Bo

Bo
Clarification



#_#


[WARNING !!!]


~ EPS. INI DAPAT MENYEBABKAN KANTUK, KETIDAK NYAMBUNGAN, TERSESAT DALAM ALUR, GANGGUAN MEMBACA DAN KEBINGUNGAN. HAL INI DI SEBABKAN KARENA KESELURUHAN ISI CERITA BANYAK MENGALAMI PERUBAHAN DAN SEDANG DI DAUR ULANG😅~


#_#


Cerita ini membuat ku ambigu, apakah harus ku lanjutkan atau harus ku sumbangkan. Cerita awalnya cukup menarik namun semakin ke sini semakin ku rasa burik. Entah apa yang merasuki ku hingga aku berkata begitu. Kini ku coba merubah semua mulai dari cerita, alur dan segala unsurnya kembali dari awal.


Awalnya aku menulis dengan gaya yang serius, namun lama-lama jadi terciprat sedikit humor recehan. Itu tak mengubah konsep ku, tapi semakin hari semakin banyak informasi yang mulai meracuni pikiran dan hayal ku. Ceritanya menjadi tidak nyambung, aku pun bingung hingga menjadi bingung. Hingga akhirnya ku putuskan untuk mendaur ulang konsep ini kembali dari awal. Karena itu lah, untuk sementara cerita ini hanya akan ku isi dengan cerita-cerita yang semakin melenceng dari konsepnya.


Saat ini aku akan menceritakan bagaimana kejadian yang ku alami pada hari itu. Hari itu adalah hari biasa seperti biasanya yang biasa-biasa saja, dimana tepatnya itu adalah hari minggu. Aku datang berkunjung ke rumah temanku dan sore itu pun kami gabut berjamaah. Ia tampak gusar dan menjelajah tak menentu di sekitar rumahnya sembari sesekali berbicara dengan kucing miliknya yang berwarna hitam dengan strip berwarna putih. Sementara diriku pun ikut tak jelas sembari mencari charger yang ku letakkan entah di mana.


Lalu aku pun keluar rumah dan mengobrak abrik isi dalam jok motor dan akhirnya menemukan charger ku. Tapi tiba-tiba saja teman ku berteriak ke arahku, pada hal jarak kami hanyalah 10 langkah.


"Layangan putus broo!!" teriaknya


"Kejar yuk!"


"Yang benar saja" pikirku


"Udah ayo, keburu di sambar gledek layangannya" tegasnya


"Ya udah, hayuk" jawab ku


Sore itu akhirnya kami melakukan aktivitas layaknya bolang. Kami pun menerobos semak mengejar layang-layang. Kami lompati segala jenis rintangan dan menerobos terus sampai ke sebuah ladang. Hingga akhirnya kami pun sampai ke sebuah perkebunan.


"Kebun apa ni bro?" tanya ku


"Kebun toge" jawab temanku


"Eh ada burung coy, lucu deh" tambah ku


"E, eh mana?


Buwung apa tu man?" tanya teman ku


"Buwung puyuh" jawab ku


Lalu kami pun melanjutkan pengejaran dengan target sebuah layangan. Kami telah melupakan si buwung puyuh karena ia tak bisa terbang. Sementara layang-layang saja bisa terbang. Kemudian di tempat kejadian perkara kami melihat seorang pak de yang sedang terlihat menggulung-gulungkan seutas benang, benang yang kusut.


Lalu teman ku langsung saja berbicara santai kepada si pak de sang penggulung benang.


"Eh, ada pak de rupanya.


Layangan siapa tu pak de?" ucapnya


"He he, layangan orang" jawab pak de


Lalu ia pun menyerahkan gulungan benang itu yang tersambung dan terkoneksi langsung dengan sebuah layangan jumbo sebesar kingkong.


"Mo kemana pak de?" tanya teman ku


"Mo pulang. Nanti kalau yang punya ngejar sampai kesini, balikin aja" katanya


"Kalau tak ada yang nyamperi simpan aja, bawa pulang!"


"Oke pak de" jawab teman ku


Lalu teman ku menyuruhku memegang benang layangan itu.


"Pegang bentar bro. Pedih" katanya


"Harus pakai alas nih tangan, biar tak luka oleh benang"


Lalu benang itu pun berpindah ke tanganku.


"Anjirrrr, kuat banget tarikannya coy" ucap ku


"Kan udah ku bilang tadi"


Lalu setelah membuka baju dan membalut tangannya dengan baju itu, temanku langsung mengambil alih kemudi layang-layang. Sementara aku bertugas sebagai penyokong kesinambungan dengan menggulung benang yang kusut. Kami pun tertawa, tidak menyangka bisa seperti ini lagi.


"Ha ha ha, mirip bocah" kata ku


Lalu setelah 10 menit teman ku berjibaku dengan benang, akhirnya layangan pun berhasil kami takhlukan.


"Mancing mania, mantap" ucap ku


Namun setelah perjuangan yang penuh peluh dengan perasaan waswas dan gerak yang terbatas, entah dari mana tiba-tiba saja si pemilik layangan datang. Dan akhirnya layangan pun kembali ke tuannya. Kami pun pulang dengan tangan hampa, namun dengan sedikit canda tawa. Lumayanlah untuk mengobati kegabutan akut yang sedari tadi melanda kami.