Contract Wife

Contract Wife
019-Hari Pernikahan



(3 Minggu kemudian)


Hari ini adalah Hari pernikahan Anara dan Karvian. Beberapa jam lagi mereka akan menjadi suami istri yang sah dimata hukum dan agama.


Anara sedang dirias oleh sang tata rias. Sang tata rias memoles wajah Anara dengan sentuhan lembut. Anara meminta kepada sang tata rias untuk tidak memoleskan make up terlalu tebal. Sang tata rias memberi sentuhan terakhir berupa lipstik ke bibir Anara. Pertanda make upnya telah selesai.


"Selesai," kata Sang tata rias setelah selesai mewarnai bibir Anara.


Anara melihat pantulan wajahnya di cermin dengan tatapan tidak percaya. Dia melihat wajahnya sendiri seperti bukan dirinya. Sangat cantik sekali.


"Ini beneran aku?" tanya Anara pada dirinya sendiri.


"Iya, cantik," kata Sang tata rias memuji kecantikan Anara.


Mendengar pujian Sang tata rias berhasil membuat Anara merasa malu. Dia yakin pasti wajahnya sekarang memerah. Tapi tidak terlihat berkat bantuan make up.


"Makasih Mbak," kata Anara.


"Kalau begitu saya permisi," kata Sang Tata rias.


Sang Tata rias keluar dari ruangan Anara. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu ruangan Anara. Sontak Anara segera melihat siapa yang membuka pintu.


"Ibu," kata Anara.


Ternyata yang datang adalah Ibu Nurmala. Ibu Nurmala segera melangkahkan kakinya menuju Anara lalu duduk disamping Anara. Ibu Nurmala tersenyum sambil memandangi wajah putrinya dan mengenggam tangan dingin putrinya.


"Beberapa jam lagi putri ibu akan menikah. Ternyata waktu cepat berlalu ya. Perasaan dulu kamu itu masih kecil, suka lari-larian dan bermain.  Sebentar lagi akan menjadi seorang istri," kata Ibu Nurmala mengingat masa lalu Anara.


"Terima kasih karena Ibu sudah melahirkan dan merawat aku sampai sekarang, meskipun tanpa seorang suami Ibu tetap memberikan yang terbaik buat aku dan Fara," kata Anara.


Anara merasakan matanya terasa panas. Seperti ada sesuatu disana yang mendesak untuk keluar, matanya mulai Berkaca-kaca. Dia menangis jika mengingat bahwa dia tidak memiliki seorang Ayah padahal Anara berharap Ayahnya berada disampingnya sekarang, melihat putrinya menikah. Namun itu semua hanya angan-angan yang tidak bisa Anara rasakan.


"Jangan nangis sayang, nanti make upnya luntur nanti kamu jadi jelek gimana?" gurau Ibu Nurmala bahkan matanya juga mulai Berkaca-kaca.


Anara tertawa mendengar gurauan dari Ibunya.


"Ayo kita keluar, semua orang udah nungguin kamu untuk melaksanakan akad nikah," kata Ibu Nurmala.


Anara pun mengangguk lalu beranjak dari duduknya. Anara menggandeng tangan Ibunya dan berjalan keluar bersama Ibunya.


Sesampainya di tempat akad nikah, disana sudah ada Karvian, Ayah Karvian, Pak penghulu, dan semua tamu undangan. Anara pun segera duduk di samping Karvian dan acara akad nikah pun dimulai.


"Saudara Karvian Jevras Dirgantama. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan mempelai wanita bernama Anara Ravelia Giska dengan uang sebesar 50 juta dengan seperangkat alat solat dibayar tunai," kata Pak Penghulu itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anara Ravelia Giska dengan uang sebesar 50 juta dan seperangkat alat solat dibayar tunai," kata Karvian dengan hanya sekali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu


"SAH!"


Setelah itu semua orang mengucapkan syukur karena kini Karvian dan Anara telah resmi menjadi pasangan suami istri. Karvian pun membuka kotak cincin lalu memasangnya dijari manis Anara begitu dengan Anara yang memakaikan cincin yang satunya lagi ke jari manis Karvian. Acara akad nikah diakhiri dengan berdoa bersama.


