
Setelah dari rumah Karvian, kini Calista sudah sampai di rumahnya. Setelah turun dari mobil, dia segera berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, dia disambut oleh Ibu dan Ayahnya.
"Lista sayang kamu udah pulang, gimana nanti makan siangnya?" tanya Ibu Calista yang bernama Farah.
"Ya cukup seru Mah," jawab Calista.
"Bagaimana kabar keluarga disana?bagaimana kabar Melvin?" tanya Ayah Calista yang bernama Ardian.
"Mereka semua baik bahkan Melvin juga baik," jawab Calista.
"Syukurlah kalau Melvin baik. Nanti Papah akan sempetin ke rumah Vian untuk bertemu sama Melvin, Papah kangen banget sama dia," kata Ardian.
"Mah, Pah aku istirahat dulu ya di kamar aku capek banget nih," kata Calista.
"Iya sayang, kamu istirahat ya di kamar kamu pasti capek," kata Farah.
Calista segera berjalan menuju kamarnya untuk istirahat. Ardian merogoh saku celananya untuk mengambil handphone lalu dia pun menghubungi seseorang.
"Hello, Geri tolong besok kamu belikan mainan yang mahal untuk cucu kesayangan saya dan kirimkan semuanya ke rumah menantu saya nanti saya akan kirimkan alamatnya ke kamu," kata Ardian.
"Baik Tuan," kata Orang itu yang ternyata bernama Geri. Dia adalah asisten Ardian.
Ardian langsung memutuskan sambungan Telponnya.
"Apa besok Mamah mau ikut Papah ke rumah Vian?" tanya Ardian.
"Kayaknya gak deh Pah, soalnya besok Mamah ada jadwal arisan sama teman-teman Mamah, gak papa kan Pah?" tanya Farah.
"Baiklah," jawab Ardian.
Ardian pun pergi menuju kamarnya. Sedangkan Farah, dia berjalan menuju kamar putrinya.
Sedangkan di dalam kamar, Calista sedang rebahan sambil melamun. Dia sedang memikirkan Karvian.
"Kenapa sih susah banget buat dapetin Kak Vian? Padahal kan aku udah dandan cantik gini demi dia? Kenapa dia gak tertarik sama aku? Pokoknya aku gak akan nyerah aku harus dapatin cintanya Kak Vian dan menjadi Nyonya Karvian Jevras Dirgantama," gumam Calista.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Ibunya di kamarnya.
"Mamah, bikin aku kangen aja," kata Calista.
"Gimana? apa kamu berhasil deketin Vian?" tanya Farah.
"Belum Mah, dia kayaknya gak tertarik sama aku. lihat aku udah dandan cantik kayak gini, dia malah cuek sama aku," jawab Calista.
"Udah kamu sabar aja, nanti dia juga bakalan luluh sama kamu," kata Farah," Atau besok gimana kalau kamu ke kantornya aja buat ajak dia makan siang?"
"Ide Mamah boleh juga. Oke, besok aku akan datang ke kantornya buat ajakin dia makan siang bareng," kata Calista.
"Bagus, Pokoknya kamu gak boleh nyerah buat dapatin Vian," kata Farah.
"Oke Mah," kata Calista.
"Ya udah Mamah keluar dulu ya sayang," kata Farah.
"Iya Mah," Kata Calista.
Farah segera keluar dari kamar Calista. Sedangkan Calista, dia segera berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya.
...****************...
(Malam Harinya)
Setelah selesai makan malam, Karvian menemani putranya tidur. Sebelum tidur biasanya Melvin diminta oleh Karvian untuk bercerita soal kegiatannya di sekolah.
"Sekarang Melvin cerita sama Papah, gimana Melvin di sekolah tadi?" tanya Karvian.
Melvin mengambil bukunya lalu menuliskan jawaban pertanyaan dari Ayahnya. Setelah selesai menulis, dia memberikan tulisannya pada Ayahnya.
Melvin:Tadi sekolah aku diejek sama teman aku Pah, dia bilang aku anak aneh terus dia juga merebut kotak makan aku tapi ada yang nolong aku Pah, namanya Hanin. Dia murid baru di sekolah terus dia ajak aku temenan. Dia baik banget Pah, dia gak seperti teman-teman aku yang lainnya.
Karvian tersenyum setelah membaca tulisan dari Melvin.
"Kamu udah bilang makasih belum sama dia?" tanya Karvian.
Melvin:"Udah Pah.
"Nanti kamu kenalin dia ke Papah ya, Papah mau kenal sama teman jagoan Papah ini," kata Karvian.
Melvin:Oke, nanti aku kenalin dia sama Papah.
"Sekarang Melvin tidur ya besok kan Melvin harus sekolah," kata Karvian.
Melvin segera merebahkan tubuhnya ke kasur lalu memejamkan matanya. Tak lama kemudian, Melvin sudah tertidur dengan pulas.
