
Ellis memasuki rumah dengan melepas anting bulat yang terpasang pada kedua telinganya. Suara high heels mahal yang membungkus sepasang kaki jenjang itu mulai menggema pada lantai keramik yang dingin.
"Pastikan gerbang tertutup rapat!" perintah Ellis dengan tegas pada Mira yang kini membantu Ellis membawakan tasnya.
Crescencia yang tengah mengeluarkan roti-rotinya dari kukusan, langsung melongok saat mendengar suara Ellis. Gadis itu berlari kecil, meninggalkan pekerjaannya begitu saja untuk menghampiri Ellis.
"Mamaa ...," teriak Crescencia begitu senang.
Crescencia hampir saja menghamburkan dirinya untuk memeluk Ellis. Namun, Ellis justru mendorong tubuh Crescencia dengan sangat kasar. Bahkan gadis itu nyaris saja terjatuh jika ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Mama dari mana?" Crescencia mencoba bersabar. Kepalanya mendongak menatap Ellis dengan lekat.
Sepasang mata Ellis melotot. Cuping hidungnya pun terlihat kembang-kempis saat melihat kehadiran Crescencia.
"Bukan urusan kamu!" bentak Ellis sangat marah. Bahkan, kulit wajahnya memerah dalam sekejap.
"Dan, jangan kamu panggil saya Mama! Karena saya bukan Mama kamu!" bentak Ellis tersulut emosi. Wanita itu langsung pergi dari hadapan Crescencia entah ke mana.
Crescencia mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Ia menatap punggung Ellis yang mengecil ditelan jarak. Mira yang masih ada di sana hanya bisa mengusap pundak Crescencia sekilas. Memberikan kekuatan verbal pada gadis itu.
Crescencia tertunduk lesu. Ia kembali menghampiri roti-rotinya yang masih panas. Dalam benaknya, ia mulai bertanya-tanya. Mengapa Ellis dan Dika seolah enggan menerima keberadaannya di sini? Apa salah dirinya?
Memang, sebelum Dimas menikah dengan Ellis dan pindah ke Malang, Crescencia belum dipertemukan dengan Ellis maupun Dika. Crescencia hanya tahu bahwa ia akan mempunyai keluarga baru saat Dimas memberikan foto Ellis dan Dika kepadanya saat ia dirawat di rumah sakit Jakarta Selatan. Bahkan, saat itu Crescencia juga tidak bisa menghadiri pernikahan Papanya yang kedua kalinya. Crescencia sendiri sangat tidak menyangka mendapat perlakuan yang seperti ini dari mereka.
Crescencia menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengisi dadanya yang mulai sesak. Gadis itu kembali mengurus roti-rotinya yang kini ia letakkan di dalam keranjang plastik. setelah semua rotinya tertata rapi, Crescencia membawa keranjang itu ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Crescencia harus menapaki anak tangga sebanyak lima belas langkah untuk sampai ke kamarnya.
Crescencia meletakkan keranjang itu di atas meja belajarnya. Ia terduduk lemas pada meja rias kamarnya yang menghadap cermin. Crescencia menetap lekat pantulan dirinya pada cermin itu. Memerhatikan wajahnya yang kian hari terlihat lebih pucat. Seulas senyuman ia paksakan terbit di ujung bibirnya. Kepala Crescencia menunduk, meraih liontin dengan bentuk hati yang bertengger di lehernya. Dadanya kembali bergemuruh. Jemari Crescencia mulai mengusap lembut liontin pemberian dari Papanya tiga tahun yang lalu. Crescencia membuka sisi liontin dengan perlahan. Ia langsung menggigit bibir bawahnya saat merasakan sesak yang kembali menusuk-nusuk dadanya. Crescencia sebisa mungkin menahan cairan bening yang terasa panas memenuhi pelupuk matanya. Kepala Crescencia menoleh saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia dengan cepat mengusap kedua matanya sembari menutup liontin itu.
"Masuk," jawab Crescencia. Dan ternyata orang itu adalah Mira yang kini menyembul dari pintu.
"Saatnya makan malam, Cha," ucap Mira tersenyum ramah.
"Kak Dika udah pulang?" tanya Crescencia langsung terlihat senang.
Mira mengangguk sebagai jawaban. Sedang Crescencia langsung berlarian kecil dan segera menuruni anak tangga dengan tergesa. Crescencia kian mengembangkan senyumannya kala mendapati Dika dan Ellis yang sudah ada di meja makan. Ia pun segera menempatkan diri utuk duduk di sebelah Dika. Crescencia terlihat sangat senang. Pasalnya ini hari perdananya makan bersama anggota keluarga barunya. Karena satu minggu yang lalu ia sakit sehingga tidak bisa bergabung untuk makan malam.
