Bo

Bo
SIHIR PUTH?



#_#


[WARNING !!!]


~ EPS. INI DAPAT MENYEBABKAN KANTUK, KETIDAK NYAMBUNGAN, TERSESAT DALAM ALUR, GANGGUAN MEMBACA DAN KEBINGUNGAN. HAL INI DI SEBABKAN KARENA KESELURUHAN ISI CERITA BANYAK MENGALAMI PERUBAHAN DAN SEDANG DI DAUR ULANG😅~


#_#


Di pemukiman Elf, Pinoki si Ketua adat tampak sedang mengurusi bonsai thoge miliknya. Lalu ia pun di datangi oleh Groto.


"Selamat siang, tuan. Saya datang kemari untuk meminta agar pertunangan saya dengan Guin segera di percepat" katanya


"Hmm, kenapa kamu jadi tergesa-gesa" Pinoki terheran mengerutkan keningnya


"Ini untuk mengantisipasi saja, saya tak ingin kejadian dulu terulang kembali. Begitu kami bertunangan saya akan melakukan ritual yang dapat mengikat energi kami, sehingga kami akan terhubung kapan pun di mana pun" jawabnya


"Ritual apa maksud pria ini. Bukan kah sebuah ritual memiliki unsur sihir, itu kan membutuhkan tumbal" pikir si Ketua adat


Lalu seolah-olah Groto dapat membaca pikiran si Ketua adat kemudian berkata, "Tuan tenang saja, ini demi kebaikan bersama. Masalah tumbalnya bisa di gunakan seekor hewan sebagai gantinya"


"Lagi pula aku menggunakan sihir putih" tambahnya


Namun entah mengapa si Ketua adat itu percaya begitu saja. Pada hal ia adalah seorang Tetua yang harusnya telah lama mengetahui tentang sihir. Karena apa pun warna dari sebuah sihir, itu tetap lah sebuah sihir yang menggunakan energi negatif sebagai pemicunya.


Setelah itu, pria Elf bernama Groto tersebut undur diri dengan sebuah senyuman licik yang tampak terpuaskan. Sekilas saat ia membelakangi si Ketua adat matanya tampak berkilauan dengan warna yang serupa darah. Ia berjalan pergi begitu saja seakan ia adalah pemenang.


Sementara itu si Ketua adat merasakan pusing dan agak mual setelah kepergian pria itu.


"Hedeh, apa aku salah makan ya" pikirnya


Si Ketua adat sama sekali tak menyadari bahwa perasaan mualnya itu selalu terjadi saat Groto menemuinya.


Sementara Shin sang ajudan Ketua adat, telah lama menyadari akan hal itu. Namun ia tak berani lagi berkomentar dan mengatakannya pada Pinoki. Karena setiap ia mengatakan kecurigaannya akan pria itu, si Ketua adat malah tampak selalu membelanya.


Di sisi lain Gao yang telah pulih dari perasaan pilu hatinya mulai kembali melatih Smith.


Kali itu Smith tak lagi banyak mengeluh terhadap pelatihan dari Gao. Namun tetap saja dalam hatinya masih menggerutu dan mengeluh tentang pelatihan tersebut.


"Akhh, kapan latihan ini akan selesai" pikirnya


Pikk.. (suara rotan yang di pukulkan oleh Gao)


"Kenapa kamu memukulku"


"Ha ha ha, maaf maaf. Tangan ku bergerak sendiri kawan. Entah mengapa aku merasa kamu sedang menggerutu tadi" ucap Gao


"Apa dia bisa membaca pikiranku" pikir Smith


"Hmm, coba ku tes. Dasar Gao pecinta otot keparrat" ucapnya dalam hati


Akan tetapi Gao sama sekali tak merespon hal tersebut.


"Huft, ku kira dia bisa membaca pikiran ku"


Waktu pun terus berlalu dan terlihat langit senja pun mulai menampakkan indahnya pemandangan sunset.


"Huft, akhirnya latihan yang menyiksa ini selesai juga" pikirnya


Namun dari kejauhan di antara rimbunnya pepohonan, tampak Groto tengah mengawasi kegiatan mereka.


"Hmmm"


Gao dengan insting supernya mulai merasakan adanya sesosok yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Ada apa kawan" tanya Smith


Lalu seketika Groto menghilang dalam lebatnya pepohonan itu.


"Hmmm, mungkin hanya perasaan ku saja" jawab Gao


Sementara di tempat lain, Guin tengah berpikir keras untuk dapat menarik kembali perhatian Smith demi kelancaran misinya.