Melihat anaknya yang sudah tidur, Karvian menyelimuti Melvin dengan selimut lalu dia mencium kening Melvin dengan pelan. Setelah itu, Karvian menarikan lampu kamar Melvin lalu segera keluar dari kamar Melvin.
...****************...
(Keesokan Harinya)
Anara sedang bersiap untuk mencari pekerjaan barunya. Setelah bersiap, Anara berpamitan pada Ibunya.
"Bu, aku berangkat kerja dulu ya," kata Anara.
"Iya kamu hati-hati ya di jalan," kata Bu Nurmala.
"Sus, titip Ibu saya ya," kata Anara.
"Baik Mbak," kata Suster itu.
Setelah berpamitan pada Ibunya, Anara segera keluar dari ruang inap. Dia berharap hari ini adalah hari keberuntungan untuk mendapatkan pekerjaan baru.
→TK Kasih Bunda.
Melvin telah sampai di depan sekolahnya. Dia pun segera turun dari mobil Ayahnya dan diikuti oleh Karvian.
Tiba-tiba Melvin melihat Hanin yang juga baru sampai di sekolah. Melvin segera menarik jas Ayahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Karvian.
Melvin mengambil buku komunikasi di dalam tas lalu dia segera menulis disana. Setelah itu dia memberikan tulisannya pada Karvian.
Melvin:Pah, itu Hanin.
"Hanin? Dimana sayang?" tanya Karvin.
Melvin menunjuk ke arah Hanin barulah Karvian tau keberadaan Hanin.
"Oh jadi itu namanya Hanin?" tanya Karvian yang diangguki oleh Melvin.
Melvin menarik tangan Karvian untuk mengenalkannya pada Hanin. Sedangkan Hanin, saat dia ingin berjalan menuju kelasnya, dia melihat Melvin yang berjalan menghampirinya.
"Melvin, kamu baru datang juga ya," kata Hanin.
"Jadi kamu Hanin temannya Melvin?" tanya Karvian.
"Iya, Om pasti Papahnya Melvin kan?" tanya Hanin.
"Iya, Kenalin nama Om Karvian kamu bisa panggil Om Vian. Oh ya Makasih Ya kamu udah mau jadi temannya Melvin," kata Karvian.
"Sama-sama Om," kata Hanin.
"Ya udah sekarang kalian berdua masuk ke kelas ya, bentar lagi bel masuk bunyi tuh," kata Karvian.
"Ayo Melvin kita masuk kelas bareng," ajak Hanin.
Hanin menggandeng tangan Melvin lalu mereka berjalan menuju kelas mereka. Karvian tersenyum memandangi kepergian mereka. Dia bersyukur karena Melvin sudah mau untuk berteman.
Setelah melihat anaknya yang semakin menjauh, Karvian segera masuk ke dalam mobil lalu dia mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan sekolah Melvin.
→Dirgantama Groups.
Calista sedang berada di depan gedung perusahaan Karvian. Dia segera turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki kantor Karvian.
Sesampainya di dalam, Calista berjalan menghampiri meja resepsionis.
"Apa Viannya ada?" tanya Calista
"Tuan Vian belum datang Nona," jawab Resepsionis.
"Ya udah, aku bakalan tungguin dia di ruangannya saja," kata Calista.
Saat Calista ingin pergi menuju ruangan Karvian, Tiba-tiba dia dicegat oleh Resepsionis itu.
"Maaf Nona, anda dilarang untuk masuk sembarangan ke dalam ruangan Tuan Vian," kata Resepsionis itu.
"Heh, apa hak kamu melarang aku buat masuk ke dalam ruangan calon suami aku?" tanya Calista memarahi Resepsionis itu.
"Maaf Nona, bukannya saya tidak sopan tapi Tuan Vian sudah memberitahu saya untuk melarang siapapun masuk tanpa izin dari dia," jawab Resepsionis itu.
"Alah, gak usah bohong kamu. Udah sana minggir atau kamu mau aku pecat," ancam Calista.
"Tapi Nona---" kata Resepsionis
Tanpa memperdulikan Resepsionis itu, Calista kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Karvian. Namun lagi-lagi dia kembali dicegat oleh seseorang dan kali ini orang yang mencegatnya adalah Dilon.
"Anda mau kemana Nona?" tanya Dilon.
"Aku mau ke ruangan Vian, calon suami aku," jawab Calista.
"Maaf Nona, anda tidak bisa kesana ataupun masuk ke dalam ruangannya Tuan Vian karena Tuan Vian sudah melarang siapapun untuk masuk ke dalam ruangannya tanpa izin darinya," kata Dilon.
"Berani banget kamu larang-larang aku? Aku ini calon istrinya bos kamu, kamu mau aku pecat hah?" ancam Calista.
