Contract Wife

Contract Wife
017-Acara Lamaran



Kediaman Keluarga Ardian.


Ardian telah sampai dirumahnya. Setelah turun dari mobil, dia berjalan memasuki rumahnya. Sesampainya di dalam rumah, Ardian terkejut ketika Calista memeluknya sambil menangis. Seketika dia menjadi khawatir dengan Calista.


"Lista kamu kenapa nangis begini?" tanya Ardian.


"Kak Vian Pah," kata Calista.


"Vian kenapa?" tanya Ardian.


"Dia nolak aku Pah," jawab Calista.


"Nolak kamu? Maksudnya?" tanya Ardian.


"Dia menolak dijodohkan sama Lista karena dia udah punya pacar Pah," jawab Farah.


Ardian sangat terkejut mendengar perkataan Farah yang mengatakan Karvian mempunyai pacar padahal yang dia tau selama ini Karvian tidak memiliki pacar karena dia tau Karvian tidak mau menikah lagi.


"Apa Papah tau siapa pacar Vian?" tanya Farah.


"Siapa?" tanya Ardian.


"Gadis yang menjadi Babysitter Melvin Pah, dia ternyata pacar Vian. Awalnya Mamah kaget sekaligus sedih karena Vian lebih memilih gadis itu daripada Lista," kata Farah sengaja menghasut Ardian.


Ardian terdiam. Disatu sisi dia senang karena Karvian akan menikah kembali itu karena dia akan terurus namun disisi lain, dia sedih karena Melvin akan punya Ibu selain Andira putrinya dan dia menjadi tidak bebas bertemu dengan Melvin karena dia tidak enak dengan istri baru Karvian.


"Papah," panggil Farah.


"Hah iya Mah," jawab Ardian.


"Papah kenapa ngelamun? harusnya Papah pergi ke rumah Vian buat marahin dia karena dia udah menolak Lista dan pacaran sama Babysitter anaknya," kata Farah.


"Mah, Papah rasa Papah gak perlu ke rumah Vian buat marahin dia," kata Ardian.


"Kenapa Pah? Dia udah nyakitin putri kita," kata Farah.


"Karena Papah gak punya hak buat melarang dia menikah dengan siapapun. Papah ini bukan orang tuanya tapi hanya sekedar mantan mertuanya jadi gak etis kalau Papah marah sama dia hanya karena dia gak mau menikah sama Lista lagipula Vian itu gak cinta sama Lista Mah, makanya dia menolak Lista dan menikahi gadis yang dia cintai," kata Ardian.


"Papah ini gimana sih? putrinya disakitin malah gak marah dan justru mendukung Vian," kata Farah.


"Papah disini gak dukung siapa-siapa tapi itulah kenyataan Mah, jadi sebaiknya Papah minta kita jangan ikut campur urusan Vian karena itu adalah pilihannya," kata Ardian.


"Tapi Pah---"


"Papah ke kamar dulu ya mau istirahat," kata Ardian.


Ardian pergi menuju kamarnya untuk istirahat. Farah dan Calista sangat kesal karena Ardian tidak terpengaruh oleh hasutan mereka justru dia malah mendukung Karvian untuk menikah.


"Gimana nih Mah, Papah gak terhasut sama kita," kata Calista.


"Dasar Papah kamu itu, udah tau kamu disakitin dia gak marah dan justru malah mendukung Vian buat menikahi gadis itu," kata Farah.


"Kita harus gimana Mah? Aku gak rela ya kalau Kak Vian harus menikah sama gadis itu," kata Calista.


"Nantilah Mamah pikirkan gimana caranya buat mengagalkan pernikahan Vian sama gadis itu," kata Farah.


Calista pergi ke kamarnya untuk memenangkan diri. Sedangkan Farah, dia duduk disofa sambil memikirkan rencana baru untuk mengagalkan pernikahan Karvian dengan Anara.


Di dalam kamar, Ardian duduk di pinggir kasur. Dia tengah memikirkan sesuatu.


"Aku yakin kalau yang aku lihat tadi itu Nurmala. jadi dia di ada di kota ini? jika itu benar Nurmala, aku senang karena aku bisa ketemu sama dia setelah bertahun-tahun aku mencari keberadaan dia dan juga kedua anak ku. Aku harus suruh orang buat cari tau soal dia," gumam Ardian.


Ardian mengambil handphonenya dari dalam tasnya untuk menghubungi orang suruhannya. Tak lama kemudian telpon pun sudah tersambung.


"Hello Pak," kata Orang itu dari sebrang telpon.


"Kamu bisa bantu saya buat cari informasi keberadaan orang?" tanya Ardian.


"Bisa Pak," jawab Orang itu.


"Nanti saya kirim fotonya ke kamu ya," kata Ardian.


"Baik Pak," kata Orang itu.


Tutt... Tutt... Tutt...


Ardian memutuskan sambungan telponnya dengan orang suruhannya. Dia berharap orang suruhannya itu berhasil menemukan keberadaan Nurmala.


(Malam Harinya)


Keluarga Anara sedang berkumpul di meja makan. Mereka tengah menikmati makan makan mereka kecuali Anara, dia hanya mengaduk makanannya saja. Dia tampak ragu untuk menyampaikan soal lamaran Karvian pada Ibunya. Melihat hal itu, Ibu Nurmala menegur Anara.


"Nara," panggil Ibu Nurmala.


"Iya Bu," jawab Anara.


"Kamu kenapa gak makan? malah diacak gitu makanannya, kamu sakit?" tanya Ibu Nurmala.


"Gak Bu, aku gak papa," kata Anara.


"Ibu tau kamu Nara, kalau kamu seperti ini pasti kamu lagi ada masalah. Ayo cerita sama Ibu apa masalah kamu," pinta Ibu Nurmala.


"Emm... Bu ada yang mau aku sampaikan sama Ibu," kata Anara.


"Apa itu?" tanya Ibu Nurmala.


