Calamity Game Hidden World/Saigai Kakureta Sekai

Calamity Game Hidden World/Saigai Kakureta Sekai
Episode 29 "Irminsul, Training, Nobleman"



Selama aku mengajari Omega, aku merasakan hawa yang sangat mengerikan, seperti hawa darah.


Aku merasa Pohon Irminsul mulai gugur dan mulai berubah menjadi warna merah pekat.


Bloody Irminsul Tree/Pohon irminsul berdarah adalah fenomena kehancuran dunia.


Sesuai pengetahuan yang ku dapatkan dari Kizue Cahaya kalau Irminsul berdarah adalah Fenomena akhir dari sebuah Kurvers.


Jika hal ini dibiarkan, akan menjadi malapetaka... hanya seorang Pahlawan lah yang bisa melakukannya, bahkan aku yang kuat ini tak bisa melakukan apapun untuk menghentikan Fenomena Irminsul berdarah ini.


Hanya tersisa 7 Tahun untuk menghentikan Irminsul berdarah ini. Dalam 7 Tahun para pahlawan harus sudah siap untuk menghadapinya.


Semua orang juga tahu tentang Legenda Irminsul berdarah, dan mereka dapat memprediksi hal ini dengan melihat Bintang setiap tata surya.


tata surya dikurvers memiliki jumlah bintangnya masing masing, tiap tata surya memiliki bintang yang jika didunia nyata disebut sebagai bulan. Ada juga bintang yang tak terikat oleh tata surya maupun planet yang tak terikat oleh tata surya.


Legenda Irminsul berdarah selalu berkaitan dengan berubahnya warna pada bintang menjadi warna merah pekat.


Planet yang ku tempati saat ini adalah planet yang dimana telah memprediksi hal tersebut.


"Apa kau masih bisa bertarung?" tanyaku kepada Omega.


"H-haik tuan" jawab Omega.


"Kita tak bisa membuang banyak waktu, kita harus cepat cepat" ucapku kepada Omega dengan nada yang serius.


"M-maaf Tuan.." ucap Omega dengan nada layaknya seorang pasukan meminta maaf kepada Rajanya.


"Hmm.. lebih baik kita makan dulu, apa kamu mau?" tanyaku kepada Omega


"... T-tapi—",


Omega pun menggelengkan kepala setelah mengatakan hal tadi lalu berkata "Baiklah Tuan".


Para Player dan Pahlawan sudah bergerak, menurut informasi yang ku dapat hanya ada 7 Player.


"Aneh sekali... kenapa hanya 7?" ucapku dalam hati dengan kebingungan.


"Ini? jebakan?" ucapku dalam hati.


Aku pun melanjutkan perjalanan untuk pergi ke Bar yang dimana bar sendiri adalah satu satunya tempat yang menjual makanan diplanet ini.


Bersamaan dengan itu, bar sendiri menyatu dengan Dungeon hunter... konsepnya kurang lebih sama seperti Petualang dan Hunter.


"Saya beli daging sapi 2 dan juga 2 minuman anggur yang tak membuat mabuk" pesanku kepada Penjaga bar.


Kemudian aku pun duduk di kursi bersama dengan Omega. Sambil menunggu makanan aku mengajari beberapa dasar sihir kecil kepada Omega.


Aku sendiri sekarang menguasai 3 teknik yaitu teknik Sihir, Roh, Skill semua teknik itu telah kusatukan juga yang menciptakan teknik Catastrophe.


"Bukannya itu mengerikan? aku terlalu kuat untuk sekarang" ucapku dalam hati,


Tapi kenapa aku tidak diperbolehkan untuk menghancurkan Irminsul berdarah?.


Saat ini aku telah lepas dari takdir, dan aku seharusnya memilih jalan dari ceritaku sendiri? tapi kenapa aku tak bisa?.


Itu lah yang ku pertanyakan, tapi aku tak punya waktu lama untuk mempertanyakan itu terus terusan.


