
Sore ini hujan turun dengan derasnya. Membuat banyak pelajar yang tidak membawa payung maupun jas hujan, atau bahkan malas pulang, lebih memilih untuk berdiam di dalam kelas masing-masing.
Ara sendiri yang tidak membawa payung terpaksa nebeng dengan Crescencia. Mereka berdua kini telah berada di dalam mobil bersama Bimo. Padahal, jarak rumahnya tidak begitu jauh. Namun, apa bisa dibuat, dirinya juga malas jika harus tertahan di kelas.
"Terima kasih ya, Cha, Pak Bimo!" kata Ara saat mobil itu sampai di halaman rumahnya. Crescencia mengangguk dan tersenyum.
Ara membuka pintu mobil. Di depannya telah ada ibunya yang berdiri dengan payung di tangannya. Tersenyum manis sekali pada Crescencia.
"Terima kasih ya, Nak Icha!" Kata Ibunya Ara. Crescencia melebarkan senyumannya dan mengangguk.
"Sama-sama, Tante."
Ara turun dan langsung sedikit memeluk pinggang ibunya karena payung itu tidak cukup lebar untuk keduanya. Ibunya membalas pelukan Ara, merapatkan anaknya angar tidak kehujanan. Berjalan beriringan untuk memasuki rumah.
Sorot mata Crescencia masih setia menatap rumah bercat biru yang pintunya baru saja tertutup. Senyumannya mulai memudar. Sepasang matanya mulai memanas dengan dada yang terasa sesak. Pemandangan sederhana selama beberapa detik itu mampu membuat dirinya merasa iri dengan Ara.
Bagaimana ya rasanya pelukan seorang ibu? Pasti hangat kan? Pasti nyaman kan? Tanpa terasa, air mata turun membasahi pipinya. Crescencia dengan cepat mengusap pipinya. Kepalanya tertoleh kala Bimo bercelatuk.
"Nunggu apalagi, Cha? Itu air hujan pada masuk ke dalam."
Crescencia sendiri baru menyadari itu. Ia langsung menutup pintu mobil dan menyuruh Bimo untuk kembali menjalankan mobilnya. Saat Crescencia terdiam dengan pikirannya, tiba-tiba tubuhnya sedikit menegap, matanya menyipit menembus kaca mobil yang basah. Kepalanya menoleh ke belakang saat mobilnya melewati seseorang yang tengah berjalan di trotoar dan nekat menembus derasnya hujan.
"Berhenti Pak Bim!" Crescencia sedikit berteriak. Membuat Bimo langsung menepikan mobilnya.
"Ada apa, Cha?" tanya Bimo heran. Sedangkan Crescencia meraih tasnya dan keluar begitu saja. Membiarkan sepatu, seragam dan sebagian rambutnya basah diterjang hujan. Hanya kepala Crescencia yang terlindungi tasnya yang ia jadikan payung dadakan.
"Ellen!" teriak Crescencia berlari kecil mendekati teman kelasnya itu. Sementara Ellen yang tengah menunduk dengan kedua tangan yang memeluk diri sendiri kini mendongak dengan cukup terkejut.
"Ellen ngapain nerobos hujan? Ayo bareng mobil Icha aja," kata Crescencia sedikit berteriak karena suaranya tertelan oleh derasnya hujan.
Ellen diam saja. Namun, sepasang mata anak itu menatap Crescencia dengan tajam.
"Ayo, Ellen!" ajak Crescencia dengan menarik lengan Ellen. Dirinya sangat tidak tega melihat temannya itu benar-benar basah kuyup. Namun, di luar dugaan Crescencia, Ellen justru menghempaskan tangannya dengan kasar. Jelas saja, Crescencia menatap Ellen dengan terkejut.
"Lo gak usah sok perhatian sama gue! Gue masih punya kaki yang sehat! Gue bisa jalan sendiri! Gue gak butuh bantuan lo!" Teriak Ellen berapi-api. Napas anak itu terlihat naik-turun dengan netra yang menatap Crescencia tidak suka.
