
Langkah pendek Crescencia mengayun ringan memasuki kelas. Rambutnya yang tergerai indah tersibak tersapu angin. Seulas senyum masih saja terpampang pada bibir mungilnya kala mendapati Nando yang tengah menatapnya kesal.
"Nando, orang yang suka marah-marah tuh cepet matinya loh," rengek Crescencia mencoba membujuk Nando. Namun sepasang mata Nando kian melotot dibuatnya.
"BODO AMAT!"
"Yaudah." Crescencia mendengus mengalah, lantas menempatkan diri pada bangku duduknya. Sepasang mata bulat miliknya langsung menumbuk ke arah Ara yang tengah berkutat dengan pulpen dan buku di tangannya.
"Ara lagi nulis apa?"
"Hah?" Kepala Ara menoleh cepat. Kedua tangan Ara dengan sigap menutup halaman buku itu. Tidak mau memperlihatkan sedikitpun isinya pada Crescencia. Bibir Ara bergerak panik dan sangat terlihat tidak tenang. Sementara Crescencia langsung mengerutkan keningnya. Dalam benaknya ia bertanya, kenapa Ara terlihat sepanik itu? Seperti kepergok maling mangga tetangga saja.
Ara menggeleng lantas membalik buku yang sedang ia tulis. Memasukkannya begitu saja ke dalam loker mejanya. "Ga-gaada."
"Ara kenapa?" Crescencia semakin menatap lekat anak itu. "Wajah Ara keringatan."
"Hah?" Ara reflek meraba wajahnya. Dan benar saja, telapak tangannya langsung basah.
"Ara sakit?"
"Huh..., Keep Calm Ara, and don't panic!" Kini Ara terlihat berbicara sendiri dengan menarik lepaskan napasnya berulang kali. Membuat Crescencia semakin bingung saja.
Setelah dirasa tenang, Ara menoleh kembali, mengangkat kedua sudut bibirnya untuk melihatkan senyuman manisnya. "I'm okey."
Crescencia mengangkat satu alisnya. Sedikit meragukan temannya itu. Namun melihat senyuman Ara membuat Crescencia menghindikkan bahunya tanda mengerti.
"Itu keranjang buat apa? Nangkap monyet?" Ara mengalihkan topik dengan menunjuk keranjang plastik di atas meja Crescencia.
"Gak ada monyet di sini, Ara!" Crescencia mendengus. Meraih keranjangnya dan membuka tutupnya. "Kemarin malam Icha buat roti kukus. Jadi lima belasan. Icha bawa aja ke sekolah buat dibagi-bagi."
"Wah, mau dong!"
Kepala Cree mengangguk mengiyakan. Iya memberi Ara satu roti kukusnya dengan senang hati.
"Gimana rasanya?" tanya Crescencia penuh harap.
Sepasang mata Ara membulat. Menatap Crescencia takjub. "Enak banget, Cha! Seriusan Icha lo buat sendiri?"
Crescencia mengangguk senang. Bibirnya kian mengembang saat kepalanya menoleh ke belakang.
"Eh, Cha! Mau ke mana?" tanya Ara yang melihat Crescencia beranjak dari tempat duduknya.
"Icha mau kasih roti ke Nando. Dia lagi marah sama Icha soalnya."
"Nando?"
Crescencia mengangguk kecil. Lantas berjalan menghampiri Nando dengan membawa keranjang rotinya. Sementara itu, Ara terus memerhatikan Crescencia dengan roti yang masih di tangannya.
"Ndoo ...." Crescencia menempatkan diri pada bangku di sebelah Nando yang kosong. Nando yang tengah bermain games di ponselnya melirik sekilas ke arah Crescencia, sebelum kembali fokus pada layar ponselnya.
"Ndo, orang sok jual mahal itu—"
"Bodo amat!"
"Ish! Kan Icha belum selesai ngomong, Nando!"
"Bodo amat!"
Crescencia memejamkan matanya rapat. Menghirup napas panjang-panjang. Menahan diri untuk tidak menjitak orang di sebelahnya. Walaupun dengan menahan dongkol setengah mati, Crescencia masih mencoba bersabar. Karena orang sabar itu cepat punya pacar.
Crescencia mengeluarkan satu rotinya. Mengangkat roti itu di depan muka Nando. Sehingga menghalangi pengelihatan Nando. Mau tidak mau, akhirnya Nando menoleh dan menunjukkan raut kesal.
"Apa?" tajam Nando.
"Icha buat roti kukus. Enak loh, Ara aja suka."
