
Di sebuah ruangan yang gelap nampak ketiga orang tengah berbincang, dua dari mereka menggunakan pakaian serba hitam, dan seorang tengah duduk sambil memandang mereka berdua"cepat kalian selidiki dia aku curiga bahwa dia bukan adikku"
"Baik tuan”
Hari ini Ceyelyna ingin bermalas-malasan, namun An selalu membujuknya untuk beraktivitas
"Ceye bangunlah bagaimana jika permaisuri melihatmu seperti ini ia akan mengadu kepada kaisar"
"Kau ini berisik sekali"
"Nona daripada kau tidur seperti ini lebih baik kita mengerjai permaisuri" mendengar kata mengerjai Ceyelyna langsung bangkit dari tidurnya ia segera berdiri tegak dengan semangat
"Hoho ide bagus mari kita kerjai mereka" ide cemerlang muncul dikepala Ceyelyna
"Tapi sebelum itu kau harus bersiap ceye"
"Mengapa harus bersiap kau tahu walau aku tak mandi aku tetap harum uh" ucap Ceyelyna dengan percaya diri, ya walau sebenarnya dirinya memang harum
"Harus ceye kau ini seorang putri"
"Hah terkadang aku ingin menjadi orang biasa saja, sudahlah cepat siapkan air untukku" An terkekeh geli ia segera menyiapkan air untuk sahabatnya ini
Ceyelyna telah selesai ia hanya menggunakan hanfu sederhana berwarna putih dengan pinggiran biru laut dan tak lupa mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda
"Selesai ceye"
"Baiklah An ayo ikut aku"
"Baiklah" An berjalan mengikuti Ceyelyna menuju tempat pencucian baju yang sepertinya tempat pencucian baju sangat sepi, hentah kemana para dayang bertugas di sini begitu pikir Ceyelyna
"Sepi sekali sangat bagus untuk aksi ku" Ceyelyna tersenyum miring ia menggenggam botol kecil yang berisi bubuk hentah apa dalamnya hanya ia yang tahu
"An dimana pakaian permaisuri Ming dan anaknya itu"
"Ah di sana ceye" An menunjuk salah beberapa keranjang yang berisi pakaian milik permaisuri Ming dan putrinya Kiew
"Baiklah" Ceyelyna menghampiri keranjang tersebut dan mulai menaburi bubuk yang ada di dalam botol kaca tersebut
"Sudah ayo kita pergi" An mengangguk mereka segera melesat pergi, Ceyelyna dan An berjalan menuju kediaman mereka
"Ceye apa yang taburkan tadi"
"Ah itu hanya obat saja"
"Obat?, Obat apa"
"Kau tak perlu tahu, sudahlah selesaikan perkerjaanmu aku ingin menuju taman kediamanku" An mengangguk ia segera melesat pergi
Ceyelyna sampai di taman kediaman milik nya
"Hah sudah lama aku tidak berlatih"
"Hei pedang muncullah" tak lama muncullah pedang milik Ceyelyna
"Ada apa"
"Ajari aku mengendalikan elemen petir milikku"
"Aih kau ini kan sudah aku ajari"
"Ajari lagi"
"Lagi pula apa kau tidak jera mengendalikan elemen petir itu, kau sudah berapa kali tersambar kau tahu"
"Ah seingatku cuman 5"
"Cuman katamu, rambutnya sampai menaik ke atas dan muka mu sampai hitam kau tidak jera"
"Nyenyenye sudahlah jika kau terus mengomel lebih baik kau pergi"
"Aih baiklah aku akan mengajari mu"
"..."
"Fokuskan pikiranmu bayangkan kau bisa mengendalikan tenang jangan tergesa gesa" Ceyelyna mulai memfokuskan pikirannya ia mencoba untuk tenang
Dan tak lama petir muncul dari tangannya
"Ah aku berhasil"
"Hei fokus"
Duar
"Argh..." Ceyelyna terkejut ia mendengar suara teriakan seorang laki laki
" SIAPA KAU WOY JANGAN LARI" Ceyelyna melepas sendalnya ia berniat menimpuk seorang laki laki berbaju hitam sedang melompat keluar melewati pagar kediamannya
Bugh
Sendal Ceyelyna mengenai kepala laki laki tersebut, namun laki laki tersebut masih selamat ia terus berlari Ceyelyna mencoba melempar sendal yang satunya namun laki laki itu berhasil lolos
"Heran dah banyak banget yang stalker"
"Pedang kembalilah"
"Ya baiklah"
Lain tempat
"Ada apa denganmu hah!"
"Maaf tuan hamba terkena serangan petir milik tuan putri"
"Bagaimana bisa dia menggunakan elemen"
"Bukan itu saja tuan ia memiliki pedang legenda"
"Apa kata mu" lelaki itu terkejut
“ya tuan”
“Baiklah kalian berdua awasi ia dan permaisuri”
“Baik tuan” kedua orang itu pun menghilang dalam sekejap
Pagi hari awali dengan keributan yang berasal dari kediaman permaisuri
“Ada apa dengan badanku kenapa gatal sekali” Kiew terus menerus mengaruk seluruh badannya
“Argh ibu kenapa badanku seperti ini” Kiew menunjukkan tangannya yang memerah serta berbintik kepada sang ibu
“Ibu pun tidak tahu ini sangat gatal sekali”
Hah!
