
Bel berakhirnya pelajaran berdering nyaring. Seluruh siswa sontak mengembuskan napas lega. Begitupun dengan Crescencia yang tengah memasukkan semua bukunya yang berserakan di atas meja ke dalam tas. Pelipisnya sedikit basah akibat pelajaran terakhir yang menguras otaknya berpikir keras.
Sebelum meninggalkan kelas, Crescensia sempat berucap pamit kepada seluruh teman kelasnya. Kedua kaki pendek Crescensia mengayun seorang diri pada koridor sekolah yang ramai. Bibirnya yang mungil mulai bersenandung kecil.
"Icha ...!"
Crescensia menghentikan langkahnya secara mendadak. Tubuhnya yang mungil nyaris saja ditabrak seseorang di belakangnya. Crescencia menoleh, sedikit mengerutkan kening saat seseorang berlari ke arahnya.
"Hai, Cha!" sapa orang itu dengan senyuman lebar.
"Hai," jawab Crescensia ramah, namun kerutan di dahanya belum juga hilang. "Siapa?" tanya Crescencia pada akhirnya.
Orang di hadapannya tersentak. Sepasang matanya membulat sempurna. Sepertinya dia terkejut mendengar pertanyaan Crescencia barusan.
"Gue Galang, Cha. Pacar Icha," jawab Galang dengan suara yang terdengar serak.
"Hah?" Kini Crescensia yang terkejut mendengar jawaban Galang. "Sejak kapan Galang jadi pacarnya Icha?" tanya Crescensia lagi. Hati galang seketika mencelos, bagaikan sebuah tombak runcing panas yang menghujam dadanya. Pertanyaan singkat itu langsung membuat hatinya pecah berkeping-keping.
"Tadi, Cha. Waktu di kantin," luruh Galang dengan suara parau. Bagaimana bisa dia terlupakan hanya dengan kedipan mata?
"Tadi Icha yang mau kita pacaran," lanjut Galang dengan kepala menunduk. Napasnya kian terasa sesak dengan kedua bahu yang turun dengan lemas.
"Oh, iya!" Crescensia langsung menepuk jidatnya. "Maaf, Icha lupa kalau Galang pacarnya Icha. Otak Icha suka lupa gara-gara soal kimia yang super sulit tadi. Maaf ya Galang."
Galang langsung mengangkat kepalanya. Bibir tebalnya seketika tersenyum. Namun kedua matanya menatap Crescensia dengan sendu. Galang mengangguk, sebelah tangannya terulur untuk mengacak puncak kepala Crescensia dengan lembut.
"Makasih udah mau jadi pacarku selama kurang dari empat jam, Cha." Galang berkata parau. Galang menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya dengan perlahan.
"Maaf, Cha. Sepertinya kita tidak cocok untuk berpacaran," lanjut Galang dengan memaksakan bibirnya untuk terus terangkat naik.
Kedua mata Crescensia mengerjap melihat wajah Galang yang sendu. "Galang udah gak suka sama Icha?" tanya Crescensia dengan polosnya.
Galang kini tersenyum, bukan karena dipaksa, melainkan sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus.
"Suka, Cha. Tapi ... Kayaknya kita gak cocok buat pacaran. Icha gak keberatan kan kalau jadi sahabat Galang?"
Crescensia tersenyum. Kepalanya menggeleng kecil. "Enggak kok, Galang. Icha juga terima kasih buat Galang yang udah mau jadi pacar Icha. Dan mau beliin Icha cilok, hehe."
Galang terkekeh. Tangannya kini mencubit pelan pipi Crescencia dengan gemas. "Iya, Cha. Kalau ada apa-apa hubungin aku aja ya, jangan sungkan."
Kepala Crescencia mengangguk lucu, lantas merapikan poninya yang sedikit berantakan.
"Kalau gitu, Icha pulang dulu ya, Galang," pamit Crescencia.
"Hmm. Kamu pulangnya naik apa?"
Bibir Crescencia mengatup. Tubuhnya yang mungil bergoyang kesana-kemari sembari menggenggam kedua sisi tali tasnya.
"Icha ... naik ojek online lagi kayaknya."
"Kalau gitu, pulang bareng aku aja, Cha--"
"Icha pulang bareng gue!"
Kepala Crescencia dan Galang serempak menoleh pada suara seseorang yang tiba-tiba menyeletuk.
"Nando ...."
"Lo pulang bareng gue, Cha!" Nando meraih tangan kiri Crescencia, lantas menggenggamnya.
Tubuh Crescencia yang mungil otomatis sedikit terseret saat Nando mulai melangkah. Bahkan Crescencia sedikit berlari kecil dengan meneriaki nama Nando. Di lain sisi, Galang yang melihat itu semua hanya bisa tersenyum kecut. Menatap sendu kedua punggung yang mulai menjauh dari hadapannya.
...•••...
Crescencia melompat dari motor Nando saat mereka telah sampai di depan rumahnya. Sepasang mata Nando menerawang rumah Crescencia yang terlihat sepi.
"Terima kasih, Ndo. Udah anterin Icha. Meskipun lebih tepatnya, sudah ngulik Icha!" Crescencia memberengut. sementara Nando justru tertawa senang.Tangannya terulur untuk mengambil helm yang Crescencia sodorkan.