"Tap-tapi, Ellen bisa sakit." Crescencia bahkan sedikit mencicit. Sedangkan Ellen langsung menyeringai. Kedua tangannya ia pasang di bawah dada. Satu langkah ia ambil untuk mendekati Crescencia. Kepalanya menunduk, menatap tajam orang yang kini tengah menatapnya penuh tanya.
"Gak usah sok peduli sama gue! Karena, gue gak butuh belas kasih dari orang dari lo!"
Sepasang mata Crescencia mengerjap. Dadanya sedikit sakit mendengar ucapan Ellen. Apakah dirinya pernah melakukan kesalahan kepada temannya itu? Kenapa Ellen terlihat sangat marah dan tidak menyukai kehadirannya?
Crescencia menarik napasnya. Sebelah tangannya mengusap wajahnya yang basah dan sedikit sakit akibat hantaman air.
"Kenapa, Ellen? Kenapa Ellen seperti benci sama Icha? Apakah Icha pernah buat salah sama Ellen? Kalau iya, Icha benar-benar minta maaf, Ellen."
Ellen meludah tepat di bawah kaki Crescencia. Tatapan anak itu semakin berang dan membahayakan.
"Lo mau tahu apa kesalahan lo?" picik Ellen yang membuat Crescencia langsung terdiam.
"KARENA LO ITU MUNAFIK!"
"Lo orang muka dua! Setiap gue lihat muka lo, rasanya pingin gue muntahin tahu, gak!" Ellen mulai menunjuk-nunjuk wajah Crescencia. Sementara Crescencia tidak membalas sama sekali. Gadis itu hanya diam dengan sepasang mata yang mulai memanas.
"Lo gak usah sok lugu dan sok imut bisa gak, sih?! Gue bener-bener enek lihat muka dan gaya bicara lo!"
"Apa lo gak punya malu sampai-sampai cari perhatian ke semua orang?! Apasih yang lo cari? Gue bener-bener muak sama semua orang yang terus saja ngomongin lo! Sehebat itu ya lo bermain peran buat ambil hati semua orang?!"
Emosi Ellen langsung meluap-luap. Darahnya mendidih. Cuping hidungnya mulai kembang-kempis diiringi nada suara yang semakin meninggi.
Bibir Ellen semakin menyeringai menyeramkan. "Dan asal lo tahu, Cha! Gue orang yang lempar kepala lo dengan bola basket sampai lo masuk ICU!"
Deg!
Jantung Crescencia seperti berhenti berdetak. Dadanya langsung terasa sesak. Sangat terkejut mendengar pengakuan dari temannya sendiri. Air mata Crescencia mulai turun dari kelopak matanya. Kepalanya terus mendongak untuk mendengarkan Ellen yang kembali membuka suaranya.
"Gue gak habis pikir, dibayar berapa sih lo dengan drama sampah kayak gitu?! Harus ya lo sampai pura-pura pingsan selama itu?"
"Ke... Kenapa?" Crescencia menggigit bibir bawahnya. Anak itu terlihat tidak mengerti dengan sikap Ellen. Sementara Ellen langsung mengembuskan napas kasar. Memutar bola matanya dengan malas.
"Basi tahu gak!" bentak Ellen menyindir air mata Crescencia.
"Kenapa Ellen ngelakuin itu sama Icha?"
"Lo masih tanya kenapa gue ngelakuin itu?!" Ellen meninggikan suaranya beberapa oktaf. Membuat urat-urat di lehernya langsung menonjol keluar.
"Ya karena gue enek sama tingkah lo! Gue muak sama sikap lo yang sok imut dan sok cantik! Gue gedek sama semua orang yang terus saja ngomongin elo! Dan yang jelas, gue benci sama kepura-puraan dari lo ini. Beruntungnya, gue orang paling normal dan gak terpengaruh sama bualan lo! Pingin banget ya lo diperhatiin semua orang?!"
