
Malam ini, Dika duduk seorang diri di sofa ruang tengah. Kedua tangannya sibuk memainkan gitar yang ia pangku. Jari-jari panjangnya mulai mengalunkan nada lagu dengan intonasi rendah.
Crescencia berdiri di ujung sana menggenakan piyama dengan motif kepala beruang berukuran mini. Menatap lekat sang kakak dengan bibir yang tersenyum. Dirinya merasa terbius akan pesona Dika yang terlihat berkali lipat lebih tampan hanya karena Dika memegang sebuah gitar. Crescencia memejamkan matanya mengikuti genjrengan senar yang
terdengar indah. Namun, tubuh Crescencia cukup tersentak kaget. Sepasang matanya langsung terbuka kala Dika tiba-tiba saja bersuara.
"Pergi lo dari sana! Ganggu mata gue aja!"
Bibir Crescencia langsung memberengut. Kakinya ia ayunkan menghampiri kakaknya itu.
"Mengganggu apanya? Orang Kak Dika dari tadi nunduk terus," sungut Crescencia. Gadis itu justru memberanikan diri untuk duduk di sofa seberang Dika.
Dika yang menyadari itu langsung menghentikan gerakannya. Kepalanya mendongak. Netra hitamnya menatap tajam dan dingin.
"Siapa suruh lo duduk di situ?" kata Dika dengan rahang yang mengeras. Crescencia sontak meremas-remas ujung bajunya dengan telapak tangannya yang terasa dingin. Crescencia mati-matian menahan kepalanya untuk tetap menegak. Mencoba balas menatap netra hitam mematikan itu.
"Ich-icha cuma--"
"Pergi!"
Crescencia menahan napasnya. Matanya pun langsung terpejam singkat. Mencoba bersabar dengan mengusap dadanya.
"Kak Dika mah, marah-marah terus," protes Crescencia dengan bibir yang semakin mengerucut.
Dika mendengus, meletakkan gitarnya dengan kasar. Lantas menegapkan tubuhnya untuk beranjak pergi. Sangat terlihat jelas ketidak sukaannya dari kedatangan Crescencia.
"Kak Dika!" Crescencia dengan cepat ikut berdiri. Kedua tangannya ia rentangkan untuk menghadang langkah Dika. Otomatis, netra matanya kian menajam menatap gadis yang berani-beraninya menghadang jalannya seperti ini.
Crescencia menelan salivanya. Tenggorokannya seperti tercekat. Netra hitam Dika seolah mampu menembus matanya hingga kedua lututnya terasa lemas.
"Kak Dika, Icha di sini cuma mau menawarkan diri buat bantuin Kak Dika ngerjain PR-PR Kak Dika," ucap Crescencia penuh penegasan. Sementara Dika justru menatapnya penuh selidik.
"Gue gak butuh bantuan dari lo!" bentak Dika. Crescencia langsung menghadang langkah Dika kembali, saat kakaknya itu hendak pergi.
"Kak Dika ini batu banget, ya!" Crescencia mulai geregetan. Gadis itu kini balas menatap Dika tak kalah tajam.
"Kak Dika sadar gak sih, kalau yang Kak Dika butuhkan itu hanya lulus dari sekolah?" Crescencia mulai mengeluarkan unek-uneknya. Menahan kepalanya yang terasa cukup pegal karena harus mendongak terlalu ke atas akibat tubuh Dika yang tingginya tidak main-main.
"Kak Dika itu harusnya udah lulus dua tahun yang lalu! Sekarang, malah masih bertelor di kelas sebelas. Harusnya Kak Dika ini berterima kasih sama Icha yang mau bantuin kerjain tugas, seenggaknya itu bisa bantu Kakak biar bisa cepat lulus. Kalau Kak Dika gak lulus-lulus, bagaimana Kak Dika bisa bebas? Kak Dika mau terus-terusan sekolah sampai om-om? Kak Dika mau terus diatur sama Mama Ellis? Mau sampai kapan Kak Dika pakai seragam putih abu-abu? Apa nunggu dagu jenggotan?"
