
Crescencia membuka kedua matanya dengan perlahan. Dan hal pertama yang ia lihat adalah Dika yang berdiri menyender di pinggir pintu yang terbuka. Seketika itu Dika menegapkan diri cepat-cepat seolah habis kepergok mencuri mangga.
Crescencia mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala kasur. Dahinya terlihat sedikit berlipat memandang kakaknya itu.
"Ngapain lo di sini?" tanya Dika keheranan. Memandang isi ruangan yang tertata rapi.
"Tidur," jawab Crescencia singkat. "Kak Dika sendiri ngapain berdiri di sana?"
"Napas."
Bibir Crescencia langsung mendengus kesal mendengar itu.
"Ngapain lo pindah ke ruangan ini? Apa jangan-jangan lo udah ketemu setan di kamar atas?" Hardik Dika dengan wajah penasaran.
"Hah? Setan?" Crescencia membeo. Lipatan di dahinya semakin berlapis-lapis.
"Mana ada setan?" lanjut Crescencia tidak mengerti.
Dika tak menimpali lagi. Dia beranjak dan mendekat ke arah gadis itu. Melemparkan berapa lembar kertas yang sedari tadi tergenggam di tangannya.
"Apanih?" tanya Crescencia menerima benda putih yang ditimpa oleh tinta.
"Sepengetahuan gua, itu masih kertas."
"Iya, tahu! Maksud Icha--" Crescencia tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Tanpa ia sadari, kedua tangannya meremas sisi samping kertas itu hingga lecek. Rahangnya mengeras dengan sepasang mata yang menatap malas.
Crescencia pun memandang kertas di tangannya. Seketika itu sepasang matanya terbelalak tidak percaya. Mulutnya bahkan ternganga lebar.
"Wow!" Crescencia berucap takjub. Menatap kakaknya itu dengan mata yang berseri-seri.
Sementara Dika mengangkat kedua alisnya. Sudut bibir Kananya tertarik panjang dan terlihat sombong. Crescencia benar-benar takjub melihat nilai ujian Dika yang fantastis. Walaupun tidak mendapat nilai sempurna, setidaknya nila kakaknya itu berkepala sembilan dan delapan.
"Sini!" Crescencia menepuk tempat kosong di sebelahnya. Memberikan tempat untuk Dika.
Dika pun menurut dan beringsut duduk. Crescencia dengan gamblang menjelaskan letak kesalahan Dika pada setiap soal yang dicoret menggunakan tinta merah beserta cara pengerjaannya.
Dika terdiam. Mata dan telinganya terus terfokus pada penjelasan Crescencia.
"Ngerti gak, Kak?" tanya Crescencia mengakhiri kalimatnya.
"Ngerti!" balas Dika pakai ngotot.
"Yee, biasa aja dong jawabnya. Gausah pakai ngotot!" Crescencia cemberut. Menatap Dika yang berdiri dan hendak beranjak dari sana.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Crescencia. Kepalanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore.
"Nyuci motor."
"Ikutt!" Crescencia berseru. Turun dari atas kasur dan berlari kecil menyusul punggung Dika yang menjauh.
Keluar dari kamar, kepala Crescencia mengedar ke seluruh ruangan. Sepi. Dan sepertinya papanya sudah kembali berangkat bekerja.
Crescencia mengembuskan napas panjang. Membawa kakinya pada halaman rumah sembari menatap Dika yang tengah mempersiapkan selang di teras rumah.
Crescencia yang hanya memakai kaus oblong sedikit kebesaran dan celana pendek setengah lutut itu menghampiri kakaknya. Motor hitam besar dan cukup kotor telah terpampang di depan sana.
Crescencia berjalan menghampiri. Kedua tangannya ia letakkan di samping pinggang.
"Kak Dika ngapain cuci sendiri? Kok gak dibawa ke tempat cuci motor aja, sih?"
Dika bergeming. Memasang selang, lantas menghidupkan kerannya.
Bibir Crescencia mencibir kala pertanyaannya hanya dijadikan angin lalu.
Dika mulai mengguyur motor kesayangannya. Wajahnya tampak dingin namun menawan. Membuat hati Crescencia terasa sejuk menatap guratan pahatan Tuhan yang maha indah.