Setelah menikmati hidangan, aku dan Omega pun pergi untuk berlatih lagi, latihan ini terjadi hingga 1 Tahun lamanya.


Saat Irminsul gugur dan akan berubah menjadi Irminsul berdarah, maka rotasi, dan revolusi tiap planet akan sama... itu disebut sebagai hari penghakiman.


Akhir atau awal baru yang menanti? itu hanya ada dalam genggaman Pahlawan. sebenarnya aku memilih Omega karna dia memiliki darah Pahlawan, Pahlawan ada 9, ya Pahlawan dari dunia lain 7 dan 2 dari dunia ini.


"Ini latihan terakhirmu Omega",


"lawanlah Aku!" ucapku dengan nada rendah yang perlahan-lahan tinggi.


Omega pun berniat menebasku, tapi aku menghindarinya hanya saja Pohon dalam radius 20 Kilometer dan Gunung pun terbelah.


"Datanglah, Slyph!" teriak muridku.


Dari jarak jauh, datanglah Roh Legendaris angin yang disebut Slyph, Aku sendiri mengetahuinya jika Roh itu berteleportasi dari jarak yang sangat jauh bahkan tak terhitung.


"Lumayan" ucapku.


Aku langsung mengeluarkan Roh kegelapan, Akuma sang Roh kegelapan dan fallen Angel.


Roh kami saling bertarung masing masing, sedangkan aku menghadapi Omega.


"Lumayan juga, selama 1 tahun ini kamu berkembang pesat" ucapku ketika bentrokan sihir dengan Omega di jarak dekat.


"Terima kasih, Sensei!" ucapnya.


Aku tak bisa menyamai kecepatan Omega, aku hanya bisa melihat kecepatannya dan bereaksi dari kecepatannya, selama ini aku menghindari kecepatan Omega dengan sihir teleportasi instan milikku.


Peperangan ini terjadi lumayan lama, aku hanya mengeluarkan sihirku bukan skillku.


Akibat dari petarungan ini pun cukup parah seperti terbelahnya gunung karna sihir angin pembelah milik Omega, dan terbelahnya awan karna sihir Omega.


"Tunggu Omega, ada yang melihati kita" ucapku.


Aku dan Omega pun berhenti bertarung, tak lama kemudian ada seorang perempuan yang menghampiri kami.


"A-anu, k-keren sekali" ucap Perempuan itu


"Siapa kamu?" tanyaku kepada Perempuan itu.


Omega sendiri bersiap dengan menodongkan senjatanya kepada Perempuan itu.


"A-aku hanya kebetulan lewat" jawab Perempuan itu


"Tunggu... kenapa seorang putri kerajaan keluar sampai sini?" tanyaku


"Ah.. kamu mengetahui Identitasku ya" jawabnya.


"Bau darahmu seperti bau darah bangsawan kerajaan.." ucapku


"Em.. begini ya..",


"Boleh tidak aku bergabung dengan kalian?" tanyanya


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Aku... aku adalah pengguna sihir dari kerajaan yang paling lemah, bahkan lebih lemah daripada Rakyat biasa, banyak orang yang menghinaku termasuk ayahku sendiri" jawabnya,


"Aku ingin membuktikan kepada mereka jika aku bisa!" ucapnya dengan nada serius.


Selain aku mencium darah keturunan bangsawan, Aku juga mencium darah pahlawan yang belum tersebar secara penuh. itu berbeda dengan Omega yang sudah tersebar secara penuh.


"Baiklah, siapa namamu?" tanyaku.


"Tuan apa anda serius menerimanya? bukannya dia mencurigakan?" tanya Omega.


"Jangan mengaturku Omega" jawabku


"Anu, namaku Alexia Pendragon" jawabnya


"Alexia ya... baiklah aku menerimamu" ucapku



Ilustrasi Alexia