangannya di samping pipi, lantas menjulurkan lidahnya.
"Wleekk!" ledek Crescencia.
"Kayak gitu, Kak." Crescencia kembali pada posisinya. Mendongakkan kepala dan melakukan hormat bendera.
"Padahal Icha kan lucu ya. Tapi kenapa di mata Pak Romi Icha ini enggak ada lucu-lucunya! Bahkan Pak Romi senyum aja enggak. Icha malah dihukum hormat bendera. Jahat kan? Padahal loh Icha--"
"DIEM!" bentak Dika yang membuat tubuh Crescencia sedikit terperanjat hingga reflek menutup kedua matanya.
Bel istirahat berbunyi nyaring secara tiba-tiba. Selang beberapa detik berikutnya, para siswa terlihat berhamburan keluar dari kelas. Crescencia dengan sigap menggeser tubuhnya beberapa meter menjauh dari Dika. Namun gadis itu tetap setia melakukan hormat padahal tangan kanannya sudah cukup pegal.
Tiba-tiba saja Ara datang entah dari mana. Anak itu langsung menepuk pundak Crescencia dengan dahi yang berlipat-lipat.
"Lo ngapain malah di sini? Ngapain juga lo hormat bendera? Lo dihukum? Sama siapa?" tanya Ara tanpa jeda dan sangat keheranan melihat temannya itu ada di sana.
Crescencia menurunkan tangannya, dan langsung menggoyang-goyangkan bahunya yang terasa pegal.
"Sama ...." Kalimat Crescencia menggantung kala melihat Dika yang justru melangkah pergi. Crescencia mendengus dan membatin, padahal kan hukumannya belum selesai.
"Sama siapa?" tanya Ara tidak sabar.
"Sama diri Icha sendiri," sahut Crescencia yang membuat bibir Ara sedikit melongo.
"Iya. Icha kan Senin kemarin pingsan. Jadinya Icha merasa bersalah, soalnya gak ikut upacara sampai selesai. Jadinya sekarang Icha lanjut aja hormat bendera," papar Crescencia yang membuat Ara langsung syok ditempatnya.
"Lo gak waras!" pekiknya dan langsung menarik lengan Crescencia untuk ia ajak makan siang.
...°°°...
"Ara gak usah nungguin Icha sampai Bapak ojek nya datang. Ara bisa pulang duluan," pinta Crescencia tak enak jika Ara menemaninya terlalu lama. Karena selama beberapa hari ini, sepulang sekolah Ara selalu menemani Crescencia hingga pesanan ojeknya datang.
"Gapapa, gue temenin lo sampai ojeknya dateng. Lagian, rumah gue deket, Cha. Tinggal jalan kaki aja nyampai."
Crescencia menggangguk tersenyum. Membiarkan Ara menemaninya. Toh, Ara sendiri yang menawarkan diri menemaninya.
"Mau pulang, Cha?"
Kepala Ara dan Crescencia serempak menoleh. Sedikit terkejut melihat keberadaan Nando yang tiba-tiba.
"Iya," jawab Crescencia.
"Yaudah, yok bareng gue aja," tawar Nando, menoleh ke jok motornya yang kosong.
"Icha udah pesen ojek, Nando."
"Kenapa pesen ojek sih? Kenapa gak bareng gue aja?"
Crescencia mendengus, menatap Nando sedikit kesal.
"Kata Nando gak mau lagi bonceng Icha! Katanya Nando gak mau mati muda!" sungut Crescencia dengan emosi yang langsung membuat wajahnya panas.
"Ahh... iya." Nando tersenyum kecut dengan menggaruk kepala belakang helmnya.
"Yaudah, gue duluan kalau gitu. Lo hati-hati. Jangan suka oleng kalau di motor! Bahaya, Cha!" peringat Nando tegas dan melotot serius.
"Iya, siap, Komandan!"
Nando mengangguk, lantas menancap gas, dan pergi dari sana.
"Sedeket itu ya lo sama Nando, Cha?"
Kepala Crescencia menoleh, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ara yang terdengar lebih dingin dari biasanya.
"Maksud, Ara?"
"Kayaknya, Nando suka tuh sama lo."
Kening Crescencia langsung menampakkan lipatan. Cukup terkejut sekaligus bingung dari perkataan Ara.
"Suka sama Icha?" ulang Crescencia tidak mengerti.
"Iya. Suka sama elo. Perhatian dia beda banget kalau ketemu elo, Cha."
Crescencia menggeleng, lantas tersenyum. "Enggak ada yang beda, Ara. Nando orangnya emang baik ke semua orang."
Ara manggut-manggut. Ia kembali menoleh ke Crescencia dengan wajah yang mulai melunak.
"Terus, lo sama Galang? Masih pacaran?"
"Galang...." Crescencia berpikir sejenak. Mengajak otaknya mengingat nama orang yang disebut.
"Ah... Icha udah putus."
"PUTUS?!"
Sepasang mata Ara langsung membulat sempurna. Sangat terkejut mendengar kabar itu. Pasalnya, temannya itu baru jadian dua hari yang lalu. Dan sekarang?
"Kapan lo putusnya?" tanya Ara mendesak.
"Kemarin lusa."
"Kok bisa?" Kepo Ara semakin meluap.
"Galang maunya jadi sahabat Icha aja katanya."
Ara mendengus. Menatap temannya itu dengan sejuta tanda tanya.
"Lo suka sama Galang?"
Crescencia menggeleng.
"Terus, kenapa lo mau pacaran sama dia?"
"Karena Galang suka sama Icha."
Ara seketika menepuk jidatnya. Jawaban Crescencia langsung membuat kepalanya sakit dan nyut-nyutan. Kali ini dia dapat meragukan temannya itu. Apakah Crescencia benar-benar siswa kelas satu SMA atau bocah yang baru lulus TK!
"Jangan gitu lagi, Cha! Jangan suka mainin perasaan orang. Kalau orang itu suka sama elo. Tapi elo gak suka sama dia. Jangan sekali lagi ngajak dia pacaran atau nerima orang sebagai pacar! Ngerti?"
Crescencia menelan salivanya. Menatap Ara yang terlihat sangat serius. Crescencia mengangguk berapa kali sebagai jawaban. Dirinya merasa lega kala Ara mengangkat jempolnya.
"Mbak, Icha?"
Kepala Crescencia terangkat. Mengangguk kepada Bapak ojek dengan ramah.
"Terima kasih, Ra, udah nemenin Icha lagi sampai Bapaknya datang."
Ara mengangguk, tersenyum kecil saat melihat Crescencia yang cukup kesusahan naik pada jok motor yang tinggi.
"Hati-hati, Pak. Kalau nih anak gak bisa diem, turunin aja dia di pinggir jalan!" pesan Ara kepada Bapak ojek dengan tegas.
Crescencia memberengut. Menatap Ara dengan melas.
"Ara kejam!"
...°°°...
...Ekspresi Icha kalau sampai beneran diturunin di pinggir jalan....