
"Ceye bangunlah ini sudah pagi"
"Aih kau berisik sekali An" ceyelyna menutup seluruh badannya dengan selimut miliknya
"Ceye bangunlah jika permaisuri tahu dia akan menghukumu" An terus saja menggoyangkan tubuh ceyelyna, tapi ceyelyna tidak bergeming
"Biarkan dia menghukumku"
"Tapi ceye, sebentar lagi sarapan apa anda tidak ikut sarapan" ceyelyna membuka selimut nya ia segera duduk
" Ah baiklah tapi tolong bisa kau belikan aku bahan bahan yang aku butuhkan aku ingin membuat sesuatu" ceyelyna menyeringai dipikirannya ia tengah merencanakan sesuatu
"Apa itu ceye" An sangat bingung dengan tingkah laku putri liue namun ia hanya mengangguk mengiyakan
" Carikan semua bahan ini dipasar aku menunggu satu lagi katakan kepada kaisar dan permaisuri bahwa aku tidak ikut sarapan katakan aku tidak enak badan dan aku tidak ingin diganggu" ceyelyna berkata dengan nada yang lirih ia sengaja begitu untuk meyakinkan An bahwa dirinya benar benar sakit
"Ceye apa perlu ku panggil kan tabib" An menatap putri liue khawatir ia karena akhir akhir ini putri liue sering sakit dan ia mengkhawatirkan hal itu
"Tidak perlu aku ingin beristirahat saja, tolong tinggalkan aku" An mengangguk ia segera melesat pergi mencari bahan yang diinginkan putri liue
"Yes" ceyelyna tersenyum senang, namun kesenangannya luntur mendengar suara sang kakak
Toktoktok
"Mei mei kau didalam" pangeran Qiang sedikit berteriak diluar kediaman putri liue
" Ya gege aku didalam" tidak ada sahutan dari pangeran Qiang namun ceyelyna mendengar suara pintu terbuka
Clek
"Mei mei ada apa denganmu dan dimana dayang mu" pangeran Qiang terkejut melihat adiknya yang masih terbaring di ranjang nya
"Eh Gege aku sedang tidak enak badan, dan An sedang membeli sesuatu" ceyelyna berbicara dengan nada lemas ia berakting seperti orang sakit
"Apa perlu Gege panggilkan tabib"
"Hah tidak perlu Gege siang ini aku sudah sehat, hanya perlu beristirahat saja"
"Baiklah kalo begitu Gege mu ini akan pergi untuk sarapan dan aku Gege sampaikan kepada kaisar bahwa kau tidak bisa hadir"
"Ah Gege terimakasih kau begitu baik" pangeran Qiang tersenyum manis ia segera melesat pergi meninggalkan adiknya seorang diri
"Akting aku hebat juga ya hihi"
1 jam kemudian
"Aih kemana tuh si An" ceyelyna berjalan bernilai balik didepan ranjangnya ia sangat mengkhawatirkan An
Clek
"Ceye aku pulang" ceyelyna menghampiri An ia melirik keranjang yang berisi pesanan milik nya ia segera mengambil alih pesanan yang ada ditangan milik An
"Terimakasih An, aih mengapa kau lama sekali"
"Ah maaf ceye tadi aku harus berhadapan dengan putri kiew ia menanyakan apa yang aku bawa, aku menjawab hanya barang barang keperluan dapur" ceyelyna mengangguk mengiyakan nampaknya ia akan memberikan pelajaran kepada adik tiri nya serta selir gila itu
"Begitu baiklah terimakasih An mari ikut aku kedapur aku ingin memasak sesuatu"
"Tapi ceye kau masih sakit"
"Tidak aku sudah sembuh"
"Tapiiii"
"Ayolah" ceyelyna menarik tangan An dengan semangat sedangkan An ia hanya pasrah ketika ditarik oleh putri liue
Dapur
"Hei ada apa kau kemari sampah" ceyelyna menatap gadis didepannya ini yang sepertinya ia seorang kepala pelayan perkiraan umurnya sekitar 30 dan memiliki wajah yang sangar dan tatapan yang licik
"Siapa sampah" ceyelyna berkata dengan tampang polos tentu saja ia tahu bahwa pelayan ini tengah menghina dirinya
"Kau lah sampah" pelayan itu menunjuk ceyelyna dengan jari telunjuknya
"Aku?" ceyelyna menunjuk dirinya sendiri sekaligus memasang tampang bingung
"Ya kau adalah sampah kau hanya aib disini kau tidak berguna kau pantas mati saja" kepala pelayan itu sudah jengah dengan tingkah putri didepannya ini
"Oh ya begitu" ceyelyna memelintir tangan pelayan itu ia berbisik ketelinga kepala pelayan tersebut
"Jika aku sampah kau adalah kotoran"
Ceyelyna terus memelintir tangan sang kepala pelayan hingga terdengar bunyi
