Ceyelyna Transmigrator

Ceyelyna Transmigrator
Part 8



"bagaimana kau bisa melakukan itu" pangeran Qiang menatap sang adik yang ada di sampingnya


"Rahasia Gege tidak perlu tahu hihi" putri Lieu tersenyum misterius, sedangkan sang pangeran hanya terkekeh mendengar penuturan sang adik


"Kau ini" pangeran mengusap kepala putri Liue


"Semua nya akan terungkap suatu saat nanti Gege" putri Liue menatap pangeran Qiang dengan tatapan sendu, ia menolehkan kepalanya ke arah depan yang menampilkan seorang putri yang berpenampilan menor sedang menyanyi, yang putri Lieu tau namanya adalah Annchi gadis salah seorang perdana Menteri kekaisaran


"Apa maksudnya" pangeran Qiang berkutat dengan batinnya ia heran apa benar di sampingnya ini adalah adiknya ah setelah tidur panjang adiknya benar benar berubah dirinya benar benar bersyukur atas semua itu


Tanpa sadar pangeran Qiang memikirkan sesuatu dikepalanya


"Acara selanjutnya adalah pemberian hadiah" seorang kasim memberikan pengumuman, yang pertama adalah sang kaisar ia memberikan pangeran Qiang sebuah pedang yang sangat langka, dan permaisuri memberikan pangeran Qiang sebuah ramuan


"Pangeran ini ramuan untuk meningkatkan elemen mu" putri Lieu memicingkan mata kearah ramuan yang ada ditangan sang kakak, ia tidak yakin itu adalah ramuan


"Terima kasih permaisuri" pangeran Qiang menatap ramuan ditangannya ia yakin ini bukan ramuan ah mungkin ia akan membuangnya


"Putri liue kau tidak memberikan hadiah kepada Gege mu" permaisuri Ming menatap remeh kearah putri Lieu


"Aku akan memberikannya" putri Lieu tersenyum penuh arti ia turun dari tempat duduknya


"Aku ada sebuah lagu untukmu"


Ceyelyna mulai bernyanyi, suaranya begitu halus dan menenangkan


Ketika menyanyikan lagu tersebut seketika ia teringat kedua orang tuanya


Flashback


Seorang anak kecil menggunakan dress selutut berwarna biru berlari sambil membawa buku di tangannya, ia menghampiri seorang wanita yang tampak sibuk dengan sebuah kertas yang ada di tangannya


“mama ceye tadi abis gambar kucing lho”


“oh iya bagus gambarnya” ucap wanita yang dipanggil mama tadi, ia berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang ada di tangannya


“tapi ma liat dulu gambaran ceye”


“nanti ya sayang, sana kamu main sama bibi” mendengar penuturan sang ibu anak kecil itu menunduk lesu dan berlalu pergi


Flashback end


Ceyelyna menghentikan nyanyiannya


Dan riuh tepuk tangan pun terdengar


Prokprokprok


Seluruh aula bertepuk tangan


“Sungguh indah”


“Hebat”


“lagu yang sangat indah”


" Mei mei lagu mu sangat indah, itu hadiah yang sangat indah Gege mu ini menyukainya” sang pangeran seketika memeluk sang adik, melihat interaksi kedua anaknya sang kaisar tersenyum tipis namun seketika tatapannya berubah menjadi sendu


“Maafkan ayah” batin sang kaisar


"ya itu lagu yang sangat indah sampai membuat aku ingin menangis" putri Lieu tersenyum kecut ia segera pergi dari sana hentah mengapa menyanyikan lagu itu membuat ia teringat masa lalu dan ia tidak menyukai hal itu.


Setelah penampilan putri Liue semua orang menikmati hidangan,. Kecuali ceyelyna maksudnya putri Lieu


“Hah sungguh sedih sekali terdampar didunia yang tidak aku ketahui dan tidak ada orang yang mengerti” Ceyelyna menyadarkan kepalanya disalah satu tiang gazebo miliknya


“Hei kau tidak ingat kalo ada aku disini dan ada teman mu Lisa” suara pedang milik Ceyelyna bergema di pikirannya.


Hah iya aku tahu maafkan aku” Ceyelyna memejamkan matanya


“Salam putri Lieu” ceyelyna terkejut ia mendongak seketika matanya berhadapan dengan nona Liu


“Ah nona Liu ada apa” Ceyelyna menegakkan badannya dan memberi isyarat kepada Liu agar duduk di sampingnya, Liu awalnya sedikit ragu namun akhirnya ia memberanikan dirinya untuk duduk di samping seorang putri


“Kenapa putri tidak ikut perjamuan”


“Aku tidak suka di sana memuakkan sekali” Liu bertepuk tangan senang, sedangkan Ceyelyna hanya menatap horor ke arah Liu


“Kita sama putri dan ah di sana memuakkan sekali aku malas dengan para nona bangsawan lainnya”


“ Ya begitu aku sama denganmu” Liu tersenyum senang, ia langsung memeluk putri Liue


Bruk


“Hei kenapa kau memelukku”