"Ambil sabun," kata Dika mulai menegur Crescencia.
"Di mana?"
Dika mengarahkan dagunya untuk menunjuk. Kepala Crescencia menuju pada sebuah ember hitam berukuran sedang yang berada di pojok sana. Gadis itu mengangguk dan mengambil benda itu yang ternyata telah terisi berbagai peralatan pencucian motor.
Crescencia meletakkan ember itu di sebelah Dika.
"Gosok motor gua sampai bersih."
Bibir Crescencia melongok. Menatap tak percaya pada Dika yang justru terlihat sok sibuk mengarahkan selangnya.
"Kok jadi Icha yang nyuciin?" Crescencia memprotes. Bibirnya cemberut. Namun tak urung anak itu mengambil spons dan memberikannya sabun cair.
Crescencia menjatuhkan dua lututnya. Spons di tangannya mulai ia dekatkan pada bodi motor hitam mengkilat terkena sinar matahari.
"Pelan-pelan, jangan sampai beset. Atau gua injek batang leher lo!" peringat Dika dengan begitu tegasnya.
"Nyenyenyenyee!" Bibir Crescencia meledek kata-kata itu. Membentuk mimik wajahnya menjadi sangat konyol. Hal kecil itu membuat Dika geram dan langsung menoyor kepala belakang Crescencia. Benar-benar menoyornya tanpa perasaan.
Jidat Crescencia terpelatuk motor Dika. Membuat gadis itu langsung mengaduh dan meringis kesakitan.
"Kak Dika apa-apaan, sih! Sakit tahu! Kak Dika ini apa gak ada lembut-lembutnya sama cewek cantik macam Icha?" keluh Crescencia dengan mengusap-usap jidatnya dengan tangannya yang basah terkena sabun.
Dika menyeringai kecil. Beralih ke sisi lain untuk membasahi motornya.
Crescencia semakin memberengut. Dia menggosok-gosok bodi motor Dika dengan sangat kasar dan brutal. Hingga menimbulkan bunyi decitan di setiap goresannya.
Dika sendiri terus menatap anak itu dengan tajam. Rahangnya mulai mengeras. Selang ditangannya semakin ia genggam dengan erat.
Kemudian, Dika dengan gemasnya mengarahkan selang itu ke kepala Crescencia. Memencet pinggir selang agar airnya tersemprot lebih kencang.
"KAK DIKAAA!!" Crescencia langsung berteriak panik. Dia bangkit dan mundur dengan memegangi wajahnya.
Sementara itu, Dika langsung tertawa keras. Dia semakin mengarahkan selang itu ke kepala hingga ujung kaki Crescencia.
"Kak Dika!!!!"
Teriakan Crescencia membuat Dika semakin gemas mengerjai anak itu. Dia mengejar Crescencia saat gadis itu berlari menghindari semprotannya.
Spons di tangan Crescencia dibuang begitu saja. Seluruh tubuhnya terlihat basah dan mengenaskan. Crescencia mengangkat wajahnya. Menutup rapat-rapat kedua matanya kala Dika mengarahkan air itu di permukaan kulit wajahnya.
"Kakak sialan!" rutuk Crescencia dalam hati. Gadis itu langsung berlari mendekat ke arah Dika. Tanpa takut dan tanpa pikir panjang, Crescencia langsung memeluk pinggang Dika erat-erat. Kepalanya ia gesekkan pada dada Dika agar kakaknya itu ikut basah.
"Apa-apaan, lo!" Dika melotot. Namun kembali tertawa saat selang ditangannya ia kucurkan ke atas kepala Crescencia. Membuat anak itu sudah persis seperti anak kucing kecebur got.
Crescencia semakin mengeratkan pelukannya. Dan anehnya, Dika tidak menolak itu. Kedua kaki Crescencia berjinjit. Gadis itu melompat dan segera merampas selang dari tangan Dika.
Dika terkejut melihat pergerakan Crescencia yang tiba-tiba. Selang di tangannya pun terlepas. Crescencia berhasil merebutnya. Dika otomatis menyilangkan kedua tangannya di depan wajah saat Crescencia membalas perbuatannya.
