Crescencia

Crescencia
Bab 23



Sore ini, Crescencia duduk seorang diri di ruang tunggu. Kedua kakinya mengayun ringan, menunggu namanya dipanggil masuk ke ruangan. Sesekali tangannya saling mengusap untuk memberikan kehangatan akibat angin dari pendingin ruangan yang mulai menusuk-nusuk kulitnya yang terbuka.


"Crescencia Calya."


Kepala Crescencia menegap. Tersenyum manis pada wanita muda yang berdiri di ambang pintu untuk menyuruhnya masuk. Crescencia beranjak dari sana, kakinya mengayun ringan memasuki ruangan dingin dan putih yang menjadi rutinitasnya untuk kemoterapi.


Crescencia langsung membaringkan diri pada brankar. Dilihatnya dokter Paulus yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana kondisi kamu satu Minggu ini?" tanya dokter Paulus sembari memeriksa detak jantung Crescencia.


Crescencia tersenyum tipis. Namun sorot matanya terlihat jelas jika gadis itu tidak baik-baik saja.


"Jika kondisi kamu terus memburuk, risiko terbesar kamu harus berhenti sekolah, Cha. Saya sudah membicarakan ini sama Papa kamu."


Tatapan Crescencia meredup. Dadanya terasa sesak sekali. Dokter Paulus mulai menjalankan proses kemoterapi dibantu dengan Dara sebagai asisten pribadinya. Dalam proses kemoterapi Crescencia hanya dapat memejamkan matanya. Menerima berbagai rasa sakit yang mulai menggerogoti seluruh tubuhnya.


Setelah hampir dua jam melakukan proses kemoterapi, Crescencia memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil anak itu terlihat lesu dan tidak semangat. Wajahnya yang pucat dan lemas membuat Bimo khawatir sekali dengan kondisi Crescencia. Dan sampai saat ini pun dia tidak mengetahui penyakit apa yang diderita anak itu.


Mobil melaju melewati jalan Palapa. Sore ini langit terlihat cukup mendung dan suram. Sepertinya hujan akan turun membasahi kota ini. Bimo mengecilkan volume musik di mobilnya. Kepalanya sedikit menoleh pada Crescencia yang berdiam diri seperti orang sariawan.


"Cha," tegur Bimo memanggil anak itu.


Crescencia menoleh. Menatap Bimo dengan sepasang matanya yang sayu.


"Iya, Pak Bim?"


"Emm, kamu itu sebenarnya sakit apa sih, Cha? Hampir setiap hari saya antar kamu bolak-balik rumah sakit, tapi saya gak tahu kamu kena apa."


Bibir Crescencia tersenyum tipis sekali. Sehingga senyuman itu justru terlihat seperti sebuah ringisan.


"Enggak tahu, Pak Bim," jawab Crescencia berbohong.


"Parah ya, Cha?" tanya Bimo lagi. Dia seperti tahu jika Crescencia memang tidak ingin memberitahukan penyakitnya.


Crescencia menunduk. Merasakan nyeri yang mulai terasa di dadanya.


"Mungkin," jawab Crescencia lemas sekali.


"Hmm." Bimo merasa tak enak hati jika terus bertanya tentang ini. "Oh iya, tadi saya dapat pesan dari Pak Dimas, katanya dia mau pulang sebentar," lanjut Bimo mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Loh, bukannya Papa baru pulang satu Minggu yang lalu?" kata Crescencia sedikit bingung.


"Saya juga kurang tahu, tapi kata Pak Dimas ada urusan sama Icha."


"Sama Icha?" Crescencia membeo.


"Iya. Mungkin sekarang udah sampai rumah."


Crescencia mengembuskan napas panjang. Punggungnya ia sandarkan ke kepala kursi. Jika papanya pulang mendadak seperti ini, pasti akan ada hal penting yang terjadi. Crescencia jadi penasaran, hal penting apa yang berhubungan dengan dirinya sampai-sampai papanya itu menyematkan waktu untuk pulang.


Di tengah-tengah lamunannya, tubuh Crescencia dibuat menegap saat mobil ini melewati area pasar Kamboja. Hujan rintik mulai turun membasahi jalan kota. Dilihatnya dari kaca jendela, seseorang berlarian tunggang-langgang seperti dikejar-kejar oleh sesuatu. Orang itu terlihat ketakutan dengan wajahnya yang merah dan penuh keringat.


Crescencia mengenali orang itu.


"Pak, Bim berhenti! Berhenti Pak Bim!" Crescencia menepuk-nepuk lengan Bimo dengan panik.


Mobil yang mereka kendarai langsung berhenti mendadak. Membuat roda belakang mobil itu berdecit nyaring. Hal itu membuat banyak pasang mata yang menyirat protestan ke arah mereka.


"Ada apa, Cha?!" tanya Bimo yang merasa kaget akibat diberhentikan secara mendadak seperti ini.


Crescencia mengabaikan pertanyaan Bimo. Dia langsung membuka pintu depan mobil itu lebar-lebar.


"Ellen!" teriak Crescencia memanggil nama temannya di belakang sana. "Masuk, Len!"


Kepala Ellen menegap. Napasnya mulai terputus-putus di kerongkongan. Tanpa banyak kata, Ellen langsung melompat naik ke dalam mobil dan menutup pintu keras-keras.


"Ellen kenapa?!" Crescencia bertanya panik. Sementara Ellen terlihat masih mengontrol deru napasnya. Kepalanya menoleh ke belakang. Sepasang matanya langsung melotot melihat dua preman pasar yang masih mengejarnya.


