Crescencia

Crescencia
Bab 21



Crescencia membuka kedua matanya. Pagi ini dia sudah tersiksa dengan napas yang sesak seolah dadanya terhimpit batu besar. Crescencia duduk di pinggir kasurnya. Memijit kepalanya yang nyut-nyutan. Gadis itu melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Langkahnya loyo dengan tubuh yang terasa lemas tak bertulang


Hari ini, ia memutuskan untuk kembali bersekolah setelah hampir dia Minggu masa pemulihan. Crescencia mematut diri di depan cermin. Seragam lengan panjang kini membalut tubuhnya. Crescencia memang sengaja untuk memakai seragam lengan panjang untuk menutupi lebam-lebam serta bekas suntik dan kemoterapi di tangannya. Dan beruntungnya, SMA Amarilis membebaskan siswa perempuan untuk memakai seragam panjang atau pendek. Sehingga dia tidak perlu repot-repot mencari-cari alasannya.


Crescencia menatap sedih pantulan diri sendiri. Netra matanya menatap lurus-lurus kulit wajahnya yang tampak lebih pucat. Tubuhnya kian kurus akibat konsumsi obat-obatannya yang terus bertambah.


Tangannya meraih sisir untuk merapikan rambut panjangnya. Sedikit demi sedikit rambutnya mulai rontok dan melilit di antara ruas sisir. Crescencia sontak menahan gerakannya. Mengambil rontokan rambut yang cukup banyak di tangannya. Dadanya mulai kembang-kempis dan sakit sekali. Satu tetes air mata jatuh ke bawah mengenai bordir lambang sekolah yang tercetak di dasinya.


Crescencia segera mengusap kedua matanya. Dia tidak boleh lemah. Masih banyak yang harus ia lakukan selagi kedua kakinya masih mampu menopang diri. Kedua bahu itu, masih memikul tugas yang cukup besar.


Crescencia turun dengan bibir yang ia paksa untuk tersenyum. Di sana ada Dika yang juga bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


"Pagi Kak Dika...." sapa Crescencia menghadang langkah Kakaknya.


Dika terlihat memutar kedua bola matanya malas. Bibirnya mendengus kesal. Telapak tangannya yang besar langsung memenuhi seluruh permukaan wajah Crescencia. Kemudian, mendorong kepala gadis itu ke samping. Tubuh Crescencia otomatis tergeser, sedang Dika langsung melangkah pergi.


"Ish! Ngeselin banget sih!" Crescencia menggerutu. Lantas berjalan di belakang Dika dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan.


Crescencia dapat melihat Dika yang menggeber-geber kan motor besarnya. Motor itu baru keluar dari bengkel tiga hari lalu. Crescencia memberikan tatapan yang sinis dan tajam. Dan jelas saja Dika sama sekali tidak peduli. Bahkan menoleh pun enggan.


Crescencia masuk ke dalam mobil. Bibirnya masih menggerutu saat mobil itu mulai beranjak pergi. Crescencia mengembuskan napas panjang. Dirinya sedikit terganggu mendengar geberan motor yang terlampau berisik di belakang sana.


Crescencia menoleh ke belakang. Netra matanya langsung membesar saat mengetahui pelaku kebisingan itu adalah kakaknya sendiri.


"Bukannya tadi Kak Dika sudah duluan?" ujar Crescencia pelan. Dirinya dibuat terheran-heran, pasalnya, jalanan hari ini sangat lenggang, sehingga Dika dengan mudah untuk menyalip mobilnya.


"Dari tadi dia ngikuti kita," kata Bimo sewot. laki-laki itu memang rada-rada sentimen sama Dika. Walaupun sudah diberi penjelasan sama Crescencia jika tidak menilai orang dari luarnya saja, tetapi ketika melihat dan mendengar nama Dika, langsung membuat perasaan laki-laki itu jadi runyam. Bagi Bimo, Dika tetap anak berandal yang membawa aura negatif.


"Ngapain?" Crescencia seolah bertanya pada diri sendiri. Kaca mobilnya ia buka lebar-lebar. Wajahnya langsung tersapu angin, membuat rambut panjangnya menari-nari di udara. Kepalanya melongok ke luar jendela untuk melihat kakaknya itu.


"Kak Dika ngapain di belakang sana?!" Crescencia berteriak kencang. Motor Dika kian menggeber nyaring dan memekakkan telinga. Anak itu mengambil jalan ke pinggir, sehingga Crescencia dapat melihatnya lebih jelas.


"Awas, Kak, nanti kesamber knalpot!" teriak Crescencia lagi dengan ketawa-ketiwi.