Krak
Akh
Ceyelyna mendorong kepala pelayan itu seketika ia tersungkur dan menangis
"Ingat satu hal jangan pernah bermacam macam denganku aku bukan putri Lieu yang dulu ingat itu" ceyelyna memandang sekeliling ia melihat semua pelayan menunduk ketakutan, walaupun mereka memiliki element tetapi mereka tidak sembarang menggunakannya apalagi untuk melukai keluarga kekaisaran mereka bisa dihukum mati
"Ayo An kita pergi dari sini aku malas melihat muka mereka" An mengangguk sedangkan ceyelyna segera melesat pergi menuju taman kediaman miliknya
Hah
Setelah kepergian putri Lieu seluruh pelayan dapat bernapas lega, mereka menatap sang kepala pelayan dengan iba
"Apa yang kalian liat cepat bantu aku" para pelayan segera membantu si kepala pelayan tersebut
"Aku harus meminta keadilan" kepala pelayan itu segera meminta bantuan kepada bawahannya untuk membawa ia menghadap kepada sang kaisar
Lain tempat
"An tinggalkan aku sendiri" An mengangguk mengiyakan ia segera melesat pergi
"Ah! Pedang itu" ceyelyna segera melesat ke kamarnya dan mengambil pedangnya, saat ini dikediamannya sangat sepi hentah kemana An dan dua prajurit yang menjaga kediamannya ceyelyna tidak peduli, ia segera melesat kembali ke taman kediamannya
Ceyelyna memperhatikan pedang yang berada ditangannya ia membuka sarung pedang itu tampak pedang itu memiliki pola yang rumit namun sungguh indah
"Pedang ini telah memilihmu" ceyelyna mengingat kata terakhir sang kakek
"Pedang ini telah memilihku" ceyelyna tertawa terbahak bahak
"Mana mungkin pedang bisa milih kayak pemilu aja awokwok" ceyelyna tertawa terbahak bahak tanpa sadar jarinya tegores pedang, dan darahnya menetes diatas gagang pedang tersebut
Ceyelyna tersadar ia berhenti tertawa namun yang membuat terkejut adalah kini ia tidak berada ditaman kediamannya namun ia berada disebuah tempat yang sangat indah dimana semua jenis bunga tertanam disana dan jenis tanaman obat yang ceyelyna kenali tak lupa sebuah mata air mengalir kearah sebuah kolam yang sangat besar tak jauh dari nya
Satu kata untuk tempat ini
Menakjubkan
Ceyelyna tercengang namun suara mengistrupsi dirinya
"Hai" ceyelyna menatap sekeliling namun ia tidak menemukan siapapun
Ia bergidik ngeri apa mungkin itu hantu
"Hei hei aku bukan hantu"
"Siapa kau"
"Aku adalah pedang yang kau miliki itu"
"Ah tidak mungkin pedang hidup"
"Aku serius" ceyelyna tampak berpikir mungkin memang benar ia hidup karena ceyelyna tau bahwa dunia yang ia tempati berbeda
"Ya ya lalu apa hubungannya denganku"
"Kau tak mengerti aku sudah memilihmu"
"Lalu?"
"Kau ini aku hanya ingin memberi tahu diriku ini jangan sampai jatuh ketangan orang yang salah karena kekuatanku sangat hebat"
"Lalu"
"Aih kau ini kau harus menjaganya kau telah terpilih kau bisa menggunakan diriku untuk melindungi diri"
"Lalu"
" Kau... Hah baiklah kau bisa menggunakan ku dimana kau dapat menambah kekuatan element jika kau bertarung menggunakan diriku dan mengalirkannya element kepada diriku"
"Lalu"
"Aih kau bisa belajar menggunakan pedang disini aku akan melatihmu" ceyelyna tertawa mendengar penuturan sang pedang
"Haha pedang ngajar pedang ngakak"
"Apa yang kau katakan"
"Tidak"
"Baiklah mari kita berlatih, kau gunakan pedang biasa dulu" ceyelyna hanya diam tak lama munculah pedang biasa pada umumnya ceyelyna mengambilnya dan mulai mengayunkannya
"Baiklah mari kita mulai" ceyelyna mengangguk ia taklama muncul pedang milik nya namun pedang tersebut melayang didepannya
"Lawan aku" ceyelyna mengangguk ia mulai mengerakkan pedangnya dengan semangat
Lain tempat
Prang
Suara gelas pecah terdengar sangat nyaring
"Kemana gadis itu aku tidak bisa melacaknya" laki laki itu menarik rambutnya frustasi, ia segera melesat pergi menggengam pedangnya
"Aku butuh pelampiasan kemarahku" laki laki itu pergi menuju ruang bawah tanah yang dimana semua tahanan terpenjara.