"LO--" Dika menahan kata-katanya. Jarinya mengeras menunjuk wajah Crescencia. Sementara Crescencia justru semakin mendongak menantang. Gadis itu mengambil satu langkah lebih dekat ke arah Dika.
"Kenapa? Kak Dika ragu sama kemampuan otak Icha? Asal Kak Dika tahu, ya, saking pinternya, Icha dulu gak perlu masuk TK. Icha juga selalu rangking satu di sekolah. Waktu SMP, Icha pasti ditunjuk sebagai perwakilan sekolah untuk lomba-lomba olimpiade. Dan Icha selalu pulang dengan membawa piala juara satu! Jadi, Kak Dika gak perlu khawatir tentang hasil tugas itu. Meskipun Kak Dika kelas sebelas, Icha yakin seratus persen, Icha bisa kerjain soal-soal itu. Secara, Icha kan pinternya luar biasa," perjelas Crescencia pakai sombong. Rambutnya ia kibaskan dengan angkuh, lantas menyilangkan tangannya di bawah dada.
Dika terdiam di tempatnya. Sementara Crescencia menyeringai puas. Dia yakin seribu persen jika Dika kini salut dengan dirinya.
"Pasti Kak Dika lagi muji-muji, Icha. Kak Dika pasti takjub sama Icha." Crescencia membatin penuh kemenangan.
"Aduh, malu juga kalau dipuji sama Kak Dika. Tuh kan kak Dika malah bengong. Tatapannya gak usah diserem-seremin napa, tinggal bilang Icha hebat apa susahnya, sih."
"Icha kok jadi tengsin sendiri. Kayak, wow gitu dari tatapannya Kak Dika." Crescencia mulai cengar-cengir di tempatnya. Namun, cengirannya langsung hilang saat Dika tiba-tiba berucap dingin.
"Gak peduli! Minggir!" Dika dengan kasar mendorong bahu Crescencia ke samping. Membuat Crescencia sedikit terhuyung dengan mulut yang menganga.
"What?!" Crescencia terbelalak. Menatap punggung Dika yang mulai menjauh. Ekspetasinya langsung hancur berkeping-keping.
"Uh, dasar batu! Tembok! Beton! Besi!" gerutu Crescencia dengan kedua tangan yang terkepal erat. Seolah siap menonjok muka Dika sekarang juga.
Crescencia menghentak-hentakkan kakinya. Lantas, menempatkan diri untuk duduk di sofa dengan kasar. Crescencia mendengus, bibirnya kembali meracau tidak jelas.
"Arrgtt!" Crescencia menjambak rambutnya sendiri. Namun, mulutnya langsung mengeluarkan ringisan dengan tangan yang mengusap-usap kepalanya yang terasa nyeri. Bibir mungil gadis itu mengerucut. Kepalanya menoleh menatap gitar dengan kayu cokelat muda di sebelahnya. Crescencia mengembuskan napas panjang. Tangannya terulur untuk meraih gitar itu. Mungkin saja, dengan ia bermain gitar walaupun menghasilkan nada sumbang, bisa menemani rasa kekesalannya.
"Berani nyentuh gitar gue, gue patahin tangan lo!"
Crescencia tersentak bukan main. Tubuhnya bahkan sedikit meloncat dari tempatnya. Jantungnya langsung berdetak kencang. Crescencia memejamkan matanya dengan mengusap dadanya. Mencoba mengatur napasnya yang sedikit syok.
"Kak Dika! Kalau muncul jangan tiba-tiba, dong! Kaget kan Icha jadinya!" Gadis itu memprotes. Dadanya terlihat naik-turun dengan napas yang tidak normal.
BRAKK
"Kalau gue sampai dapat nilai E, lo harus angkat kaki dari rumah gue!" kata Dika penuh penekanan setelah meletakkan buku-bukunya.
Mulut Crescencia ternganga lebar. Menatap tak percaya tumpukan buku itu. Tatapannya langsung terpancar seperti minta dikasihani.
"Sebanyak itu?" Crescencia menatap Dika dengan melas.
"Iya."
