
(Malam Harinya)
Saat ini Anara sedang membantu adiknya belajar sedangkan Bu Nurmala, dia sudah tidur dengan pulas.
"Oh ya Kak apa Kakak udah dapat pekerjaan baru?" tanya Nafara.
"Udah," jawab Anara.
"Oh ya Kakak bakalan kerja apa?" tanya Nafara.
"Jadi Office Girl di perusahaan," jawab Anara
"Kakak jadi Office Girl di perusahaan mana?" tanya Nafara.
"Dirgantama Groups," jawab Anara.
"Perusahaan yang besar dan terkenal itu?" tanya Nafara.
"Iya," jawab Anara.
"Kakak beruntung banget bisa diterima kerja disana, banyak orang yang pengen kerja disini selain gajinya yang besar, katanya Direktur utamanya itu masih muda dan sangat tampan," kata Nafara.
"Aku gak memperdulikan itu semua yang penting aku bisa kerja disini dan dapat uang buat kamu dan ibu," kata Anara.
"Amin, nanti kalau Kakak ketemu sama Direktur utamanya, Kakak tolong sampaiin ya salam aku buat dia," kata Nafara
"Dasar kamu, gimana kalau dia jelek, gendut terus tua baru tau rasa kamu," kata Anara.
"Ih Kakak apaan sih," kata Nafara.
"Udah sana, kamu tidur besok kan kamu harus sekolah nanti kamu telat loh ke sekolah," kata Anara.
"Iya," kata Nafara.
Nafara segera membereskan buku dan alat tulisnya lalu merebahkan tubunya ke sofa. sedangkan Anara, dia duduk disamping Ibunya lalu merebahkan kelapanya ke kasur ibunya dengan bantal tangannya. Akhirnya mereka tertidur dengan pulas.
→Kediaman Karvian
Karvian baru saja selesai mengeloni Melvin tidur. Dia tersenyum menatap putranya yang kini sudah tertidur pulas. Karvian mengelus rambut Melvin dengan pelan.
"Gak kerasa kamu sekarang sudah besar sayang. Papah janji sayang, Papah akan bahagiain kamu dan Papah akan selalu menjaga kamu. Maafkan Papah karena selama ini Papah hampir gak ada waktu buat kamu," gumam Karvian pelan.
Sebelum pergi, Karvian mencium kening Melvin dengan cukup lama lalu menyelimuti Melvin dengan selimut. Setelah itu, dia pun keluar dari kamar putranya dan pergi menuju kamarnya untuk istirahat.
...****************...
(Keesokan Harinya)
Anara sudah terbangun dari tidurnya. Kini dia sedang bersiap untuk pergi bekerja. Setelah selesai bersiap, dia pun berpamitan dengan Ibunya.
"Bu, aku kerja dulu ya," kata Anara.
"Iya sayang," kata Bu Nurmala.
"Ibu do'ain aku ya biar hari ini kerjaan aku lancar," kata Anara.
"Ibu pasti selalu mendoakan kamu sayang," kata Bu Nurmala.
Anara pun menyalami tangan Ibunya dan mencium tangan ibunya. Setelah itu, dia segera keluar dari ruang inap Ibunya.
→DIRGANTAMA GROUP
Setelah mengantar Melvin ke sekolah, Karvian Karvian baru saja sampai di kantornya. Dia pun turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke kantornya.
"Selamat pagi Tuan," sapa para security.
"Hemm," jawab Karvian dengan singkat, padat, dan jelas.
Karvian langsung berjalan menuju ruangannya tanpa memperdulikan sekitarnya.
Sementara itu, Anara akhirnya sampai di DIRGANTAMA GROUP. Dia pun turun dan membayar tukang ojek yang sudah mengantarnya. Tak lupa dia juga berterima kasih pada tukang ojek tersebut.
"Terima kasih Pak, ini uangnya," kata Anara seraya menyerahkan uang satu lembar berwarna biru tersebut.
"Sama-sama Neng, tapi saya tidak ada kembaliannya Neng?" tanya tukang ojek tersebut.
"Kembaliannya buat bapak aja," jawab Anara.
"Alhamdulillah, Terima kasih banyak Neng. Semoga Neng dimurahkan rezeki, dilancarkan pekerjaan, terus disini bisa dapat jodoh kalau bisa bos besar disini," kata tukang ojek tersebut sambil terkekeh. Namun yang dia ucapkan itu tulus dan dia berharap gadis ini mendapatkan kebahagiaannya.
"Amin," kata Anara," Kalau begitu saya masuk dulu ya Pak. Sekali lagi terima kasih."
Tukang ojek itu pun mengangguk dan meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Anara, dia langsung menemui security yang kemarin mengantarnya. Dia ingin meminta tolong untuk diantarkan ke ruangan kepala office girl.
"Selamat pagi bapak-bapak," sapa Anara ramah.
"Heh Mbak, selamat ya dan semoga betah kerja disini," kata Pak Iman, Security yang kemarin mengantar Anara.
"Amin Pak. Oh ya Pak, saya boleh minta tolong?" tanya Anara.
"Boleh, emangnya minta tolong apa Mbak?" tanya Pak Iman.
