Bo

Bo
3 ~ JOURNEY TO THE WEST



Luna Lisa Amora, 21 tahun. Seorang gadis yang merupakan keturunan terakhir dari clan tersembunyi, clan Feriel. Ayahnya telah meninggal, ibunya pun telah mati beserta seluruh anggota clan yang telah di bantai oleh seorang penghianat.


Clan tersebut awalnya terbentuk dari 7 orang saudagar yang tanpa sengaja mengikat kontrak roh dengan para peri yang tinggal di hutan. Ke-7 saudagar itu sebelumnya tengah mengadakan arisan tingkat nasional. Saat hendak pulang, mereka memutuskan untuk pergi bersama. Lalu di tengah perjalanan mereka pun di sergap dan di serang oleh para begal. Namun takdir berkata lain, mereka berhasil kabur dengan pasangannya masing-masing dan akhirnya menetap di hutan. Hingga akhirnya membentuk clan tersembunyi, yaitu clan Feriel.


Setahun yang lalu, clan ini di bantai dan hanya menyisakan Luna yang terlambat pulang kerumahnya. Ia menyaksikan darah berserakan di mana-mana. Perkampungan itu terasa sepi, karena warganya mati semua. Bahkan hewan-hewan ternak pun tak luput dari pembantaian yang menjadi sebuah petaka.


Ia memeluk tubuh sang ibu yang bersimbah darah dengan tangisan menderu yang semakin tumpah ruah. lalu ia menuju ke arah mayat sang ayah yang memegang secarik pesan di tangan kanannya.


"Anak bodoh !! Kamu pasti sedang menangis, dekatkan mayatku di samping kekasihku cepat, dasar cengeng !!"


Lalu, Luna pun menyeka air matanya sambil tersenyum. Namun air mata yang coba ia hentikan, malah semakin menderu secara pasti. Hatinya semakin sakit setelah membaca surat sang ayah, ia teringat kenangan tentang sang ayah pemarah yang selalu bisa ia jahili.


"Hiks, ayah bodoh, hiks!!


Aku bukan anak cengeng, huuwuuu.."


Lalu ia pun membaringkan sang ayah di samping sang ibu. Terlihat kembali secarik kertas setelah Luna memindahkan tubuh sang ayah. Kertas tersebut berisikan pesan yang sangat penting, yaitu pesan dari sang kepala desa.


"Temukan istana bunga dan mohonlah kepada sang raja, untuk menemukan si penghianat !!"


Begitu membaca surat dari sang kepala desa, ia pun segera bergegas untuk memakamkan seluruh penghuni desa. Ia pun menguburkan orang tuanya di pekarangan rumahnya. Lalu ia pun berkemas dengan cepat untuk bergegas mencari istana bunga.


Ia berjalan ke arah barat berdasarkan pedoman kitab suci dari perpustakaan desa. Menurut kitab suci itu selama masih berada di hutan, penjelajah hanya harus terus berjalan ke arah barat. Jika terlanjur keluar dari hutan, maka berjalanlah ke arah selatan 5 langkah, lalu ke timur 3 langkah, kemudian kembali menuju barat selama 7 hari 7 malam.


Sementara hari ini adalah hari ke-3 bagi Luna. Sebelumnya saat malam hari, ia menemukan Six dan si gadis malang tengah terbaring lemas menghalangi jalannya. Pada awalnya ia mengira itu hanyalah 2 sejoli yang tengah di mabuk asmara. Namun setelah ia perhatikan, ternyata banyak aura-aura yang berbeda dari tubuh si gadis malang. Dengan kemampuan deteksi yang ia miliki, akhirnya ia sadar bahwa si gadis malang baru saja di preteli oleh beberapa orang bhazengan. Dan ia juga mengidentifikasi Six sebagai orang yang telah menyelamatkan si gadis malang. Karena di tubuh si gadis malang yang penuh aura sesat itu, Luna tak menemukan sama sekali aura sesat yang berasal dari tubuh Six.


Setelah malam berakhir, pagi itu Six dan Luna pun akhirnya saling mengenal. Saat ini Six dan Luna telah sepakat untuk berpetualang bersama, namun mereka kini harus menunggu si gadis malang yang masih saja belum terjaga. Jika sang gadis malang punya tempat tujuannya sendiri, maka mereka pun dengan terpaksa harus berpisah.


