Crescencia

Crescencia
Bab 10



Sesuai kesepakatan kemarin, Minggu sore ini, Crescencia telah bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan bersama Nando. Crescencia terlihat merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan dengan tangannya. Dan tak lupa dengan memakai parfum serta memoles sedikit bibirnya yang kering menggunakan lipbalm merah muda yang selalu ia bawa.


Crescencia menuruni tangga dengan tas selempang di bahunya, saat Nando telah mengirim pesan jika anak itu telah sampai di depan rumahnya. Langkah Crescencia terhenti kala menemui Mira yang hendak ke dapur. Kepalanya langsung menatap kamar Dika yang tampak tidak berpenghuni. Crescencia pun bertanya pada Mira,


"Kak Dika belum pulang juga, Bi?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Mira menghentikan langkahnya. Wanita itu menggeleng pelan, "Belum, Cha." Mira dapat melihat perubahan raut Crescencia yang langsung memberikan sorotan lesu.


"Kamu tenang aja. Dika pasti pulang, kok," kata Mira mencoba menenangkan Crescencia.


Crescencia mengangguk kecil dan menjawab dengan lemas, "yasudah kalau gitu, Bi. Semoga Kak Dika cepet pulang, dan enggak kenapa-napa. Icha kangen solanya.


"Iya, Cha. Eh, kamu mau ke mana?" tanya Mira kala melihat Crescencia yang hendak beranjak pergi.


"Icha mau jalan-jalan sebentar, Bi. Sama temen Icha."


"Temen yang mana? Temen apa temen?" ucap Mira sedikit menggoda.


"Temen, Bi." Crescencia tersenyum simpul. "Kalau gitu, Icha pergi dulu ya, Bi. Icha gak akan lama kok perginya."


"Iya, Cha. Kamu hati-hati, ya!" Crescencia mengangguk, lantas melangkah pergi dari hadapan Mira.


Bibir Crescencia semakin mengembang kala menemui Nando yang telah ada di depan pagar rumahnya. Berjalan kecil menghampiri Nando yang langsung menegapkan tubuhnya di atas motor hitam itu.


"Sini!" perintah Nando pada Crescencia agar mendekat ke arahnya. Crescencia pun menurut dan melangkah lebih dekat.


Bibir Crescencia tersenyum kala Nando memasangkan helm di kepalanya. Nando juga merapikan poninya yang sedikit berantakan.


"Cha, kita naik motor. Lo jangan pecicilan, bisa bahaya! Lo tahu kan gue gak mau mati muda!" Nando memperingatkan dengan tegas. Dia sendiri sudah menyiapkan mental ini dari semalaman. Sementara Crescencia justru tertawa geli mendengarnya.


"Iya, Nando! Icha akan anteng, kok! Icha waktu itu juga takut pas mau ketabrak truk tronton!" jawab Crescencia dengan meringis kecil di ujung katanya. Nando pun tersenyum lega mendengar pengakuan Crescencia.


"Yaudah, yok naik!"


Crescencia mengangguk. Dia pun naik di atas pedal sebelum meloncat ke atas jok. Namun, sudah tiga kali Crescencia mencoba meloncat naik, tetap saja  tidak bisa menjangkau jok motor Nando yang tinggi. Terlebih, Crescencia sedikit kesulitan karena saat ini ia memakai rok pendek selutut.


"Nando! Kaki Icha gak nyampai!" rengek Crescencia dengan mencebikkan bibirnya sedih.


Nando yang tengah sedang helm lantas menolehkan kepalanya, detik itu juga, dirinya langsung tertawa kala melihat ekspresi Crescencia. Nando pun sedikit memiringkan motornya agar Crescencia lebih mudah naik ke atas motor.


"Pegang pundak gue," kata Nando memberikan pundaknya. Crescencia pun menurut. Memegang pundak Nando untuk ia jadikan tumpuan, lantas meloncat naik ke atas motor.


Nando tersenyum simpul kala Crescencia sudah ada di belakang punggungnya. Nando pun mengatur posisi spion agar bisa menatap Crescencia dari sana.


"Kita mau ke mana, Ndo?" tanya Crescencia memiringkan kepalanya.


"Lo mau ke mana?" sahut Nando yang sedikit memutar tubuhnya ke belakang. Menatap Crescencia yang malah mengerjap lucu.


"Icha gak tahu, Nando! Icha cuma tahu rumah sama sekolah!" jawab Crescencia sangat jujur.


"Ke alun-alun, mau?" tawar Nando, yang dibalas anggukan langsung dari Crescencia. "Iya, mau!"