Setelah acara akad nikah, kini tibalah saatnya acara resepsi pernikahan. Anara terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna silver begitu pun dengan Karvian. Dia terlihat gagah dan tampan dengan mengenakan setelan jas.


Tak lama kemudian, Althaf dan Melvin datang menghampiri Mereka.


"Selamat ya Kak Vian, sekarang Kak Vian udah gak sendiri lagi," kata Althaf.


Karvian hanya diam saja namun dia memberi tatapan tajamnya pada Sang adik. Setelah memberi selamat pada Karvian, kini dia berbicara dengan Anara.


"Sekarang Kakak udah jadi kakak ipar aku, jadi kakak gak perlu sungkan buat minta tolong apapun sama aku," kata Althaf.


"Iya, makasih," kata Anara yang masih sedikit canggung berbicara dengan adik iparnya itu.


Kini giliran Melvin yang memberikan selamat pada Ayahnya dan Anara. Hari ini dia sangat bahagia karena Anara sekarang resmi menjadi Ibunya.


Melvin memeluk Ayahnya dan Anara lalu mengecup pipi Ayahnya dan Anara secara bergantian untuk mengungkapkan rasa bahagianya itu. Althaf tersenyum memandangi mereka. Baru kali ini dia melihat keponakan itu sebahagia ini.


Melvin:Papah apa aku boleh duduk ditengah kalian?


"Tentu saja boleh sayang," jawab Karvian.


Karvian menggendong Melvin lalu mendudukkan Melvin diantara dirinya dan Anara.


"Nara," panggil Rifa sambil melambaikan tangan kanannya ke udara dan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah Anara.


Sekarang mereka berhadapan. Senyuman mereka berdua mengembang. Rifa langsung memeluk Anara untuk mengungkapkan rasa bahagia untuk sahabatnya itu.


"Selamat ya Nara," kata Rifa setelah melepaskan pelukannya pada Anara lalu dia menjabat tangan Anara.


"Makasih Rifa," kata Anara.


Setelah ke Anara. Kini Rifa memberikan selamatnya pada Karvian.


"Tolong ya anda jaga sahabat saya ini dengan baik dan tolong sayangi dia," pinta Rifa.


Karvian pun mengangguk mengiyakan permintaan Rifa.


"Sekali lagi selamat buat kalian. Kalau gitu aku mau makan dulu," kata Rifa.


Rifa melangkahkan kakinya menuju meja prasmanan yang tersedia bermacam-macam makanan yang dapat memanjakan perut siapapun. Althaf pun pergi mengikuti Rifa.


Setelah mengambil beberapa makanan dan minuman untuknya, Rifa segera duduk di meja kosong dan mulai menyantap makanannya. Tiba-tiba Althaf datang dan duduk di kursi di depan Rifa.


"Hai mbak, mbak masih ingat kan sama aku?" tanya Althaf.


"Tentu saja saya masih ingat sama kamu, cowok yang udah nabrak saya sampai baju saya kotor terus berani menggoda saya," jawab Rifa.


"Hehehe habisnya mbak cantik sih," kata Althaf," Oh ya aku punya sesuatu buat Mbak."


"Apa?" tanya Rifa.


Althaf mengambil gelang milik Rifa dari saku celana lalu memperlihatkannya Rifa. Rifa seketika terkejut melihat gelangnya yang dia kira hilang itu ada ditangan Althaf.


"Itu kan gelang saya? Siniin," kata Rifa ingin mengambil gelang itu dari tangan Althaf namun Althaf tidak mau memberikan gelang itu para Rifa.


"Sebelum aku balikin gelang ini sama mbak, aku punya satu syarat," kata Althaf.


"Ck, apa syaratnya buruan?" tanya Rifa tidak sabar.


"Aku mau kita kenalan terus mbak harus kasih nomor handphone mbak ke aku gimana?" tanya Althaf.