"Yaampun, Kak Dika! Itu tugas dari kapan aja sih? Sampai-sampai beranak Pinak dan bercucu sampai bercicit?!" Crescencia terlihat mencak-mencak di tempatnya. Menatap tumpukan buku yang sebanyak itu. Ekspetasinya, tugas Dika tak akan sampai sebanyak itu. Dirinya benar-benar menyesal atas sikap sok Hero dan sok berhati malaikat menawarkan diri seperti ini.
Dika bergeming. Berjalan tegap untuk mengambil gitarnya.
"Lo ingat baik-baik ucapan gue barusan. Karena, ucapan gue gak main-main. Gue akan langsung ngusir lo, kalau tugas gue sampai dapet E. Walaupun itu cuma satu." Dika membalikkan badan dan beranjak pergi dari sana.
"KALAU SAMPAI TUGAS KAK DIKA DAPAT A SEMUA, ICHA YANG AKAN USIR KAK DIKA!" Crescencia berteriak. Bibirnya mencebik ke bawah dengan mulut yang mengeluarkan tangisan tanpa air mata.
Crescencia meraih satu buku yang cukup tebal. Di sana telah tertera halaman tugas yang harus dikerjakan.
"Ya Tuhan...." Crescencia beringsut turun. Memukul wajahnya sendiri dengan buku itu. Akhirnya, dia mau tidak mau harus mengerjakan semuanya. Jika tidak, bisa-bisa besok dia tidur di jalanan. Crescencia mengambil alat tulis di kamarnya, lantas mengerjakan tugas-tugas Dika di ruang tengah.
Beruntungnya, hanya tiga mata pelajaran yang harus dikumpulkan besok. Sehingga Crescencia tidak harus mengerjakan semuanya malam ini. Crescencia terlihat fokus dengan bolpoin di tangannya. Mulutnya pun tak henti untuk mengucapkan sesuatu.
Putaran waktu yang terlalu cepat tidak ia rasakan. Keringat mulai membasahi pelipis, wajah, serta tangannya yang terasa panas. Kini, Crescencia sudah sampai buku ke lima. Dirinya sebisa mungkin mencicil tugas-tugas Dika agar tidak memberatkannya esok hari.
Napas Crescencia mulai pendek. Mulutnya berkali-kali menguap. Pandangannya pun mulai meredup. Namun gadis itu tetap memaksakan diri untuk terjaga. Walaupun kepalanya telah terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya, pandangannya mulai menggelap. Kepalanya terjatuh di atas buku yang masih terbuka. Tangan kanannya yang masih menggenggam bolpoin terkulai lemas. Tepat pukul satu dini hari, gadis itu mulai terlelap tanpa diminta.
...°°°...
"Cha..., Cha!"
Tubuh Crescencia menggeliat. Mulutnya mulai menguap lebar. Sepasang matanya terbuka tipis sekali saat merasakan tepukan di bahunya.
"Ngapain kamu tidur di sini, Cha?"
Crescencia mengucek kedua matanya. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya sekitar. Kepalanya mengedar. Dirinya baru tersadar jika tertidur di ruangan ini. Crescencia merenggangkan otot lehernya yang terasa pegal, seraya mengusap tengkuknya yang cukup nyeri.
"Sudah kamu sana mandi. Sudah jam enam. Kamu sekolah kan?" Crescencia mengangguk lemah menjawab pertanyaan Mira.
"Lagi banyak tugas ya, Cha?" Mira bertanya lagi. Menatap Crescencia yang tengah merapikan buku-buku itu.
"Iya, Bi. Banyak banget gak manusiawi. Apalagi yang kasih gak ada akhlak!" balas Crescencia masih terdengar kesal. Sementara Mira hanya menggeleng kecil saja.
Tok tok tok...
"Kak ... Kak Dika ...." panggil Crescencia dengan nada anak kecil yang menjemput temannya bermain. Sebelah tangannya sibuk mendekap buku, dan sebelahnya lagi mengetuk pintu kayu itu.
Klek knop pintu tergerak dari dalam.
