
3 hari berlalu di desa tersembunyi. Six yang sebelumnya mengalami koma kini mulai sadarkan diri. Ia bingung, berada dimanakah dirinya saat ini. Ia keluar dari ruangan untuk menghirup udara pagi. Di pandanginya sekitar sepenuh hati. Kiri dan kanan terlihat saja, banyak pohon cemara. Kiri dan kanan terlihat pula banyak warga di sana.
"Hei, si kerbau sudah bangun ya?" ucap Luna
"Kamu siapa?"
Six merasa heran, lalu ia menoleh ke arah sekitar dan tidak menemukan Adaleah sama sekali.
"Kekasih mu sedang mandi, ayo ku tunjukan jalan kesana!" ucap Luna
"E, eh??
"Tidak usah, nanti saja" jawab Six
"Hng?"
Lalu, Luna mempersilahkannya untuk makan. Ia makan dengan lahapnya tanpa memandang tata etika. Ia menghabiskan semua makanan yang ada di meja.
"Cih, ku kira kerbau. Ternyata gajah" ucap Luna
"Ma, maaf. Aku sangat-sangat lapar" jawab Six
Lalu munculah Adaleah yang baru saja selesai mandi. Ia menatap bahagia ke arah Six dan segera berlari ke pelukan pria itu. Six sangat terkejut, wanita itu sangatlah manis dan beraroma wangi seperti seorang dewi. Namun ia tak mengatakan apa pun sama sekali.
"Kamu kenapa?" tanya Six
Namun tetap saja wanita itu enggan untuk berkata. Ia hanya semakin larut dalam pelukan pria itu, bagaikan seekor kucing yang tengah bertingkah manja. Namun wanita itu masih saja dalam keadaan mengenakan handuk karena sehabis mandi. Hal itu sungguh membuat Six merasa chaos, ada yang berdiri tetapi bukan kaki, ada yang melayang tetapi bukan terbang. Ia merasakan lembutnya kulit wanita itu yang seketika mendebarkan rasa di hati.
Six yang setengah bingung menatap ke arah Luna dengan seribu tanda tanya. Namun gadis itu hanya mengangkat bahunya, seolah itu bukan urusannya. Sementara Adaleah malah tertidur pulas, dengan sebuah senyuman yang telah lama tidak ia tunjukan.
Six menggendong wanita itu dan membaringkannya di kamar Luna. Lalu ia pun mempertanyakan segala hal yang terjadi terhadap Adaleah kepada Luna. Namun betapa sedih dan murkanya ia setelah mendengarkan semua itu. Ia telah berjanji kepada Adaleah sebelumnya, bahwa dirinya akan melindungi segenap hati. Namun nyatanya kini, wanita itu telah habis dipreteli oleh pa ra bed de bah yang telah mati.
"Tenanglah, aku sudah membersihkan segala bentuk noda di tubuhnya!"
Luna yang merasa iba langsung menjelaskan dengan lembut, mencoba untuk menenangkan pikiran Six. Gadis itu merupakan anak pak kepala desa yang memiliki kemampuan magis dan berbasis pada kekuatan alam. Dengan energi roh suci dari alam, ia telah berhasil memurnikan material-material sesat yang memasuki tubuh Adaleah.
"Emm, begitu ya.." ucap Six lesu
Namun tetap saja, hal tersebut tidak dapat menyembuhkan penyesalan Six. Ia berharap dapat membalaskan dendam dengan tangannya sendiri, namun apa daya. Pa ra bed de bah itu sudah tereliminasi sejak lama oleh ketangkasan teknik memanah dari Luna.