"Besok malam akan ada yang datang buat melamar aku Bu," jawab Anara.


Ibu Nurmala dan Nafara seketika terkejut mendengar jawaban dari Anara.


"Ka--kamu mau dilamar siapa Nak?" tanya Ibu Nurmala.


"Kakak punya pacar?" tanya Nafara.


"Iya, aku punya pacar dan dia mau melamar aku besok," jawab Anara.


"Wah, aku gak nyangka kalau diam-diam Kakak ku ini udah mau pacar bahkan udah mau dilamar nih," kata Nafara.


"besok jam makan siang kamu ajak dia kemari, Ibu mau kenal sama dia," kata Ibu Nurmala.


"Hah ajak dia kemari Bu?" tanya Anara pelan.


"Iya sebelum lamaran, Ibu mau kamu ajak laki-laki itu kemari, Ibu harus lihat apa dia baik buat kamu atau tidak," kata Ibu Nurmala.


"Iya Bu," kata Anara.


"Ayo lanjut makan dan Anara sebaiknya kamu makan. Ibu gak mau kamu sakit karena kamu gak makan," kata Ibu Nurmala.


"Iya Bu," kata Anara.


Mereka melanjutkan makan malam. Setelah makan malam, mereka ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Di dalam kamarnya, Anara memikirkan permintaan Ibunya yang ingin bertemu dengan Karvian. Dia bingung bagaimana cara agar membawa Karvian ke rumahnya untuk bertemu dengan Ibunya besok.


'Aduh gimana nih? Ibu minta tuan Karvian buat ke rumah besok. gimana caranya ya agar Tuan Karvian mau ke rumah buat ketemu sama Ibu' batin Anara.


Anara mengambil handphonenya yang dia taruh diatas nakasnya lalu dia menghubungi Karvian.


Disisi lain, Karvian yang sedang bersiap untuk tidur terkejut mendengar handphonenya berbunyi.


"Aduh siapa yang malam-malam begini telpon?" gumam Karvian.


Dia bangkit dari rebahannya lalu mengambil handphonenya yang terletak diatas nakas.


Drtt... Drtt. Drtt...


Anara is Calling...


"Ck, ternyata gadis itu yang telpon aku," gumam Karvian.


Setelah mengetahui Anara yang menelponnya, Karvian menerima panggilan telpon dari Anara tersebut.


"Kamu kenapa telpon saya malam-malam begini hah? kurang kerjaan kamu? tidur ya jadi keganggu gara-gara telpon dari kamu," kata Karvian memarahi Anara.


"Maaf Tuan saya gak tau kalau Tuan udah tidur," kata Anara disebrang telpon.


"Ya udah cepat bilang ada apa kamu telpon saya?" tanya Karvian.


"Tadi saya udah ngomong sama Ibu saya soal lamaran itu tapi Ibu saya minta anda buat ke rumah saya besok siang," kata Anara.


"Apa? Ibu kamu mau ketemu saya? untuk apa?" tanya Karvian terkejut.


"Katanya mau kenal sama Tuan," jawab Anara.


"Ck, ya udah besok siang saya akan ke rumah dan bertemu Ibu kamu," kata Karvian.


"Beneran Tuan mau ke rumah saya buat ketemu sama Ibu saya?" tanya Anara memastikan perkataan Karvian.


"Iya," kata Karvian.


"Tuan lagi gak lagi bercanda kan?" tanya Anara.


"Gak, apa pernah sama bercanda sama omongan saya?" tanya Karvian kembali.


"Ya gak pernah sih," jawab Anara.


"Udah pokok bilang sama Ibu kamu kalau besok saya kesana buat ketemu sama dia," kata Karvian.


"Iya, nanti saya bilang sama Ibu saya," kata Anara.


Tut... Tut... Tut...


Karvian menutup sambungan telponnya secara sepihak lalu kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur.


Disisi lain, Anara yang telah selesai menelpon Karvian kini kembali meletakkan handphonenya diatas nakas lalu merebahkan tubuhnya ke kasur. tak lama kemudian, dia pun sudah tertidur dengan pulas.


(Keesokan Harinya)


→Kediaman Karvian


Karvian dan Melvin sedang menikmati sarapan paginya mereka. Tiba-tiba mereka mendengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Bi Arum segera pergi menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Sesampainya di ruang tamu, Bi Arum segera membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Dilon.


"Eh Pak Dilon," kata Bi Arum.


"Apa Tuan Karvian ada Bi?" tanya Dilon.


"Tuan Karvian ada Pak


mari silahkan masuk," kata Bi Arum.


Bi Arum kembali masuk ke dalam rumah sedangkan Dilon mengikutinya dari belakang.


"Pak Dilon silahkan duduk, saya mau panggilkan Tuan Karvian," kata Bi Arum.


"Terima kasih Bi," kata Dilon.


Bi Arum pergi menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Bi Arum menghampiri Karvian untuk memberitahukan kedatangan Dilon.


"Maaf Tuan di luar ada Pak Dilon mencari Tuan," kata Bi Arum.


"Melvin sayang kamu lanjut makannya ya, Papah mau temuin Om Dilon dulu," kata Karvian.


Karvian beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan meja makan. Sesampainya di ruang tamu, Karvian terkejut melihat begitu banyak barang di meja.


"Apa ini semua?" tanya Karvian.


"Ini hantaran lamaran seperti yang Tuan minta kemarin," jawab Dilon.


Karvian terdiam. Dia hampir saja lupa dengan acara lamaran malam ini. Karvian segera melihat semua barang-barang yang dibawa oleh Dilon. Tak lama kemudian, Bi Arum datang dengan membawa nampan berisi teh hangat.


"Ini Tuan silahkan diminum tehnya," kata Bi Arum.


"Terima kasih Bi," kata Dilon.


Bi Arum sangat terkejut ketika melihat begitu banyak barang di meja dimulai dari perlengkapan salat, setelan pakaian wanita, perhiasan, skincare, make up, tas wanita, perlengkapan mandi, perawatan tubuh, dan lain-lain dan jika totalnya menjadi uang sebesar 30 juta.