"Bagaimana lagi caranya agar pemuda itu dapat mengikuti ku" pikirnya


"Kakek bilang sebelumnya bahwa pemuda itu menyukai ku. Tapi kenapa kini dia malah membela si pembunuh itu (Gao)" ucapnya


Guin yang merupakan cucu kesayangan Ketua adat, selalu saja di perlakukan layaknya seorang putri. Apa pun kehendaknya selalu di turuti. Tak seorang pun dari suku Elf itu yang boleh membuatnya kesal dan ia di manjakan sejadi-jadinya. Karena hal itulah sejak kecil ia tak mengenal rasa pertemanan dan selalu bersikap angkuh di atas semuanya. Sehingga ia sama sekali tak mengerti tentang arti persahabatan. Satu-satunya yang ia takuti dan turuti hanyalah sang kakek.


Bahkan ia sama sekali tak sadar bahwa dirinya akan segera di jodohkan dengan Groto yang merupakan suku Elf dari klan yang berbeda.


"Hei bocah, kenapa mondar-mandir begitu" ucap Pinoki


"Umm, anu kek. Pemuda itu (Smith) kini illfeel dan tak mau mendengarkan ku. Bagaimana ini" jawab Guin memelas


"Hedeh, bocah naif. Kenapa bisa begitu, apa kamu menyinggungnya" tanya Pinoki


"Ummm, anu.."


Lalu Guin pun menceritakan semua kejadian tersebut.


Pinoki pun menepuk dahi seolah tak percaya akan keluguan cucunya itu.


"Kenapa kek, apa kamu juga berpikir kalau mereka maho" ucapnya dengan santuy seolah dirinya lah yang paling tau


Pinoki dengan perasaan gemesnya segera mencubit kedua pipi Guin hingga tembem.


"Cucu ku yang maniiiis, kenapa kamu bodoooooh"


"Awuh, kakek, kakek, awuh pipiku maw cepot nih" keluhnya


"Tentu saja dia marah, semua orang pasti akan marah jika temannya di perlakukan seperti itu oleh seseorang yang baru di kenal" jelasnya kepada gadis itu


"Teman itu apa sih" katanya


Pinoki terdiam sejenak dalam renungan hambar. Ia baru tersadar akan kesalahannya dalam mendidik cucunya.


"Sudah lah. Kini kita bicarakan saja urusan lain terlebih dahulu"


Guin yang bingung itu pun heran, urusan apa yang di maksud sang kakek.


"Maksud kakek apa"


"Umm begini, kakek berencana akan menjodohkan mu dengan Groto. Dan ia meminta secepatnya agar kalian dapat bertunangan" jawab si kakek


"Kakek yang benar saja. Aku ini kan masih muda. Ibu saja menikah dengan ayah saat usia 33 tahun dan ayah saat itu berusia 47 tahun" keluhnya dengan wajah yang cemberut


"Hey hey, ini hanyalah pertunangan. Dia hanya khawatir akan keselamatan mu"


"Nanti setelah kalian bertunangan, dia akan mengadakan sebuah ritual sihir putih yang akan mengikat energi kalian berdua. Dengan begitu kalian akan terhubung satu sama lain dan kamu akan aman di mana pun" ucap si kakek


"Aneh, dulu saat kecil aku mendengar sendiri dari kakek bahwa apa pun warna sihir, itu tetaplah sihir. Tapi kenapa sekarang dia memperbolehkan pria itu melakukan sihir" pikirnya


"Sihir putih apa maksud kakek"


"Akhh, kamu ini banyak bertanya" ucap Pinoki dengan nada yang kesal


Lalu kepalanya pun tiba-tiba pusing.


"Kakek kenapa"


Guin langsung membaringkan kakeknya di tempat tidur dan memeriksa keadaannya.


"Apa ini, kenapa denyut kakek sangat tidak normal" pikirnya


Ia pun segera menggunakan energi roh, seketika dari tangannya mengeluarkan cahaya kehijauan yang membuat si kakek merasa nyaman untuk tertidur.


Gadis itu mendapati gejala aneh pada kakeknya. Seperti terdapat parasit pada tubuh si kakek.


Setelah hampir 1 jam melakukan riset. Akhirnya ia menemukan adanya jejak sihir dalam tubuh sang kakek.


"Sejak kapan kakek menggunakan sihir. Bukan kah kami para Elf bisa menggunakan energi roh alam yang melebihi kekuatan sihir" pikirnya


"Eh, tunggu dulu" katanya


Seketika itu Guin pun terpikir sesuatu yang aneh tengah terjadi.


"Tadi kakek mengatakan bahwa pria bernama Groto itu akan menggunakan sihir putih. Bukankah dia juga seorang Elf. Untuk apa Elf menggunakan sihir, jika bisa dengan mudah mengendalikan energi roh"


"Hmmm, aneh. Sihir putih ya. Aku harus mencari tau tentang ini" pikirnya