“Huwa tidak aku hanya terharu saja masih ada seorang bangsawan seperti diriku ini yang tidak suka pesta, jamuan, dan lebih suka bermain senjata, ah jujur saja kau sangat hebat putri boleh kita berteman” Ceyelyna menatap horor perempuan di depannya matanya ini


“Ini bocah kesambet apaan tadi dingin banget lah sekarang hadeh..” Ceyelyna membatin


“Hah baiklah” Ceyelyna tersenyum tipis


“tidak ada salahnya berteman”


“Yay terima kasih, ah kau pasti heran dengan sikapku, kau menyangka aku dingin dan cuek kan, aku seperti itu karna aku tidak ingin dipandang rendah oleh siapa pun aku harus menunjukkan sebagai seorang perempuan aku harus kuat tidak boleh lemah, tapi sebenarnya sikapku hangat dan ceria hehe” Liu tersenyum konyol sedangkan Ceyelyna hanya tersenyum canggung ia tidak tahu bagaimana menanggapinya


Karna ketika dulu ia sekolah ia tidak memiliki teman semua orang menjauhi ya namun ceyelyna hanya cuek saja


“Ah baiklah kita berteman tapi jika kau tidak suka denganku kau boleh pergi” Ceyelyna berkata dengan acuh tak acuh


“Ah tidak aku pasti senang berteman dengan mu, terimakasih putri” Liu hendak memeluk Ceyelyna namun Ceyelyna langsung berdiri


“Kau berhentilah memelukku” Ceyelyna menatap Liu dengan tatapan tajam


“Ah maafkan aku” Liu mengaruk tekuknya


“Ya tak apa” Ceyelyna tersenyum tipis


“Ah apa kau bosan bagai-“ perkataan Liu terhenti ketika ada pelayan pribadinya menghampirinya, seketika raut wajah Liu berubah menjadi datar


“Nona anda dipanggil oleh jendral”  pelayan itu melirik ke arah putri Lieu yang sedari tadi dia, ia terkejut


“Salam putri Lieu dan nona Liu” Ceyelyna hanya mengangguk saja


“Aku akan kesana” suara Liu berubah menjadi dingin ia melirik ke arah Ceyelyna dan tersenyum tipis


Liu pun pergi


“Hah baru dapet temen udah pergi” Ceyelyna menyadarkan kepalanya ke tiang gazebo ia menutup matanya sambil menikmati sentuhan angin yang membelai rambutnya


Tanpa Ceyelyna sadari ada seseorang yang berdiri di depannya memperhatikan wajah Ceyelyna


“Kau sungguh cantik istriku” Ceyelyna merasakan ada yang memandangi dirinya ia membuka mata sedikit


“HEI KAU” laki laki itu terkejut namun ia tidak lari ia hanya diam di tempatnya


“Siapa kau” laki laki itu tidak menjawab ia hanya diam, namun dibalik topengnya ia menyeringai


“Siapa kau”


“...”


Ceyelyna mengerakkan tangannya tak lama muncul sebuah pedang petir ditangannya


“Jawab”


“Aku adalah suamimu” Ceyelyna terkejut ia ingin menyerang namun laki laki itu sudah menghilang hentah ke mana


“Lain kali kau tidak boleh kasar dengan suamimu” Ceyelyna terkejut laki laki itu ada di belakangnya, ketika Ceyelyna ingin menyerang ia tersandung batu dan terjatuh ke pelukan laki laki itu, pedang elemennya pun menghilang


“Istri kau ingin memelukku ya” Ceyelyna tersadar ia ingin segera melepas pelukannya namun laki laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya


“Hei lepaskan” laki laki itu tidak menjawab


“Hei lepaskan” Ceyelyna mencoba meraih kepala laki laki tersebut ah ia merasa pendek ia hanya sebatas dagu laki laki ini


Pletak


Ceyelyna menjitak laki laki tersebut, laki laki tersebut terkejut ia langsung melepaskan pelukannya


“Puas kau tidak punya sopan santun hah” laki laki itu tidak menjawab dibalik topengnya ia malah tersenyum geli


“Kau bukannya menjawab, kau ini sungguh menyebalkan aku ingin membunuh mu lalu akan kubuang kau kelautan” Ceyelyna berkata dengan judes ia sudah muak dengan laki laki di hadapannya ini


“Kau tidak boleh seperti itu kepada suami istriku”


“istri kata mu, mohon maaf tuan anda jangan mengada ngada” ceyelyna sudah muak ia mengambil batu besar, dan


“ Pergi Jika tidak batu ini akan mengenai kepalamu” laki laki itu terkekeh geli ia senang sekali melihat calon istrinya marah, menurut dia itu sangat lucu


“Hah baiklah sampai jumpa istriku” Ceyelyna kesal ia melempar batunya namun laki laki itu langsung menghilang


Deg


Deg


Deg


Ceyelyna menyentuh dadanya yang sedari tadi berdetak kencang


“Sepertinya aku kelelahan” Ceyelyna berlalu pergi ia berniat kembali menuju kamarnya.