Crescencia langsung menundukkan kepalanya. Air matanya kian mengalir deras. Kepalanya menggeleng kecil untuk menyangkal perkataan Ellen. Namun, dirinya tidak bisa menyangkal atau membantah ucapan Ellen. Crescencia lebih memilih sakit hati daripada menjelaskan yang sesungguhnya pada temannya itu. Karena, suatu hari nanti, Ellen pasti menyadari itu semua.
Crescencia mengusap kedua pipinya. Kepalanya kembali mendongak. Masih mendapati Ellen yang menatapnya tidak bersahabat.
"Ayo, Ellen. Icha antarkan sampai rumah. Ellen bisa sakit kalau terus hujan-hujanan." Crescencia meriah tangan Ellen. Namun, Ellen langsung cepat menepis tangannya lagi.
"Gue bilang, lo gak usah peduli! Kuping lo budek?!" Ellen tanpa sadar mendorong keras bahu Crescencia. Seketika itu, tubuh Crescencia langsung limbung dan terjatuh. Tas yang ia jadikan payung terpental begitu saja, membuat hujan langsung menghajar seluruh tubuhnya.
Bibir Ellen sedikit terbuka karena terkejut. Crescencia sendiri langsung meringis memegang sikunya yang jatuh dengan posisi tidak tepat. Ellen langsung menelan salivanya, sejujurnya, dia tidak bermaksud mendorong Crescencia sampai jatuh seperti itu. Sudut bibir Ellen tiba-tiba tertarik ke atas. Seperti ada rasa puas melihat Crescencia basah kuyup seperti dirinya.
Akan tetapi, seringai di bibirnya langsung berubah menjadi sebuah umpatan, saat sebuah motor melaju dengan kencangnya. Membuat genangan air yang cukup tinggi mengguyur seluruh tubuhnya.
Crescencia sendiri langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kepalanya menoleh menatap sebuah motor hitam yang melaju menjauh. Sepasang mata Crescencia sedikit menyipit untuk melihat motor yang sepertinya tidak asing di matanya.
"Motor itu ...." Crescencia mengalihkan perhatiannya kala Ellen berjalan begitu saja melewati dirinya yang masih terduduk di atas trotoar.
Crescencia menarik napas panjang, lantas mengembuskanya. Gadis itu berdiri, lantas memungut tasnya lagi dan beranjak menuju mobil.
Bimo yang melihat Crescencia basah kuyup seperti tikus kecebur got langsung membelalakkan matanya. Menatap rambut serta seragam Crescencia yang basah dan kotor. Dia hendak bertanya, namun Crescencia terlebih dulu menyuruhnya untuk segera melajukan mobil. Bimo mengangguk panik melihat tubuh Crescencia yang bergetar dengan bibir yang sedikit membiru. Ia lantas menancap gas dan segera meninggalkan area itu.
...°°°...
"Kamu lagi, kamu lagi!" bentak Pak Romi menyala-nyala. Dadanya terlihat naik-turun dengan cuping hidung yang memerah. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan sepasang mata yang beringas menatap siswa yang belum satu bulan ada di sekolah, namun namanya telah tersohor di ruang guru. Bukan karena prestasi, melainkan karena ulah berandal yang membuat guru-guru mengeluh.
"Kalau memang tidak niat sekolah, mending kamu keluar saja dari sekolah ini! Anak kayak kamu tidak ada gunanya bagi sekolah! Kamu mau jadi sok jagoan?! Kamu mau nantangin saya?! Apa nasehat dari para guru masih tidak menyadarkan kamu?! Mau berapa kali lagi kamu bolos sekolah, loncat pagar, dan tidak mengerjakan tugas! Apa kamu tidak kasian sama orangtua kamu yang bekerja keras demi biaya kamu sekolah! Kamu ini anak tidak tahu diuntung! Kamu harusnya bisa bersyukur bisa sekolah! Kamu lihat, banyak anak yang tidak bisa sekolah karena tidak punya biaya! Jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya jadi bisa seenaknya!"