Nando membenarkan posisi duduknya. Menyalakan motornya, lantas ia jalankan dengan kecepatan sedang.


Di sepanjang perjalanan, Crescencia duduk dengan anteng. Crescencia membuka kaca helmnya. Kepalanya mendongak, dengan kedua tangan yang ia rentangkan. Crescencia memejamkan kedua matanya. Merasakan semilir angin sore hangat, yang membelai wajah dan poninya yang terbebas dari helm.


Sudut bibir Nando kian terangkat naik saat melihat kelakuan Crescencia yang menggemaskan di matanya. Tiba-tiba saja, bibir Nando  tersenyum picik. Nando dengan jahilnya menggoyang-goyangkan motornya di jalanan yang cukup lenggang. Membuat Crescencia kontan membulatkan matanya.


"Nando! Jangan goyang-goyang!" kata Crescencia dengan menepuk pundak Nando.


Nando tertawa senang melihat kepanikan di wajah Crescencia. Nando tanpa takut semakin meleok-leokkan motornya dan sedikit menambah kecepatan motor. Membuat sepasang mata Crescencia kian membulat dan berteriak panik.


"NANDOOO!!!" teriak Crescencia sembari melingkarkan kedua tangannya erat di depan perut Nando. Akan tetapi, Nando justru tertawa puas. Namun, tawanya langsung berubah menjadi ringisan kala Crescencia mencubit keras perutnya menggunakan sepuluh jadi tangannya.


Otomatis, Nando langsung memelankan motornya, dan berhenti mengerjai Crescencia.


"Sakit, Cha!" ringis Nando. Tangan kirinya mulai mengusap-usap perutnya yang terasa nyut-nyutan.


"Nando, sih, bikin takut, Icha!" sungut Crescencia membela diri.


"Lagian lo asik sendiri! Ajak ngomong gue, kek!" timpal Nando pura-pura merajuk.


"Di jalan gak boleh banyak ngomong, Nando! Nanti Nando nyetirnya gak fokus!" balas Crescencia memperingatkan dengan sungguh-sungguh.


Nando memberengut. Mengedikkan kedua bahunya pasrah, lantas kembali fokus ke jalan raya.


"Ndo," Crescencia menusuk-nusuk punggung Nando dengan jari telunjuknya.


"Apa?" jawab Nando dengan melihat raut Crescencia di spion.


"Icha berdiri di pedal, boleh? Icha mau--"


Kepala Crescencia langsung menunduk lesu. Bibirnya pun kian mengerucut beberapa senti. Tatapan Crescencia berubah sendu, persis seperti bocah lima tahun yang tidak dibelikan mainan. Nando yang melihat ekspresi menyebalkan itu, langsung mengembuskan napas berat. Nando sedikit menepikan motornya dan menjawab pasrah, "iya-iya, boleh."


Kepala Crescencia langsung menegak. Bibirnya tersenyum senang dan bersorak, "Terima kasih, Nando!" Crescencia langsung menegapkan tubuhnya, sedikit mencari keseimbangan dengan memegang kedua bahu Nando.


"YEEEEE!" Crescencia berteriak lantang dengan kedua tangannya yang merentang di udara. Kedua tangannya mulai melambai-lambai, menyapa pengendara lain yang melihat ke arahnya. Dan entah mengapa, Nando justru tertawa senang melihat kelakuan Crescencia yang sangat kekanak-kanakan. Walaupun dirinya sekarang menjadi pusat perhatian akibat kelakuan Crescencia.


Nando memarkirkanmotornya kala mereka telah sampai di alun-alun. Kepala Crescencia langsung mengedar, menyapu banyaknya orang yang tengah menikmati segarnya sore ini di taman itu. Senyumnya kian melebar, sepasang matanya terlihat berbinar. Sudah lama sekali ia tidak jalan-jalan sore seperti ini. Crescencia menarik napas dalam, mengisi dadanya dengan angin sore yang menenangkan.


"Nando, Nando! Icha mau lihat itu!" Crescencia kembali berteriak dengan menunjuk-nunjuk objek yang dimaksud.


Nando mengikuti arah tunjukan Crescencia. Kepalanya langsung menggeleng kecil dan berkata, "iya, sabar." Nando pun melepas helm di kepala Crescencia. Mengaitkan helm itu di kaca spion. Namun, Crescencia terlihat tidak sabar, anak itu langsung menarik tangan Nando untuk mengikutinya.


"Wah, monyet! Lucu banget kayak, Nando!" teriak Crescencia histeris melihat topeng monyet di hadapannya.


"Enak aja gue disamain sama monyet!" protes Nando sangat tidak terima.


"Persis, tahu! Coba Nando tiruin!"


