Crescencia

Crescencia
Bab 8



Crescencia menenteng beberapa kantung plastik di tangannya. Meletakkan semua barang itu di atas meja dapur. Sebelum pulang, dirinya menyempatkan diri pergi ke minimarket dekat rumahnya, membeli bahan-bahan untuk membuat roti kukusnya.


Kepala Crescencia menegap kala sepasang telinganya mendengar suara berat seseorang yang sangat familier. Sontak, Crescencia langsung menajamkan  pendengarannya, melangkah pelan mengikuti sumber suara.


kedua mata Crescencia membulat sempurna kala mengetahui  pemilik dari suara itu. Dia dapat melihat jelas papanya tengah berbincang santai dengan Ellis di ruang TV. 


"Papa!" Crescencia langsung berteriak girang. Sedikit berlari lantas memeluk Dimas dengan erat.


Dimas yang mendengar teriakan putrinya langsung menoleh. Menerima pelukan Crescencia dengan senang hati. Bisa dilihat kedua mata Ellis melotot dengan mengembuskan napas sebal. Menggeser duduknya untuk menjauh dari keduanya.


"Papa kapan pulang?" Crescencia membenarkan posisinya menjadi duduk bersila di atas sofa. Menyorot rindu pada Papanya. Ini kedua kalinya dia bertemu dengan Dimas setelah pindah ke Kota Malang. Karena terhambat akan jadwal kerja Dimas yang menyita waktu, sehingga jarang sekali berkumpul dengannya.


"Baru saja," jawab Dimas dengan menyeruput kopi yang tadi Mira buatkan untuknya.


"Kamu betah di sini?" Dimas mengimbuhkan. Membuat tubuh Crescencia sedikit menegang. Sedikit melirik pada Ellis yang menatapnya dingin.


"Betah, Pa. Mama dan Kak Dika baik sama Icha," jawab Crescencia dengan mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. Sedikit menahan ringisan kecil yang mengiris hatinya.


Dimas tersenyum lega mendengarnya. Ellis langsung tersenyum singkat kala Dimas menoleh ke arahnya.


"Syukurlah..."


Dimas mengelus lembut kepala putrinya dengan sayang. Lantas mengimbuhkan, "Jangan lupa minum obat. Terus, istirahat yang cukup."


Dimas mengeluarkan dompetnya. Mengambil sebuah kartu, lantas menyerahkan pada putrinya.


"Ini kartu berobat kamu yang baru. Jangan lupa terus cek kesehatan kamu. Dokter Paulus akan menangani kamu. Dia rekan Papa di Malang. Jadi kamu gak usah khawatir."


Crescencia tersenyum. Mengangguk mengerti, lantas menerima kartu itu. Sejenak, ia tatap kartu itu dengan sendu. Namun Crescencia segera mengubah mimik wajahnya. Gadis itu ... Terlalu berbakat untuk menutupi lukanya.


"Terima kasih, Papa." Crescencia kembali memeluk erat Dimas. Menyembunyikan dadanya yang mulai terasa sesak.


"Sudah, kembali ke kamar kamu. Mandi, dan istirahat."


Crescencia mengangguk menurut. Beranjak dari sana, tersenyum sesaat kala Ellis justru menatapnya sinis.


...🌹...


Crescencia duduk di meja belajarnya. Entah mengapa sepasang matanya langsung terpusat pada beberapa butir obat  yang tersisa untuk sekali minum. Gadis itu mengembuskan napas lelah. Sejujurnya, ia sudah muak dengan semua rutinitas obatnya. Karena setiap harinya, ia mau tidak mau harus mengkonsumsi lebih dari sepuluh pil obat dalam sehari.


Crescencia menutup kedua matanya sejenak, mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Tangannya terulur untuk meraih obatnya, namun tertahan kala seseorang mengetuk pintu kamarnya. Crescencia pun beranjak dari duduknya, membuka pintu dan menemui Mira yang tersenyum hangat ke arahnya.


"Waktunya makan malam, Cha!"kata Mira. Sementara Crescencia justru mengembuskan napas panjang dan menjawab, "Icha makan di kamar aja, Bi. Icha gamau kalau Mama gak mau makan lagi kayak kemarin."


Senyuman hangat Mira langsung berubah miris. Mira dapat melihat kesedihan di sorot mata Crescencia. Mira pun menepuk pundak Crescencia pelan, lantas berkata, "Kamu yang sabar ya, Cha.


