Crescencia

Crescencia
Bab 6



Crescencia meletakkan bolpoin ke atas buku kimia yang tengah ia kerjakan di meja kamarnya. Dirinya terpaksa keluar dari kamar kala mendengar suara Ellis yang meninggi dari lantai bawah.


"Ini sudah ke tiga kalinya Mama dapat surat dari kepala sekolah yang meminta kamu dipindahkan!Sebenarnya selama ini kamu ngapain?!"


Crescencia menuruni anak tangga dengan tergesa. Hendak mendekat, namun langkahnya tertahan saat Mira meraih pergelangan tangannya.


Dika yang tengah duduk di sofa mendengus sinis. Kepalanya meneleng tidak peduli dengan semua ocehan Ellis.


"Cukup Dika! Kamu sudah membuat Mama malu! Mau di taruh di mana muka Mama kalau teman-teman Mama—"


"Cukup, Ma!" Dika seketika membentak dengan menegapkan tubuhnya. Membuat Ellis kian melototkan matanya.


"Apa pedulinya Mama selama ini sama Dika? Apa taunya Mama sama hidup Dika?! Yang Mama tahu sedari dulu itu reputasi-reputasi-reputasi!"


Kedua tangan Dika mengepal kuat. Wajahnya kian mengeras, membuat otot-otot di lehernya menonjol keluar. Napasnya pun berderu dengan sangat cepat.


Dika menyeringai. Menatap wajah Ellis yang semakin merah dengan cuping hidung yang kembang-kempis.


"Sebaiknya Mama gak usah ikut campur urusan Dika, jika Mama sendiri gak tahu apa-apa semua tentang Dika!"


Dika berlalu dari hadapan Ellis yang kini terbungkam. Tubuh Crescencia sedikit berjingkat kala Dika menutup pintu kamar dengan teramat keras.


Wajah Crescencia menegang hebat saat mendengar bunyi benda-benda berjatuhan dan bunyi benda pecah dari kamar Dika. Dirinya seperti membeku dan tidak tahu harus bagaimana. Sementara Ellis justru langsung melangkah pergi dengan langkah tergesa meninggalkan rumah. Wanita itu terlihat sangat marah, tampak jelas pada suara dari sepatu high heels-nya yang sengaja dihentak-hentakkan.


Crescencia mendongak, menatap Mira yang tengah mengembuskan napas panjang. Berbagai pertanyaan 'kenapa' dan 'ada apa' berkecambuk di kepalanya. Dirinya masih termangu menatap pintu Dika yang kini justru hening. Sejujurnya, Crescencia sangat ingin menghampiri kakak tirinya itu, namun tubuhnya tertahan entah karena apa, sehingga ia justru melangkah kembali ke dalam kamarnya.


...°°°...


Senin pagi. Crescencia sudah disibukkan mencari topi abu-abunya yang tiba-tiba menghilang dari tempat yang biasanya ia letakkan. Crescencia beranjak ke sana-kemari, Mengeluarkan sebagain besar isi lemari pakaiannya, namun benda itu tidak juga ditemukan.


Oke, Crescencia menyerah. Kepalanya pusing kala mencari benda yang tak kunjung ditemukan. Ia pun beranjak dengan tas yang ada di punggungnya. Rambutnya yang tergerai indah, kini ia bentuk seperti ekor kuda. Menampakkan lehernya yang putih dengan anggun. Crescencia tersenyum sembari memasukkan liontin di lehernya ke dalam kerah seragam.


Langkah Crescencia terhenti tepat di seberang meja makan. Sepasang mata bulatnya termangu menatap Dika yang hendak beranjak dari sana. Crescencia terkesima dengan mulut yang sedikit menganga. Netra matanya langsung menjelajahi seragam Dika yang sama persis seperti yang ia kenakan saat ini.


Sudut bibir Crescencia semakin terangkat naik. Ia lantas berlari mengejar Dika yang telah beranjak pergi.


"Kak Dika ...!"


"Kak Dika ....!!"


Dika yang telah berada di atas motornya menoleh ke arah Crescencia dengan raut datar. Sama sekali tidak tertarik pada anak kecil itu.


"Kak Dika sekarang sekolah di SMA Amarilis? Satu sekolah sama Icha?!" pekik Crescencia heboh. Jujur saja, anak itu terlihat sangat senang.


Dika mendengus. Menarik ritsleting jaket hitam tebalnya tanpa menjawab pertanyaan Crescencia.


"Ich-Icha boleh berangkat bareng sama Kak Dika?" Kedua tangan Crescencia mencengkeram kuat sisi rok abu-abunya. Ia sangat berharap Dika akan mengiyakan permintaannya.


Kepala Dika menoleh. Kali ini sudut bibirnya menyeringai sinis. Menatap Crescencia dengan pandangan paling rendah.


"Lo mau mati?"


Tiga kata. Hanya tiga kata yang keluar dari bibir Dika. Namun tiga kata itu langsung membuat dada Crescencia sesak dan perih.


"Dan satu lagi ...."