"Sudahlah, jangan risau lagi. Harusnya kamu jadikan semua ini sebagai pengalaman, agar tak terulang lagi di masa depan" tegas Luna
Quote : "Darah, luka dan air mata adalah sebuah ukiran pengalaman yang harusnya mendorong mu untuk keluar dari kegagalan. Karena belajar dari kegagalan membuatmu jadi dewasa dan belajar dari pengalaman orang lain membuatmu bijaksana"
***
Dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersisa, beberapa dari mereka berhasil meloloskan diri ke hutan. Di hutan tersebut salah seorang dari mereka tanpa sengaja melakukan kontrak roh dengan ratu peri penjaga hutan. Setelah itu, mereka semua pun akhirnya melakukan kontrak dengan para peri dan mendapatkan perlindungan dari sang penjaga hutan, hingga akhirnya menetap sebagai suku pedalaman.
Ribuan tahun berselang mereka pun semakin lama semakin mengalami evolusi dan di kelilingi banyak fenomena supranatural dalam kehidupan mereka. Hal ini di picu oleh efek kontrak yang mereka lakukan dengan para peri penjaga hutan. Telinga mereka tampak lebih runcing dari pada manusia normal dan tentu saja memiliki insting yang kuat serta pendengaran yang tajam. Di saat malam pun, mereka dapat bergerak bebas dengan bantuan peri yang menuntun jalan mereka. Saat kegelapan semakin mencekam, peri akan langsung bersinar terang menerangi jalan mereka. Itu karena setiap dari mereka memiliki perinya masing-masing berdasarkan kontrak dari para leluhur sejak dahulu kala.
Mereka juga di anugerahi umur yang panjang. Kaum prianya bisa mencapai usia 1000 tahun. Dan rekor saat ini di pegang oleh kakek Luna, dengan usia mencapai 1001 tahun. Sementara untuk kaum hawa, bisa mencapai usia maksimal 500 sampai 600 tahun. Dan itu pun masih di pegang oleh anggota keluarga Luna, yang merupakan saudara tertua dari ibunya, dengan usia yang mencapai 600 tahun.
***
"Apa kamu ingin melihat-lihat desa ku?" ucap Luna kepada Six
"Emm, jika tak keberatan"
"Keberatan apa?
Kamu kan bisa berjalan sendiri!"
"He he, ya baiklah" jawab Six
Lalu mereka pun berjalan-jalan mengelilingi desa.
"Cih, lihat pendatang itu. Berani sekali mencuri perhatian Luna yang harusnya jadi milikku"
Tanpa di sangka, tampak dari kejauhan 2 pria suku Feriel tengah melakukan gibah sembari menatap ke arah mereka. Kedua orang ini amatlah membenci pendatang. Dan salah satu dari pria itu pun merupakan tunangan yang di jodohkan kepada Luna.
Groto Hitler, 80 tahun. Merupakan putra sulung dari salah seorang tetua adat di desa tersebut. Pengaruh keluarganya sangatlah kuat dan merupakan peringkat nomor 2 di desa itu, setelah keluarga sang kepala desa. 2 bulan yang lalu mereka telah membuat kesepakatan bersama untuk menikahkan Groto dan Luna. Namun hingga saat ini, Luna masih saja enggan untuk menyetujui rencana tersebut.
Azu Hitler, 40 tahun. Merupakan adik sekaligus asisten Groto yang selalu bersamanya sepanjang waktu. Ia merupakan ahli strategi yang licik di bawah asuhan langsung sang kepala keluarga. Namun ia tampak sangat patuh kepada Groto sang anak tertua di keluarga tersebut.
"Tenanglah, kak. Aku akan memikir cara yang ampuh untuk memberikan pelajaran kepada pria itu" ucap Azu
"Ha ha, kau memang adik ku yang terbaik!" balas Groto
Lalu mereka pun mengikuti Luna yang tengah mengajak Six untuk berkeliling desa.
"Emm, apa kamu tidak merasa bahwa kita sedang di ikuti dari tadi?"
"Yaaah, itu hanyalah para kutu pengganggu" jawab Luna
"Hmm, kenapa kamu begitu kesal kepada mereka?"
"Yaaah, karena bla bla bla... bla bla bla... bla bla bla.."
Luna pun dengan terpaksa menjelaskan semuanya kepada Six yang terlihat sangat penasaran.