"Sekali lagi maaf Nona, meskipun anda calon istri Tuan Vian, saya tetap melarang anda untuk masuk ke dalam ruangan Tuan Vian. Lagipula siapa anda berani mengancam untuk memecat saya. Yang berhak memecat saya hanyalah bos saya yaitu Tuan Vian bukan anda Nona," kata Dilon.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Calista berbalik badan menatap orang itu dan dia sangat terkejut melihat Karvian sudah ada dibelakangnya.
"Saya tanya sekali lagi, ada keributan apa ini?" tanya Karvian.
"Maaf Tuan Vian, Nona ini memaksa untu masuk ke dalam ruangan Tuan. Saya dan Pak Dilon sudah berusaha melarang dia tapi dia tetap mau masuk malahan dia mengancam kami untuk memecat kami jika kami," kata Resepsionis yang diketahui bernama Dewi.
"Kak Vian aku---"
ucapan Calista terhenti saat Karvian mengangkat tangannya agar Calista berhenti bicara.
"Memangnya kamu siapa? Berani sekali mengancam pegawai ku. Aku yang berhak memutuskan untuk memecat mereka atau tidak," kata Karvian.
"Maaf Kak Vian, aku cuma mau masuk ke dalam ruangan kamu," kata Calista.
"Asal kamu tau ya aku sudah memberitahukan sama semua pegawai disini untuk tidak mengizinkan seseorang untuk masuk ke dalam ruang kerja aku tanpa izin dari aku," kata Karvian," Dan tadi aku dengar kamu bilang kamu adalah calon istri aku? Jangan mimpi ya aku mau menikah sama kamu,"
Calista menundukkan kepalanya. Di dalam hatinya, dia sangat kesal sekaligus malu karena Karvian menolaknya.
"Sekarang aku minta kamu pergi dari sini," usir Karvian pada Calista.
"Tapi Kak Vian---"
"Pergi Calista!!!" kata Karvian.
Dengan rasa kecewa dan sakit hati, Calista mau tidak mau, dia terpaksa pergi dari sana sebelum Karvian makin marah padanya.
Sesampainya diluar gedung perusahaan Karvian, Calista segera masuk ke dalam mobil lalu dia langsung menumpahkan rasa kesalnya.
"Aku gak akan menyerah Kak Vian, aku pasti akan segera mendapatkan kamu," gumam Calista.
Setelah rasa kesalnya mereda, Calista menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan gedung perusahaan Dirgantama Groups.
Sementara di dalam Kantor, Karvian menyuruh pegawainya untuk kembali bekerja. Dia pun segera pergi ke ruangan dengan menggunakan lift. Sedangkan Dilon mengikuti Karvian dari belakangnya.
Sesampainya di ruang kerjanya, Karvian langsung duduk di kursi kebesarannya lalu menyalakan laptopnya. Tak lama kemudian, Dilon pun datang mendekati Karvian.
"Maaf Tuan, saya mau menyampaikan kalau hari ini kita ada meeting penting dengan Pak Rigen di Caffe Qtime"
"Tolong kamu atur saja meeting kita hari ini," pinta Karvian.
"Baik Tuan," kata Dilon.
Dilon segera pergi meninggalkan Karvian. Sedangkan Karvian, dia kembali sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya.
→Tk Kasih Bunda.
Saat ini Melvin dan Hanin sedang duduk di taman sekolah sambil menikmati bekal masing-masing.
"Makanan ini buatan Mamah aku, pasti kue ini buatan Mamah kamu juga kan?" tanya Hanin.
Melvin:Bukan, bekal ini buatan Bi Arum. Mamah aku udah ada disurga.
Setelah membaca tulisan itu membuat Hanin sedih dan merasa bersalah pada Melvin.
"Melvin maaf ya, aku gak tau kalau Mamah kamu udah ada disurga," kata Hanin.
Melvin:Gak papa kok. Ayo kita terusin makanannya baru kita bisa bermain bersama.
"Ayo," kata Hanin
Mereka berdua segera menghabiskan bekal makan mereka. Setelah habis, barulah mereka bisa bermain sepuas mereka. Tak lama kemudian, Bel pun berbunyi. Semua murid segera kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
...****************...
(Siang Harinya)
→Kediaman Karvian
Melvin telah pulang dari sekolahnya. Dia segera masuk ke dalam rumahnya sedangkan Karvian, dia harus kembali ke kantor.
Sesampainya di dalam, kedatangan Melvin disambut oleh Bi Arum.
"Den Melvin sudah pulang. Sekarang Den Melvin ganti baju ya Bibi udah siapkan makanan kesukaannya Den Melvin," kata Bi Arum.
Setelah menyelesaikan makannya, Melvin beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Bi Arum yang sedang mencuci piring.
"Ada apa Den Melvin? Apa Den Melvin butuh sesuatu?" tanya Bi Arum.