Pak Romi terlihat marah betul. Wajahnya yang cokelat terlihat merah keunguan akibat emosi yang meledak-ledak. Sementara siswa yang dinasihati terlihat tidak peduli, walaupun kepalanya kini menunduk.
"Sekarang, kamu ikut saya!" Pak Romi membalikkan tubuhnya, berjalan tegap bak jenderal yang memimpin perang. Siswa itu mendengus. Lantas, berdiri dari duduknya dan mengikuti gurunya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Kepalanya menegak, seolah tidak ada rasa takut atau bersalah walaupun ia tahu apa kesalahannya. Sedangkan teman kelasnya kini menatapnya dengan lekat. Entah apa arti tatapan itu, yang jelas, ia tidak peduli.
"Tunggu dulu." Pak Romi menghentikan langkahnya di depan kelas. Tangannya merogoh kertas yang terlipat menjadi empat bagian. Kemudian, ia membuka kertas itu. Kepalanya mengedar ke penjuru kelas. Kertas di tangannya ia angkat di bawah dagunya.
"Yang saya panggil namanya, silakan berdiri di depan kelas!" kata Pak Romi yang membuat sebagian orang langsung pucat pasi. "Dwiky, Ruby, Agus, Ryan, Kevin, Adam."
"Ah, sial! Kena semprot pasti kita," gerutu Ruby pada Kevin, teman sebangkunya itu. Sedangkan Kevin langsung mengangguk malas.
Keenam siswa itu langsung berdiri di depan kelas, membentuk sebuah barisan panjang ke kanan.
"Kalian ini!" Pak Romi membuka suaranya lagi dengan jari yang menunjuk-nunjuk deretan siswa di depannya. "Kalian juga mau jadi sok jagoan seperti dia?!" Pak Romi menunjuk Dika yang kini tengah menatapnya datar. Namun, dalam tatapannya itu terlihat dingin dan membahayakan.
"Mau jadi preman kalian?! Seenaknya ngerokok sambil mainan kartu! Kalian nge-judi tidak tahu tempat! Untung yang lihat Bu Rani. Kalau saya yang mergokin kalian, sudah saya bantai kalian semua!"
"APA?!" bentak Pak Romi tak sabar.
"Kami kan ngerokok di luar sekolah, Pak! Lagian kami cuma main-main kartu doang. Kagak ada uangnya. Kami tidak berjudi, Pak!" protes Ruby tidak terima.
"Tapi kamu ngerokok di warung depan sekolah!" balas Pak Romi dengan menggaplok kepala Ruby. Membuat Ruby langsung mengaduh dengan mengusap-usap telinga kirinya yang lumayan panas. Sedangkan kelima temannya malah cekakak-cekikik di tempatnya.
"Kalau mau nge-rokok, ganti dulu seragam kau dengan baju bebas! Paham, kau!"
"Iya-iya, paham, Pak!" jawab Ruby kesal sekali. Matanya menatap Pak Romi yang terlihat emosi betul.
Pak Romi mengembuskan napas kasar lantas memerintah, "Sekarang, kalian semua ikut saya!"
Dan di sinilah mereka semua dikumpulkan. Di tengah lapangan rumput yang super panas dengan tangan yang harus melakukan hormat bendera dengan kepala tegak.
"Buset! Enak betul tuh aki-aki. Kita di suruh panas-panasan, dia malah neduh di bawa pohon! Sia-sia skincare gue! Lama-lama gue beri juga dia!" gerutu Ruby dengan menahan sakit di wajahnya akibat sengatan matahari yang semakin menjadi-jadi.
"Dih, sok-sokan pakek skincare! Muka dah buluk mah buluk aja!" tukas Ryan yang membuat temannya yang lain langsung tertawa meledek.
"Enak aja! Muka gue lebih ganteng dari muka lo!" protes Ruby tidak terima.