"Apaan?!" ketus Dika menyembul. Tangannya sibuk mengucek matanya. Kini, wajah kedua orang itu sama-sama kucel. Rambut berantakan. Mata sayu. Serta belek yang masih tertempel di setiap sudut mata.
"Ini tugas Kak Dika. Yang soal hitungan sudah Icha analisis sekaligus Icha kasih cara penyelesaiannya. Kak Dika harus baca dan belajar sendiri. Sebab kalau ujian, Icha gak bisa bantuin Kak Dika."
"Hah?" Dika justru terlihat terbengong. Sepertinya, penjelasan dari Crescencia belum tertangkap jelas oleh otaknya.
"Kok malah, hah!" Crescencia mendelik. Menarik tangan Dika, lantas memberikan sekitar lima buku ke tangan Kakaknya.
"Ingat ya, Kak Dika. Icha udah kasih cara yang paling mudah dimengerti. Kalau Kak Dika sampai gak lulus ujian, Icha udah gak bisa bantuin Kak Dika lagi," sungut Crescencia. Namun anak itu langsung terlihat meringis. Kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit. Wajahnya pun terasa sangat panas. Crescencia segera memegang kepalanya. Napasnya mulai pendek dan tercekat. Dika yang melihat Crescencia yang kesakitan langsung menegapkan tubuhnya. Matanya mulai membulat kaget.
"Itu ...." Dika menunjuk hidung Crescencia. Crescencia pun dengan cepat mengusap hidungnya. Dan benar saja, darah segar langsung mengotori tangannya.
Crescencia berlari sempoyongan menuju kamarnya. Saking paniknya, dia hampir saja terpeleset pada pijakan anak tangga. Untung saja tangannya cekatan untuk memegang lengan tangga. Jika tidak, bisa dipastikan tubuhnya menggelinding mengenaskan.
Dika masih terpaku di tempatnya. Menatap tumpukan buku di tangannya. Dahinya sedikit terlipat dengan bingung.
"Apa dia beneran kerjain semuanya?" Dika mulai bertanya-tanya. Sedikit tidak percaya. Kemudian, kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handuk beserta seragam sekolah.
...°°°...
"Woy, siapa yang udah kerjain kimia? Bagi, dong!" Ruby terlihat grasak-grusuk.
"Sar, lo pasti udah, kan? Gue lihat dong!" pinta Ruby pada Sari dengan wajah paniknya. Didukung oleh Ryan dan Kevin.
"Enak aja! Gue kerjain susah-susah, lo seenak jidat mau nyomot gitu aja!" tolak Sari dengan keras.
"Aelah, Sar! Gue itu juga udah usaha. Tapi otak gue kagak nyampe kalau masalah kimia! Ayolah, Sar. Lu kan baek, cantik pula. Kasihanilah kawan kamu ini!"
"Ah, tai lu, Sar!" Ruby memberengut. Dibalas dengan tatapan maut dari Sari.
"Sini Nyet, gue dapet contekan dari Rara. Gausah lo ngemis-ngemis ke Sari. Mau sampai mulut lo berbusa juga gak akan dikasih!" Dwiky berteriak. Menyuruh temannya itu untuk bergabung menyalin jawaban Rara.
"Sip!" Ruby terlihat senang. Namun kembali menatap sari dengan tajam. "Awas lu Sar. Dasar pelit!"
"Bodo amat! Palingan jawaban Rara juga salah semua!" balas Sari dengan sombongnya.
"Belagu benget lo! Kayak jawaban lo bener semua aja! Lama-lama gue bagi juga pala lo!" Ruby terlihat emosi. Namun segera pergi dari sana. Mengeluarkan jurus kebut sepuluh menit untuk menyalin semua jawaban Rara. Walaupun dia juga yakin sih, jika jawaban Rara tidak semuanya benar. Yang penting kan tugasnya ada yang terisi. Ya, gak?
Dika meraih earphone tanpa dicolok ke manapun, alat itu hanya digunakan untuk menyumpal kedua telinganya. Dirinya cukup terganggu dengan kebisingan pagi ini. Dika mulai membuka buku kimianya. Membaca pekerjaan Crescencia dengan saksama. Memahami soal beserta jawaban yang tertulis sangat rapi. Kepala Dika mulai manggut-manggut mengerti. Penjelasan jawaban dari Crescencia sangat mudah dimengerti.