"Ichaaa!!" Dika berteriak. Namun anak itu tertawa saja. Crescencia termangu beberapa saat. Telinganya seakan tidak percaya kala Dika menyebut namanya. Ini kali perdana Dika mau memanggil namanya.
Dada Crescencia menghangat. Bibirnya tersenyum senang. Dan Crescencia semakin menyemprot tubuh Dika. Bahkan mengejar-ngejar kakaknya yang berlarian mengelilingi motor. Kedua anak itu tertawa dengan kencang. Dika mengambil spons yang tadi dipegang Crescencia, lalu melempar busa sabun pada gadis itu.
Mira yang mendengar suara tawa renyah langsung berjalan ke luar pintu. Sepasang matanya langsung melebar tidak percaya melihat Dika yang bermain dengan Crescencia. Sungguh pemandangan yang tidak pernah ia duga bisa terjadi.
Crescencia berhenti mengejar Dika. Napasnya sudah terengah-engah. Padahal baru sampai tiga putaran. Memang, tubuh anak itu lemah sekali. Wajahnya pun langsung berubah pucat kemerahan.
Melihat Crescencia berhenti mengejar, Dika pun juga menghentikan langkahnya. Bibirnya tersenyum simpul melihat Crescencia yang kelelahan. Dika mengusap wajahnya yang basah. Turun ke bawah untuk mengusap bajunya yang juga tampak basah.
"Kak Dika, Icha capek. Icha duduk dulu, ya," kata Crescencia terengah. Sedang satu alis Dika terangkat ke atas.
"Ah, lemah!" ujar Dika tanpa perasaan. Membuat Crescencia langsung memberengut kesal.
Dika mengambil alih selang di tangan Crescencia. Menatap gadis itu lurus-lurus. Terlihat, Crescencia memeluk dirinya sendiri. Bibir merah muda itu terlihat pucat dan bergetar.
"Lo kenapa?" tanya Dika sedikit berbasa-basi. Namun, detik itu juga Dika merutuki diri sendiri. Ngapain juga dia bertanya hal yang sangat tidak penting itu! Memang, dia peduli apa?!
"Icha kedinginan," jawab Crescencia dengan lemas.
"Oh."
Hanya dua kata yang keluar dari mulut Dika. Anak itu justru kembali beranjak ke motornya. Sangat tidak ada prihatin-prihatinnya. Masih sama dengan Dika beku yang Crescencia kenal.
"Kalau gitu, Icha ganti baju dulu ya Kak Dika," ujar Crescencia mencoba bersabar akan sikap Dika.
"Serah."
Hufttt! Crescencia merapatkan bibirnya. Matanya menyorot sebal orang di depan sana. Crescencia pun beranjak dari sana. Dan tanpa Dika perintah, kepalanya justru menatap punggung Crescencia hingga menghilang dari pandangannya.
Crescencia mengeringkan rambutnya. Duduk di meja riasnya untuk meminum rutinitas obatnya.
Dan tiba-tiba saja, Mira mengetuk pintu kamarnya yang terbuka. Izin dahulu sebelum masuk ke kamarnya. Crescencia pun mengangguk. Mengizinkan Mira untuk menemuinya.
"Ada apa, Bi?" tanya Crescencia dengan ramahnya. Mereka berdua duduk di sofa panjang tanpa kepala yang memang tersedia di kamar Crescencia.
Mira tersenyum. Tangannya membelai lembut kepala Crescencia. Wanita itu memang sudah kembali bekerja dari tiga hari yang lalu.
"Kamu sudah dekat ya sama, Dika? Bibi sampai kaget loh liatnya," ujar Mira tampak senang sekali.
"Dekat gimana, Bi?" bingung Crescencia. Ya jelas dia bingung, orang Dika aja masih batu dan sedingin bongkahan es Kutub Utara.
"Iya, Dika sudah bisa ketawa-ketawa lagi, Cha. Bibi kaget banget lihat Dika bisa ketawa lepas seperti itu. Bibi benar-benar gak nyangka, Cha ...." Sepasang mata Mira mulai berkaca-kaca. Karena memang wanita itu yang paling tahu tentang kehidupan Dika lebih dari orangtua Dika sendiri.
