
#_#
[WARNING !!!]
~ EPS. INI DAPAT MENYEBABKAN KANTUK, KETIDAK NYAMBUNGAN, TERSESAT DALAM ALUR, GANGGUAN MEMBACA DAN KEBINGUNGAN. HAL INI DI SEBABKAN KARENA KESELURUHAN ISI CERITA BANYAK MENGALAMI PERUBAHAN DAN SEDANG DI DAUR ULANG😅~
#_#
"Kakek, aku menemukan bukti yang kuat bahwa pria itu memang ada hubungannya dengan Sage itu"
Guin yang sebelumnya pergi memeriksa kondisi Smith ternyata bermaksud memata-matai hubungan pemuda itu dengan kalung artefak tersebut.
Ia menemukan seberkas cahaya yang redup di dalam mata Smith yang sedang terpejam. Cahaya itu sangat lah sinkron dengan cahaya yang berasal dari artefak yang di genggam pemuda itu saat pingsan.
Dari situ mereka pun mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa Smith memanglah seorang keturunan Sage.
"Jika begitu adanya, kamu harus bisa memikatnya demi ke bangkitan klan ini" ucap si tua bangka
"Tapi kek, bagaimana dengan pria bernama Gao itu. Dia selalu saja menempel dengan pemuda itu"
"Aku akan memikirkan cara yang tepat untuk itu. Kamu laksanakan saja perintah ku"
"Baiklah kek" jawabnya
Setelah Guin pergi, salah seorang pria Elf bernama Groto pun menghadap kepada sang Ketua adat.
"Maaf tuan. Apa kah anda tidak khawatir pada Guin. Bagaimana jika dia malah jatuh cinta pada pemuda itu" katanya
"Ha ha ha, kenapa kamu begitu cemburu bung. Kamu sabar saja, begitu usianya genap 20 tahun, aku sendiri yang akan memastikannya agar dia menikahi mu" ucap si bangkotan itu
Sementara di tempat lain, Smith tengah berlatih dalam bimbingan Gao yang kini menjadi gurunya.
"Huh hah haaah, berapa lama lagi aku harus melakukan ini" keluhnya
"Hey bung, ini baru 30 kali. Kamu harus mencapai 100 hitungan dalam sehari" jawab Gao yang sedang melatih pemuda itu melakukan pull up
"Apaaaa. Kenapa sebanyak ituuu" ucap Smith terperangak
"Hey hey, kamu di setiap hitungan ke lima saja selalu istirahat. Aku dulu di hitungan ke 40 baru bisa istirahat"
"Aku dan kamu itu berbeda, kamu kan jenius" Smith mulai banyak mengeluh
Pikkk..
Gao yang kesal langsung memukulkan sebuah rotan ke punggung pemuda itu.
"Aw adoooh, adiduh pedihnyaa. Apa kamu ingin membunuhku" keluhnya
"Jenius atau tidak, itu sama sekali tak ada hubungannya dengan latihan. Jika kamu tak mampu melakukan seperti ku, maka setidaknya genap kan hingga 10, baru lah kamu istirahaht"
"Jika kamu begini terus kapan selesainya. Dalam sejarahnya, pelatihan ini di sebut latihan neraka. Tapi lihatlah diri mu sekarang, aku merasa sedang melatih seorang anak bangsawan yang manja" Gao mulai bersungut-sungut kesal melihat tingkah pemuda itu yang tampak sangat lembek
Lalu tak berapa lama, Guin pun sampai ke tempat mereka.
"Hai, ummm, namamu Smith kan yah" ucapnya dengan manis
Smith yang telah terlanjur menyukai Guin pun langsung dagdigdug saat gadis itu menyebutkan namanya.
"Be..be..benar" Smith melemparkan sebuah senyuman yang tampak jelas memberi tau kan bahwa ia menyukai gadis itu
"Hei, jika kamu kemari aku hanya akan mendapatkan masalah dari kakek mu. Syuh syuh, pergi sana" ucap Gao pada gadis itu
"Cih, dasar pembunuh. Aku tak akan mendengarkan kata-kata orang yang telah membunuh kakak ku" balasnya
Gao tiba-tiba terdiam murung dan terpaku. Mendengar sindiran itu ia pun langsung pergi meninggalkan Smith dan Guin tanpa mengatakan satu patah kata pun.
"Hey brooo, bagaimana dengan latihannya" tanya Smith
Namun Gao yang telah membisu itu sama sekali tak menjawabnya, bahkan menoleh pun tidak.
"Hmmm, kenapa kamu kasar sekali padanya"
Smith yang awalnya amat terpikat oleh gadis itu, perlahan memudarkan rasanya melihat tingkah menyebalkan gadis itu terhadap sahabatnya.