"... Jangan sok kenal sama gue di sekolah. Jangan pernah lo manggil-manggil nama gue! Apalagi lo berani campuri hidup gue! Kalau lo sampai nekat, gue pastiin hidup lo gak akan pernah tenang!"


Sisi-sisi geraham Dika saling menumbuk. Sepasang matanya menyalang penuh kebencian. Dika memasang helmnya dengan kasar. Lantas segera menancap gas dan pergi begitu saja. Crescencia menegapkan kepalanya. Merasakan debu knalpot yang menyapu wajahnya. Dia berusaha payah menahan matanya yang memanas. Dirinya teramat sesak. Crescencia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia tidak bisa marah ataupun sedih dengan sikap Dika yang setiap harinya semakin dingin kepadanya. Walaupun Dika bukanlah kakak kandungnya, walaupun Dika tidak pernah menganggapnya ada, namun, Crescencia sangat menyayangi Dika lebih dari apapun. Keinginannya mempunyai kakak laki-laki telah Tuhan kabulkan. Dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan berikan.


                                 •••


Crescencia melangkahkan kaki seorang diri pada koridor sekolah yang ramai. Kedua tangannya menggenggam erat tali ransel di punggungnya. Hari ini ia tidak membawa keranjang roti dikarenakan kemarin malam tidak sempat membuatnya. Karena sepanjang malam itu, Crescencia hanya termangu dan terus memikirkan Dika akibat percekcokan dengan Ellis. Namun, satu hal yang dirinya tahu, ternyata Ellis dan Dika sepertinya tidak memiliki hubungan yang baik. Entah apa penyebabnya, Crescencia mungkin akan mencari tahu dan bertanya kepada Mira nanti. Crescencia kini menghentikan langkahnya kala telinganya mendengar bisik-bisik suara dengan nada menggebu.


"Ada anak baru ganteng banget!"


"Hah? Serius?!"


"Iya! Gue tadi juga lihat anaknya ganteng banget! Semoga masuk di kelas kita!"


"Lihat di mana? Gue juga mau lihat dong!"


"Tadi gue lihat di ruangan Bu Evi, pas lagi ngumpulin tugas dari Pak Romi. Ganteng banget gak bohong."


Crescencia mengembuskan napas panjang, merasakan semilir angin yang menyapu wajahnya. Ia sangat tahu siapa anak baru yang tengah menjadi berita panas pagi ini.


"Icha! Astaga, lo baru dateng! Eh, lo udah tau belum, ada anak baru ganteng banget! Lagi rame ini!"


Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kelas, seorang Ara langsung menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan memekik heboh.


"Iya, Icha tahu, kok!"


"Tapi sayang banget, dia kelas sebelas. Kakak kelas kita! Jadi gak bisa sekelas deh," lanjutnya sok sedih.


"Hmm." Icha hanya bergumam saja, sembari meletakkan tasnya di atas meja.


"Upacara! Upacara! Upacara!" Nando berteriak layaknya seorang komandan dengan memasang topi abu-abu di kepalanya. Sebelum melangkah pergi, ia menyempatkan diri mengacak lembut kepala Crescencia.


Crescencia mendengus. Menyisir kembali rambutnya yang sedikit berantakan dengan jemarinya.


"Ayo, Cha!" Ara merangkul pundak Crescencia, lantas berjalan beriringan menuju lapangan upacara.


...°°°...


Lamunan Crescencia buyar saat Ara dengan sengaja menyenggol bahu kanannya.


"Itu orangnya! Ganteng banget, kan!"


Crescencia mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia pun langsung memosisikan diri berada di barisan paling belakang. Menempatkan diri sebagai siswa terpendek di kelasnya. Ara yang mempunyai tinggi rata-rata itu justru memilih menemani Crescencia pada barisan paling belakang.


"Topi lo mana?" tanya Ara seraya memasang topinya.


"Topi Icha mendadak hilang tadi pagi."


Ara mendengus seraya merapikan seragamnya yang sedikit kusut.


Upacara pun dimulai. Semua warga sekolah mengikuti upacara dengan khidmat. Ya walaupun ada banyak dari mereka yang di tengah-tengah jalannya upacara sibuk sendiri dan terdengar grasak-grusuk.


Pada sesi sambutan dari kepala sekolah, kepala Crescencia mendadak pusing. Pandangannya pun sedikit kabur. Ditambah dengan cuaca hari ini yang lumayan panas membakar puncak kepalanya.


Crescencia sedikit melangkah mundur. Kedua tangannya memegang pelipis yang kian berdenyut menyakitkan. Dada Crescencia mulai terasa sesak, seolah ada benda besar dan berat menindih di atas sana. Gadis itu berusaha keras untuk mempertahankan keseimbangannya, namun pada detik ke tiga, dirinya langsung ambruk bertepatan dengan pandangannya yang menggelap.


Mendengar bunyi gedebuk yang sedikit nyaring, membuat Ara seketika menolehkan kepalanya. Detik itu juga kedua matanya terbelalak kaget.


"ASTAGA, ICHA!"


Pekikan Ara yang begitu nyaringnya, membuat banyak kepala langsung menoleh ke arahnya. Bahkan, kepala sekolah yang masih memberikan pengarahan pun ikut menolehkan kepalanya.