"Antarkan saya ke ruangan kepala office girl Pak, soalnya saya mau memperkenal diri," jawab Anara.
"Ooh, baiklah mari ikut saya," kata Pak Iman
Anara segera mengikuti langkah Pak Iman. Sesampainya disana, Pak Iman langsung memperkenalkan Anara pada kepala Office girl dan yang lainnya.
"Bu Asri, ini office girl yang baru yang kemarin saya bilang," kata Pak Iman.
Wanita paruh baya yang bernama Bu Asri tersebut menoleh ke arah Anara dan seketika dia tidak percaya bahwa gadis secantik Anara benar-benar ingin menjadi office girl.
"Apa kamu yakin akan menjadi office girl disini?" tanya Bu Asri penuh selidik.
"Saya sangat yakin Bu," jawab Anara.
"Baiklah kamu ikut saya dan Pak Iman, Terima kasih karena sudah mengantar dia kesini," kata Bu Asri.
"Sama-sama Bu Asri. Kalau begitu saya pamit," kata Pak Iman.
Pak Iman segera pergi meninggalkan ruangan Office girl. Sedangkan Anara, dia mengikuti langkah Bu Asri. Sesampainya di sana, Bu Asri memberikan pakaian yang harus Anara gunakan.
"Ini pakailah," kata Bu Asri sambil menyerahkan pakaian khusus Office girl.
"Terima kasih Bu," kata Anara.
Anara pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai berganti pakaian, Anara bergabung bersama mereka. Bu Asri selaku kepala office girl menjelaskan apa yang harus mereka kerjakan dan diruangan mana.
"Kalian pergilah, kerjakan pekerjaan kalian," perintah Bu Asri," Dan Anara, kamu pergilah ke lantai 7 bersama Ratih."
"Baik Bu," ucap mereka bersamaan.
Mereka pun pergi meninggalkan Bu Asri dan pergi ke lantai tujuan mereka. Disela perjalanan mereka, Ratih memperkenalkan dirinya kepada Anara.
"Hai kenalin nama aku Ratih," kata Ratih sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Anara, kamu bisa panggil aku Nara, " kata Anara sambil menerima uluran tangan Ratih.
"Aku yakin kamu pasti senang bekerja disini soalnya disini tuh orangnya tidak ada yang kurang ajar dan suka seenaknya," kata Ratih.
"Apa kamu pernah bertemu sama Tuan Karvian?" tanya Anara.
"Duda?" tanya Anara terkejut ketika tau kalau bosnya itu ternyata Duda.
"Iya, istrinya baru aja meninggal 1 tahun yang lalu. Semenjak ditinggal istrinya, Tuan Karvian jadi dingin banget. Setiap gadis yang mengodanya selalu dia tolak mentah, dia itu setia banget sama almarhumah istri, " kata Ratih.
"Ya ampun, beruntung banget almarhumah istrinya itu bisa dapat suami setia seperti Tuan Karvian," kata Anara," Aku jadi penasaran bagaimana wajahnya?"
"Semoga aja kamu bisa ketemu nanti sama dia, soalnya tidak banyak orang di kantor ini yang tau wajah Tuan Karvian," kata Ratih.
"Ya semoga saja nanti aku beruntung bisa ketemu sama Tuan Karvian, yaudah yuk lanjut kerja, kalau ngobrol terus kapan selesai pekerjaan kita," kata Anara.
Mereka pun mengakhiri obrolan mereka dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
→Ruangan Karvian
Karvian yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya tiba-tiba merasa haus, Karvian segera menelpon Dilon untuk menyuruh seseorang mengantarkan kopi untuknya.
"Hello, tolong kamu suruh Bu Asri untuk membuatkan saya secangkir kopi dan antarkan ke ruangan saya secepatnya," kata Karvian.
"Baik Tuan," kata Dilon dari sebrang telpon.
Karvian memutuskan sambungan telponnya lalu kembali mengerjakan pekerjaannya sambil menunggu kopinya datang.
Anara dan Ratih baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka tiba-tiba terkejut melihat Bu Asri menghampiri mereka.
"Anara, tolong kamu buatkan kopi untuk Tuan Karvian dan antarkan ke ruangannya," kata Bu Asri.
"A--pa saya Bu?" tanya Anara terkejut.
"Iya kamu saja, soalnya saya harus menyelesaikan pekerjaan saya," kata Bu Asri.
"Tapi Bu saya gak tau selera Tuan Karvian seperti apa?" tanya Anara
"Tuan Karvian sukanya kopi yang gak terlalu manis. Cepatlah sebelum Tuan Karvian marah," kata Bu Asri dan pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam menatap kepergiannya.
"Sepertinya ini takdir buat kamu ketemu sama Tuan Karvian dan minum kopi buatan kamu," kata Ratih.
"Aku juga gak tau. Lebih baik aku segera membuatkan kopi dan mengantarnya sebelum dia marah dan memecat ku," kata Anara.
"Baiklah Ayo," kata Ratih.
Mereka berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, Anara langsung membuatkan kopi untuk Tuannya.
"Cepat bawakan kopi itu sebelum dia mengamuk dan memecat kamu karena kelamaan nunggu," kata Ratih.