Nando menatap roti di depannya. Dahinya mulai membentuk lipatan. Ponsel di tangannya ia jejalkan ke dalam saku seragam. Pandangannya kini tak luput menatap Crescencia yang tengah tersenyum manis.
"Makan, Nando."
"Lo mau racunin gue?" tanya Nando penuh curiga.
Seketika itu senyum di bibir Crescencia menghilang. Tergantikan dengan sebuah cebikan kesal.
"Enak aja! Itu roti kan buat gue!" Nando merebut roti itu dengan paksa. Mengabaikan gerutuan yang keluar dari mulut Crescencia.
"Enak!" pekik Nando lebay.
"Enak dong! Icha bikin sendiri loh, itu!" jawab Crescencia pakai sombong.
"Serius?! Bikin sendiri?!"
"Iyaa! Icha bikin sendiri!" ucap Crescencia kesal. "Kenapa sih kok gak ada yang percaya sama Icha!"
Nando tertawa renyah. Tangannya terulur untuk mengacak rambut Crescencia dengan gemas.
"Iya-iyaa, percaya." Nando kembali memakan roti itu dengan nikmat.
"Percaya itu sama Tuhan, Nando! Jangan sama Icha!"
Uhuk! Nando seketika tersedak roti yang sedang ia kunyah. Crescencia yang ada di sebelahnya langsung berinisiatif menepuk-nepuk punggung Nando keras sekali, sembari bibirnya fasih membacakan surah pendek.
"Ngapain lo baca-baca?"
"Nando kayak orang mau mati. Jadinya Icha tuntun aja dengan doa."
"CHA?!"
Crescencia terbahak. Merasa sangat puas melihat kekesalan dalam diri Nando. Detik itu juga, Nando langsung memakan rotinya dengan brutal, bahkan sampai mengunyah kertas roti dan menelannya. Menunjukkan kepada Crescencia bahwa dia benar-benar kesal.
...°°°...
"Cha! Kantin, yuk!" Ara beranjak dari duduknya. Menunggu Crescencia yang masih merapikan alat tulisnya.
"Iya. Sebentar, Ara."
Mereka berdua berjalan bersisihan. Namun langkah Crescencia terhenti saat melihat Ellen, satu-satunya teman di kelasnya yang tidak keluar kelas walaupun sudah saatnya istirahat.
"Ellen gak ke kantin?" Crescencia berjalan mendekat. Menatap Ellen yang tengah asyik sendiri dengan headset di telinganya.
"Ellen." Tanpa tahu malu, Crescencia mencopot sebelah headset Ellen begitu saja. Membuat sang empu langsung terperanjat kaget dan melotot.
Crescencia terkikik geli melihat Ellen yang mengelus-elus dadanya. Ara yang melihat kejadian itu langsung menepuk pundak Crescencia dengan gemas.
"Wah, bisa jantungan tuh anak orang kalau lo kagetin kayak gitu, Cha!"
Crescencia terkekeh. Melihat Ellen yang melepas headset di telinganya dengan penuh tanya.
"Ellen mau ikut bareng ke kantin?" kata Crescencia mengulangi pertanyaannya.
Ellen menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Apa Ellen mau nitip sesuatu? Dari kemarin Icha gak lihat Ellen jajan. Apa Ellen gak lapar?"
"Apasih, Cha! Anak orang lu introgasi gitu." Ara berdecak kesal. "Ayolah! Gue dah laper, nih!"
"Oh! Ellen mau roti yang Icha buat?" Crescencia mengabaikan keluhan Ara yang kini melotot ke arahnya. Ia beranjak menuju mejanya, mengambil keranjang rotinya, Dan memberikan satu buah roti kepada Ellen.
"Ini Ellen, makan, ya! Enak kok!" Crescencia tersenyum lebar.
"Sudahkan? Ayo!" Ara yang tidak sabaran menarik paksa lengan Crescencia. Membuat Crescencia terseret tubuh Ara yang lebih tinggi darinya.
Ellen terdiam. Menatap dua orang temannya yang baru saja menghilang di balik pintu. Pandangan Ellen teralih pada roti kukus di tangannya. Sudut bibirnya tanpa sebab terangkat naik, seolah menyeringai kecil.
Tanpa suara, Ellen beranjak dari duduknya. Langkahnya terhenti di depan pintu kelas. Fokus Ellen kini jatuh pada sebelah tangannya yang tengah meremas roti kukus itu. Lantas membantingnya begitu saja ke tempat sampah.
"So Fucking!"
Ellen tersenyum picik dengan menepuk-nepuk tangannya yang kotor. Ia memasang kembali headset di kedua sisi telinganya, lantas kembali masuk ke dalam kelas.
...•••...
...-NANDO-...