Crescencia terdiam. Sepasang matanya menatap lantai putih di bawah sana. Benar kata Mira. Gadis itu seakan baru tersadar akan sesuatu. Dika ketawa ya? Ketawa karena dirinya kah? Atau justru, dirinya ini sedang ditertawakan?
Ughhh, sungguh, Crescencia tidak pernah bisa menebak jalan pikiran kakaknya itu. Dika terlalu rumit, terlalu kaku, dan terlalu kuat menutupi semua luka dan mimik wajahnya.
"Tapi Kak Dika masih saja bersikap dingin sama Icha, Bi. Dia itu enggak ada lembut-lembutnya jadi orang!" geram Crescencia dengan mengepalkan kedua tangannya, seolah siap menonjok kepala Dika saat itu juga.
Mira tertawa kecil melihat kemarahan pada gadis itu.
"Kalau dingin tinggal di angetin, Cha," ujar Mira dengan kekehan.
"Bibi, mah ...." Crescencia memberengut. Namun ikut tertawa juga.
"Tapi benar loh, Cha. Bibi sangat gak nyangka Dika bisa tertawa lagi. Dan itu berkat kamu. Bibi terima kasih banyak sama kamu, Cha ...."
Crescencia tersenyum simpul. Tiba-tiba saja isi kepalanya dipenuhi bayangan Dika yang tampan itu.
"Kak Dika sudah makan, Bi?"
Mira menggeleng. "Kamu juga belum makan loh, Cha. Mau Bibi masakin apa?"
Crescencia tampak berpikir sebentar. Kepalanya menerawang jauh ke depan.
"Masukin makanan kesukaan Kak Dika aja, Bi. Eh, emangnya Kak Dika suka makan apa, Bi?" tanya Crescencia dengan waswas. Dia langsung dibuat penasaran, makanan seperti apa yang mampu disukai orang kutub Utara itu.
"Dika suka sama sup ayam. Icha mau?"
Bibir Crescencia melongok mendengarnya. Busettt! Ternyata tampang devil macam Dika suka sama makanan bayi juga yakk!
"Iya, Icha mau," kata Crescencia.
"Yasudah, kalau gitu, Bibi siapkan dulu ya ...."
Crescencia tersenyum jahil. Berlari kecil dan menghempaskan diri untuk duduk di sebelah kakaknya. Melihat itu, Dika langsung menggeser pantatnya untuk memberikan jarak di keduanya.
Bibir Crescencia mengerucut. Tangannya dengan cepat mencuri telur kacang di toples yang Dika pegang. Membuat sepasang mata Dika langsung melotot dan mencondongkan tubuhnya sedikit untuk membelakangi Crescencia.
"Udah selesai ya cuci motornya?" tanya Crescencia sangat tidak berbobot. Mengunyah pelan kacang di tangannya. Jelas saja sudah, kalau belum tidak mungkin Dika sekarang duduk manis di ruangan ini.
"Nama motor Kak Dika siapa? Biasanya orang-orang kasih nama ke suatu benda. Oh iya, Kak Dika dapat motor itu dari mana? Dan Kak Dika pernah denger berita gak kalau orang irit ngomong itu besoknya--"
Tubuh Crescencia tersentak kaget saat tangan besar Dika membungkam mulutnya. Tubuhnya langsung menegang hebat melihat dua manik mata Dika yang menatapnya begitu tajam.
Crescencia memejamkan kedua matanya. Kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Dika pun segera melepaskan tangannya. Mendengus sebal lantas menghempaskan punggungnya pada kepala sofa.
"Maaf, Icha berisik ya?" Crescencia meringis. Mengusap kembali mulutnya itu.
"Maaf deh, Kak. Icha emang bawel anaknya. Icha janji deh, gabakal berisik lagi. Tapi kalau khilaf beda lagi." Crescencia tersenyum.
Sementara Dika justru mendengus kasar. Menutup kembali toples kacang telor yang sudah tak menarik lagi.
Dan tiba-tiba, ponsel Dika berdering nyaring. Dika melirik sebentar siapa orang yang menelponnya dua kali seperti ini. Dan desisan sinis langsung keluar dari bibirnya. Dika sama sekali tidak ada minat mengangkat panggilan itu.
Hingga akhirnya, panggilan itu terputus dengan sepihak.