Dika melirik sekilas Crescencia yang duduk di sebelahnya. Detik itu juga, Dika langsung berdiri, mengangkat piringnya dan pindah pada sisi lain. Crescencia menelan salivanya yang terasa sangat pahit. Terus memerhatikan Dika yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
"Mau apa kamu duduk di situ!"
Kepala Crescencia kembali tergerak saat Ellis kembali membentak dirinya. Sepasang mata bulat Crescencia kembali menyorot penuh tanya.
"Kalau mau makan jangan di sini! Pergi ke tempat lain!"
Tubuh Crescencia kembali terhenyak. Cairan bening lolos begitu saja. Mengalir cepat membasahi pipi hingga dagunya. Bibirnya hendak bersuara namun tertahan saat Dika membanting sendok ke atas piring. Menimbulkan bunyi nyaring yang mengejutkan Crescencia dan juga Ellis.
Tanpa kata, Dika langsung melangkah menjauh menuju kamarnya. Meninggalkan makanannya yang masih utuh begitu saja.
Ellis berdecak. Sepasang matanya kembali menyorot tajam ke arah Crescencia. Rahang wanita itu terlihat mengeras, seolah menahan kata yang hendak keluar dari bibir merahnya. kemudian, Ellis pun ikut beranjak dari tempatnya. Terlihat sekali napsu makannya langsung lenyap saat melihat kedatangan Crescencia.
Crescencia termangu di tempatnya. Hatinya benar-benar sakit. Teramat sakit. Crescencia kini tidak bisa menyembunyikan air matanya yang langsung pecah. Crescencia berlari cepat menaiki anak tangga kembali ke dalam kamarnya. Anak itu langsung menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Mengeluarkan semua rasa sesak yang menyayat-nyayat hatinya. Ekspetasinya memiliki keluarga baru yang akan menjadi pelengkap hidupnya, seketika runtuh begitu saja.
Crescencia mengubah posisinya menjadi duduk saat merasakan hidungnya yang panas. Ia sedikit meringis sembari memegang kepalanya yang teramat berat. Dengan perlahan, cairan bewarna merah kental merembes dari kedua lubang hidungnya. Crescencia kian panik kala cairan kental itu menetes dan mengotori baju serta seprai kamarnya.
Crescencia meraih tisu sebanyak-banyaknya yang tersedia di atas meja kamarnya. Menutup hidungnya yang terus mengeluarkan darah.
"Astaga, kenapa harus sekarang ...."
Crescencia terus membersihkan bercak darahnya yang mengotori pakaian serta tangannya. Namun cairan kental itu seolah tidak mau berhenti mengalir, membuat Crescencia kian kelimpungan.
Crescencia akhirnya meraih kotak obatnya. Meminum beberapa pil obat berukuran sedang. Rasa pusing di kepalanya belum juga reda. Crescencia segera menumpuk bantal di kasurnya. Menempatkan kepalanya untuk sedikit mendongak. Crescencia memejamkan kedua matanya. Merasakan pusing yang menggerogoti kepalanya. Mulutnya pahit saat rasa mual yang luar biasa mengaduk-aduk perutnya. Crescencia sebisa mungkin menutup matanya. Menetralisir semua rasa sakitnya. Cairan bening kembali turun dari kedua sudut matanya. Hingga akhirnya rasa kantuk luar biasa membawa gadis itu terlelap dalam tidurnya.
...°°°...
Keesokan paginya, Crescencia telah siap dengan seragam putih abu-abu yang membungkus tubuhnya dengan rapi. Wajahnya pun terlihat lebih segar. Sepertinya obat yang dia minum semalam sangat berpengaruh pada kondisinya pagi ini. Crescencia menuruni tangga dengan membawa keranjang berisi roti-rotinya.
Kepala Crescencia melongok pada pintu kamar mandi yang tertutup. bibirnya langsung mengembang ke atas. Crescencia melangkah ringan memasuki kamar Dika yang tidak dikunci. Meletakkan satu roti kukus yang ia buat semalam pada meja kamar Dika. Kedua matanya terpejam sebentar untuk berdoa agar Dika mau memakan roti buatannya.
Crescencia keluar dari kamar Dika. Tak lupa dengan menutup pintunya. Saat tubuh Crescencia berbalik, Dika tiba-tiba telah ada di belakangnya. Sontak saja Crescencia langsung terperanjat kaget dengan berteriak.
"Astaga!"
"Ngapain lo di depan kamar gue?" Dika bertanya dingin. Sorot matanya menajam bagai elang. Membuat tubuh Crescencia langsung membeku di tempat.
"Ich-Icha, cuma kasih roti kukus di meja Kak Dika, kok. Jangan lupa dimakan ya, Kak!" kata Crescencia penuh harap.