"Ganteng gue jauh, lah!" sungut Nando. "Nih, lo, lihat!" Nando langsung memeragakan gerakan monyet di depan Crescencia. Wajahnya ia tekuk sejelek mungkin, dengan satu tangan di atas kepala, dan satunya lagi ia lingkarkan di belakang punggungnya. Nando bahkan berjalan beberapa langkah, bukan seperti monyet, Nando justru terlihat seperti seekor gorila. Crescencia langsung tertawa cekikikan di tempatnya. Dia bahkan mengeluarkan ponselnya dan merekam kelakuan Nando. Dirinya tidak menyangka jika Nando mau saja ia kerjai seperti ini.


Nando menghentikan kegilaannya kala sadar jika banyak pasang mata yang kini menertawakan dirinya. Tubuhnya langsung panas dingin melihat banyaknya ponsel yang menyorot ke arahnya. Kepala Nando langsung menunduk malu,  menyeret tangan Crescencia menjauh dari sana.


Crescencia masih saja tertawa di atas penderitaan Nando. Terlebih melihat wajah Nando yang kini merah padam. Keduanya memilih duduk di bangku taman yang cukup jauh dari orang-orang itu. Crescencia kini telah memegang sebuah permen kapas, yang panjangnya melebihi kepala Crescencia. Crescencia terlihat sangat menikmati makanan itu. Crescencia juga membagi makanan manis itu kepada Nando. Karena Nando lah yang telah membelikannya.


Kepala Crescencia menoleh kala telinganya mendengar suara ricuh kepakan burung. Crescencia pun menolehkan kepalanya. Bibir Crescencia sedikit terbuka melihat banyaknya burung dara yang tak jauh dari tempatnya. Crescencia berdiri dari duduknya. Berjalan perlahan mendekati puluhan burung itu. Diikuti Nando yang langsung berjalan di belakangnya.


"Burunggg!!" Crescencia berlari mendekati kumpulan burung itu. Membuat banyaknya burung dara langsung berterbangan menjauh dari Crescencia.  Crescencia tertawa, berlari kecil mengitari burung-burung itu yang selau saja terbang menjauh. Crescencia bahkan merentangkan kedua tangannya, kakinya mulai berputar-putar di tempat. Mengikuti adegan film yang pernah ia tonton sewaktu kecil.


Sementara Nando hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Crescencia yang beda dari yang lain. Rasa hangat menyelimuti dadanya saat melihat bibir Crescencia tersenyum dan tertawa, terlebih ini karenanya. Tatapan Nando melekat melihat Crescencia yang bergerak ke sana, ke mari. Nando bahkan terkekeh dengan menggelengkan kepalanya kecil melihat kelakuan Crescencia. Dirinya bahkan meragukan fakta bahwa Crescencia telah menjadi siswa SMA.


Senyum di bibir Nando berubah menjadi keterkejutan, kala puluhan burung dara itu berterbangan ke arah Crescencia. Nando dapat melihat burung-burung itu seolah hendak menyerang Crescencia. Crescencia pun langsung memegangi kepalanya dan sedikit menunduk.


"Aaaaaaaa!" Crescencia berteriak ketakutan. Nando berlari dengan cepat menghampiri Crescencia. Merangkul anak itu dengan sedikit memeluknya. Sebelah tangan Nando langsung menghalau puluhan burung yang berterbangan di sekitarnya.


Crescencia menggenggam erat pakaian Nando. Ia dapat merasakan kepalanya diinjak-injak oleh banyaknya burung. Begitupun dengan Nando, dia harus merelakan kepala dan tangannya  diserang puluhan burung itu. Nando melepaskan pelukannya, kala mereka berhasil menjauh dan burung-burung itu tak lagi menyerangnya.


"Nando! Permen kapas Icha ..., Dimakan sama burung ....! Burungnya nakal, Nando! Icha gak suka!" Crescencia mengangkat permen kapasnya yang tercabik-cabik. Bibir Crescencia mencebik dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca. Terlihat jelas jika dia mau menangis.


"Jangan nangis, dong!" kata Nando yang langsung terlihat cemas dan panik.  "Ayo kita beli lagi. Gue beliin berapapun yang lo mau!" Nando menarik pergelangan Crescencia menuju penjual permen kapas itu. Karena Nando tidak mau melihat air mata Crescencia jatuh begitu saja. Crescencia menurut. Namun, di tengah langkahnya, Crescencia sedikit menarik tangan Nando. Membuat Nando menghentikan langkahnya. Dahi Nando sedikit berlipat, melihat Crescencia yang seperti menatap sesuatu. Nando pun langsung mengikuti arah pandang Crescencia.


