Bo

Bo
PERISAI



#_#


[WARNING !!!]


~ EPS. INI DAPAT MENYEBABKAN KANTUK, KETIDAK NYAMBUNGAN, TERSESAT DALAM ALUR, GANGGUAN MEMBACA DAN KEBINGUNGAN. HAL INI DI SEBABKAN KARENA KESELURUHAN ISI CERITA BANYAK MENGALAMI PERUBAHAN DAN SEDANG DI DAUR ULANG😅~


#_#


Siang itu, Groto sang Elf pendatang kembali mendatangi si Ketua adat di pemukiman Elf.


"Tuan, melihat kondisi mu seperti ini bukankah ada baiknya kita menyelenggarakan pertunangan itu besok" katanya


"Hmmm, terserah kamu saja"


Si Ketua adat tampak lemah, lesu dan lunglai. Tak lagi terlihat hasrat untuk hidup dalam raut wajahnya. Sementara Guin masih saja berada dalam perjalanan pulang.


"Huft, lelah sekali rasanya"


"Aku harus buru-buru pulang. Mungkin saja kakek sudah siuman" katanya


Sesampainya di rumah, ia mendapati sang kakek tengah tersungkur dan memuntahkan banyak darah.


"Kakek apa yang terjadi pada mu"


"Tak usah kawathir. Besok adalah hari pertunangan mu. Segeralah bersiap-siap, karena aku sudah memerintahkan yang lainnya untuk bersiap-siap" ucap sang kakek


Guin yang tampak kasihan pada sang kakek, tak sanggup lagi untuk membantah. Jauh di dalam hatinya, ia sangat tak menyukai pria yang di jodohkan pada nya itu. Bahkan bukan hanya ia seorang, seluruh warga pun heran dengan keputusan sang Ketua adat.


"Bagaimana mungkin orang luar yang tak jelas asal usulnya akan di jodohkan dengan nona kita" ucap salah seorang warga


"Ssst.. Turuti saja perintah ketua. Kalau boleh jujur, aku pun sebenarnya tak menerima hal ini. Namun ini adalah keputusan dari sang Ketua adat, kita bisa apa" ucap temannya


Di tengah keramaian yang sibuk itu, Groto berjalan-jalan santai dan melihat-lihat kinerja seluruh warga. Ia melangkah dengan pongahnya seolah dirinya lah pemimpin suku itu.


"Hei, hati-hati. Benda itu sangat penting untuk ritual nanti" ucapnya kepada para Elf pria yang sedang mengangkat sebuah peti berisi tumbal


"Ba..baik, tuan"


Lalu pria itu pun beranjak ke sudut lain tempat tersebut.


"Hei, ritual apa maksud orang itu" ucap salah satu pembawa peti


"Entah lah, dia calon menantu Tetua kita. Jangan banyak membicarakannya, nanti bisa kena murka" ucap pembawa peti lainnya


Sementara di tempat lain, Gao dan Smith tampak tengah berbincang-bincang mengenai bagaimana cara pemuda itu bisa selamat dari tabrakan dahsyat sebelumnya.


"Umm, sebenarnya aku juga tak tau benda itu dari mana. Aku tak sempat bertanya pada peri artefak mengenai itu"


"Yang jelas waktu itu, tubuh ku tiba-tiba saja terlindungi oleh sebuah perisai besar yang aneh" ucapnya


"Aneh seperti apa"


Gao sangat penasaran dengan bentuk perisai itu. Namun Smith tampak sangat ragu untuk menjelaskannya.


"Hmm, begini saja. Aku akan bertanya langsung pada peri artefak. Tapi ingat kamu jangan mengganggu" katanya


Smith segera molor dan tiba-tiba mendengkur.


"Apa si keparrat ini sungguh-sungguh. Kenapa dia tampak sedang tidur pulas" pikir Gao


Lalu ia pun segera berbisik ke telinga temannya itu.


"Jika ingin bertanya segeralah. Kalau kamu menipuku aku akan menggantung tubuh mu di atas pohon"


Smith yang kini sudah berada dalam dimensi ruang harta pun merasakan hawa kebencian dari temannya.


"Hiii, apa lagi yang di rencanakan gorilla itu" ucapnya


"Selamat datang, tuan. Apa yang bisa saya bantu" ucap peri artefak


"Sebelumnya aku ingin berkata bahwa aku bosan memanggil mu peri artefak. Apa kamu tak punya nama"


"Untuk apa sebuah nama, tuan saja belum mampu untuk melihat wujud saya" jawabnya


"Bukankah sudah ku bilang, aku bosan. Memanggil nama akan terdengar lebih gampang kan" tegasnya pada sang peri


Peri artefak pun terdiam sejenak dan membuat Smith tampak kebingungan.