Dika menggeber motornya. Kini melaju mendekat untuk menyejajarkan mobil yang ditumpangi Crescencia. Sekilas menatap wajah gadis itu yang melemparkan senyumannya.


"Semangat ujian susulannya, Kak! Jangan malu-maluin Icha yang sekarang menjabat jadi mentor beruang kutub yang irit ngomong dan tampan! Nanti kalau dapet nilai bagus, Icha kasih permen lollipop deh ...." Bibir Crescencia nyengir lebar. Sementara lawan bicaranya itu tetap saja bungkam. Rasa-rasanya dia seperti berbicara pada embusan angin saja.


"Kak Dika pernah denger gak sih kalau orang males ngomong itu besok-besoknya--"


Blarrrrr....


Motor Dika menggeber kencang seiring roda dua itu melaju kencang. Meninggalkan debu dan asap kendaraan yang menyapu wajah Crescencia. Crescencia terbatuk-batuk. Sangat paham jika Dika tidak mau mendengar ocehannya di pagi yang indah ini. Crescencia pun memasukkan kepalanya lagi. Menutup kaca jendelanya, lantas merapikan rambutnya yang berantakan.


Dika sampai terlebih dahulu di parkiran. Entah mengapa, semua orang yang berada di sana menjadikannya pusat perhatian. Mungkin mereka terkejut melihat kembalinya Dika di sekolah ini. Ada yang terlihat senang, ada yang terpesona, ada yang terlihat mencibir, dan ada juga yang tidak peduli.


Sesuai pesan dari Bu Dian kemarin, jam pelajaran pertama dia harus mengikuti ujian susulan di ruang guru. Dan entah mengapa hari ini dia bersemangat sekali mengikuti ujian itu.


Sesampainya di ruang guru,  Dika terus melangkahkan kedua kakinya. Kepalanya mengedar untuk mencari wanita itu. Lagi-lagi dirinya ini dijadikan pusat perhatian oleh seluruh guru yang ada di ruangan. Dika sama sekali tidak tersenyum ataupun menyapa mereka. Dan semua guru pun terlihat segan kepadanya. Mereka juga telah mendengar cerita dari Bu Dian kala Dika pernah mengancam yang bukan-bukan.


Sorot mata Dika cukup terkejut melihat dua orang berbadan kekar besar dan berotot berdiri tegap di belakang Bu Dian. Netra hitam Dika langsung terjatuh menyorot pada Bu Dian yang duduk dengan congkak sembari menatapnya dengan sangat tajam.


Dika tersenyum tipis. Tidak habis pikir dengan gurunya itu sampai-sampai harus memanggil pengawal hanya untuk berhadapan dengannya.


"Duduk kamu!" perintah Bu Dian dingin. Dika menurutinya. Anak itu duduk bersebelahan dengan Bu Dian dengan jarak satu setengah meter.


"Ini soalnya. Waktu kamu satu jam dari sekarang," kata Bu Dian tanpa mau berbasa-basi. Wanita itu menggeser soal ujian. Tubuhnya ia miringkan untuk menatap muridnya dengan tatapan intens. Karena sampai detik ini, dirinya belum percaya kalau Dika mampu mengerjakan soal-soal itu.


Pensil di tangan Dika mulai menari-nari. Dahinya sedikit mengkerut membaca soal satu per satu. Keringat mulai bercucuran di wajah Dika. Tangannya terus bekerja untuk mencoret-coret hitungan dengan mengingat-ingat rumus di kepalanya. Soal yang diberikan oleh Bu Dian tidak banyak memang, hanya ada lima butir pertanyaan. Tetapi jawabannya itu bisa beranak Pinak dan berlembar-lembar. Sepertinya ini adalah ajang balas dendam yang sangat tepat.


Dika mengembuskan napas dengan berat. Pandangannya mulai sedikit mengabur saat menjawab soal terakhir. Dirinya dibuat cukup kesusahan dengan soal itu. Kepalanya terus bekerja keras untuk mengingat-ingat rumus panjang yang di tengah jalan ia mendadak lupa.


Bu Dian terus mengawasi Dika bagaikan serigala yang kelaparan. Menengok jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Waktu kamu tinggal sepuluh menit lagi. Selesai gak selesai dikumpulkan," kata Bu Dian yang sudah merasakan kejenuhan.


Dika membanting pensilnya dengan keras. Membuat Bu Dian sedikit terjingkat kaget karenanya. Dika ternyata sudah selesai bahkan sebelum waktu berakhir. Lantas menggeser lembar jawabannya tanpa menoleh sedikit pun pada Bu Dian.


"Yasudah, kamu pergi sekarang!" ujar Bu Dian dengan nada mengusir. Dika pun langsung berdiri dari tempatnya dengan sedikit kasar. Membuat kursi yang ia duduki terdengar berderet nyaring.