Sebenarnya, Dika anak yang cukup pintar. Dia dengan cepat menangkap dan mengerti sesuatu. Jika saja dia bisa fokus dan memperhatikan materi, anak itu bisa menjadi yang paling pandai di kelas ini. Namun apa daya, niat dan tujuan awal datang ke sekolah bukan untuk belajar, melainkan sebagai tempat pelarian saja.
Dika dibuat termenung. Kedua tangannya saling menggenggam, menjadi sokongan untuk dagunya. Dika mulai dibuat berpikir. Omongan Crescencia seperti ada benarnya juga. Dia memang mau cepat-cepat lulus dari namanya bangku sekolah. Dia ingin bebas. Namun, akibat ulahnya, kini dia masih tertahan di sini. Satu-satunya cara untuknya segera bebas dari berbagai persoalan tai kucing ini, ialah harus lulus ujian. Iya, Dika harus lulus ujian. Karena Mamanya itu tidak mungkin mau membayar kepala sekolah untuk meluluskannya. Apalagi Papa tirinya. Dika bahkan tidak pernah berbicara dengan pria itu.
Dika mengembuskan napas panjang. Kembali fokus membaca dan memahami tugas kimia itu. Saking fokusnya, Dika bahkan tidak sadar jika Bu Dian, guru perempuan killer itu memasuki kelas. Semua orang yang berada di kelas itu langsung terdiam. Wajah-wajah mereka langsung pucat pasi.
"Selamat pagi," kata Bu Dian mengawali kelasnya. Tentu saja dengan memasang wajah garang yang tidak ada senyum-senyumnya.
"Pagi, Bu ...." dijawab oleh warga kelas dengan serentak.
"Yang tidak mengerjakan tugas Minggu lalu dari saya, silakan keluar kelas!"
Buset dah, belum apa-apa langsung ngomongin tugas!
Seluruh siswa semakin terdiam. Bahkan, untuk sekadar bergerak sedikit pun tidak. Kelas langsung sunyi dalam sekejap. Namun, mereka sedikit melirikkan mata ke bangku paling belakang di mana ada keberadaan Dika. Begitupun dengan Bu Dian yang menatap Dika dengan tajam. Wanita itu sangat hapal jika Dika pasti akan keluar kelasnya.
Namun melihat tidak ada gerak-gerik dari Dika, Bu Dian kembali membuka suaranya. Kini intonasinya semakin terdengar meninggi.
"Saya bilang, yang tidak mengerjakan tugas silakan keluar kelas! Mau saya geret paksa?!"
Kelas mulai grasak-grusuk. Sebagian lain menatap Dika dengan kesal. Dan sebagian lain saling berbisik-bisik. Bu Dian yang tidak suka menunggu langsung melangkah tegap menghampiri bangku Dika. Otomatis, semua kepala langsung mengikuti langkah wanita itu dengan sedikit menahan napas.
"Kamu tuli? Saya bilang yang tidak--" Kalimat Bu Dian tertahan di kerongkongan kala Dika mengangkat buku tugasnya. Tatapan Bu Dian terlihat sangat terkejut dan tidak percaya. Begitupun dengan teman-temannya.
Dika mengangkat sebelah alisnya dengan malas. Mencopot earphone di telingnaya. Mendengus kesal kala buku ditangannya diambil kasar oleh Bu Dian. Bu Dian mulai membuka lembar demi lembar buku itu. Dahinya berlipat sempurna. Tatapannya antara tidak percaya dan juga takjub dengan setiap jawaban yang tertera di sana. Sepasang mata Bu Dian mulai memicing curiga, menatap muridnya itu yang serasa mustahil mau mengerjakan tugasnya. Kedua tangan Bu Dian berkacak pinggang, lantas bersuara lagi.
"Sekarang, kamu kerjakan soal nomor satu di papan tulis! Saya tidak percaya kalau anak kayak kamu bisa dan mau jawab soal dari saya!"