"Saya gak mau kenalan sama aku apalagi kasih nomor handphone saya sama kamu," jawab Rifa menolak syarat dari Althaf.


"Kalau mbak gak mau ya udah gelang ini juga gak bakalan aku balikin," kata Althaf.


Rifa pun terdiam. Dia merasa bimbang dengan syarat yang diberikan oleh Althaf. Disatu sisi dia ingin gelangnya kembali namun disisi lain, dia tidak mau kenalan sama Althaf apalagi memberikan nomor handphonenya pada Althaf.


Setelah berpikir panjang, akhirnya Rifa menyerah dan bersedia untuk berkenalan dengan Althaf dan memberikan nomor handphonenya pada Althaf. Dia mengulurkan tangannya pada Althaf.


"Kenapa mbak ngulurin tangan kayak gini?" tanya Althaf pura-pura tidak mengerti maksud Rifa.


"Kamu bilang kamu mau kenalan kan, ayo kenalan," jawab Rifa.


"Oh, bilang dong mbak aku kan jadinya gak bingung," kata Althaf.


Althaf membalas uluran tangan Rifa lalu memperkenalkan dirinya pada Rifa.


"Nama aku Althaf, kalau mbak siapa namanya?" tanya Althaf.


"Rifa," jawab Rifa dengan singkat.


"Sekarang aku minta nomor handphonenya mbak," kata Althaf.


Rifa pun menyebutkan nomornya pada Althaf.


"Makasih ya Mbak udah kasih nomor handphonenya, nih aku balikan gelangnya," kata Althaf sambil mengembalikan gelang milik Rifa.


Rifa menerimanya dengan perasaan senang karena gelang itu sangat berarti untuknya.


"Udah sana kamu pergi dan jangan nganggu saya lagi," kata Rifa.


"Iya aku pergi, tapi makasih ya mbak karena mbak udah mau kenalan sama aku dan kasih nomor handphone mbak," kata Althaf.


"Emm... Udah sana," usir Rifa.


Althaf pun segera pergi meninggalkan Rifa sedangkan Rifa, dia lanjut menikmati makanannya.


Tidak terasa para tamu undangan berangsur-angsur pergi meninggalkan lokasi acara pernikahan Karvian dan Anara. Setelah acara benar-benar selesai, kini Ibu Nurmala dan Nafara pamit pulang kepada Karvian dan Anara.


"Ibu sama Fara pulang dulu ya," kata Ibu Nurmala.


"Ibu sama Fara pulangnya sama siapa?" tanya Anara.


"Kamu tenang aja, aku udah suruh Dilon buat antar Ibu sama Fara pulang," jawab Karvian.


"Vian tolong ya kamu jaga Nara, sayangi dia dan jangan pernah kamu sakitin dia," pinta Ibu Nurmala.


Karvian mengangguk mengiyakan permintaan Ibu mertuanya itu.


"Ibu sama Fara hati-hati di jalan ya," kata Anara.


Kedua keluarga meninggalkan pengantin baru tersebut. Setelah keluarga mereka pergi, Karvian mengajak Anara untuk pulang.


"Ayo kita pulang," kata Karvian dengan wajah datarnya.


Mereka pun pergi meninggalkan gedung acara pernikahan mereka. Sesampainya diluar gedung, mereka masuk ke dalam mobil. Karvian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan gedung pernikahan.


→Kediaman Keluarga Ardian.


Calista saat ini sedang uring-uringan di kamarnya. Jika saja Ardian mengizinkan untuk pergi ke pernikahan Karvian maka rencananya untuk menghancurkan acara pernikahan Karvian akan terlaksana namun karena ancaman Ayahnya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia yakin saat ini Karvian dan Anara sudah resmi menjadi pasangan suami-istri.


"Arghh, kenapa sih Papah gak izinin aku uat ke pernikahan Kak Vian? Mana pakai ngurung aku di rumah segala? kalau aja seandainya aku bisa kabur dan aku yakin pasti sekarang mereka udah resmi jadi pasangan Suami-istri," gumam Calista.