"Oh ya dan ini cincinnya Tuan tapi saya gak tau apa cincin ini pas ditangan calon istri Tuan atau enggak," kata Dilon sambil menyerahkan sebuah cincin pada Karvian.


Tak lama kemudian, Anara pun datang dan dia terkejut melihat begitu banyak barang di meja. Melihat Anara datang Karvian langsung berjalan menghampiri Anara.


"Siniin tangan kamu," pinta Karvian.


"Buat apa Tuan?" tanya Anara.


"Udah siniin aja tangan kamu," kata Karvian.


Karvian menarik tangan Anara lalu memasangkan cincin itu ke jari Anara. Anara terkejut ketika melihat Karvian memasangkan cincin di jarinya. Begitu pun dengan Dilon dan Bi Arum terkejut melihat Karvian memasangkan cincin ke jari Anara. Dilon sudah dapat menduga jika Anara adalah calon istri Bosnya itu.


Setelah Karvian merasa cincin itu cocok pada Anara. Karvian melepasnya kembali dari jari Anara dan menyimpannya kembali.


"Dilon, tolong kamu bawa semua barang ini ke kamar saya dan simpan dengan baik," pinta Karvian.


"Baik Tuan," kata Dilon


Dilon pun membawa semua barang itu ke kamar Karvian. Sedangkan Karvian, dia kembali ke ruang makan tanpa memperdulikan Anara. Setelah Karvian pergi, Bi Arum menghampiri Anara.


"Anara, jadi kamu calon istri Tuan Karvian?" tanya Bi Arum.


"Iya Bi," jawab Anara.


"Pantesan Den Melvin dekat banget sama kamu tenyata kamu pacarannya Tuan Karvian," kata Bi Arum," Tapi saya dukung kamu jadi istrinya Tuan Karvian soalnya kalau dilihat kalian itu cocok."


"Bibi apaan sih, udah ah aku mau temuin Melvin dulu," kata Anara.


"Bareng aja Bibi juga mau ke ruang makan," kata Bi Arum.


Anara dan Bi Arum berjalan bersama menuju ruang makan.


(Siang Harinya)


Karvian bersiap untuk pergi ke rumah Anara. Setelah selesai bersiap, dia keluar dari kamar. Di ruang tamu, Karvian mencari keberadaan Anara di dapur. Sesampainya di dapur, Karvian segera menghampiri Anara.


"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Karvian.


"Baik Tuan," kata Anara.


"Bi Arum tolong kamu jaga rumah dan nanti kalau ada yang cariin saya kamu bilang saya ada urusan," kata Karvian.


"Baik Tuan," kata Bi Arum.


Karvian pergi meninggalkan dapur. Anara pun mengikuti Karvian dari belakang. Sesampainya di luar rumah, mereka masuk ke dalam mobil.


"Sebelum kita ke rumah kamu, kita jemput Melvin dulu," kata Karvian..


"Iya," kata Anara.


Karvian mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan rumahnya.


→TK Kasih Bunda.


Saat ini Melvin sedang menunggu kedatangan Ayahnya untuk menjemput. Tak lama kemudian, Melvin melihat mobil Ayahnya datang dan berhenti di depannya. Melvin pun masuk ke dalam mobil Ayahnya. Melvin sangat senang karena ada Anara di dalam mobil Ayahnya dan dia melambaikan tangannya pada Anara dan tentu saja dibalas oleh Anara.


"Gimana tadi sekolahnya sayang?" tanya Karvian.


Melvin:Sama seperti biasa Pah.


"Oh gitu," kata Karvian," Sebelum pulang kita mau ke rumah Tante Anara dulu apa kamu ikut?"


Melvin:Aku ikut Pah.


"Oke kalau kamu mau ikut," kata Karvian.


Karvian mulai menjalankan mobilnya kembali meninggalkan sekolah dan melaju menuju rumah Anara.


→Rumah Anara.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh Karvian kini tiba di depan rumah Anara. Mereka pun segera turun dari mobil.


"Mari kita masuk," kata Anara.


Anara terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya dengan menggandeng tangan Melvin. Sedangkan Karvian mengikuti mereka dari belakang. Sesampainya di dalam, Anara segera memanggil Ibunya.


"Ibu. Aku pulang," panggil Anara.


Tak lama kemudian, Ibu Nurmala yang baru saja keluar dari dapur terkejut melihat putrinya datang bersama Karvian dan Melvin. Dia sudah menduga jika Karvian adalah orang yang ingin melamar putrinya malam ini. Anara pun menyalami Ibunya.


"Ibu ini---"


"Iya Ibu tau pasti dia kan laki-laki yang ingin melamar kamu," sela Ibu Nurmala sebelum Anara sempat menyelesaikan ucapannya," Mari silahkan duduk."


"Terima kasih Bu," kata Ibu Nurmala.


Karvian dan Melvin duduk disofa. Ibu Nurmala menyuruh Anara membuatkan minuman untuk Karvian dan Melvin.


"Nara, kamu bikinkan minum ya buat  mereka," kata Ibu Nurmala.


"Iya Bu," kata Anara.


Anara pun pergi ke dapur membuatkan minum untuk Karvian dan Melvin. Setelah Anara pergi barulah Ibu Nurmala memulai pembicaraannya dengan Karvian.


"Kalau boleh saya tau nama anda ini siapa?" tanya Ibu Nurmala.


"Nama saya Karvian Bu dan ini anak saya namanya Melvin," jawab Karvian sekaligus memperkenalkan Melvin pada Ibu Nurmala.


"Jadi kamu itu Duda?" tanya Ibu Nurmala.


"Iya Bu, istri saya meninggal 1 tahun yang lalu," jawab Karvian.


"Kalau boleh saya tau berapa lama kamu berhubungan sama anak saya?" tanya Ibu Nurmala.