"Duh, gatel banget kaki gue. Tangan gue juga udah keram. Mana muka gue berasa gosong kayak pantat wajan!" Kini Dwiky yang terdengar mengeluh. Ujung sepatu kirinya sibuk menggaruk kaki kanannya.
"Sama gilak! Ubun-ubun gue berasa mau meletus!" Kevin menambahkan.
"Lagian, kita kan cuma ngerokok. Hukumannya gini banget! Tenggorokan gue kering nih!" imbuh Adam dengan wajah yang mulai keringatan.
"Padahal ya, gue pernah mergokin dia ngerokok sama Pak Dadang di kantin. Apanih! Aturan sekolah kok suka gaadil!" sungut Agus. "Lama-lama kena karma keselek rokok mampus tuh orang!"
"Pakai segala gaplok pala gua lagi. Emak gue aja kagak pernah. Dia seenaknya mukul-mukul kepala gua," imbuh Ruby kesal sekali.
Kevin terdengar mengembuskan napas kasar. Kemudian ia bercelatuk, "Sebenarnya, kita nih kena imbas dari orang di sebelah lu, noh! Gara-gara dia, kita juga yang ikut dikeringkin!
"Benar juga." Ruby mengangguk. Lantas, menyenggol bahu Dika dan bertanya, "Lu pasti ada masalah ya? Sering banget bolos sekolah. Emang, lu ngapain aja?"
Dika bergeming. Menghiraukan pertanyaan dari Ruby. Bahkan, menoleh saja tidak.
"Yah, gagu dia." Ruby mendengus. Sementara Dika justru diam-diam menyeringai tipis.
"Wehh, ada cewek tuh lagi bawa minum. Mereka senyum-senyum anjir! Pasti mau nyamperin gue. Tahu banget gue haus bukan main!" heboh Dwiky menunjuk empat perempuan yang tengah berjalan mendekat.
"Ah, PD banget lu! Mereka tuh pada nyamperin gue. Lo ngaca dulu dah sana, introspeksi diri muke lu kayak apa!" bantah Kevin yang membuat Dwiky langsung memberengut.
"Elu sama gue masih cakepan gue ya, setan!" Dwiky memprotes. Netra matanya kembali menatap rombongan perempuan itu. Begitupun dengan temannya yang lain. Di setiap wajah mereka tertera jelas tatapan ngarep disamperin, seperti drama-drama yang sering tayang di televisi. Di mana ada gadis cantik yang memberikan minum untuk orang yang tengah dilanda kesialan ini.
"Hai, Dika, mau minum?" Seorang perempuan dengan rambut yang tergerai indah menawarkan, menyodorkan botol mineral. Bibir mungil merah muda itu tersenyum simpul. Tatapannya penuh harap dengan senyum yang mulai malu-malu. Sementara Dika justru terlihat tidak peduli dan menghiraukan para gadis itu.
"Ah, sial! Malah ke Kunyuk itu!" Dwiky semakin memberengut. Begitupun dengan Kevin dan yang lain yang langsung kecewa.
"Kalian sih pada ngarep! Kita mah apa dibanding orang gagu itu! Sadar diri dong kalau kita emang di bawah standar dia!" sahut Ruby. Walaupun ada nada tidak terima di suaranya.
"Halah, sok lu! Lu juga ngarep kan diberi minum!" Ryan yang menjawab. Sementara Ruby mendengus dan menatap keempat perempuan itu lagi.
"Lo pasti haus kan? Ini terima aja jangan sungkan-sungkan. Gue ikhlas kok kasih lo minum." Perempuan itu berkata lagi. Dihadiahi senyuman setuju dari ketiga temannya.
"Heh, Kunyuk! Terima aja! Kalau lo gak mau, kasih ke gua aja. Tenggorokan gue ini dah kering kerontang!" kata Ruby sembari menyenggol-nyenggol bahu Dika. Namun Dika tetap saja tidak merespons. Membuat Ruby dan yang lainnya dibuat kesal setengah mati.