Ellen menyandarkan kepalanya. Rambutnya yang sebahu terlihat berantakan. Crescencia mengambil botol minum yang memang selalu tersedia dia dalam mobil ini. Memberikan minuman itu kepada Ellen.


Ellen minum dengan sangat brutal. Membuat leher dan sebagian bajunya basah karena tumpahan air itu.


"Astaga Ellen." Crescencia dengan sigap mengusap leher Ellen dengan tisu kering.


Kepala Ellen menoleh. Menatap Crescencia dengan lekat. Dalam dirinya masih ada rasa kesal dengan gadis itu. Namun, berkat Crescencia juga, dia berhasil kabur dari dua preman sialan yang hampir saja merampoknya.


"Udah." Ellen menjauhkan tubuhnya. Crescencia mengangguk mengerti. Membuang tisu yang cukup basah itu pada kantung plastik bekas obatnya.


"Ellen kenapa? Kok kayak dikejar-kejar orang?" tanya Crescencia perhatian.


"Gue mau dirampok sama preman-preman pasar!"


"Kok bisa?!" terkejut Crescencia mendengarnya. Sepasang matanya pun langsung melotot tak percaya.


"Lagi apes kali," jawab Ellen sedikit kesal. Lantas mengalihkan kepalanya menuju jendela mobil. Melihat hujan yang mulai turun dengan deras.


Crescencia sepertinya mengerti jika Ellen masih belum mau bicara banyak dengannya. Ia pun langsung menyandarkan punggungnya. Sedikit menggeser diri agar Ellen mendapat ruang duduk lebih banyak.


Keduanya pun sama-sama diam. Kini, mobil itu hanya diisi oleh lantunan lagu kesukaan Bimo pada zamannya, serta hantaman hujan yang semakin terdengar keras.


"Gue turun di pertigaan depan," kata Ellen membuka suaranya.


Crescencia mengangguk. Menyambung ucapan Ellen pada Bimo. Walaupun sebenarnya Bimo juga mendengar perkataan gadis itu.


Mobil itu pun berhenti sesuai permintaan Ellen. Ellen membuka pintu mobil dan hendak melompat turun. Namun, lengannya ditahan oleh Crescencia dengan tiba-tiba.


"Tunggu, El," kata Crescencia, membuat Ellen langsung menahan gerakannya.


"Pakai ini!" Crescencia memberikan payung lipat berukuran kecil pada Ellen. Ellen melihat benda itu sekilas, lantas bibirnya terbuka untuk menolak.


"Gausah. Gue--"


"Pakai, El!" potong Crescencia dan langsung memberikan payung itu ke tangan Ellen. "Icha takut Ellen sakit lagi. Gapapa, pakai aja."


Ellen terdiam. Menatap payung warna merah muda dengan gambar bunga mawar kecil di setiap permukaannya.


"Pakai saja, El," pinta Crescencia sungguh-sungguh.


Ellen menghela napasnya. Ia menurut dan membuka payung itu.


"Thanks," kata Ellen dengan dingin. Lalu melompat turun dari sana.


Bibir Crescencia tersenyum kecil. Menatap punggung Ellen yang mulai menjauh dari pandangannya. Crescencia pun menutup kembali pintu mobil itu. Menyuruh Bimo untuk kembali menjalankan mobilnya.


Sesampainya di rumah, Crescencia langsung melihat mobil sedan hitam pekat yang ada di halaman rumahnya. Benar kata Bimo, rupa-rupanya papanya itu telah sampai di rumah.


Crescencia segera masuk ke dalam. Dirinya langsung dibuat kebingungan melihat banyak orang yang sibuk memindahkan barang-barang kamarnya ke lantai bawah .


Crescencia berlari kecil menghampiri papanya. "Pa?" tanya Crescencia penuh tanda tanya.


Dimas menoleh. Langsung memeluk putrinya dengan hangat. "Mulai sekarang kamu tidur di kamar tamu ya, Cha. Kamu gak boleh naik-turun tangga lagi," kata Dimas menjawab pertanyaan di kepala Crescencia.


Crescencia merasakan usapan lembut di kepalanya. Dadanya terasa sesak sekali.


"Papa tunggu hasil lab kamu satu Minggu lagi. Dan Papa mau kamu istirahat total di rumah. Kamu gak perlu lagi mikirin sekolah."


Kepala Crescencia mendongak. Menatap papanya dengan mata yang berkaca-kaca. Satu detik kemudian, air matanya tumpah membasahi kedua pipinya.


"Icha nyusahin papa, ya? Maaf, Pa, Icha belum bisa bahagiain Papa...." kata Crescencia dan mulai menangis sesegukan.


"Hei! Siapa yang bilang kamu itu nyusahin?" Dimas kembali memeluk putrinya itu. "Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi, Cha, kamu itu berlian berharga kebanggaan Papa yang dikirim sama Tuhan! Papa bangga punya anak kayak Icha."


Crescencia semakin terisak. Dadanya seperti diobrak-abrik oleh benda tajam. Sakit sekali. Hingga sesaat kemudian, tubuhnya terasa lemas. Pandangannya mulai mengabur. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Napasnya kian tersengal di kerongkongan. Dan akhirnya ambruk di dekapan papanya. Gadis itu langsung tidak sadarkan diri seiring teriakan papanya yang memanggil-manggil namanya.