"Hampir 1 bulan Bu," jawab Karvian bohong.


Tak lama kemudian, Anara datang dengan membawa nampan berisi minuman


"Silahkan diminum tehnya," kata Anara.


"Terima kasih," kata Karvian kepada Anara.


"Apa alasan kamu ingin menikahi anak saya?" tanya Ibu Nurmala.


"Karena saya mencintai putri Ibu dan putra saya juga sudah dekat dengan Anara itu sebabnya saya langsung ingin melamar putri Ibu," jawab Karvian.


Anara terkejut mendengar jawaban dari Karvian namun dia tau kalau jawaban Karvian adalah sebuah kebohongan. Dia mengapresiasi akting Karvian ini.


Melvin menulis sesuatu di buku komunikasinya. Setelah selesai menulis, Melvin berjalan menghampiri Ibu Nurmala lalu memperlihatkan tulisannya pada Ibu Nurmala.


Melvin:Nenek aku mohon restu Papah aku buat menikah sama Tante Anara. Aku sayang sama Tante Anara dan aku mau Tante Anara jadi Ibu aku Nek. Tolong penuhi keinginan aku.


Anara terkejut membaca tulisan dari Melvin terutama Ibu Nurmala. Dia tersenyum lalu mengelus puncak kepala Melvin.


"Kamu beneran sayang ya sama Tante Anara?" tanya Ibu Nurmala.


Melvin pun mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Ibu Nurmala. Dia berharap jika Ibu Nurmala mengabulkan keinginannya.


"Ya sudah, kalau gitu Nenek akan memenuhi keinginan kamu untuk merestui Papah kamu menikah sama Tante Anara," kata Ibu Nurmala.


Anara dan Karvian terkejut mendengar perkataan Ibu Nurmala yang merestui hubungan mereka. Sedangkan Melvin, dia sangat senang karena Ibu Nurmala memenuhi keinginannya. Dia mengecup pipi Ibu Nurmala sebagai tanda Terima kasihnya.


"Ibu serius merestui hubungi kami?" tanya Anara memastikan perkataan Ibunya.


"Iya Ibu merestui hubungan kalian," kata Ibu Nurmala sambil tersenyum," Apa nanti malam kamu datang bersama keluarga kamu?"


"Iya Bu, saya akan datang bersama keluarga saya nanti malam," kata Karvian.


"Baguslah kalau kamu datang bersama keluarga kamu, itu tandanya kamu serius sama putri saya," kata Ibu Nurmala.


Setelah pembicaraan selesai, Karvian pun pamit untuk pulang kepada Ibu Nurmala.


"Saya pamit pulang dulu Bu," kata Karvian," Sayang ayo salim sama Nenek."


Melvin pun menuruti Ayahnya lalu menyalami tangan Ibu Nurmala.


Melvin:Nenek apa boleh Tante Anara ikut sama aku, aku mau Tante Anara temenin aku ke Ulang tahun teman aku.


"Tentu boleh sayang," kata Ibu Nurmala.


"Bu aku pergi temenin Melvin dulu ya," kata Anara.


"Iya Nak," kata Ibu Nurmala.


Karvian, Anara, dan Melvin berjalan keluar dari rumah. Sesampainya di luar, mereka masuk ke dalam mobil. Karvian mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah Anara.


Sementara di dalam rumah, Ibu Nurmala melamun memikirkan keputusan merestui hubungan Anara dan Karvian.


"Sebenarnya aku ragu dengan hubungi mereka dan aku merasa laki-laki itu tidak jujur dengan perkataannya tentang mencintai Anara tapi melihat kasih sayang dari anak itu entah kenapa membuat hati ku tersentuh dan merestui hubungan Anara dengan laki-laki itu. tapi semoga saja setelah menikah, laki-laki itu nanti benar-benar mencintai Anara," gumam Ibu Nurmala.


→Adhiwijaya Group.


Saat ini Ardian sedang sibuk memeriksa beberapa berkas dokumen perusahaannya. Setelah meneliti semua dokumen, dia mulai menandatangani dokumen tersebut.


Setelah dirasa sudah selesai, Ardian pun menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi untuk menghilangkan rasa lelahnya sejenak.


"Apa hari ini aku mampir ke rumah Vian dulu ya setelah pulang kerja ini? aku mau tau apa gadis itu benar-benar tulus mencintai Karvian dan menyayangi Melvin cucu ku?" gumam Ardian.


Setelah itu, kini Ardian  menatap layar laptop untuk kembali mengerjakan pekerjaan kantornya.


→Kediaman Keluarga Hanin.


Saat ini Hanin sudah siap dengan pakaian gaun ulang tahunnya. Rumahnya juga sudah di dekorasi dengan sangat indah. Teman-temannya sudah banyak yang datang namun dia sedang menunggu kedatangan orang tuanya yang sampai sekarang belum juga pulang dari kerja mereka.


"Bi, Kok Mamah sama Papah belum datang sih?" tanya Hanin pada Bi Iroh.


Sementara diluar, Melvin telah sampai di depan rumah Hanin. Dia langsung turun dari mobil diikuti oleh Karvian dan Anara. Mereka bertiga pun berjalan memasuki rumah Hanin.


Sesampainya di dalam, Melvin langsung berlari menghampiri Hanin sambil membawa kado. Sedangkan Hanin, dia sangat senang melihat kedatangan Melvin.


"Melvin, aku senang banget kamu datang. Makasih ya udah mau datang," kata Hanin.


Melvin menulis sesuatu di buku komunikasinya lalu memperlihatkan tulisannya pada Hanin.


Melvin:Sama-sama Hanin. Ini kado buat kamu.


Melvin memberikan kado yang dibawanya kepada Hanin dan tentu saja diterima Hanin dengan senang hati.


"Makasih banyak ya Melvin," kata Hanin sambil memeluk Melvin.


Setelah melepaskan pelukannya terhadap Melvin, Hanin menarik tangan Melvin untuk bergabung bersama teman-temannya yang lain.