"Hei! Ngapain kalian di sana?!" Suara Pak Romi menggelegar, membuat semua orang langsung menoleh. Mereka langsung mendapati Pak Romi yang melotot dengan berkacak pinggang. Jurus andalannya kalau sedang merasa terusik. Dan teriakan itu langsung diimbuhi berbagai omelan yang membuat telinga siapa saja kesal dan panas.
Ruby dan kelima temannya mendengus kesal kala para perempuan itu diusir paksa oleh Pak Romi.
"Sialan itu orang! Kagak tahu apa tenggorakan gua kayak padang pasir?! Salah kaki sama tangan gue udah keram banget, sialan!" gerutu Ruby mengumpat-umpat. Tangan kanannya ia turunkan dan sedikit ia kibas-kibaskan untuk mengurangi rasa pegal. Diikuti dengan kelima temannya yang melakukan hal yang sama.
Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka dijemur bak ikan asin. Selama itu juga, mereka, terkecuali Dika, terus menggerutu dengan mengumpat kesal kala banyak siswi yang memliki hati nurani untuk menawarkan minum, justru diusir dengan kejamnya oleh Pak Romi.
Wajah ketujuh orang yang tengah sial itu telah memerah dengan keringat yang banjir di mana-mana. Sepasang kaki dan tangan mulai bergerak tak tenang merasakan pegal dan nyeri yang menusuk-nusuk kulitnya.
Dika yang tengah melamun, tidak sengaja menatap Crescencia yang mendekat ke gurunya. Entah mengapa, netra matanya terus tertuju pada gadis itu. Crescencia terlihat berbincang-bincang dengan Pak Romi. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Dika mendengar Pak Romi yang masih marah-marah. Cukup lama, hingga gadis itu akhirnya beranjak pergi. Tanpa Dika sadari, dirinya terus mengawasi punggung Crescencia. Hingga akhirnya tersadarkan oleh suara Pak Romi, yang ternyata telah ada di hadapannya.
"Sudah kalian semua silahkan kembali ke kelas! Hukuman untuk hari ini saya akhiri. Tapi, kalau sampai kalian berulah lagi, kalian langsung berurusan sama saya!"
Ketujuh siswa itu cukup terkejut dengan kalimat yang baru saja mereka dengar. Tidak biasanya Pak Romi memberi hukuman sesingkat ini. Ruby dan kelima kawannya langsung membubarkan diri dengan napas lega. Begitupun dengan Dika yang langsung menurunkan tangan kanannya. Memutar-mutar bahunya yang terasa pegal. Ia pun ikut beranjak dan berjalan di belakang ke enam teman kelasnya.
"Buset, tumben-tumbenan tuh aki-aki, ya! Apa hati nuraninya luluh lihat wajah ganteng gue kali yak!" Kevin bercelatuk. Dia merasa sangat lega kala wajah dan tubuhnya telah terhindar dari sengatan matahari.
"Iya, ya! Tumben banget. Dapet wangsit kali ya!" imbuh Dwiky.
"Takut ketemu Tuhan kali, takut darah tingginya kumat!" balas Ryan yang mendapat tawa ringan dari yang lain.
"Tapi syukurlah, kita gak dijemur lama-lama. Bau badan gue dah kayak karpet gosong, kampret!"
"Hahaha, lo mah emang dasarnya bau, Gus!" kata Adam pada Agus.
"Enak aja! Gue wangi, ya!" balas Agus tidak terima.
"Iya wangi. Wangi jigong lele!"
"Hahahaha...." Keenam anak itu langsung membelokkannya diri menuju kamar mandi. Meninggalkan Dika yang berjalan santai di belakangnya.
Dika kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Kepalanya sedikit mendongak dengan langkah yang terlihat tegap. Bibirnya tersenyum tipis sekali. Saking tipisnya bahkan orang tidak akan ada yang tahu jika dia tengah tersenyum.