Telinga Dika terasa panas mendengar ocehan gurunya itu. Dika lantas berdiri. Kepalanya menunduk menantang pada Bu Dian yang hanya setinggi dadanya. Netra mata Dika menajam bagai belati runcing yang siap menombak mangsanya. Rahangnya mengeras. Wajahnya terlihat dingin dan tidak bersahabat. Dika maju selangkah, membuat Bu Dian terlihat cukup terintimidasi hingga ia melangkah mundur. Semua orang di kelas itu bahkan menahan napasnya. Orang seperti apa yang tidak takut ditatap macam preman pasar seperti itu coba.
Dika menyeringai bengis. Kedua tangannya sedikit membenarkan seragamnya yang kusut. Melangkahkan kedua kakinya menuju depan kelas. Suara sepatu kulit berderap dan menggema mengiringi langkahnya. Membuat semua orang kian menahan napasnya. Dika mengambil spidol hitam. Tangannya mulai menulis sesuatu di papan putih itu. Semua pasang mata terpusat ke depan. Dika menahan tangannya. Mencoba mengingat-ingat langkah pemecahan soal itu. Mulutnya mulai menggumam dengan sebelah tangan yang bergerak untuk menghitung. Cukup lama. Sepertinya Dika tidak bisa menyelesaikan soal itu. Dirinya sedikit lupa cara pengerjaan akhirnya.
"Bisa tidak? Jangan-jangan kamu nyuruh orang ya buat kerjain tugas ini?" hardik Bu Dian terlihat kesal.
Dika memejamkan matanya. Mencoba menghiraukan perkataan Bu Dian. Kepalanya ia paksa untuk mengingat langkah berikutnya.
"Sudah kamu keluar saja! Kamu gak usah ikut pelajaran saya lagi!"
Dika mengembuskan napas panjang. Tangannya mulai bergerak lagi. Menyelesaikan soal tersebut sesuai dengan ingatannya.
"156,25 M-2 det-1." Dika berbalik. Mengatakan jawabannya dengan lantang. Sontak saja, Bu Dian dibuat melongo tak percaya. Begitupun dengan seluruh teman kelasnya yang terheran-heran. Bagaimana bisa seorang Dika yang hobi tidur di kelas dan bolos sekolah bisa menyelesaikan soal serumit itu?
Dika menutup kembali spidol hitam itu. Meletakkan lagi di atas meja dengan sedikit membantingnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Berjalan dengan kepala menantang untuk kembali duduk di bangkunya.
"Ba-bagaimana bisa!" Bu Dian masih tidak percaya. Sedikit menepi kala Dika melewatinya.
"Saya tidak percaya! Kamu pasti bawa contekan kan?! Sekarang kamu kerjakan soal nomor dua sampai lima!"
Dika mengehentikan langkahnya. Kepalanya menatap nyalang bagai elang yang kelaparan. Dika mengeluarkan tangannya. Mengepal erat hingga otot-otot tangannya terlihat menyembul keluar. Dika melangkahkan kaki panjangnya mendekat ke arah gurunya. Membuat Bu Dian semakin melangkah mundur kala melihat Dika yang seolah ingin menerkamnya.
"Apa yang mau kamu lakukan! Jangan macam-macam sama saya!" Pancaran mata Bu Dian sangat menjelaskan ketakutan di sana. Bu Dian menelan salivanya. Jantungnya berdetak cukup kencang. Sepasang matanya langsung melotot kala punggungnya menabrak tembok di belakang sana.
Dika langsung mengunci pergerakan Bu Dian. Sebelah tangannya ia letakkan sisi kepala Bu Dian. Tatapannya kian bengis penuh kemarahan. Napas Dika kian berderu bagaikan serigala yang kelaparan. Bu Dian mulai meremas-remas seragamnya. Tubuhnya seolah beku karena tatapan iblis yang diarahkan padanya.