"Mungkin ini pertemuan kita di akhir semester. Kamu gak usah macam-macam sama saya! Atau, jangan salahkan dua bodyguard saya yang turun tangan. Paham kamu?!" Melotot mata Bu Dian. Cuping hidungnya terlihat kembang kempis. Namun sorot matanya memancarkan ketakutan di dalam sana.


Bibir Dika menyeringai. Menatap gurunya itu dalam-dalam. Membuat Bu Dian langsung mengalihkan perhatiannya. Dan berpura-pura sibuk dengan lembar ujian Dika.


"Kalau ditanya itu jawab!" Tanpa siapapun duga, kepala Dika tiba-tiba ditoyor oleh laki-laki tangan kanannya Bu Dian. Hal itu membuat Bu Dian terkejut dan semakin melotot. Bukan hanya Bu Dian saja yang terkejut, semua guru yang sedari tadi menyaksikan perdebatan mereka langsung menegang hingga menahan napas.


Dika terdiam. Kepalanya langsung menatap tajam orang yang berani menoyor kepalanya. Sisi-sisi geraham Dika saling menindih dengan keras. Kedua tangannya langsung terkepal erat. Sedangkan orang yang kini ditatapnya justru balas menatap tidak kalah tajam.


"Andri!" bentak Bu Dian memperingatkan asistennya itu. Wajah Bu Dian langsung pucat pasi, dan terlihat wajahnya mulai berkeringat.


"Ini orang yang berani nantang, Ibu?" Andri tersenyum meremehkan. Memandang Dika dengan sangat rendah. Sangat tidak percaya jika bocah seperti ini bisa-bisanya mengancam orang seperti Bu Dian. Begitu pun dengan teman  satunya yang langsung menegapkan kepalanya menantang.


"Kenapa? Lu gak tahu siapa Bu Dian? Bisa-bisanya lu ngancem-ngancem dia! Lu berani nyenggol Bu Dian, lu sama saja nantangin gua!" Andri mendorong bahu Dika dengan sangat kasar. Dan hal itu langsung membuat kepala Dika memanas.


"ANJING LO!"


Buagh!


Dika melayangkan tinjunya pada rahang bawah Andri. Membuat laki-laki itu sedikit mundur ke belakang.


"Lu yang Anjing!" Tiba-tiba teman satunya melayangkan pukulan di pipi kiri Dika. Dika oleng ke belakang dan menabrak meja di sebelahnya. Dika dapat merasakan denyut menyakitkan yang merambat di pipinya.


Bu Dian dan para guru lainnya langsung jejeritan. Bahkan Bu Dian langsung berlari menjauh dari sana.


"Gua habisi lo pada!" Dika mengangkat kursi besi, dan langsung ia lemparkan ke teman Andri.


Brakkk!


Kursi itu melayang dengan cepat,  menghantam korbannya hingga jatuh. Suara teriakan dan jeritan langsung memenuhi ruangan ini.


"Gua hajar lu!" Andri hendak melayangkan pukulannya, namun Dika dengan gesit melompat ke kiri, lantas menendang dada Andri dengan keras. Andri melangkah mundur dengan memegangi dadanya yang terasa sesak. Erangan kecil keluar dari mulutnya.


Mata Dika dengan awas melihat orang yang tadi ia hantam dengan kursi, kini mengangkat kursi itu dan hendak melemparkan ke arahnya. Dika otomatis meloncat ke kanan untuk menghindari lemparan itu.


Brakkkkk


Kursi itu melayang dan menabrak udara kosong di depan sana.


Dika yang terlanjur kepala panas langsung menerjang tubuh orang itu. Melayangkan pukulan tiga kali ke kepala orang itu tanpa ampun.


Dika menundukkan kepala saat kepalan tangan Andri melayang ke arahnya. Otomatis Andri hanya memukul udara kosong di atas kepalanya. Dika balas meninju dagu bawah Andri dengan sangat keras. Darah segar langsung keluar membasahi mulut anak itu. Andri sedikit melangkah mundur dengan ringisan yang keluar dari mulutnya.


Dika tidak tinggal diam. Ia langsung menendang perut Andri dan membuat anak itu jatuh kedua kalinya.


Buagh!


Satu tendangan lolos menghantam wajah Andri. Kepala belang Andri langsung menghantam lantai di bawahnya. Melihat Andri yang terkapar, Dika langsung menginjak-injak kepala Andri menggunakan sepatunya yang tebal dan keras. Menendang wajah orang itu yang telah mengeluarkan darah di mana-mana.