"Apa kita bisa mulai acaranya Non?" tanya Bi Iroh.


"Nanti dulu Bi, Mamah sama Papah belum datang," jawab Hanin.


Acara pun ditunda karena Hanin masih ingin menunggu kedatangan orang tuanya. Hampir 30 menit, mereka menunggu namun tidak ada tanda-tanda orang tua Hanin datang. Hanin sangat sedih karena orang tuanya mengingkari janji mereka kepadanya.


"Ya udah Bi, ayo kita mulai aja acaranya," kata Hanin.


"Iya Non," kata Bi Iroh.


Acara akhirnya mulai. sepanjang acara, Hanin hanya menampakkan wajah sedihnya. Melihat Hanin yang sedih membuat Melvin juga sedih. Dia ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu. Setelah acara puncak, kini para teman-teman Hanin sedang menikmati acara hiburan yaitu sulap namun Hanin tidak menikmati acara ultahnya. Melihat Hanin yang duduk di sendirian di pojokan, Melvin pun berjalan menghampiri Hanin dan mencoba menghibur Hanin.


Melvin:Hanin kamu jangan sedih, ini kan hari ulang tahun kamu.


"Gimana aku gak sedih Melvin, Mamah sama Papah aku gak datang ke acara ulang tahun aku mereka lupa sama acara ulang tahun aku," kata Hanin sambil menangis meluapkan rasa sedihnya.


Anara yang melihat Hanin menangis, dia berjalan menghampiri Hanin dan Melvin dan duduk di samping Hanin.


"Kamu kenapa sedih? kok yang punya acara nangis gini?" tanya Anara.


Melvin:Hanin sedih Tante orang tuanya gak datang hari ini ke acara ulang tahunnya.


"Apa mereka gak sayang ya sama aku, makanya mereka gak datang kesini buat nemenin aku? mereka cuma sayang sama pekerjaan mereka aja," kata Hanin.


Anara pun memeluk Hanin dan berusaha untuk menenangkannya Hanin. Hanin menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Anara.


"Sayang dengerin Tante, kamu gak boleh bicara kayak gitu tentang orang tua kamu. Tante yakin kok mereka itu sayang banget sama kamu," kata Anara.


"Kalau mereka sayang sama aku? kenapa mereka gak datang ke acara ulang tahun aku Tante?" tanya Hanin setelah melepaskan pelukannya pada Anara.


"Kamu tau sayang, kamu beruntung bisa merayakan ulang tahun semeriah dan semewah ini. Tante dulu ulang tahunnya gak pernah dirayain kayak gini," kata Anara.


"Kenapa ulang tahun Tante gak dirayain?" tanya Hanin penasaran.


"Karena dulu Ibu Tante kerja dan uangnya cuma bisa buat makan aja," jawab Anara.


"Emangnya Papahnya Tante kemana?" tanya Hanin.


"Tante gak punya Ayah, Ayah Tante ninggalin Tante saat Tante masih sangat kecil," jawab Anara.


Karvian yang mendengar pembicaraan mereka sangat terkejut ketika mengetahui jika Anara ditinggalkan Ayahnya saat dia masih kecil.


"Makanya kamu gak boleh bicara kalau Orang tua kamu gak sayang, kamu beruntung karena kamu mempunyai lengkap dan bisa memenuhi keinginan kamu untuk merayakan ulang tahun itu tandanya mereka sayang banget sama kamu," kata Anara.


Melvin:Iya Hanin, Tante Anara benar. Udah ya kamu jangan nangis lagi.


"Aku gak nangis lagi kok. Tante Anara makasih ya udah hibur aku," kata Hanin.


"Sama-sama sayang," kata Anara.


"Apa aku boleh peluk Tante lagi?" tanya Hanin.


Anara pun langsung memeluk Hanin. Setelah merasa puas, Hanin pun melepaskan pelukannya pada Anara dan mengajak Melvin menyaksikan acara hiburan.


"Ayo Melvin kita lihat pertunjukan sulap," ajak Hanin.


Hanin menarik tangan Melvin menuju pertunjukan sulap. Sedangkan Anara, meskipun dia bisa menghibur Hanin tapi dia tetap merasa sedih ketika teringat Ayahnya yang tega meninggalkan Ibunya dan adiknya saat mereka masih kecil dulu. Setelah meredakan rasa sedihnya, Anara pun kembali ke keramaian acara.


Setelah hampir 1 jam, akhirnya acara pun selesai. Kini Melvin pamit untuk pulang kepada Hanin.


"Hanin, kami pulang dulu ya," kata Anara.


"Oke Tante," kata Hanin," Melvin sampai jumpa besok ya di sekolah."


Melvin pun mengangguk mengiyakan perkataan Hanin. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Melvin melambaikan tangan kepada Hanin dan Hanin juga membalas lambaian tangan Melvin. Karvian mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Hanin.


→Kediaman Karvian.


Ardian baru saja tiba di rumah Karvian. Setelah turun dari mobil, Ardian berjalan menuju rumah. Dia terlebih dahulu menekan bel rumah..


Ceklek!


Pintu pun terbuka dan yang membukakan pintu adalah Bi Arum.


"Tuan Ardian. Mari tuan silahkan masuk," kata Bi Arum.


"Terima kasih Bi," kata Ardian.


Bi Arum kembali masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ardian dari belakang. Sesampainya diruang tamu, Bi Arum mempersilahkan Ardian duduk.


"Silahkan duduk Tuan," kata Bi Arum.


"Terima kasih Bi," kata Ardian sambil duduk disofa," Oh ya, Vian sama Melvin kemana? Kok kelihatannya disini sepi?"


"Tuan Vian sedang menemani Den Melvin ke rumah temannya yang ulang tahun Tuan. Mungkin sebentar lagi juga pulang," jawab Bi Arum.


"Oh gitu. Ya sudah saya tunggu saja," kata Ardian.