"Hei, kamu mau kemana. Aku kesini untuk menemui mu" katanya
"Ohh, begitukah. Untuk apa" balas Smith
"Aku punya metode latihan yang lebih baik dan tidak menyakitkan, apa kamu mau coba"
Smith pun sedikit tertarik mendengar itu. Namun Guin tidak tau bahwa pemuda itu sudah belajar banyak pengetahuan dari Ensiklopedi.
Meskipun Smith selalu mengeluh dan terlihat tak senang dengan metode pelatihan yang di ajarkan oleh Gao. Namun ia sadar bahwa tidak ada namanya latihan yang tidak menyakitkan. Manusia harus selalu berjuang dan melewati berbagai macam rasa sakit untuk dapat berkembang.
"Darah, keringat dan air mata. Sejak bayi kita selalu saja merasakan sakit baik itu fisik maupun pun perasaan. Dan dengan semua perasaan itu lah kita dapat berkembang menjadi sosok yang lebih tangguh" ucap Smith yang menyebutkan sebuah kalimat kutipan yang ia baca dari Ensiklopedi
"Kita semua tau itu, lalu kenapa kamu dengan mudahnya mengatakan sebuah latihan tanpa rasa sakit" lanjutnya
Guin pun menjadi canggung. Ia tak mengira bahwa pemuda yang tampak bodoh itu dapat mengerti sebuah filosofi.
"A..aku hanya memberikan pe..penawaran. Huh, kalau tidak mau ya sudah" Guin yang geragap kembali menampakkan sikap angkuhnya
Smith yang sedari tadi sedang menilai, akhirnya menemukan sesuatu yang aneh pada gadis itu.
"Beberapa waktu yang lalu, aku pernah meminta bantuan mu dalam latihan. Tapi tidakkah kamu ingat bagaimana sikap kalian pada ku" Smith mulai menyadari adanya maksud tersembunyi
"I..itu.., waktu itu lain ceritanya" ucap Guin yang mulai tak kuasa menerima kecurigaan dari pemuda tersebut
Pemuda itu pun mulai semakin kehilaangan niatnya kepada gadis itu. Tanpa berkata apa pun lagi, ia pun segera pergi meninggalkan gadis itu.
"Heiii, tu..tunggu dulu" katanya
Namun perlahan Smith mulai menjauh darinya.
"Sial, bodohnya aku. Bagaimana ini, dia mulai kehilangan ketertarikannya pada ku" pikir Guin
Sementara itu di rumah pohon, Smith mendapati Gao tengah termenung memandangi kolam kecil yang berada dekat dengan tempat itu.
"Umm, sudahlah kawan. Kata-kata menyebalkan tadi tak usah di ambil hati" ucap Smith
Gao yang termenung itu tampak lesu dan hanya terpaku pada pemandangan kolam kecil tersebut.
"Dulu, kami sangat senang bermain air di kolam itu. Bercanda riang dan tertawa bersama" ucap Gao
"Apa kamu merindukannya" tanya Smith
"Ya iya lah coeg" jawabnya kesal
"Eit eit, santai kawan. Jangan emosi"
"Huft, aku benar-benar menyesal karena telah kehilangan dia yang aku cintai"
"Harusnya dulu ku biarkan saja dia menikah dengan pilihan si Ketua adat itu" ucap Gao lemas
"Apa dia dijodohkan" tanya Smith
"Ha ha" Gao pun tertawa hambar
"Perjodohan apanya. Itu hanya lah sebuah konspirasi. Gadis yang kamu taksir itu pun kelak akan di jodohkan dengan orang yang sama dengan kakaknya. Sayang sekali gadis itu terlalu naif"
"Apa maksud mu kawan" tanya Smith lagi
"Beberapa bulan sebelum kematian Nala (kekasihnya), muncullah seorang pria Elf entah dari mana. Dia terlihat sangat dominan dan selalu saja menempel pada Pinoki si kakek Ketua adat itu. Dan sejak saat itu lah kekasih ku mulai di kekang banyak peraturan"
"Menurut kabar yang ku terima dari Shin (pria Elf, salah satu ajudan Ketua adat), pria bernama Groto itu sudah sering muncul bahkan sebelum ayah Guin di eksekusi oleh Ketua adat itu sendiri" Gao menjelaskan dengan raut wajah memerah yang penuh amarah
Di samping itu, Shin sang ajudan Ketua adat pun menaruh kecurigaan yang kuat pada pria Elf pendatang itu. Karena sejak kedatangannya, setiap tahunnya ada saja wanita Elf yang mati dengan cara yang mengenaskan.
Namun tak 1 pun dari mereka yang dapat melacak siapa pelakunya. Shin bahkan sempat memberi tau kan kecurigaannya kepada Pinoki sang Ketua adat. Tapi entah apa yang telah merasukinya, seolah ia tak menaruh kecurigaan sama sekali kepada pria pendatang tersebut dan malah membelanya.
Siapakah pria bernama Groto ini sebenarnya. Kenapa si Ketua adat sangat percaya padanya.