Detik berikutnya, ponsel Dika menampilkan satu notifikasi pesan. Dan Dika tetap sama dengan pendiriannya. Anak itu seakan tak peduli dan masa bodo.
"Kok gak diangkat, Kak? Dari siapa?" tanya Crescencia jadi penasaran.
Dika diam tak mau menjawab. Dan lagi-lagi ponselnya berdering lagi.
Kini kepala Crescencia melongok, mencoba melihat siapa si penelepon itu.
"Dari Mama loh, Kak," kata Crescencia memberi tahu.
"Biarin aja," jawab Dika tanpa minat.
"Angkat dulu deh, Kak. Siapa tahu penting. Mama nelpon dua kali loh."
Dika akhirnya meraih ponselnya yang sudah kembali mati. Menatap satu pesan yang tertera di layar linimasanya.
Dika. Mama mau pamit sama kamu. Jaga diri baik-baik. Mau bagaimana pun, Mama masih peduli sama kamu.
Dika membaca pesan itu berulang kali. Tenggorokannya seperti tercekat oleh sebuah benda tajam. Rahang Dika mengeras. Jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya tiba-tiba memberat dengan perasaan yang mulai tak keruan.
Dika terdiam dan membisu. Menatap layar ponselnya begitu dalam.
"Kenapa, Kak?" tanya Crescencia melihat perubahan wajah Dika. Wajahnya tampak tegang dan memucat. Netra mata Dika mulai bergerak tidak tenang.
"Mama...." kata Dika dengan lirih. Saking lirihnya suaranya itu lebih mirip seperti cicitan seekor anak burung.
"Mama kenapa?" Crescencia langsung dibuat panik. Menatap rahang Dika yang mulai mengeras dengan lekat.
"Lo tahu apartemennya Mama?"
Crescencia menggeleng. Karena papanya juga tidak pernah mengajaknya ke sana.
Dika dibuat tidak tenang. Ponsel ditangannya ia genggam dengan erat.
"Tapi Pak Bimo pasti tahu. Dia sering antar jemput Mama ke mana-mana," ujar Crescencia yang membuat kedua mata Dika langsung melebar.
"Kita ke sana sekarang!" kata Dika panik sendiri. Entah mengapa, perasaannya jadi sangat tidak tenang.
Crescencia mengangguk. Keduanya melangkah lebar-lebar menuju pos rumahnya. Menemui Bimo yang tengah bercengkrama dengan dua satpam rumah ini.
"Pak Bimo!" Crescencia yang memanggil. Bimo dan dua satpam itu langsung menoleh.
"Pak Bim, anterin kita ke apartemennya Mama sekarang!"
Bimo sedikit terkejut mendengarnya. Dia menatap dua anak majikannya yang tampak panik. Tanpa banyak bertanya, Bimo mengangguk dan menyiapkan mobilnya.
Kedua anak itu langsung duduk di kursi belakang. Terlihat jelas Dika yang terus gelisah. Bimo sendiri mulai bertanya-tanya di kepalanya. Crescencia mencoba menghubungi nomor papanya, namun tak dapat sahutan apapun dari orang di seberang sana.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena jalan raya yang cukup padat. Beberapa kali juga harus terjebak lampu merah.
Dika sendiri mencoba menelepon mamanya itu. Dan nasibnya sama dengan Crescencia. Tidak ada sahutan siapapun dari seberang sana.
Sekitar dua puluh menitan, mobil mereka akhirnya sampai di lantai bawah apartemen. Dika dan Crescencia turun terlebih dahulu. Sementara Bimo melakukan mobilnya semakin dalam untuk parkir.
Crescencia sedikit berlari kecil mengikuti langkah Dika yang tergesa. Dika langsung menuju tempat resepsionis. Dilayani oleh seorang wanita muda yang cukup cantik.
"Permisi, saya mau ke tempat nyonya Ellis Pertiwi. Di mana ya letak kamarnya?" tanya Dika dengan menggebu.
Wanita itu mengangguk ramah. Kemudian berkutat dengan layar komputer di mejanya. Mengetikkan sesuatu, lantas berucap,
"Lantai tiga nomor sembilan."