"Sebentar ya Tuan saya bikinkan minuman dulu," kata Bi Arum.


Bi Arum berjalan menuju dapur membuatkan minuman untuk Ardian. Sedangkan Ardian, dia menunggu kedatangan Karvian dan Melvin.


Sementara itu, Karvian, Anara, dan Melvin telah sampai di depan rumah. Mereka bertiga turun dari mobil lalu berjalan memasuki rumah. Sesampainya di dalam, Karvian terkejut melihat Ardian.


"Papah," kata Karvian.


Melihat Kakeknya datang, Melvin langsung berlari mendekati Kakeknya dan memeluk Kakeknya.


"Eh cucu Kakek udah pulang? Gimana tadi acara ulang tahun temannya? Seru?"


Melvin:Seru banget Kek.


Karvian berjalan mendekati Ardian lalu menyalami tangan Ardian.


"Maaf ya Vian, Papah kesini gak bilang dulu sama kamu," kata Ardian.


"Gak papa Pah justru aku yang gak enak sama Papah, pasti Papah udah nunggu kami lama," kata Karvian.


"Ah gak kok, Papah baru aja datang," kata Ardian.


Tatapan Ardian beralih kepada Anara. Merasa ditatap, Anara pun tersenyum canggung. Lalu Ardian kembali menatap Karvian.


"Selain Papah kesini mau ketemu sama Melvin, Papah juga mau ucapin selamat sama kamu," kata Ardian.


"Kasih selamat buat apa Pah?" tanya Karvian.


"Kamu kan mau menikah sama gadis yang ada di belakang kamu itu," kata Ardian sambil melirik Anara.


Ardian berjalan mendekati Anara. Baru kali ini dia bertatapan langsung dengan Anara dan entah kenapa dia merasa dekat dengan Anara.


"Apa saya boleh menanyakan beberapa pertanyaan sama kamu?" tanya Ardian.


"Pertanyaan soal apa Tuan?" tanya Anara kembali.


"Apa kamu benar mencintai Karvian? dan apa kamu tulus menyayangi Melvin cucu saya?" tanya Ardian.


"Saya tulus mencintai Tuan Karvian dan saya juga tulus menyayangi Melvin," jawab Anara.


Mendengar pertanyaan dari Kakeknya pada Anara membuat Melvin takut. Dia takut jika Kakeknya memisahkannya dengan Anara. Melvin pun menulis di buku komunikasinya lalu memperlihatkan pada Ardian.


Melvin:Kakek aku mohon jangan pisahkan aku sama Tante Anara, aku sayang banget sama Tante Anara.


Ardian tersenyum setelah membaca tulisan Melvin dan kini dia yakin jika Anara bisa menjadi Ibu yang baik untuk Melvin karena dia melihat cucunya begitu sayang dengan Anara.


"Kamu tenang saja sayang, Kakek gak akan memisahkan kamu dari Tante Anara tadi Kakek cuma bertanya saja sama Tante Anara," kata Ardian menenangkan Melvin.


Melvin yang semula takut kini menjadi lega dan senang karena Kakeknya merestui hubungan Anara dengan Ayahnya dan tidak memisahkannya dengan Anara.


"Saya cuma pesan 1 satu saja sama kamu, tolong sayangi cucu saya dan buatlah dia bahagia karena saya dia sangat menyayangi kamu," kata Ardian pada Anara.


"Baik Tuan, saya berjanji akan menyayangi Melvin dan selalu bikin dia bahagia," kata Anara.


"Saya akan pegang janji kamu ini," kata Ardian.


"Kalau anda mau kesini buat ketemu sama Melvin saya gak akan larang karena anda adalah kakeknya Melvin. Jadi anda bisa kesini kapanpun yang anda mau," kata Anara.


Ardian tersenyum lalu mengusap kepala Anara. Sekarang dia semakin yakin jika Anara adalah gadis baik dan tepat untuk Karvian. Setelah berbicara dengan Anara, Ardian pun pamit untuk pulang pada Karvian.


"Vian Papah pulang dulu ya," kata Ardian.


"Kenapa buru-buru Pah?" tanya Karvian.


"Ini udah sore nanti Papah pulangnya malah kemalaman lagi," jawab Ardian," Melvin sayang Kakek pulang dulu nanti Kakek kesini lagi kita main bareng."


Melvin pun mengangguk mengiyakan perkataan Kakeknya. Karvian mengantarkan Ardian sampai ke depan rumahnya.


"Vian apa Papah boleh minta satu hal sama kamu?" tanya Ardian.


"Apa itu Pah?" tanya Karvian kembali.


"Papah minta kamu jaga Anara dengan baik dan sayangi dia karena dia adalah gadis yang baik," pinta Ardian.


"Iya Pah, aku pasti akan jaga dia dengan baik dan aku juga akan menyayangi dia," kata Karvian.


"Papah pulang ya," kata Ardian.


"Iya Pah," kata Karvian.


Ardian masuk ke dalam mobilnya. Dia mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan rumah Karvian. Sedangkan Karvian, dia kembali masuk ke dalam rumahnya.


(Malam Harinya)


→Kediaman Karvian.


Karvian sedang bersiap untuk pergi ke rumah Anara. Bi Arum dan Pak Joko juga sibuk memasukkan barang seserahan untuk Anara ke dalam mobil. Tak lama kemudian, keluarga Melvin pun datang. Mereka pun turun dari mobil lalu berjalan menghampiri Karvian.


"Gimana Vian, apa semua barang seserahan sudah kamu bawa?" tanya Nicolas.


"Semua sudah dimasukkan ke dalam mobil Pah," jawab Karvian.


"Kalau semua sudah siap, ayo kita berangkat sekarang nanti kemalaman," kata Nicolas.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Mobil Karvian dan keluarganya mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah.


→Rumah Anara.