"Icha mau main itu!" kata Crescencia sedikit merengek, dengan menunjuk kumpulan anak kecil yang bermain gelembung sabun.


"Serius?" kata Nando sedikit tidak yakin. Pasalnya, yang ia lihat sekarang adalah gerombolan anak kecil yang usianya mungkin sekitar empat sampai tujuh tahunan yang bermain permainan itu.


"Iya." Kepala Crescencia mengangguk saja. Karena dia juga lama sekali tidak bermain gelembung air. Dirinya bahkan lupa kapan terakhir kali memainkan permainan itu.


Nando mengembuskan napas panjang. Kepalanya mengangguk mengiyakan. Crescencia jelas saja bersorak senang. Nando tersenyum simpul. Entah mengapa, hari ini dia ingin melakukan apapun, asal Crescencia bisa tertawa senang bersamanya.


"Tunggu, dulu!" Nando menarik tangan Crescencia yang hendak melangkah.


"Rapihin rambut lo dulu. Rambut enggak ada beda sama sarang burung!" celoteh Nando dengan merapikan rambut Crescencia menggunakan jarinya.


"Bukan salah Icha. Salahkan aja burung-burung nakal itu yang injak-injak kepala Icha tanpa permisi!" sahut Crescencia kembali menekukkan bibirnya.


Nando tersenyum saja mendengar ocehan Crescencia. Saat Nando sibuk merapikan rambut Crescencia yang berantakan, tiba-tiba saja kedua mata Nando menangkap ruam keunguan dan beberapa bintik merah yang berada di leher kanan kanan Crescencia. Nando pun segera menyibakkan rambut Crescencia untuk melihat ruam itu dengan jelas. Kedua matanya kian membulat melihat ruam seperti bintik kemerahan yang menjalar pada tengkuk leher Crescencia.


"Cha, lo kenapa?" Nando bertanya, nada suaranya terdengar jelas ada kekhawatiran di sana.


"Icha gapapa. Emang Icha kenapa?" balas Crescencia yang justru terlihat bingung akan pertanyaan Nando yang tiba-tiba


"Leher lo kenapa? Lo sakit?"


Tubuh Crescencia seketika menegang, Crescencia langsung mengusap lehernya yang ditunjuk oleh Nando. Kedua mata Crescencia mulai bergerak tidak tenang. Crescencia pun segera menutup luka itu dengan rambutnya yang panjang.


"Gak, gapapa. Icha kemarin habis makan udang, Icha lupa kalau Icha alergi udang," jawab Crescencia berbohong. Kedua tangan cresensia yang dingin  mulai menggenggam sisi kaosnya. Jantung Crescencia pun mulai berdetak tidak tenang. Ia memang tidak pandai berbohong seperti ini.


"Gak papa gimana, itu--"


Crescencia langsung menarik tangan Nando untuk mengikutinya, dia tidak mau mendengar apa-apa lagi dari Nando. Crescencia langsung memesan dua alat gelembung sabun, yang satunya ia berikan kepada Nando. Nando menerima alat itu, walaupun ia masih sedikit penasaran karena merasa Crescencia menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Crescencia membuang permen kapas di tangannya ke tempat sampah. Kemudian, kembali menarik tangan Nando untuk bergabung dengan kumpulan anak kecil itu. Lagi-lagi, Nando menurut saja ditarik-tarik seperti ini. Keduanya langsung memainkan gelembung sabun dengan antusias. Crescencia tersenyum sempurna kala gelembungnya berterbangan di udara.


Anak-anak kecil di sekitar mereka langsung berlarian mengejar gelembung yang Crescencia buat. Crescencia melangkahkan kakinya, sedikit berlari kecil sembari mengitari anak-anak itu yang terlihat senang dan saling berlomba-lomba menangkap  gelembung sabun miliknya.


Tawa Crescencia kian lebar  menikmati kebagian kecil di sore ini. Nando tersenyum sangat lega saat Crescencia tidak berhenti tersenyum dan tertawa. Entah mengapa, di dalam lubuk hati kecil Nando, seolah-olah ada bisikan halus yang berkata dan menyuruh dirinya untuk bisa menjaga dan membuat Crescencia bahagia. Nando pun tidak mengerti. Namun, setiap dia berada di dekat Crescencia, Nando merasakan nyaman dan hangat yang menjalar di dadanya. Di sisi lain, Nando merasakan ada yang berbeda dari dirinya maupun dari Crescencia. Nando tidak tahu pasti, yang jelas, saat ini Nando merasa sangat bahagia kala Crescencia tersenyum senang ke arahnya.


...🌻...