Dika mengangguk. Kemudian beranjak dari sana. Membuat Crescencia kembali berlari kecil menyusul langkah Dika yang lebar.
Mereka memilih untuk naik lift. Wajah Dika mulai berkeringat. Menelan salivanya berkali-kali. Dia sendiri bingung akan kecemasan ini. Mungkin, ini adalah kali pertamanya dia mencemasi keadaan mamanya.
Ting!
Lift berbunyi kala mereka sampai. Keduanya berjalan beriringan menyusuri pintu dan melihat setiap nomor di sana.
Sampai. Pintu nomor sembilan yang berada di ujung koridor. Dika mengangkat tangannya dengan ragu. Melirik Crescencia sekilas yang juga menatapnya.
Dika mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali dengan cukup kencang. Menunggu beberapa detik, dan mengetuk lagi kala tidak ada sahutan dari dalam sana. Ketukan Dika bahkan semakin kencang dan beruntun.
"Kayaknya Mama gak ada di sana deh, Kak?" kata Crescencia. "Mama kan sering keluar. Emang, Mama suruh Kak Dika ke sini?"
Dika terdiam. Dirinya seperti orang bodoh sekarang. Benar apa kata Crescencia. Ngapain juga dia repot-repot datang ke tempat ini? Mamanya sendiri juga tidak menyuruhnya ke sini. Bisa-bisa, Mamanya itu izin untuk ke luar kota. Atau ke negara tetangga. Secara, Ellis sangat gila dalam hal jalan-jalan.
Tapi entah mengapa, ada keyakinan dalam diri Dika jika Mamanya itu ada di dalam sana. Seperti ada sesuatu yang janggal menindih dadanya. Kepala Dika mengedar. Seolah sedang mencari-cari sesuatu.
Crescencia kembali melangkahkan kedua kakinya untuk mengikuti Dika yang beranjak lagi. Dahinya langsung membentuk sebuah lipatan kecil saat Dika menghampiri seorang satpam penjaga apartemen yang tak sengaja berada di lantai ini.
"Permisi, Pak. Bisa bantu saya?" tanya Dika terlihat sopan namun tak sabar.
Bapak satpam yang perawakannya tinggi tegap itu langsung menimpali, "bantu apa?"
"Tolong bantu bukakan pintu nomor sembilan."
Pak satpam itu langsung melipatkan keningnya. Sepasang matanya memicing tajam pada Dika.
"Kamu siapa? Ada keperluan apa sama penghuni kamar nomor sembilan?" tanyanya penuh dengan intimidasi.
"Saya anaknya penghuni kamar itu. Ada mama saya di dalam sana," kata Dika dengan dingin dan penuh keyakinan.
"Maaf, saya tidak bisa. Saya tidak boleh buka kamar penghuni sini dengan lancang," tolak satpam itu.
"Tapi Mama saya ada di sana!" Dika mengamuk. Dia meraih kerah satpam itu. Sebelah tangannya sudah siap melayangkan tonjokan. Kedua matanya menatap bengis dengan rahang yang semakin mengeras.
"Kak Dika!" Crescencia terpekik panik. Dia segera berdiri di antar keduanya. Memisahkan Dika dari satpam yang kini menatapnya tak kalah tajam.
Dika melepaskan tangannya dengan kasar. Bahkan sedikit mendorong orang di hadapannya. Napasnya berderu menatap pria yang jauh lebih tua dari dirinya.
"Kalau sampai Mama saya kenapa-napa, saya bakalan tuntut Anda!" kata Dika penuh ancaman. Membuat pria itu langsung terdiam.
Tut Tit Tut Tit Tut
Suara ponsel Crescencia memecahkan keheningan di antara mereka. Crescencia merogoh ponsel itu. Ada nama papanya yang tertera di sana. Ia pun segera mengangkatnya.
"Halo, Pa."
"Papa bisa ke apartemen Mama sekarang?"
"Iya, Icha lagi di sini sama Kak Dika. Kak Dika mau ketemu sama Mama, tapi gak boleh masuk ke dalam."
"Baik, Pa, Icha tunggu."
Crescencia mematikan ponselnya. Memasukkan kembali benda Ipoh itu ke dalam saku celananya.
"Papa sebentar lagi ke sini. Kota tunggu Papa saja ya, Kak Dika."