"Aku gak tau dilantai berapa dia berada dan ruangannya yang mana?" tanya Anara.
"Ya ampun Nara, tentu saja ruangan bos itu berada di lantai paling atas," jawab Ratih.
"Tapi ruangannya disebelah mana? Gak mungkin kan diatas hanya ada satu ruangan," kata Anara.
"Ruangan Tuan Karvian berada sebelah kanan dan disitu ada tulisan RUANGAN CEO. lagian di sana cuma ada dua ruangan. ruangan Tuan Karvian sama ruangan Pak Dilon," kata Ratih.
"Baiklah aku pergi dulu," kata Anara.
"Oke," kata Ratih.
Anara berjalan menuju lantai paling atas, lantai yang ingin dia tuju adalah lantai lantai 10.
Anara akhirnya berada di lantai 10, dimana ruangan Karvian berada. Anara segera pergi mencari ruangan Karvian berada.
Akhirnya Anara melihat ruangan yang bertuliskan RUANGAN CEO dan sekarang dia berada di depan ruangan tersebut. Sebelum masuk, dia mengetuk pintu terlebih dulu.
Tok... Tok.. Tok...
"Masuk," sahut dari dalam ruangan.
Ceklek!
Anara membuka pintu dengan perlahan lalu berjalan pelan mendekati Karvian dengan kepala tertunduk.
Sedangkan Karvian, dia tidak menoleh sedikit pun ke arah Anara.
"Letakkan saja disitu," suruh Karvian sambi menunjuk ke arah sampingnya tanpa mengalihkan pandangannya dari arah laptop miliknya.
"Ini kopinya Tuan, semoga anda suka," kata Anara.
Deg.
Karvian yang mendengar suara yang begitu lembut menyapa indera pendengarannya seketika penasaran siapa pemilik suara ini, tidak mungkin suara Bu Asri, karena dia sudah hafal dengan suara wanita paruh baya itu. Karvian langsung menoleh dan dia seketika terkejut melihat Anara.
"Kamu!!!" kata Karvian
Begitupun Anara, dia langsung mendonggakkan kepalanya dan dia juga terkejut ketika melihat Karvian.
"Anda!!!" kata Anara.
"Kenapa kamu ada disini? Kamu ngikutin saya?" tanya Karvian.
"Maaf, saya disini bukan untuk mengikuti anda tapi saya disini untuk bekerja. Seandainya saya tau kantor ini punya anda, saya gak bakalan mau kerja disini," kata Anara.
"Kejadian kemarin itu salah kamu, kalau saja kamu tidak membawa anak saya pergi, kamu pasti gak akan menerima tuduhan dan hinaan seperti kemarin," kata Karvian menyalahkan Anara.
"Salah saya? Kalau saya tidak membawa anak anda bersama saya, mungkin dia sudah diculik sama orang, apa anda masih mau menyalahkan saya?" tanya Anara.
Karvian terdiam setelah mendengar pernyataan dari Anara.
"Saya akan berhenti kerja disini, karena saya tidak mau punya bos yang sudah menuduh dan menghina saya," kata Anara.
Saat Anara ingin pergi, Tiba-tiba Karvian mengatakan sesuatu yang membuat Anara menghentikan langkahnya.
"Kalau kamu berhenti sekarang maka kamu akan dikenakan denda," kata Karvian.
"Maksud anda?" tanya Anara.
"Emangnya kamu gak baca ya peraturan kantor ini, jika kamu sudah bekerja disini dan kamu berhenti kurang dari 1 tahun masa kerja kamu, kamu harus bayar denda dan dendanya itu tidaklah kecil," kata Karvian," Jadi silahkan kamu tentukan sendiri, apakah kamu mau berhenti atau terus bekerja disini?
"Ih, dasar nyebelin," kata Anara.
Anara pun keluar dari ruangan Karvian.
Sedangkan Karvian, dia kembali duduk di kursi kebesarannya. Karvian tidak menyangka jika hari ini dia bertemu lagi dengan orang yang sudah dia tuduh dan hina kemarin. Sebenarnya Karvian ingin sekali meminta maaf pada Anara tapi rasa gengsi lebih menguasai dirinya.
Sementara itu, Anara yang baru tiba di dapur langsung di dekati oleh Ratih.
"Gimana? Apa kamu udah bertemu dan lihat wajah Tuan Karvian?" tanya Ratih.
"Udah," jawab Anara.
"Gimana? Benarkan kata aku kalau dia itu sangat tampan dan gagah," kata Ratih memuji Karvian.
"Tampan darimana? Yang dia itu sangat jelek," kata Anara.
"Mata kamu rabun ya Nara, udah jelas dia itu tampan banget malah dikatain jelek. Nanti kalau dia dengar kamu ngomong gitu kamu pasti langsung di pecat," kata Ratih.
"Udah ah jangan bahas dia lagi, mending sekarang kita makan aja ini udah waktunya makan siang," kata Anara.
Ratih pun mengangguk dan menggandeng lengan Anara lalu berjalan menuju kantin kantor.
...^^^[BERSAMBUNG...]^^^...