"Berapapun saya mengerjakan soal itu, kalau Anda dasarnya gak percaya sama saya, itu gak akan merubah mindset Anda kepada saya. Orang yang Anda lihat badjingan ini, akan selamanya badjingan di hadapan Anda! Jika Anda berani bermain-main dengan saya, jangan salahkan saya jika suatu saat nanti, saya akan melakukan sesuatu pada Anda. Di sekolah, Anda adalah guru saya. Tapi, saya gak akan pernah pandang bulu di luar sana. Anda benar-benar akan berurusan sama saya. Karena, manusia badjingan ini bisa saja menerkam Anda sewaktu-waktu."
"Ka ... kamu, ngancam saya?!" Tubuh Bu Dian mulai bergetar hebat. Sepasang matanya langsung memanas. Sementara Dika semakin mendekatkan kepalanya. Mengikis jarak mereka hingga napas mereka saling beradu. Bu Dian segera memiringkan kepalanya. Merapatkan kedua bibirnya yang mati rasa.
Dika menyeringai. "Saya tidak mengancam Anda. Tetapi, saya hanya mengembalikan apa yang telah Anda lakukan kepada saya!" Dika menjauhkan tubuhnya. Beralih untuk mengambil tas di mejanya. Saat itu juga, Dika langsung meninggalkan kelas tanpa permisi.
Bu Dian masih syok di tempatnya. Wajahnya kini telah basah akibat keringat. Tubuhnya pun masih terlihat bergetar. Napasnya terputus-putus. Beberapa siswa menatapnya kasihan. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang menenangkan guru galak itu. Sebagian yang lain justru tersenyum senang dan bertepuk tangan di dalam hati atas keganasan Dika yang mampu membuat macan betina terlihat seperti seekor tikus. Mereka-mereka ini memang mempunyai dendam kesumat pada Bu Dian akibat kegalakan beliau.
Bu Dian kembali berjalan ke depan kelas. Wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahunan itu terlihat mengemasi barang-barangnya. Wajahnya yang gugup menyiratkan kekesalan, malu, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
"Kelas saya akhiri. Untuk Minggu depan, silakan kalian kerjakan tugas halaman seratus satu. Dan juga persiapkan diri untuk kuis Minggu depan. Selamat pagi!" Bu Dian meninggalkan kelas dengan terburu-buru. Salam darinya pun tidak ada yang menjawabnya.
"Gila, berani bener si Dika sampai buat Bu Dian pucat pasi gitu," bisik Kevin pada Ruby.
"Iya! Bisa kicep gitu. Gue aja dipelototi Bu Dian serasa nyawa gue ini mau copot! Bisa-bisanya si Kunyuk itu ngancem-ngancem dia. Padahal, gue tahu suami dia polisi loh!" balas Ruby menggebu-gebu. Kelas yang tadinya sunyi langsung grasak-grusuk membicarakan hal yang sama.
"Seriusan lo? Wah, bisa panjang ini urusan kalau dia sampai berani lapor suaminya." Kevin terlihat panik. Entah mengapa dia sedikit mengkhawatirkan Dika.
"Tapi, setelah gue lihat gerak-gerik Dika, dia itu kayak psikopat, anjir! Hawa dia dingin banget. Bulu kuduk gue aja langsung merinding kalau deket-deket dia," tambah Agus menjadi ngeri sendiri.
"Bener. Apalagi tatapannya tuh kayak iblis butuh darah. Insting gue bilang kalau kita gak boleh deket-deket Dika. Dia tuh kayak anak yang kena masalah mental."
Ruby mengangguk. Sepertinya ia memang harus memperingatkan teman-teman. Dia tidak mau berurusan dengan manusia setengah iblis seperti Dika.
...°°°...
Dika mengambil air dingin di kulkas. Menuangkannya pada gelas berukuran cukup besar. Ia menegak isinya sedikit. Membawa gelas itu menuju kamarnya. Langkahnya terhenti di rumah tengah. Menatap lurus-lurus Crescencia yang tengah mengerjakan sisa-sisa tugasnya. Dika menyeringai lantas masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil beberapa buku lagi.