Disisi lain, Anara sedang dirias oleh Rifa. Siang tadi, Rifa mendapatkan telpon dari Nafara dan memberitahunya jika hari ini Anara akan dilamar. Dia terkejut sekaligus senang ketika tau sahabatnya itu akan di kamar seorang pria karena selama ini yang dia tau sahabatnya itu sama sekali belum pernah pacaran.


"Nah udah selesai, coba deh kamu lihat hasil dandanan ku," kata Rifa.


Anara yang semula memejamkan matanya kini perlahan membuka matanya dan dia terkejut melihat dandannya yang tipis dan sesuai dengan wajahnya.


"Wah kamu ternyata pinter juga dandanin orang Rifa," kata Anara.


"Hehehe siapa dulu dong Rifa," kata Rifa.


"Nanti kalau aku mau menikah aku bakalan minta dandanin aja sama Kak Rifa soalnya dandanan Kakak mirip dengan MUA profesional," kata Nafara.


"Hahaha bisa aja kamu," kata Rifa," Udah sekarang kamu ganti baju sana. Pasti bentar lagi calon suami kamu bakalan datang," suruh Rifa.


"Iya," kata Anara.


Anara langsung membawa dress yang akan di pakai ke dalam kamar mandi.


"Kak, aku keluar dulu ya mau bantuin Ibu," kata Nafara.


"Oke," kata Rifa.


Nafara pun segera keluar dari kamar Anara. Sesampainya di ruang tamu, dia melihat Ibunya sedang mempersiapkan makanan dan minuman di atas meja untuk keluarga Karvian. Dia segera berjalan menghampiri Ibunya.


"Fara Kakak kamu mana?" tanya Ibu Nurmala.


"Kakak di dalam kamarnya Bu, lagi ganti baju," jawab Nafara.


"Oh begitu," kata Ibu Nurmala.


Sementara diluar, Karvian dan keluarga sudah sampai di depan rumah Anara. Mereka pun turun dari mobil. Liyana dan Kayla menatap rumah Anara dengan tatapan mengejek.


"Lihat Mah rumahnya kecil banget gini," kata Kayla.


"Iya sayang mana juga lingkungannya kotor ih gak sehat banget," kata Liyana.


"Mamah, Kayla, diam! dan di dalam jangan banyak bicara yang dapat jangan sampai karena omongan kalian membuat acara ini gagal dan mempermalukan keluarga kita," kata Nicolas.


Mendengar perkataan Nicolas seketika membuat Liyana dan Kayla terdiam. Mereka berjalan menuju rumah Anara. Sebelum masuk, Karvian mengetuk pintu terlebih dulu.


Tok... Tok... Tok...


Ceklek!


Pintu pun terbuka dan yang membukakan pintu adalah Ibu Nurmala. Ibu Nurmala terkejut melihat Karvian membawa begitu banyak barang. Dia segera mempersilahkan keluarga Karvian untuk masuk ke rumahnya.


"Mari silahkan masuk," kata Ibu Nurmala.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Nafara yang melihat Karvian langsung terkejut. Dia tidak menyangka jika Kakaknya akan menikah dengan Direktur Utama Dirgantama Groups. Ibu Nurmala mempersilahkan keluarga Karvian untuk duduk.


"Silahkan duduk maaf rumah kami kecil tidak seperti rumah kalian," kata Ibu Nurmala.


"Tidak apa-apa Bu," kata Nicolas.


Setelah keluarga Karvian duduk, Ibu Nurmala memperkenalkan dirinya dan Nafara pada mereka.


"Perkenalkan saya Nurmala, saya Ibunya Anara dan ini Nafara, dia adiknya Anara," kata Ibu Nurmala.


Nafara langsung berdiri dan menyalami satu per satu keluarga Karvian. tibalah giliran Nafara hendak menyalami Liyana. Awalnya Liyana tidak mau bersalaman dengan Nafara tapi Liyana langsung mendapat tatapan tajam dari suaminya hingga terpaksa dia mau bersalaman dengan Nafara.


Setelah Nafara selesai menyalami keluarga Karvian. Kini giliran Nicolas memperkenalkan keluarganya kepada Ibu Nurmala dan Nafara.


"Perkenalan saya Nicolas. Saya Ayahnya Karvian dan ini istri saya Liyana, ini Althaf anak kedua kami, ini Kayla anak bungsu kami dan yang ini Melvin, dia cucu kami putranya Karvian," kata Nicolas memperkenalkan keluarganya.


Nicolas menyuruh Althaf, Kayla, dan Melvin untuk menyalami Ibu Nurmala. Saat Kayla ingin menolak, Nicolas langsung menatapnya dengan tatapan tajam hingga Kayla terpaksa harus menyalami tangan Ibu Nurmala.


Althaf,Kayla, dan Melvin beranjak dari duduk mereka dan menyalami tangan Ibu Nurmala.


"Oh ya Bu, Anaranya mana?" tanya Nicolas.


"Dia ada dikamarnya Pak," jawab Ibu Nurmala," Fara, tolong kamu panggilkan kakak kamu ya suruh kemari."


"Baik Bu," kata Nafara.


Nafara berjalan menuju kamar Anara lalu masuk ke dalam kamar Anara. Sesampainya di dalam, Nafara terkejut melihat penampilan Kakaknya.


"Wow, kakak cantik banget," puji Nafara.


"Kamu bisa aja," kata Anara.


"Calon suami Kakak udah datang sama keluarganya dan Kakak disuruh keluar menemui mereka, " kata Nafara.


"Ayo kita keluar pasti calon suami kamu langsung terpesona lihat kecantikan kamu," kata Rifa.


Anara pun berjalan keluar dari kamarnya diikutin oleh Nafara dan Rifa yang berada disampingnya. Sesampainya di luar, Anara berjalan menghampiri Ibunya dan duduk disamping Ibunya.


Althaf sangat terkejut melihat Rifa ada dirumah calon istri Kakaknya begitu pun dengan Rifa yang terkejut melihat Althaf, Laki-laki yang menabrak dirinya dan berani menggoda dirinya waktu di Mall kemarin dan yang lebih mengejutkannya adalah calon suami sahabatnya adalah Direktur Utama Dirgantama Groups.