Crescencia mengangguk kecil. Dan tiba-tiba saja ia teringat akan rasa penasarannya. Crescencia langsung menarik lengan Mira untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan tak lupa ia juga menutup pintu agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya. Crescencia menuntun Mira untuk duduk di atas tempat tidurnya. Mira pun hanya mengikuti keinginan Crescencia walaupun ada kebingungan yang tercetak di wajahnya.


"Ada apa?" tanya Mira pada akhirnya. Crescencia mengatur posisi duduknya dengan bersila di atas kasur. Menatap Mira dengan lekat.


"Kak Dika sebenarnya kenapa? Apa yang membuat Kak Dika jadi seperti itu?" tanya Crescencia penuh keseriusan.


"Maksud, Icha?" sahut Mira yang belum mengerti.


Mira sedikit terkejut mendengar pertanyaan Crescencia yang seperti itu. Mira langsung mengambil napas dalam-dalam, lantas ia embuskan dengan perlahan. Seolah tengah mengumpulkan energi untuk menjawab pertanyaan dari Crescencia.


"Bibi ngerti. Pasti Icha penasaran kan sama sikap nya, Dika?" Crescencia langsung mengangguk semangat. Sedangkan Mira sedikit menerawang ke atas. Membuka memori beberapa tahun yang lalu.


"Dulu ... Dika itu anak yang sangat periang. Sangat mirip dengan kamu yang sekarang, Cha!" Mira tersenyum, menatap Crescencia yang kini mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arahnya.


"Tetapi, itu hanya bertahan saat Dika mau naik ke kelas tiga SD. Bibirnya yang selalu tersenyum dan tertawa riang, langsung sirna saat Nyonya Ellis dan Papanya setiap hari selalu bertengkar hebat."


"Dika yang tidak tahu apa-apa juga sering terkena imbasnya. Baik, Ellis maupun Papanya sering memarahi Dika dan bahkan melakukan kekerasan fisik terhadapnya."


Crescencia terkejut. Dadanya mendadak berat. Dia mendengarkan cerita Mira dengan saksama.


"Dan sejak saat itu, setiap malam, Dika selalu ketakutan dan menangis melihat pertengkaran kedua orangtuanya yang setiap harinya semakin menjadi-jadi."


"Hingga akhirnya, kedua orangtua Dika memutuskan untuk berpisah. Dan sejak saat itu, kehidupan Dika berubah drastis. Bahkan kala itu, kedua orangtuanya tidak ada yang mau menjadi pengasuh Dika. Hingga akhirnya, Nyonya Ellis lah yang terpaksa tinggal bersama Dika. Namun, sejak hari itu, Nyonya Ellis sama sekali tidak memperdulikan Dika. Bahkan, ia tidak mau merawat anaknya sama sekali. Nyonya Ellis juga jarang sekali pulang ke rumah. Hal itu membuat kepribadian Dika juga berubah. Dia menjadi orang yang dingin dan sangat kasar. Bahkan, saya sendiri sempat tidak mengenali Dika."


Mira menghentikan ucapannya sejenak, untuk mengambil napas dalam-dalam. Sementara kedua mata Crescencia telah basah saat cairan bening itu tiba-tiba keluar dari matanya, dan mengalir di kedua pipinya.


"Namun, suatu saat, pas Dika kelas satu SMP, semangat hidupnya muncul kembali. Saya langsung merasa lega melihat Dika yang kembali tersenyum setiap harinya. Kala itu, Dika punya seorang pacar. Cantik sekali seperti Icha. Namun, itu tidak bertahan lama. Perempuan yang Dika cintai dengan tulus, justru membalas perasaan Dika dengan sebuah penghianatan. Sejak saat itulah, Dika mulai masuk ke dalam lingkaran hitam. Dia mulai mengenal alkohol. Dia juga masuk ke dalam geng motor ilegal yang sering mengadakan balap liar. Dan Dika hampir saja menjadi pecandu narkoba, namun terhenti saat ia masuk penjara selama empat bulan. Dan waktu itu Papanya yang menebus Dika untuk bisa keluar dari sel."


"Dampaknya sekarang, Dika jadi anak yang pemurung, pembangkang, dan berhati dingin. Benar kata Icha, sejak hari itu hingga sekarang ini, sorot mata Dika benar-benar redup dan kosong. Dan Sejak saat itu juga, saya tidak pernah melihat lagi sisi positif Dika. Hanya kegelapan dan kebencian yang terpancar di wajahnya. Dan kamu, Cha...." Mira menatap Crescencia yang tengah meneteskan air matanya semakin deras.