"Icha kenapa?!!"


Tiba-tiba saja Nando membelah barisan dan langsung terlihat syok saat tubuh Crescencia sudah terbujur di atas rumput lapangan.


"Sini, biar gue aja!"


Nando tanpa sadar menepis tangan Ara yang membantu petugas UKS mengangkat tubuh Crescencia ke atas tandu. Tanpa berpikir dua kali, Nando langsung mengangkat tubuh Crescencia dengan kedua tangannya, membopongnya, dan sedikit memeluk tubuh gadis itu.


Ara yang masih sedikit syok langsung berlari kecil menyusul punggung Nando. Meninggalkan upacara bendera yang masih setengah jalan.


"Icha kenapa bisa pingsan?"


Ara yang baru saja keluar UKS langsung tersentak mendapati sebuah pertanyaan yang sedikit tajam dari Nando.


"Eng-enggak tahu!" jawab Ara mendadak gugup.


"Tapi kan elo yang ada di sebelahnya!"


"Iy-iya. Tapi gue taunya Icha udah pingsan tadi."


Nando mendengus. Dirinya semakin menatap Ara dengan tatapan tajam. Bahkan tanpa Nando sadari, kedua tangannya saling mengepal di sisi celananya. Tanpa kata, Nando langsung melangkah pergi, karena siswa laki-laki tidak diperbolehkan masuk ke dalam UKS perempuan. Sementara Ara terlihat syok dan sedikit sakit hati  melihat kemarahan Nando yang menyalahkannya akibat tidak menjaga Crescencia. Ara terus memerhatikan punggung Nando yang menjauh hingga menghilang dari pengelihatannya. Setelah itu, Ara langsung berjalan cepat menemui Crescencia.


"Cha! Lo gapapa?" Ara langsung menanyai Crescencia yang baru tersadar dari pingsan. Ara pun berucap terima kasih pada dua petugas UKS yang baru saja membantu Crescencia.


Crescencia menggeleng kecil. Ara membantu Crescencia untuk duduk bersandar pada kepala brankar. "Icha gapapa, Ara," jawab Crescencia dengan mendekatkan minyak kayu putih ke hidungnya.


"Ish!" Ara mendesis kesal dengan duduk di sisi brankar.


"Kalau gapapa kenapa bisa sampai pingsan!" Ara tanpa segan menyentil dahi Crescencia. "Lo gak sarapan ya?!" tebak Ara langsung ke sasaran.


Crescencia memberengut dengan mengusap-usap dahinya.


"Iya, Icha gak sarapan," jujur Crescencia yang membuat Ara langsung memutar bola matanya dan mendengus kesal.


"Darah Icha rendah, Ara. Jadi Icha gabisa berdiri lama-lama."


Ara membulatkan matanya. Menatap sahabatnya itu teramat kesal.


"Kok lo gak bilang gue! Entar kan bisa gue antar lo ke UKS! Gak usah sok mau begayaan pingsan gini! Jatoh lo tadi juga kagak ada elit-elitnya!"


Crescencia sedikit tekekeh geli melihat temannya itu yang kembang kempis seolah ibu tiri yang tengah memarahi putri cantik Cinderella.


"Gausah ketawa! Gak lucu! Lo bikin orang panik aja."


Crescencia pun langsung terbahak, membuat kekesalan Ara kian meluap.


"Iya-iya. Besok-besok Icha bakal bilang ke Ara! Siap, 86!" tegas Crescencia sembari mengangkat sebelah tangannya untuk hormat.


Ara seketika tersenyum simpul. Dirinya dibuat lega kala melihat Crescencia sudah kembali tertawa.


"Yaudah, balik kelas, Yuk! Upacara kayaknya udah beres!"


"Hmm." Crescencia mengangguk kecil. Lantas sedikit melompat untuk turun dari brankar.


Saat mereka hendak menuju kelas, Crescencia sedikit melambatkan jalannya saat Dika dan beberapa orang berjalan berpapasan dengan dirinya di koridor. Tanpa Crescencia sadari, kepalanya terus memerhatikan Dika bahkan sampai menoleh ke belakang kala Dika melewatinya. Sementara Dika sedikitpun tidak melirik dirinya.


"Kok diem, Cha?" tanya Ara yang menghentikan langkahnya.


"Enggak apa-apa. Ayo jalan lagi," kilah Crescencia. Untung saja dirinya tidak keceplosan untuk memanggil Dika. Karena Crescencia sangat sadar dengan ancaman Dika tadi pagi bukanlah main-main.


"Iya, ayo buruan! Sekarang mapelnya Bu Dian, bahaya kalau kita sampai telat kelas!"


"Iya Ara!" Crescencia kembali melangkah. Berjalan di belakang Ara dan menepis semua pertanyaan yang kini menggerogoti kepalanya. Namun dirinya semakin dibuat penasaran dengan perilaku Dika yang dingin dan sangat kasar kepadanya. Pasti ada sesuatu yang membuat Dika menjadi seperti itu. Dan yang jelas, mulai hari ini Crescencia akan mencari tahu tentang rasa penasarannya.