Aku memang pergi
Dan disinilah aku terjebak hentah dimana
Sendiri tak ada teman yang saling mengerti
Keluarga yang tidak peduli
Tak ada cinta
Tak ada kasih sayang
Hah!
Hanya aku sendiri
Kesepian tanpa siapapun
Hah!
Han-
“Pangeran Qiang memasuki ruangan”
Ceyelyna menghentikan nyanyiannya ketika mendengar seruan dari luar
Tak
Ceyelyna menutup buku nya, ia menatap sang kakak yang berjalan kearahnya
“Salam pangeran mahkota Qiang”
“Santai saja Mei mei aku ini Gege mu”
“Ya gege” ceyelyna tersenyum tipis, sedangkan pangeran Qiang ia menatap intens sang adik entah apa yang ia pikirkan
“Ada apa Gege kemari” Ceyelyna memberi isyarat kepada pangeran Qiang untuk duduk
“Ah begini aku ingin mengajak mu menjenguk permaisuri dan putri Kiew” Ceyelyna mengerutkan kening ia heran kenapa pangeran Qiang mengajak mengunjungi selir yang menyebalkan itu.
“Ada apa Gege tidak biasanya kau ingin mengunjungi mereka”
“Permaisuri sedang sakit”
“Hah” mulut ceyelyna terbuka lebar, hal itu membuat pangeran Qiang terkekeh geli
“Sudahlah ayo ikut aku”
“Baiklah, An ayo ikut aku” An yang sedari tadi diam menyimak percakapan mereka berdua akhirnya mengangguk
“Baik cey- ah maksud ku putri”
Ceyelyna dan pangeran Qiang berjalan beriringan
“ Pangeran mahkota Qiang dan putri Lieu memasuki ruangan” nampak permaisuri ming tengah terbaring lemah dan kulitnya yang dipenuhi bintik bintik merah
“Ini sangat gatal” permaisuri Ming terus menggaruk badannya yang terasa gatal dan panas
Pangeran mahkota Qiang melirik permaisuri sebenarnya ia tidak berniat menjenguk permaisuri Ming, namun ini karna titah kaisar sendiri
“Tabib jelaskan” pangeran Qiang berkata dengan dingin
“Menjawab yang mulia sepertinys permaisuri terkena alergi tapi hamba tidak tahu apa penyebabnya” pangeran Qiang mengangguk
“Berikan permaisuri dan putri Kiew obat untuk mengurangi rasa gatalnya”
“Baik pangeran”
Ceyelyna melihat sang permaisuri terbaring ia bersorak dalam hati
“Masih mau bermain lagi dengan Ceyelyna hihi” batin ceyelyna
Ceyelyna mengedarkan pandangannya ia sama sekali tidak melihat gadis yang menyebalkan itu, Ceyelyna berinisiatif untuk bertanya
“Ah kemana putri Kiew”
“Menjawab putri, putri Kiew sedang berada di kediaman miliknya dan ia mengalami hal sama seperti permaisuri Ming” Ceyelyna mengangguk
“Apa penyakit ini menular aku sangat khawatir jika itu menular” Ceyelyna memasang wajah pura pura ketakutan sedangkan permaisuri Ming menatap geram ceyelyna
“Saya belum tau putri tapi secepatnya akan saya selidiki”
“Begitu aku percayakan kepada dirimu tabib, kau tau kan jika penyakit ini menular akan sangat berbahaya ah aku khawatir nanti permaisuri dan adikku kiew akan diasingkan oleh kaisar” ceyelyna menatap permaisuri Ming yang sedari tadi melotot kearahnya, Ceyelyna tersenyum manis ke arah permaisuri ming.
“Baiklah permaisuri Ming saya pamit, saya akan melaporkan ini kepada kaisar” pangeran Qiang menatap sang adik memberi syarat untuk pergi
“Cepat sembuh permaisuri” Ceyelyna segera pergi mengikuti pangeran mah kota Qiang
Sedangkan selir Ming menatap Ceyelyna geram
“gadis ini semakin berani saja” selir Ming mengepalkan tangannya.
“Gege aku pamit”
“Ya terima kasih telah mengantarkan ku” Ceyelyna tersenyum manis, pangeran Qiang tertegun
“Aku baru menyadari ternyata selama ini adikku begitu dan mirip sekali dengan ibunda”
“Gege”
“Gege”
“Ah maaf”
“Kau melamun”
“Maafkan aku tugas istana begitu banyak”
“Ah begitu, jangan pantang menyerah Gege tetaplah semangat” Ceyelyna mengepalkan tanganny dan mengangkatnya ke udara
“Ya terima kasih Meimei” sang pangeran tersenyum manis ia mengusap usap kepala adiknya ini
“Baiklah Gege aku harus pergi”
“Ya” ceyelyna memberi isyarat kepada An agar bergegas pergi
Pangeran Qiang menatap kepergian sang adik ia tersenyum misterius.