
"Gue kalah," ucap Gabriel sukses membuat cowok di hadapannya terdiam sejenak. Sejurus kemudian Elang mengeluarkan suaranya.
"Ditolak." Elang melangkah mendekati Gabriel dengan senyum iblis yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Gue gak mau berurusan dengan lo lagi, males," cetusnya seraya melangkahkan kaki mendekati Elang seakan menantang.
"Dan lo gak akan pernah tenang selama sekolah di sini."
"Kalo gitu mau lo..." Gabriel menggantungkan kalimat namun langkahnya terus mendekati Elang.
Brugghhh!!
Sebuah pukulan mendarat di perut Elang lalu wajahnya kena tonjokan yang sangat keras membuatnya limbung.
"Gue bakal lebih liar lagi!!!" ucap Gabriel menjauhi Elang sambil mengangkat jari tengah.
Isi Perut Elang seakan keluar, pukulan cewek tadi sangat kuat bahkan mungkin yang tadi memukulnya bukan tangan manusia, tapi tangan hulk.
Perempuan sialan!
Kutuk Elang dalam hati, sambil memegang perut dia berjalan menuruni tangga namun terasa ada yang aneh di dalam wc yang terdengar bunyi suara cekikikan wanita.
Seharusnya semua murid sudah pulang, namun suara itu jelas terdengar karena penasaran Elang membuka knop wc itu dan apa yang ada di dalam membuat matanya keluar.
"ANJ*NG! SETAN!!" teriak Elang berlari pontang-panting melihat wanita pucat dengan mulut merah menganga lebar. Elang tidak peduli kalau perutnya masih nyeri yang penting dia bisa melarikan diri dari mahkluk seperti itu. Anehnya setan tersebut menggunakan seragam sekolah, tapi bodo amatlah Elang tidak peduli.
Memang dari tampangnya Elang terlihat sangat gagah, berani dan perfect namun dia takut dengan yang namanya hantu.
Lucunya jika ia habis nonton film hantu bersama keluarga, malamnya lampu kamar akan terus menyala.
Karena Elang takut hantu lebih-lebih yang bentuknya angka delapan itu kalau bisa jika ia bertemu dengan 'itu' akan ditendangnya ke awan-awan.
Marah? Sudah pasti karena hari ini dia sudah dipukul lalu bertemu setan jejadian. Besok akan ada hukuman untuk si cicak, karena sudah memukul perutnya.
"Elang!! Capek adek cariin gak ketemu!" ucap Kiki sok manja.
"Najong lu ki," timpal Daniel jijik.
"Ih abang jangan gitu nanti dedek nangis." Kiki memasang wajah imut namun tetap saja ketiga temannya jijik sambil istigfar melihat kelakuan temannya yang sengklek.
"Kemana aja Lang? Kirain isded tadi," timbrung Nauval memerhatikan wajah Elang yang kelihatan pucat.
"Tangkap kecebong kali..." ucap Rafael sok polos.
Pletak!
"Pulang." Elang mengambil motor sportnya pulang ke rumah.
"Si Elang ngapa kuy? Pms?" tanya Rafael yang selalu penuh dengan pertanyaan.
"Ya kali... Gue beli kiranti ah, sayang si Elang pms mulu dari kemaren," sahut Nauval menyalakan motor menuju minimarket. Dia dan Elang sudah lama sahabatan jadi Nauval yang paling mengerti sifat Elang. Bahkan Nauval hafal kapan Elang akan poop,
Jam 5 subuh.
"Ikut,..." Kiki naik kemotor Nauval dengan manja lalu memeluknya dari belakang.
"Anying, ngapain peluk gue oneng?!" Nauval menepis tangan Kiki yang melingkari pinggangnya, takut kalau-kalau tangan Kiki nyosor menyentuh barang pusaka miliknya.
"Korban wkwkwk!" ucap Rafael dan Daniel berbarengan menertawai Nauval yang sedang 'ditempeli'. Kiki memang punya motor sport seperti temannya itupun pemberian Papi yang bela-belaan memaksa Kiki menjadi gentleman.
Namun Kiki menyulap motor pemberian Papinya dengan stiker Hello kitty polkadot, kesukaan Kiki. Alhasil Papinya menimbang kilo motor tersebut karena kesal.
Risih, tanpa babibu Nauval menggas motor membuat Kiki berteriak.
"ANJENG! SELO ATAU GUE PERKOSA LO?!!" teriak Kiki terkedjoet dengan nada nge-bass sangat berbeda dengan nada bicaranya yang biasa melengking.
Nauval terkedjoet jantungnya pun terasa keluar dari rongganya, dengan tergesa Nauval memelankan laju motor karena takut kalau Kiki marah bisa bisa 'barangnya' dicincang kecil jadi santapan monyet di kebon binatang.
"Ampun gan."
Dan Kiki terus menggerutu di belakang sambil menenteng tupperware hello kitty pink bercampur polkadot.
Walaupun begitu, masih banyak gadis yang menyukai Kiki karena ketampanan wajah dan sifat supelnya yang mudah berbaur dengan siapa saja termasuk berbaur dengan benda mati.
"Patung, maafin Kiki ya karena udah bugilin kamu eehh ada air mancur pula di situ.." ucap Kiki memerhatikan tempat keluarnya air mancur itu saat membersihkan rumah di hari lebaran. Dia sedang berbicara dengan patung manusia yang seperti di Roma dan Papi yang melihat hal itu langsung menghardik Kiki.
"Ki! Bisa gak waras dikit jadi anak? Bicara sama patung... Gini nih kalau otaknya hasil giveaway!" ucap Raka membawa secangkir kopi lalu duduk di teras rumah.
"Ih papi... Kiki kan lagi minta maaf, kan lebaran harus maaf-maafan," bela Kiki tak terima.
"Semerdeka nenek lu aja, gue mau pensiun jadi papi lu," gumam Raka.
"Ih papi jahat!" marah Kiki langsung masuk ke rumah mengadu pada Mami.
"Kusut dah ginjal gue punya anak kayak dia," dengus Raka kesal.
×××