Crescencia menarik tangan Dika untuk mengikutinya. Memutuskan kontak mata Dika yang masih menatap satpam itu dengan tajam. Crescencia membawa Dika untuk duduk di sofa bundar yang tersedia di lantai itu.
Sekitar lima belas menit, batang hidung Dimas akhirnya terlihat juga. Wajahnya yang lelah dan rambut acak-acakan, serta kemeja yang lumayan kusut itu langsung menghampiri Crescencia yang berdiri dari duduknya.
"Ada masalah apa kalian datang ke sini?" tanya Dimas begitu penasaran.
"Mama," kata Dika mulai tak sabar.
Mereka bertiga langsung berjalan cepat menuju kamar nomor sembilan. Dan anehnya, satpam yang tadi sempat menolak kini mengikuti jejak mereka.
Dimas menghadapkan keycard pada tombol sensor. Seketika, pintu besi itu akhirnya terbuka.
Keempat orang itu masuk dengan tergesa. Kepala mereka langsung mengedar ke seluruh ruangan yang tampak kacau balau. Berbagai benda terlihat berserakan dan juga ada yang pecah.
Dika, Crescencia dan satpam itu dibuat kaget akan kondisi kamar itu. Namun tidak dengan Dimas, seolah hal ini sudah biasa baginya.
Langkah Dika langsung tertuju pada pintu kamar yang tertutup. Dia menoleh pada Dimas untuk meminta izin. Dimas pun mengangguk mengizinkan.
"Dikunci," kata Dika saat knop pintu itu tidak bisa dibuka.
Hal itu membuat Dimas langsung mengerutkan dahinya. Tidak biasanya Ellis mengunci diri seperti itu. Dimas pun melangkah maju. Mengambil alih knop itu dan membukanya dengan penuh tenaga.
Benar. Pintu itu di kunci. Dimas mengeluarkan kunci lainnya. Namun kunci itu tidak bisa berputar karena tertahan sesuatu.
"Pintunya terkunci dari dalam," ujar Dimas yang membuat pria itu langsung dibuat panik.
"Selama saya menikah dengan Ellis, dia tidak pernah mengurung diri seperti ini," lanjut Dimas dengan wajahnya yang mulai menegang.
"Papa ada masalah sama Mama?" tanya Crescencia. Dan hal itu membuat Dimas langsung terdiam. Semua orang langsung tanggap dan tahu jawaban dari pertanyaan Crescencia.
"Dobrak saja!" kata Dika tak sabar. Dimas mengangguk. Menyuruh Crescencia untuk melangkah mundur.
Crescencia pun menurut. Melihat Dika dan papanya mulai pasang badan untuk mendobrak pintu itu. Dan ternyata, kedatangan satpam tadi cukup ada gunanya. Pria itu ternyata punya inisiatif untuk membantu mereka.
BRAKKK
Setelah adanya aksi tabrak selama enam kali, pintu itu akhirnya berhasil terbuka. Membuat setiap pasang mata mereka langsung melotot tidak percaya. Crescencia bahkan berteriak kencang dengan menutup mulutnya yang menganga lebar.
Jantung Dika dan juga Dimas seolah berhenti berdetak. Keduanya sama-sama mencelos. Lutut Dika sampai bergetar dan lemas tak bertulang. Tangannya terasa sangat dingin. Mereka semua terdiam beberapa lamanya.
"Mama ...." lirih Dika sangat tidak percaya.
Kedua lutut Crescencia yang tak bisa menopang diri langsung ambruk begitu saja. Dadanya terasa sangat sakit dan juga sesak. Seperti halnya terbelah oleh pedang yang terlumuri racun mematikan.
Semua orang terpaku menatap tubuh Ellis yang telah terbujur kaku dengan sebuah tali yang mengikat di lehernya. Wajah wanita itu terlihat sangat mengenaskan. Kedua matanya tampak melotot seperti hendak keluar. Lidahnya yang pucat dan panjang menyembul dari dalam mulutnya. Pada area lehernya tampak membiru dan juga lebam.
Pukul tujuh malam, mereka semua baru mendapati Ellis yang telah tewas bunuh diri di dalam kamar apartemennya sendiri.