BRAKK
"MAMA!" Crescencia terpekik kaget. Lagi-lagi Dika membanting buku di hadapannya dengan tiba-tiba. Sepasang mata Crescencia langsung melotot, sedang Dika terlihat tidak ada dosa.
"Kak Dika! Jangan suka muncul kayak setan, dong! Icha kan kaget! Kalau jantung Icha kenapa-napa, emang Kak Dika mau ganti?!" protes Crescencia berapi-api.
"Kimia gue dapat E. Sekarang, lo pergi dari rumah gue!"
"Hah?!" Mulut Crescencia melongo bukan main. Kok bisa? Padahal kemarin ia yakin seratus persen kalau jawabannya itu benar semua! Wah, sepertinya guru kimia Dika ini meremehkan kemampuan otaknya!
"Masa?" Crescencia memicing tidak percaya. Menatap penuh selidik ekspresi Dika yang sangat datar dan dingin. Sangat tidak bisa dibaca jalan pikiran anak itu.
"Kalau Kak Dika ketahuan bohong, Kak Dika harus peluk Icha, ya!"
"MIMPI!" balas Dika cepat-cepat. Membuat bibir Crescencia langsung mencebik jelek.
"Terus, itu apa?" tanya Crescencia menunjuk beberapa buku yang baru saja digebrak Dika.
"Tugas gue."
"Hah?! Tugas lagi?!" Crescencia memekik tidak percaya. Napasnya pun langsung tertahan di tenggorokan.
"Ya. Kalau lo sampai--"
"Sampai dapat E, Icha angkat kaki dari rumah Kak Dika!" teriak Crescencia penuh frustrasi. Sementara Dika langsung menarik sudut bibir kanannya ke atas. Kemudian berlalu begitu saja.
"Ih, nyebelin banget kepala batu! Es kutub Utara!" Saking kesalnya, Crescencia tanpa sadar mengambil penghapus, lantas ia lempar kencang-kencang ke arah Dika.
Pletak!
Mampus!
Sepasang mata Crescencia membulat sempurna. Bagaimana bisa penghapusnya itu malah terkena kepala bekalang Dika! Salah suaranya keras sekali! Crescencia langsung pura-pura menyibukkan diri. Mulutnya mulai berkomat-kamit dengan tangan yang terlihat menghitung sesuatu. Padahal, dia tengah menyembunyikan ketakutan yang luar biasa. Keringat dingin pun mulai keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Dika membalikkan badannya. Menatap tajam Crescencia yang terlihat sibuk. Kepalanya langsung tersorot pada penghapus di bawah kakinya. Rahangnya mengeras. Telinganya berubah merah. Dika membungkuk untuk mengambil benda sialan itu. Tanpa pertimbangan panjang, Dika balas melempar kencang.
PLETAK!
"ADUH!"
Sempurna! Lemparannya tepat sekali pada sasaran. Crescencia langsung mengusap-usap pelipisnya yang sakit sekali. Dia bahkan hampir menangis untuk menunjukkan wajah yang teraniaya pada Dika. Sementara Dika mendesis dan menyeringai kemudian berlalu pergi.
"KAK DIKAAA!!!" teriak Crescencia penuh protes. Bibirnya mulai berdrama dengan mengeluarkan suara tangisan. Bukan main rasa lemparan Dika. Bahkan, Crescencia yakin jika pelipisnya itu berubah menjadi kemerahan. Atau bahkan sampai benjol kecil. Crescencia membuka buku tulis Dika bagian paling belakang dengan kasar. Lantas, mulai mencoret-coret sesuatu dengan perasaan kesal luar biasa.
Di sisi lain, Dika bersembunyi di balik tembok. Melihat gadis remaja yang tengah marah-marah akibat ulahnya. Tanpa Dika sadari, bibirnya mulai tersenyum kecil. Entah mengapa, dirinya mulai menikmati permainannya. Ada rasa senang tersendiri bisa menggoda gadis itu. Rasa yang sudah lama sekali tidak singgah dalam benaknya. Saat Crescencia kembali terlihat fokus, Dika lantas beranjak masuk menuju kamarnya lagi.
...🌹°°°🌹...