Setelah kedatangan Anara, mereka segera memulai pembicaraan mereka dengan serius.


"Maksud kedatangan kami kesini, kami ingin melamar putri Ibu untuk menjadi istri dari putra kami Karvian," kata Nicolas.


"Saya setuju saja dengan lamaran ini, tapi semua keputusan ini saya serahkan pada putri saya," kata Ibu Nurmala.


"Anara apa kamu mau menerima lamaran Karvian?" tanya Nicolas.


Anara terdiam. Sebenarnya dia masih ragu untuk menikah dengan Karvian namun demi Melvin dan keluarga dia harus menerima lamaran ini.


"Iya saya Terima lamaran ini," kata Anara.


Masing-masing keluarga merasa lega dan mengucapkan syukur karena Anara menerima lamaran Karvian. Setelah Anara menerima lamaran, barang seserahan pun diserahkan pada Anara lalu dilanjutkan dengan pemasangan cincin ke jari Anara. Dan kini tersisa acara akhir yaitu makan bersama sambil menentukan tanggal pernikahan mereka.


"Maaf ya Pak, Bu, kami cuma bisa menyediakan makanan seadanya," kata Ibu Nurmala.


"Tidak apa-apa Bu," kata Nicolas," Sekarang kita tinggal menentukan tanggal pernikahan mereka. Kalian mau menikah kapan?"


"3 minggu ke depan," jawab Karvian.


Semua orang terkejut mendengar jawaban Karvian.


"Kenapa kalian kaget itu, kan lebih cepat lebih bagus," kata Karvian.


"Tapi itu terlalu cepat Vian, kita harus mempersiapkan persiapan pernikahan secara matang," kata Liyana.


"Mamah tenang aja 3 minggu itu adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan semuanya," kata Karvian," Gimana Anara? kamu setuju kan kalau kita menikah 3 minggu lagi?


Anara hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan dari Karvian. Dia bingung harus jawab apa. Anara pun melirik Karvian yang mengedipkan matanya memberi isyarat untuk mengiyakan pertanyaannya.


"Ah Iya, aku setuju kalau pernikahan kami dilaksanakan 3 minggu lagi," kata Anara.


"Baiklah jika itu keputusan kalian maka kami akan menerimannya," kata Nicolas.


"Mulai besok aku akan menyiapkan semuanya," kata Karvian.


"Ngomong-ngomong Ayahnya Anara mana? Kok daritadi gak keliatan?" tanya Liyana.


Mendengar pertanyaan Liyana membuat Ibu Nurmala, Anara, dan Nafara menegang. Setelah meredakan keterangannya barulah Ibu Nurmala menjawab pertanyaan Liyana mengenai Ayah Anara.


"Ayahnya Anara sudah meninggal Bu saat mereka masih kecil," jawab Ibu Nurmala dengan raut wajah yang sedih.


Melihat Wajah Ibu Nurmala yang sedih, Karvian mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh mereka melanjutkan makan.


"Mari kita lanjut makan," kata Karvian.


Setelah selesai makan, kini Keluarga Karvian berpamitan pulang kepada Ibu Nurmala, Anara, dan Nafara.


"Ibu Nurmala, Anara, Nafara kami pamit pulang dulu ya," kata Nicolas pada Ibu Nurmala.


"Iya kalian hati-hati ya dijalan," kata Ibu Nurmala.


Setelah berpamitan, Mereka masuk ke dalam masing-masing mobil. Mobil mereka pun mulai berjalan meninggalkan rumah Anara. Setelah mobil keluarga Karvian sudah pergi, kini Rifa juga berpamitan untuk pulang.


"Tante Mala, Nara, Fara, aku pamit pulang juga ya," kata Rifa.


"Iya Rifa kamu hati-hati di jalan ya," kata Ibu Nurmala.


"Rifa makasih ya udah mau datang malam ini," kata Anara.


"Sama-sama, mana mungkin aku gak datang ke acara lamaran bestie ku ini," kata Rifa.


Tak lama kemudian taksi online yang Rifa pesan telah sampai. Rifa pun masuk ke dalam taksi. Taksi yang ditumpangi Rifa mulai berjalan meninggalkan rumah Anara. Ibu Nurmala, Anara, dan Nafara masuk kembali ke dalam rumah mereka.


"Sekarang kalian masuk ke kamar istirahat ya," kata Ibu Nurmala.


"Iya Bu," kata Anara dan Nafara.


Ibu Nurmala pun masuk ke dalam kamarnya sedangkan Anara dan Nafara mereka masih berada di ruang tamu.


"Aku gak nyangka kakak bisa dapat cowok pemilik perusahaan terkenal. Kakak ku memang hebat," puji Nafara," Aku berharap aku bisa menikah sama cowok yang sukses dan mencintai aku, sama seperti Kakak."


"Aminn. Udah ah ayo tidur akun udah ngantuk banget nih," kata Anara.


"Ayo, aku juga udah ngantuk banget Kak," kata Nafara.


Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.


Sesampainya di kamar, Anara segera berganti baju tidur lalu merebahkan tubuhnya namun tiba-tiba handphone Anara berbunyi. Dia mengambil handphone yang dia taruh diatas nakas lalu membuka pesan masuk di handphonenya.


From:Bos Nyebelin


Besok kamu gak usah kerja


dan saya akan jemput kamu saat


makan siang untuk membeli cincin, memesan baju pengantin, dan keperluan yang lainnya.


Kalau saya gak kerja gimana sama Melvin?


Kamu gak usah khawatir, saya akan memberi pengertian ke dia.


Oke.


Setelah membalas pesan dari Karvian, Anara menaruh kembali handphone ke atas nakas lalu memejamkan matanya untuk tidur. Karena kelelahan, Anara pun tertidur dengan cepat.


.


...^^^[BERSAMBUNG...]^^^^...