Kepala mereka berdua serempak menoleh saat mendengar suara motor yang juga berhenti di depan rumah Crescencia. Crescencia yang tahu siapa orang itu langsung membuka pagar rumahnya dengan cepat.
"Siapa?" tanya Nando penasaran. Apalagi melihat seorang pria tinggi yang baru saja turun dari motornya.
"Kakak, Icha," jawab Crescencia lugas. "Kalau gitu, Nando pulang sana. Icha mau masuk."
Mata Crescencia mengerjap. "Iya."
"Gak ada basa-basi nawarin masuk, gitu?"
"Gak! Nanti Nando cuma habis-habisin jajanan di toples."
"Jahatnya ...." Nando memberengut dengan wajah yang ditekuk jelek.
"Udah sana. Muka udah jelek, gak usah nambah dijelek-jelekin!" perintah Crescencia dengan kejam.
"Hmm. Yaudah iya. Gue pulang deh," ucap Nando pasrah. Nando pun menyalakan kembali mesin motornya. Kemudian, berlalu dari sana.
...🌹...
Crescencia menuruni anak tangga dari kamarnya yang berada di lantai dua. Kini dengan penampilan yang lebih segar. Langkah Crescencia mengayun ringan ke arah dapur. Tersenyum ramah kepada Mira, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini hampir selama sebelas tahun.
"Icha, mau bikin roti lagi?" tanya Mira mendekat saat melihat anak majikannya itu sibuk dengan tepung dan mentega.
Crescencia menoleh, lantas tersenyum manis.
"Iya, Bi. Icha bikin roti lagi. Buat Kak Dika. Kak Dika pasti suka sama roti buatan Icha."
Ya, sejak kemarin, Crescencia memang membuat beberapa roti kukus. Selain untuk dimakan sendiri, Crescencia juga menyisakan satu buah roti kukus di kamar kakak tirinya. Berharap kakaknya itu menyukai roti buatannya.
Mira yang tadinya tersenyum, kini berubah sendu selepas mendengar penuturan dari Crescencia.
"Maaf, Icha. Tadi waktu Saya beresin kamar Dika, Saya lihat roti buatan Icha tidak dimakan."
Crescencia menghentikan gerakan mengaduk adonan. Sepasang matanya menatap Mira tidak percaya.
"Oh, ya? Ah, pasti Kak Dika tadi gak sempat sarapan. Gapapa, nanti pasti juga dimakan."
Mira tersenyum kecil mendengar Crescencia yang terlihat semangat. Mira kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menyiapkan makan malam.
Kepala Crescencia menoleh. Sudut bibirnya kembali terangkat naik saat melihat Dika keluar dari kamar. Crescencia segera berlari, mendekat ke arah Dika yang terlihat sangat rapi, seolah hendak pergi lagi ke suatu tempat.
"Kak Dika ...!" seru Crescencia.
"Kak Dika mau ke mana, Kak?" Crescencia sedikit berlari kecil menyusul langkah Dika yang panjang. Namun Dika sama sekali tidak merespons Crescencia. Bahkan tidak melirik gadis itu sedikitpun. Seolah Crescencia tidak terlihat di matanya.
"Kak Dika! Tadi pagi Icha buatin kakak roti, kenapa gak dimakan?"
Langkah Dika terhenti. Kepalanya menatap Mira yang ternyata juga menatapnya.
"Kamu!" Dika menunjuk Mira dengan sangat dingin. "Buang roti yang ada di kamar ke tempat sampah!"
Tubuh Crescencia seketika menegang. Rasa sesak langsung menjalar menggerogoti dadanya. Tanpa sadar, cairan bening mengalir membasahi kedua pipinya, menatap punggung Dika yang pergi begitu saja.
"Kenapa ...."
Crescencia berlari menuju kamar Dika yang tidak dikunci. Kedua matanya langsung menatap roti kukus yang ia buat kemarin pagi dengan nanar. Roti itu masih terlihat utuh di atas meja.
"Enak, kok ...." cicit Crescencia memakan sedikit roti itu.
"Icha ...." Mira menyembul dari balik pintu. Berjalan mendekat lantas menyentuh pundak Crescencia.
"Rasanya enak kok, Bi. Kenapa Kak Dika mau Bibi membuang roti ini? Padahal kan Kak Dika belum coba rasanya," tanya Crescencia menatap Mira yang ia panggil bibi itu degan sendu.
Mira yang melihat raut wajah Crescencia langsung mengembuskan napas berat. Sudut bibirnya ia paksakan untuk tersenyum di depan Crescencia. Walaupun baru satu minggu Crescencia di rumah ini, namun Mira sudah menganggap Crescencia sebagai anaknya sendiri.
"Mungkin, Dika tidak suka roti kukus," jawab Mira mencoba menghibur Crescencia.
"Kak Dika suka, Kok! Icha pernah lihat kak Dika makan banyak roti kukus. Pasti Kak Dika juga suka sama roti kukus buatan Icha!" ucap Crescencia sangat yakin.
"Tapi, Cha-"
"Kalau gitu, Icha mau lanjutin bikin roti kukus lagi, Bi! Semoga aja besok Kak Dika mau makan roti Icha." Crescencia menarik ujung bibirnya ke atas.
Sepasang mata Mira menatap sendu punggung Crescencia yang mulai menjauh. Kepalanya langsung tertunduk lesu.
"Bagaimana kamu bisa ngerti, Cha ...."