Dika melangkah maju, kemudian membanting pintu kamarnya dengan keras. Membuat Crescencia terlonjak kaget untuk kedua kalinya.
Sepasang mata Crescencia langsung terpusat pada seseorang yang berada di atas motor tepat di depan gerbang rumahnya. Crescencia lantas berlari kecil dan segera membuka pagar rumahnya.
"Nando ...," panggil Crescencia dengan dahi yang mengernyit bingung.
Kepala Nando yang tadinya menunduk langsung tergerak ke arah Crescencia. "Hai, Cha!"
"Nando ngapain ke rumah Icha pagi-pagi gini?"
"Mancing! Ya jemput lo lah," jawab Nando dengan gemas.
"Ha?" bingung Crescencia. "Tapi kan Icha bisa pesan ojek online. Jadi Nando gak usah repot-repot jemput Icha."
"Ya gapapa, Cha. Lagian kan-"
"Tapi kalau Nando maksa baguslah. Jadinya uang Icha gak berkurang. Kalau bisa tiap hari aja jemput Ichanya."
"Heh?!" Kini giliran Nando yang terperangah.
"Pakein helm ke kepala, Icha. Tangan Icha lagi sibuk!" perintah Crescencia mendongakkan kepalanya.
Dahi Nando mengernyit. Menatap keranjang dengan tutup biru yang membuatnya sedikit penasaran. Namun ia menurut saja dengan perintah Crescencia dengan memasangkan helm yang sengaja ia bawa untuk anak itu. "Emang lo bawa apa sih?"
"Kok Anda kepo ya, wahai Bapak Nando!" jawab Crescencia menyebalkan. Membuat Nando ingin sekali memakan Crescencia hidup-hidup.
"Ayok, jalan Pak Sopir!" Crescencia menepuk pundak Nando saat sudah menaiki motor itu. Nando menggerutu kecil, namun tak ayal tetap melajukan motornya.
Tidak ada perubahan seperti hari pertama Crescencia sekolah. Saat ini pun dia menyapa semua orang dengan riangnya. Membuat motor Nando sedikit meleok-leok akibat tubuh Crescencia yang terus bergerak.
...°°°...
Nando mengehentikan motornya kala mereka telah sampai di parkiran sekolah. Bukan main, baru kali ini Nando mengendarai motor semenegangkan itu. Napasnya pun terlihat ngos-ngosan. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telapak tangannya sudah banjir akan keringat. Bagaimana tidak? Nando seakan melihat ajal menjemputnya dua kali!
"Wah gila lo, Cha! Hampir dua kali kita mau ketabrak truk tronton!" Sepasang mata Nando melotot tajam ke arah Crescencia dengan dada yang kembang-kempis. Namun objek yang dituju malah membenarkan poni yang sedikit berantakan dengan sangat santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Ya bagus dong! Bisa nguatin jantung Nando. Jadi kalau sewaktu-waktu Nando kaget gak langsung mati!" sahut Crescencia lempeng.
"Bagus-bagus, gundulmu! Yang ada gue mati duluan!" geram Nando dengan menetralkan napas dan tubuhnya yang masih menegang hebat.
"Mati ya tinggal mati aja lah! Kok repot sih, Ndo!" kata Crescencia lantas membalikkan tubuhnya. Berjalan begitu saja dengan menenteng keranjangnya.
"Woi, Cha! Tunggu!" Nando berteriak kesal. Dengan hanya beberapa langkah panjangnya, Nando dengan mudah menyusul langkah Crescencia.
"Emm, besok-besok Nando masih jemput Icha, Kan!" tanya Crescencia yang justru terdengar kalimat perintah.
"Gak lah!" jawab Nando cepat.
Crescencia tampak kecewa. Menatap Nando dengan wajah melas. "Kenapa? Jemput aja sih. Biar uang Icha utuh!" rengek Crescencia.
"Ogah! Gue gak mau mati muda!"
"Dih, Nando pelit ih!" Crescencia langsung memberengut.
"Bodo amat!"
"Nando, orang pelit tuh cepet matinya, loh!" peringat Crescencia tegas. Namun justru terlihat tidak ada tegas-tegasnya.
"Bodo amat!"
"Nanti kalau Nando pelit-pelit kena azab, loh! Hiih serem!" Crescemcia bergidik ngeri sok menakut-nakuti Nando.
"Bodo amat!"
"Nando, kok Icha ditinggalin!" teriak Crescencia kala Nando sudah berjalan sedikit jauh dari tubuhnya.
"Lo lemot!"
"Icha gak lemot, Nando! Cuma kaki Nando aja yang kepanjangan!"
"Bodo amat!"
"Nandoo ....!!!"
"BERISIK!"