Dika melompat ke kiri saat orang satunya hendak menendang pinggangnya.


"Bangsat!" Dika semakin emosi. Jika saja pergerakannya terlambat sedikit saja, bisa dipastikan ia akan jatuh menyakitkan.


Dika melayangkan pukulannya. Namun orang itu lebih cepat menonjok dahi Dika. Dika melangkah mundur. Pandangannya sedikit menggelap dan berkunang-kunang. Dika melompat ke kanan saat orang itu hendak menyerangnya lagi.


Dengan gerakan cepat, Dika menghantam tulang hidung orang itu dengan kepalan tangannya. Darah segar langsung bercucuran. Tak buang waktu, Dika kembali menendang dada orang itu penuh tenaga.


Brakkkk!!


Orang itu langsung terdorong keras dan menabrak meja di belakang sana. Tumpukan buku di meja itu langsung jatuh berserakan seiring meja kayu yang ikut roboh.


Dika kembali menghampiri Andri yang berusaha untuk bangkit. Kaki kanannya langsung menginjak dada Andri. Erangan kesakitan semakin terdengar memilukan.


Dika sedikit membungkuk. Menjambak rambut Andri untuk menatap wajah orang itu dengan sangat tajam.


"Lo berani noyor gua, berarti lo siap mampus sama gua!" Dika menghantam kepala Andri keras sekali menghantam lantai. Darah merah langsung menggenang membasahi lantai putih itu. Setelah itu, Dika langsung menendang kepala dan beberapa bagian tubuh Andri tanpa ampun.


Bunyi bagh bugh bagh bugh serta lolongan dari suara Andri memenuhi ruangan ini. Dari semua orang yang ada di sana, sama sekali tidak ada yang berani melerai mereka. Bahkan kaki Pak Romi seakan membeku melihat kelakuan brutal anak itu. Beliau menatap Bu Dian yang memucat dan ketakutan. Sorot matanya menajam dan menyalahkan. Karena sudah berkali-kali ia memperingati guru wanita itu untuk tidak main-main sama Dika. Dan dengan keras kepalanya, dia justru menganggu singkat jantan yang kurang waras.


Dika mengangkat kursi besi di dekat sana. Hendak menghantam kepala Andri yang tampak tidak sadarkan diri.


"Hentikan Dika!" teriak Bu Dian semakin ketakutan. "Saya bisa laporin kamu ke polisi kalau kamu nekat melakukan itu!" Dada Bu Dian kembang-kembit. Kedua matanya mulai memanas. Bibirnya yang terpoles lipstik merah itu terlihat bergetar hebat. Sedangkan Dika menahan tangannya di udara. Kepalanya langsung menatap tajam guru wanitanya.


"Kenapa berhenti?! Bukannya memang Anda bawa anjing-anjing ini untuk saya hajar?!" Dika membentak hingga otot-otot lehernya menyembul keluar. Kedua mata itu melotot penuh kebengisan.


"Tapi sikap kamu sudah keterlaluan! Kamu mau jadi pembunuh?!" Bu Dian terlihat tak gentar.


Otot-otot tangan Dika semakin menggenggam erat kursi di atas kepalanya.


"Kalau gitu, biar Anda saja yang saya bunuh!" Dika melempar kursi di tangannya lurus-lurus ke arah Bu Dian.


Brakkkkkkk!!!!


Kursi menghantam lantai dan terpental jauh menerjang kumpulan para guru. Semuanya langsung terperanjat kaget diiringi jeritan ketakutan. Semuanya langsung menyelamatkan diri, dan banyak dari mereka yang berlari keluar. Untung saja tidak ada yang terkena lemparan itu.


"Udah Dika! Ka-kamu bisa saya laporkan Mama kamu!" Pak Doni yang berbicara. Beliau adalah wakil kepala sekolah yang memang tahu menahu latar belakang Dika.


Langkah Dika yang hendak menyerang Bu Dian langsung tertahan. Kedua tangannya terkepal erat. Wajahnya yang basah karena keringat itu semakin terlihat memerah.


Dika mengerang frustrasi. Menendang meja guru seperti orang gila. Meja itu langsung terguling dan menjatuhkan benda apa saja di atasnya. Dika terus mengamuk-amuk seperti banteng lepas. Kini Bu Dian tidak bisa lagi mengeluarkan kata-katanya. Kalimatnya tertahan begitu saja di tenggorokan. Sedangkan semua guru hanya terdiam di pojokan dengan wajah pucat pasi.


Setelah menghancurkan lebih dari tiga meja, Dika langsung beranjak pergi dari sana. Meninggalkan kekacauan dan keheningan dari wajah-wajah pucat pasi yang menatap kepergian Dika.