Melvin:Aku mau Main ke Taman. Bibi bisa gak temenin aku kesana.
"Oh jadi Den Melvin mau ke Taman ya? Yaudah tapi tunggu Bibi selesai cuci dulu ya baru kita ke taman," kata Bi Arum.
Melvin pun mengangguk lalu dia segera pergi ke ruang tamu untuk menunggu Bi Arum selesai mencuci piring.
Setelah selesai mencuci piring dan beberes dapur, Bi Arum pun segera menghampiri Melvin di ruang tamu.
"Ayo Den kita ke Taman," kata Bi Arum.
Melvin dan Bi Arum segera pergi keluar dari rumah untuk pergi ke Taman dekat komplek rumah.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, mereka pun sampai di Taman. Mereka segera mencari tempat untuk istirahat.
Melvin memilih bermain bola, sedangkan Bi Arum hanya duduk sambil mengawasi Melvin yang sedang asyik bermain sendiri.
"Apa Den Melvin haus?" tanya Bi Arum
Melvin pun mengangguk.
"Ya udah sebentar ya Bibi Belikan minuman untuk Den Melvin, Den Melvin tunggu disini saja jangan kemana-mana," kata Bi Arum.
Bi Arum segera pergi untuk membeli sebotol minuman. Sedangkan Melvin, dia kembali bermain bola.
Tanpa sengaja Melvin menendang bola terlalu jauh. Dia pun segera berjalan untuk mencari bolanya itu.
Tak lama kemudian, Bi Arum datang dan dia tidak menemukan Melvin sana.
"Ya ampun Den Melvin kemana?" tanya Bi Arum.
Bi Arum segera pergi mencari Melvin dengan panik.
Sementara itu ditempat yang sama, Anara masih terus mencari pekerjaan kesana kemari. Namun sampai saat ini tidak ada satupun perusahaan yang menerimanya.
Kini Anara sedang duduk di bangku taman sambil meluruskan kakinya dan memijat kakinya yang sudah tidak sanggup untuk berjalan lagi.
"Aduh aku benar-benar capek, aku bingung harus mencari pekerjaan dimana lagi?" gumam Anara.
Tiba-tiba dia melihat seorang anak kecil sedang menangis. Dia pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri anak itu.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Anara.
Anak kecil itu tidak menjawab, dia hanya menangis saja.
"Ya ampun kamu pasti tersesat ya? " tanya Anara.
Tiba-tiba Anak kecil itu memeluk Anara dengan sangat erat. Anara membalas pelukannya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Sudah ya sayang kamu jangan nangis Oke, gimana kalau Tante beliin kamu es krim, kamu mau?" tanya Anara.
Anak itu pun mengangguk. Anara tersenyum dan dia mengandeng tangan anak itu untuk pergi menuju tukang jualan ice cream.
Disisi Lain, Karvian dan Dilon bertemu dengan clientnya dan membicarakan tentang kerja sama dan proyek yang akan mereka kerjakan.
"Saya Terima kerja samanya Pak Vian. Terima kasih karena mau bekerja sama dengan saya," kata Client Karvian yang bernama Rigen itu.
"Baik Pak Rigen, semoga proyek kita lancar dan sukses," kata Karvian.
Rigen pun bangkit dan menjabat tangan Karvian dan Dilon lalu pergi dari sana.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dia segera mengambil handphonenya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Nomor siapa ini? Kok gak di kenal? Ya udah deh angkat aja siapa tau penting," gumam Karvian.
Karvian segera menerima panggilan telpon tersebut.
"Hello siapa ini?" tanya Karvian.
"Hello Tuan ini saya Bi Arum," jawab Orang itu dari sebrang Telpon yang ternyata adalah Bi Arum.
"Bi Arum? kenapa suara kamu seperti sedang menangis? Ada apa?" tanya Karvian.
"Tuan Den Melvin hilang," jawab Bi Arum.
Seketika tubuh Karvian pun menegang setelah mendengar kabar dari Bi Arum.
"Apa? Melvin hilang? Bagaimana bisa?" tanya Karvian yang panik mengetahui putranya hilang.
"Ceritanya panjang Tuan," jawab Bi Arum.
"Ya sudah saya akan segera pulang," kata Karvian.
Karvian langsung memutuskan sambungan telponnya. Melihat Bosnya panik, membuat Dilon bertanya.
"Ada apa Tuan? kenapa Tuan panik seperti ini?" tanya Dilon.
"Putra saya hilang, saya harus segera pulang," kata Karvian.
"Ya ampun, mari Tuan saya antar Tuan pulang," kata Dilon.
Karvian dan Dilon segera berjalan keluar dari Caffe Sesampainya di parkiran mobil, mereka segera masuk ke dalam mobil. Dilon mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kantor.
...^^^[BERSAMBUNG...]^^^...