"Kamu jangan nekat mendekati Dika. Saya gak mau kamu kenapa-napa. Karena Dika bisa melakukan apapun diluar batasan. Sebab yang saya tahu, hati dan perasaan Dika itu sudah mati. Asal kamu tahu juga, satu tahun yang lalu, Dika hampir saja membunuh temannya sendiri karena masalah sepele. Dari masalah itu, Dika sama sekali tidak merasa kapok, justru Dika semakin memberontak dan tidak bisa diatur."


"Maka dari itu, kamu harus bener-bener jaga diri kalau sama Dika, Cha," peringat Mira mengakhiri ceritanya.


Setelah mendengar semuanya, Kepala Crescencia menunduk lemah. Bahunya melemas. Napasnya terasa berat. Crescencia tidak pernah menyangka akan mendapat pernyataan sepahit ini. Dari semua cerita Mira, Crescencia dapat menyimpulkan, jika Dika sepertinya butuh tempat pelarian. Dika butuh seseorang untuk menyuarakan rasa kecewa dan kehampaan di dalam dirinya. Dan Crescencia mengerti, ternyata inilah alasan mengapa Dika selalu berkata kasar dan meluapkan emosinya. Karena memang itu yang Dika butuhkan.


Tubuh Crescencia termangu. ia menghapus air matanya yang terus mengalir. Kondisi Dika sepertinya lebih parah dari kondisinya sendiri. Crescencia menarik napas panjang, mencoba mengisi kesesakan di dalam dadanya.


"Kalau gitu, Saya akan ambilkan kamu makan. Dan oh, Pak Dimas tadi mengirim pesan buat Icha. Katanya Icha jangan lupa minum obat. Memangnya, Icha sakit?" tanya Mira dengan membelai lembut kepala Crescencia. Mira sedikit memberikan sorot cemas kala melihat wajah Crescencia yang cukup pucat.


Kepala Crescencia menggeleng lemah. Lantas menarik kedua sudut bibirnya ke atas agar Mira tidak usah khawatir terhadapnya.


"Icha gapapa. Cuma minum vitamin aja," jawab Crescencia.


Mira mengembuskan napas lega. Lantas kembali mengusap kepala Crescencia dengan penuh sayang.


"Kalau gitu, Bibi ke bawah dulu."


Crescencia mengangguk, tersenyum simpul kala Mira meninggalkan kamarnya. Bibirnya yang mungil itu kini mendesah pelan. Tangannya terulur untuk mengambil sebingkai foto berukuran sedang yang terletak di nakas meja sebelahnya. Mengusap lembut foto itu dengan ibu jarinya.


Rasa rindu kembali menyeruak menumpuk di dadanya. Matanya terus terpusat pada seorang perempuan cantik yang tengah tersenyum di dalam pigura. Crescencia turut tersenyum, menyamakan senyuman yang tercetak di wajah perempuan itu. Keduanya memiliki beberapa bagian wajah yang hampir serupa. Mulai dari mata bulat bernetra cokelat muda, bibir kecil yang ranum, serta pipi yang sedikit mengembang. Hanya saja bentuk rahang wajahnya yang berbeda. Crescencia memiliki wajah yang sedikit oval, sedangkan wanita di foto itu memiliki wajah yang bulat.


Crescencia memeluk pigura itu dengan erat. Memejamkan matanya, mengalirkan cairan bening yang langsung membasahi kedua pipinya lagi. Walaupun ia tidak pernah merasakan pelukan hangat dari wanita itu. Tidak pernah juga merasakan belaian lembut yang mengusap kepalanya. Bahkan, Crescencia tidak pernah melihat wanita itu secara langsung. Namun, Crescencia dapat merasakan kerinduan yang teramat dalam di hatinya.


Ingin rasanya ia bertemu sekali saja. Memeluk erat wanita yang telah melahirkannya. Dan wanita yang telah pergi selama-lamanya. Pergi tanpa diberi kesempatan untuknya merasakan kasih sayang seorang ibu.


Crescencia mendongak. Merasakan kedua matanya yang memberat. Menumpahkan segala sesak yang menyergap hatinya. Bibir Crescencia mulai bergetar dan bersuara lirih, "Mama ... Icha kangen. Icha pengen ketemu, Mama...."


Tanpa sadar, tubuhnya melemas. Matanya kian memberat. Hingga akhirnya ia terpulas dengan kedua tangan yang memeluk pigura itu dengan erat. Entah sampai kapan ia terus seperti ini. Menangis sepanjang malam, seolah menjadi dongeng pengantar tidur yang menyakitkan. Memanggil-manggil nama Mamanya yang tak akan kembali pulang ke dalam pelukannya.