
"cepat kalian selidiki dia aku curiga bahwa dia bukan adikku"
"Baik pangeran"
Hari ini ceyelyna ingin bermalas-malasan, namun An selalu membujuknya untuk beraktivitas
"Ceye bangunlah bagaimana jika permaisuri melihatmu seperti ini ia akan mengadu kepada kaisar"
"Kau ini berisik sekali"
"Nona daripada kau tidur seperti ini lebih baik kita mengerjai permaisuri" mendengar kata mengerjai ceyelyna langsung bangkit dari tidurnya ia segera berdiri tegak dengan semangat
"Hoho ide bagus mari kita kerjai mereka" ide cemerlang muncul dikepala ceyelyna
"Tapi sebelum itu kau harus bersiap ceye"
"Mengapa harus bersiap kau tahu walau aku tak mandi aku tetap harum uh" yang ceyelyna katakan memang benar ia tetap harum
"Harus ceye kau ini seorang putri"
"Hah terkadang aku ingin menjadi orang biasa saja, sudahlah cepat siapkan air untukku" An terkekeh geli ia segera menyiapkan air untuk nona nya
Ceyelyna telah selesai ia hanya menggunakan hanfu sederhana berwarna putih dengan pinggiran biru laut dan tak lupa mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda
"Selesai ceye"
"Baiklah An ayo ikut aku"
"Baiklah" An berjalan mengikuti ceyelyna menuju tempat pencucian baju yang dimana disana sangat sepi sekali hentahlah dimana para pelayan itu
"Sepi sekali sangat bagus untuk aksi ku" ceyelyna tersenyum miring ia menggenggam botol kecil yang berisi bubuk hentah apa dalamnya hanya ia yang tahu
"An dimana pakaian permaisuri ming dan anaknya itu"
"Ah disitu ceye" An menunjuk salah beberapa keranjang yang berisi pakaian milik permaisuri ming dan anaknya
"Baiklah" ceyelyna menghampiri keranjang tersebut dan mulai menaburi bubuk yang ada di dalam botol kaca tersebut
"Sudah ayo kita pergi" An mengangguk mereka segera melesat pergi, ceyelyna dan An berjalan menuju kediaman mereka
"Ceye apa yang taburkan tadi"
"Ah itu hanya obat saja"
"Obat?, Obat apa"
"Kau tak perlu tahu, sudahlah selesaikan perkejaanmu aku ingin menuju taman kediamanku" An mengangguk ia segera melesat pergi
Ceyelyna sampai ditaman kediaman milik nya
"Hah sudah lama aku tidak berlatih"
"Hei pedang muncullah" taklama muncullah pedang milik ceyelyna
"Ada apa"
"Aih kau ini kan sudah aku ajari"
"Ajari lagi"
"Lagi pula apa kau tidak jera mengendalikan element petir itu, kau sudah berapa kali tersambar kau tahu"
"Ah seingatku cuman 5"
"Cuman katamu, rambutnya sampai menaik keatas dan muka mu sampai hitam kau tidak jera"
"Nyenyenye sudahlah jika kau terus mengomel lebih baik kau pergi"
"Aih baiklah aku akan mengajari mu"
"..."
"Fokuskan pikiranmu bayangkan kau bisa mengendalikan tenang jangan tergesa gesa" ceyelyna mulai menfokuskan pikirannya ia mencoba untuk tenang
Dan taklama petir muncul dari tangannya
"Ah aku berhasil"
"Hei fokus"
Duar
"Argh..." Ceyelyna terkejut ia mendengar suara teriakan seorang laki laki
" SIAPA KAU WOY JANGAN LARI" ceyelyna melepas sendalnya ia berniat menimpuk seorang laki laki berbaju hitam sedang melompat keluar melewati pagar kediamannya
Bugh
Sendal ceyelyna mengenai kepala laki laki tersebut, namun laki laki tersebut masih selamat ia terus berlari ceyelyna mencoba melempar sendal yang satu nya namun laki laki itu berhasil lolos
"Heran dah banyak banget yang ngintipin"
"Pedang kembalilah"
"Ya baiklah"
Lain tempat
"Ada apa denganmu hah!"
"Maaf pangeran hamba terkena serangan petir milik tuan putri"
"Bagaimana bisa dia menggunakan element"
"Bukan itu saja pangeran ia memiliki pedang legenda"
"Apa kata mu"