Seseorang membuka pintu kamar Calista. Sontak Calista segera melihat siapa yang membuka pintu.


"Mamah," kata Calista.


Tenyata yang datang adalah Farah. Farah segera melangkahkan kakinya menuju Calista dan duduk di samping Calista.


"Mah, ayo dong bujuk Papah supaya aku bisa keluar dari sini," rengek Calista.


"Lidya Mamah udah berusaha buat bujuk Papah kamu tapi Papah kamu tetap melarang kamu keluar rumah hari ini," kata Farah.


"Ih, Papah nyebelin. Masa sama anak sendiri begitu," kata Calista.


"Sayang Mamah punya ide," kata Farah.


"Ide apa Mah?" tanya Calista.


"Gimana kalau kamu minta tolong aja sama Bu Liyana buat ngeluarin kamu dari rumah?" tanya Farah.


"Iya juga ya Mah, kenapa aku gak kepikiran daritadi," jawab Calista.


Calista mengambil handphonenya yang dia taruh diatas nakas lalu menghubungi Liyana.


Disisi lain, Keluarga Karvian baru saja sampai di rumah mereka. saat Liyana ingin menuju kamarnya, tiba-tiba handphone Liyana berbunyi. Liyana segera mengambil handphonenya yang berada di dalam tasnya.


Drtt... Drtt... Drtt...


Lista is calling...


"Lista ngapain ya dia telpon aku? coba deh aku angkat," gumam Liyana.


Setelah mengetahui Calista yang menelponnya, Liyana langsung menerima panggilan telpon dari Calista.


"Hello Lista," kata Liyana.


"Hello Tante, Tante aku boleh minta tolong gak sama Tante?" tanya Calista di sebrang telpon.


"Minta tolong apa sayang?" tanya Liyana.


"Ini Tante Papah ngurung aku dirumah, aku gak boleh keluar rumah. Jadi aku minta sama Tante buat jemput aku dirumah supaya Papah bolehin aku keluar, " jawab Calista.


"Ya ampun, kenapa Papah kamu jadi ngurung kamu dirumah?" tanya Liyana.


"Nanti aku jelasin semuanya sama Tante, tapi Tante mau kan nolongin aku?" tanya Calista.


"Oke, tante mau bantu kamu, kamu yang sabar ya sebentar---"


Belum sempat Liyana meneruskan ucapannya, handphonenya sudah diambil oleh Nicolas.


"Maaf Lista istri saya tidak bisa bantu kamu dan tolong jangan hubungi istri saya lagi karena sekarang Vian sudah menikah dan kita gak ada hubungan apapun lagi," kata Nicolas.


Tutt.... Tutt... Tutt...


Nicolas memutuskan sambungan telponnya dengan Calista lalu mengembalikan handphone Liyana.


"Pah, kenapa Papah tega bilang kalau kita gak boleh bantu Lista? kasihan dia Pah, dia pasti gak betah dikurung seharian di dalam rumah," kata Liyana.


"Karena dia bukan keluarga kita Mah, Papah gak mau Mamah mencampuri urusan orang lain dan Papah yakin Pak Ardian mengurung dia pasti ada alasannya. Jadi mulai sekarang Papah gak mau Mamah mencampuri urusan mereka lagi," tegas Nicolas.


Nicolas pun pergi meninggalkan Liyana. Sedangkan Liyana, dia kesal karena suaminya melarang dia untuk dekat dengan Calista.


Disisi lain, Calista sangat kesal


setelah telponnya diputus secara pihak oleh Nicolas.


"Apa kata Bu Liyana? Dia bisa bantu kan?" tanya Farah.


"Tante Liyana bisa bantu tapi Om Nicolas melarang Tante Liyana buat nolongin aku bahkan dia minta aku buat gak berhubungan lagi sama Tante Liyana, " jawab Calista," Sekarang kita harus gimana Mah?"