Lalu setelah si gadis malang itu bangun mereka pun langsung saja bertanya, "apa kamu punya tempat tujuan?"


"Jika tidak maka mau ikut kami atau tidak?"


Si gadis malang tampak bingung, dirinya yang baru tersadar tiba-tiba langsung harus menjawab pertanyaan. Namun beruntunglah suara demonstran dari perut, membantunya untuk menjawab pertanyaan.


"Ah, maafkan aku. Tiba-tiba seperti ini, pasti kamu terkejut"


"Te, tentu saja" jawabnya


Lalu gadis itu pun di berikan makanan. Mereka pun melakukan pendekatan secara perlahan. Karena bisa saja si gadis malang masih mengalami shock atas kejadian tadi malam.


"Emm, siapa namamu, nona?" tanya Six


"A, aku Adeleah. Manusia experiment sama seperti mu" jawabnya


"Apa kau mengenalku?" Six pun heran


"Iya, kau kan adalah bintang utama di laboratorium no. 7, semua orang mengenalmu"


"Apa yang membedakan mu dengannya?" tanya Luna


"Dia manusia experiment yang pertama kali mencapai tahap akhir, sementara aku dan yang lain hanya sampai tahap ke-2"


Lalu Adaleah pun menjelaskan semuanya, "Itu karena kau di jaga sangat ketat, sebagai bahan percobaan paling unggul. Mereka tidak akan membiarkan mu kabur begitu saja"


Six termenung dan merasa tidak bijak jika ia pergi bersama kedua wanita ini. Itu bisa saja dapat membahayakan mereka berdua.


"Tenang saja, begitu kita sampai di istana bunga kalian tak perlu khawatir. Karena raja istana bunga sangatlah kuat!" jelas Luna


"Bagaimana, Adaleah?


Apa kami juga akan ikut dengan ku?"


Dengan sedikit ragu, akhirnya Adaleah pun menyetujuinya. Mereka pun berangkat bersama menuju ke arah barat. Dan Luna percaya bahwa legenda itu pastilah benar adanya.


"Apa???


Perjalanan ini hanya berdasarkan legenda???" teriak Six


"Tenanglah, tak perlu terial-teriak!


Ini lebih baik dari pada berjalan tanpa ada petunjuk maupun tempat tujuan!" tegas Luna


Six pun berpikir, "Yah, benar juga. Lagi pula kami tak punya tempat tujuan"


"Bolehkah aku melihat kitab suci itu?" tanya Six


Lalu ia pun membuka buku tersebut, namun hanya halaman pertama saja yang berisikan tulisan.


"Petunjuk macam apa ini?" ucapnya heran


"Huh, jika kamu masih tetap berisik. Pergilah dari hadapanku dan cari tujuanmu sendiri"


Dengan terpaksa Six pun tetap saja mengikuti Luna yang marah. Hari pun berlalu dan totalnya Luna telah menempuh perjalanan selama 4 hari. Lalu hari ke-5 pun berhasil di lalui. Namun saat hari ke-6, mereka keluar dari hutan dan harus mundur 5 langkah ke selatan dan 3 langkah ke timur, sesuai petujuk dari kitab suci.


"Tutup mata kalian dan jangan mengintip!" ucap Luna


Lalu ia pun berhitung sampai 5.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan!"


Six dan Adaleah terkejut, mereka saat ini tetap menuju ke arah yang sama, yaitu barat. Dan sebelumnya di depan mereka harusnya adalah jalan keluar dari hutan. Namun sekarang jalan yang mereka lalui adalah hutan semua.


"Sihir yang luar biasa"


Adaleah berdecak kagum akan fenomena aneh itu. Lalu di hari ke-6, mereka kembali tersesat lagi keluar hutan. Seperti sebelumnya, Luna memimpin mereka untuk mundur 5 langkah ke Selatan dan 3 langkah ke timur.


Dan sekali lagi Luna memerintahkan mereka, "Pejamkan mata kalian dan jangan coba mengintip!!"


Namun Six sangat penasaran dan ia pun mengintip. Ia melihat ke arah Luna yang ternyata juga memejamkan matanya. Ia melihat tak sesuatu yang spesial atau pun aneh di sekitar mereka. Namun saat membalikan badannya, sesosok mata merah yang menyala telah menatap balik ke arahnya dan berada tepat di depan hidungnya.


"Waaaaaaaaaaa.."