"Baiklah, jika tuan ingin tau. Jangan menyesal ya" ucapnya seketika


"Nama ku adalah Lutiz lux adelbrau Radis etrama rias hansel"


"Nama macam apa itu, panjang sekali. Orang gila mana yang memberikan nama itu pada mu" katanya


"Umm, anu. Itu.. Leluhur anda, tuan"


Ctarrr..


Seolah ada petir yang tengah menyambar dalam benak Smith. Sebongkah batu raksasa bertuliskan "Leluhur anda, tuan" seketika menimpa dirinya di dalam hayalnya.


"Be..be..begitu ya. He he he"


"Ka..kalau begitu. Ehem, kita bahas topik lainnya saja"


Smith yang mulai idiot tampak mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya, umm, Lutiz. Boleh aku memanggil begitu kan"


"Tentu saja, tuan"


"Aku ingin bertanya, tau kah kamu tentang sebuah perisai hitam besar bercorak emas yang sebelumnya menyelamatkan ku saat sebelum aku menabrak pohon"


"Itu mungkin saja adalah kekuatan yang di wariskan oleh Leluhur anda, tuan" jawab Lutiz


"Apa. Benarkah itu" Smith terheran takjub


"Tentu saja, setiap keturunan dari sang Sage pastilah memiliki kemampuannya masing-masing. Kemampuan ini biasanya terbangun saat anda benar-benar memahami inti kekuatan sejati diri sendri. Tapi sepertinya dalam kasus tuan ini, kekuatan itu aktif karena tuan berada dalam posisi di ambang kematian" jelasnya


Perisai tersebut terbentuk dari kekuatan sejati dalam diri yang di wariskan dalam gen sang Sage. Itu artinya perisai tersebut adalah artefak hidup yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan tuannya.


"Apa para pendahulu ku juga memiliki perisai yang sama" tanya Smith


"Tentu tidak, tuan. Setiap orang memiliki perbedaan. Dalam hal ini kekuatan sejati akan menutupi setiap kekurangan dari penggunanya"


"Dan sepertinya anda sangat lemah dalam pertahanan, maka alam bawah sadar anda membentuk sebuah perlidungan berupa perisai berdasarkan energi sejati anda" ucap Lutiz


Setelah mendengar penjelasan yang jelas dari Lutiz, ia pun di minta untuk melatih kemampuan tersebut di dalam dimensi ruang harta.


Dan dengan panduan sang peri artefak, Smith pun mampu mengeluarkan kemampuan itu lagi. Ia terus di latih dan di tempa agar perisai tersebut dapat di gunakan secara bebas.


Sementara Gao yang tengah duduk di samping pemuda itu pun terkejut melihat penampakan perisai besar yang tiba-tiba saja muncul di kiri dan kanan tubuh pemuda tersebut.


"Luar biasa, ini kah perisai yang dia sebutkan sebelumnya" ucap Gao


Perisai tersebut berukuran besar dan mampu melindungi penggunanya dari serangan skala besar. Dengan warna hitam bercorak emas nan elegan dan menunjukkan keagungan dari keturunan Sage.


"Nama apa yang akan anda berikan pada artefak ini, tuan" tanya Lutiz


"Hmm, artefak hidup yang merupakan sebuah kemampuan proteksi. Bagaimana kalau ku beri nama Aegis" ucap Smith


"Nama yang bagus, tuan"


Waktu berlalu dan hari pun sudah malam. Aroma makanan yang di masak oleh Gao membuat Smith terbangun dari tidurnya.


Smith yang sudah bangun segera menyusul temannya ke meja makan.


"Ewow.. Hebat ya. Dari tadi aku gelisah berusaha membangunkan mu, tapi tak ada respon. Tapi karena aroma makanan kamu dengan mudahnya terbangun, dasar" ucap Gao kesal


"He he, tenanglah kawan. Aku tadi latihan sangat lama dalam dimensi ruang harta, karena itu aku jadi sangat lapar" balas Smith


Tok tok tok tok...Tok tok tok tok..


Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dengan cara tergesa-gesa.


Saat Gao membukakan pintu, ia melihat Shin sang ajudan Ketua adat suku Elf telah berada di depannya.


Gao sangat kesal karena pria itu sesuka hati menerobos masuk dengan melompati kawat berduri lalu mengganggu waktu makan malam mereka.


"Mau apa kau mengganggu ku malam-malam begini" bentaknya


"Too..long"


Gubrak..


Seketika Shin yang terjatuh itu telah terkapar bersimbah darah.


"Hei, apa yang terjadi pada mu" teriakan Gao terdengar nyaring dan membuat Smith turut serta menyaksikan tubuh Shin yang tergenang oleh darah


Apakah sebenarnya yang terjadi pada Shin. Kenapa ia meminta tolong pada Gao.


"Mungkinkah terjadi sesuatu yang gawat di pemukiman Elf"