Pikirannya langsung tertuju pada gadis menyebalkan yang dengan sialnya kini menjadi adik tirinya. Gadis menyebalkan dan ajaib yang mampu meluluhkan hati Pak Romi. Dika menyundul pipi dalamnya menggunakan lidahnya, lantas berjalan cepat kala banyak siswi perempuan yang menyapanya dengan centil dan menggelikan.
...°°°...
Sungguh sial. Entah ada apa dengan hari ini. Sepertinya, semesta memang tengah tidak bersahabat dengan dirinya. Napas kasar keluar dari lubang hidung Dika. Menatap jutaan air yang menghujani bumi dengan derasnya. Dika benar-benar berdecak kala menyadari jika dirinya tidak membawa jas hujan. Dan akhirnya, Dika harus merelakan jaket kulit hitamnya untuk sekarang.
Dika memasang jaket itu untuk membungkus tubuhnya. Dan tanpa pikir panjang, Dika berjalan santai menerjang derasnya hujan. Membiarkan kepala, tas, sepatu dan seragamnya basah semua. Rambutnya langsung lepek dengan wajah yang basah mengenaskan. Namun, justru membuat banyak siswa perempuan jejeritan di sana. Bahkan, banyak juga yang mengarahkan ponsel genggam mereka ke arah Dika.
Dika mengambil motornya di parkiran. Memasang helm full face hitamnya, lantas menyalakan motor untuk segera pergi dari sana.
"Gilak! Dika ganteng banget!"
"Iya anjir, basah kuyup gitu malah ganteng bukan main!"
"Iman gue, tolonggg!"
"Jangan hujan-hujanan napa, Bang! Entar sakit kagak ada yang buat cuci muka lagi! Mau Adek payungin gak?"
Mungkin seperti itulah suara-suara menggelikan yang membuat Dika hanya bisa mendengus kesal. Apalagi diimbuhi dengan tawa-tawa centil yang membuat bulu kuduknya seolah berdiri. Motor hitam besar Dika melaju cukup kencang di atas aspal yang basah dengan air yang setinggi mata kaki orang dewasa.
Dika perlahan memelankan motornya. Kedua matanya sedikit menyipit untuk melihat sesuatu di ujung sana. Dika melihat Crescencia yang tengah berbincang dengan seseorang. Namun lawan bicaranya tampak tidak bersahabat. Sepasang mata Dika langsung terbelalak melihat Crescencia jatuh tersungkur. Gemelitik kecil dan panas tiba-tiba merambat di dadanya. Entah mengapa, dia sedikit kurang suka melihat Crescencia mendapat perlakuan kasar seperti itu.
Dan perlahan namun pasti, Dika langsung menarik gas dalam. Sengaja melajukan motornya dengan kencang tepat di dekat mereka berdua. Dia menyeringai di balik kaca helmnya kala mendengar umpatan di belakang sana. Kepala Dika tidak menoleh sama sekali. Dia terus melakukan motornya dengan liar. Seringai puas tergambar di bibirnya kala banyak orang yang juga mengumpatinya dengan kata-kata kasar.
Dirinya masih belum mengerti atas tindakannya tadi. Dia bukan tipikal orag yang akan peduli dengan sekitarnya. Apalagi pada Crescencia. Gadis asing yang tiba-tiba berada di dalam rumahnya. Menjabat sebagai adik tirinya. Dika benar-benar muak. Akan tetapi, ada rasa kepuasan sendiri yang entah apa itu. Dadanya seperti tergelitik halus dan merasa kurang nyaman melihat adik tirinya didorong kasar seperti itu. Walaupun dia tidak menyukai Crescencia, sepertinya dia tidak pernah melukai gadis itu secara fisik. Ah, dia lupa akan perasaan pada dirinya yang memang mati rasa. Sehingga Dika tidak akan tahu apakah orang-orang akan merasakan sakit hati atas perlakuannya. Dika ... bahkan tidak mengetahui apa yang ia rasakan selama ini.
...🌹°°°🌹...