"Kamu tenang Oke, selama Mamah belum punya cara buat ngeluarin kamu, kamu harus tetap diam dan nurut sama Papah. kalau kamu gak nurut Mamah takut kamu akan dikirim lagi ke luar negeri, apa kamu mau itu terjadi lagi?" tanya Farah.


"Gak Mah, aku gak mau tinggal sendirian lagi diluar negeri. Oke aku bakalan dengerin Mamah," kata Calista.


"Sekarang Mamah keluar dulu nanti Bibi bakalan ke kamar kamu buat antar makan siang kamu," kata Farah.


"Iya Mah," kata Calista.


Farah segera melangkah keluar dari kamar Calista. Sedangkan Calista, dia meratapi nasibnya yang terkurung sendirian di kamarnya.


→Kediaman Karvian.


Karvian dan Anara telah sampai depan dirumah. Mereka pun turun dari mobil. Melvin menarik tangan Anara untuk masuk ke dalam rumah sedangkan Karvian, dia mengikuti Melvin dan Anara dari belakang.


Sesampainya di dalam rumah, Anara langsung disambut oleh Bi Arum.


"Selamat datang dirumah Nyonya," kata Bi Arum.


"Bibi kan aku sudah bilang kalau aku gak mau dipanggil selain nama aku," kata Anara.


"Itu kan dulu sekarang kamu sudah menjadi Nyonya ini dan Bibi akan tetap memanggil kamu Nyonya Anara," kata Bi Arum.


"Terserah Bibi saja deh yang mana yang nyaman buat Bibi aja," kata Anara mengalah.


Melvin menulis sesuatu di buku komunikasinya. Setelah selesai menulis, dia memperlihatkan tulisannya pada Anara.


Melvin:Tante Anara kan sekarang udah jadi istri Papah, terus aku panggil Tante apa?"


Anara tersenyum setelah membaca tulisan dari Melvin lalu dia mengusap kepala Melvin dengan lembut.


"Melvin boleh panggil Tante Ibu Oke," kata Anara.


Melvin mengangguk mengiyakan perkataan Anara. Melvin pun langsung memeluk Anara dengan erat dan Anara membalas pelukan Melvin dengan tak kalah eratnya.


"Sekarang Melvin mandi ya sama Bi Arum, Papah sama Ibu juga mau istirahat," kata Karvian.


Melvin pun mengangguk menuruti perkataan Ayahnya. Dia segera pergi menuju kamarnya dan diikuti oleh Bi Arum dari belakang.


"Nih bawa koper kamu sendiri!" kata Karvian sambil memberikan koper Anara.


Karvian pergi menuju kamarnya tanpa memperdulikan Anara yang kesusahan membawa kopernya. Anara sangat kesal karena Karvian sama sekali tidak membantunya.


Sesampainya di kamar, Karvian berjalan mendekati lemarinya dan mengambil handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Anara ingin melepaskan baju pengantinnya, namun tidak bisa mencapai resletingnya yang berada di belakang.


Karvian yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat itu segera berjalan ke arah Anara yang sedang berdiri di pantulan cermin. Karvian menarik resleting itu ke bawah dan membuat Anara terpekik kaget dan langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


"Anda mau apa?" tanya Anara.


"Saya mau bantu kamu karena saya lihat kamu kesusahan buat lepasin gaun kamu, " jawab Karvian.


"Syukurlah," gumam Anara pelan namun dapat di dengar oleh Karvian.


"Emangnya kamu kira saya mau ngapain?" tanya Karvian.


"Ya bisa aja kan anda mau macam-macam sama saya," kata Anara.


"Dengar ya, saya itu gak nafsu sama tubuh kamu yang kecil ini," kata Karvian.


"Anda jangan sembarangan bicara ya," kata Anara marah tidak terima jika Karvian menghina bentuk tubuhnya.


"Daripada kamu ngoceh gak jelas, mendingan kamu mandi sana," kata Karvian.


Karvian pun keluar dari kamarnya. Sedangkan Anara, dia berjalan mendekati kopernya untuk mengambil baju mandinya. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal.


...^^^[BERSAMBUNG...] ^^^...