
"DIBELI DIBELI! YANG BELI BOLEH PELUK SETAN!" Koar gue di kantin Nenek tadi yang akrab dipanggil Mpoh Indah, dengan semangat luar biasa gue bantu beliau jualan dengan Setan sebagai tumbal.
Buset, belom sepuluh menit tempat kami udah penuh sesak sama siswi chili-chilian. Yang cowok ada juga, gak tau apa maksud dia masang tampang kek Mr.Been kejepit 'anu' nya.
Gue ngelayanin para siswi yang membeli snack dan makanan ringan. Beruntungnya lagi gue dibolehin makan apa aja sama Mpoh Indah, kan lumayan gue kan lagi gak bawa uang jajan.
Sekilas gue lihat wajah Nenek tersenyum. Rasanya hati gue ikut tersenyum, gue emang emosional. Kalau senang bisa kelewatan sampe jingkrak kayak pelarian RSJ. Tapi kalau sekalinya sedih gue bakal berlarut-larut sampai lupa dunia.
"Heh katanya pacar Elang, juara satu lagi. Kok jual beginian?" dumel cewek yang rambutnya dicat sedikit pirang.
Gue ngerasa aneh, semenjak gue pertama kali sekolah di sini, gak pernah liat ada yang berani ngecat rambut sebelum Selatan datang.
Aelah bodo amat gue mikirin si bisul Nurrani.
EMANG GUE PIKIRIN, HA!
"Iya, besok mampir lagi ya." gue senyum iblis, pantengin ae tuh cabe ntar malem ngompol dia mimpiin gue, CK.
"Selatan, jangan lupa sama janji lo ya!"
Ha?
Janji opo meneh?
Gue menoleh pada Selatan yang lagi ngacungin jempol dengan senyum cap kuda bengek. Gue mulai curiga, jan-jangan mereka lagi rencanain pesta nanem toge di perempatan Ciliwung. MasyaAllah, nih otak terlalu cemerlang bisa mikir sampai situ. Gak rugi gue ngemil micin setiap hari.
"Janji apaan lu bedua? Janji bikin anak ya," goda gue bercanda dan Selatan cuma berdecak tanpa nanggepin omongan gue.
Deg
Kok perih ya?
Biasanya kalo orang bego tiba-tiba waras apa sih penyebabnya? Jangan-jangan keracunan para laler kayak di sinetron TV yang ada ikan terbang mangap.
"Tan," panggil gue, dia nyahut doang gak pake noleh.
"Ketek lo bau," pancing gue, kantin udah mulai sepi menandakan berakhirnya jam istirahat. Selatan beranjak kembali kelas tanpa ngebalas ucapan gue.
Lah, ini toh yang namanya dikacangin.
Pengen ngelahap orang takut diazab.
Kesel.
.
.
.
Buru-buru gue menahan si kampret buat bicara di parkiran yang masih ramai. Gak peduli kalau puluhan pasang mata ngelirik gue gak suka.
"Tan, Tan, Tan, ORANG UTAN!!" Lolong gue pas di telinga Selatan, sumpah kalo bukan temen udah gue jambak bulu idung nih anak.
Dia noleh dengan tatapan gak suka, kok gue ngerasa kek punya anak dedemit yang ngambek gak dikobokin eeknya?
"LO MARAH SAMA AING?" Ucap gue nge-kompor, kalo nge-gas udah mainstream.
"Apaan sih?" balas Selatan cuek, sambil menghidupkan motor.
"Ya lo ngambek sama gue?"
"Gak."
"Lo kan udah ada Elang, masih mau nyakitin dia lagi?!" pekik cewek itu, gue lihat name tag disaku bajunya.
Natalia Firzhi Libra.
"Sejak kapan gue pacaran sama Elang, hah?! Jangan kebanyakan fitnah!!" gue mengepalkan tangan berusaha memendam emosi. Kuat-kuat menahan langkah supaya gak membuat Selatan nambah bengek, bukan. Nambah marah.
Tontonan gratis. Iya gue emang punya bakat jadi tontonan gratis, apalagi jadi bahan gosipan, dari jamannya Rhoma Irama hujan duit gak berubah-ubah. Kalau kata pepatah itu "Nasib ditanggung badan".
"Embat aja semua sama lo! Dasar gatel!" sahut salah satu cewek memanasi suasana.
"Huu! Kebanyakan sensasi lo, berasa cantik banget hahah!" sambung murid lainnya. Dan puluhan cewek mulai adu mulut, berusaha menghardik gue. Gue mulai gak tahan.
"Gatel, hu!"
"Masih sok tebar pesona juga? Mati sana!"
"Paling menang lomba juga karena disogok, ya gak?"
"Hahahahhahhah!!"
Mual dan pusing mulai kerasa, makin lama makin menjadi membuat gue hampir ambruk.
Satu dentingan lonceng. Pelan, diam, dan lembut.
Dua dentingan, suaranya saling bertabrakan. Membuat gue mual.
Tiga lonceng, sepuluh lonceng, seratus lonceng, rasanya kepala gue mau meledak!
"Kendalikan emosi lo, Briel!" batin gue. Sahutan para siswi menggema di pendengaran seakan memaki dengan ribuan kata kotor. Cercaan, makian dan hinaan terus berantai-rantai makin lama makin terdengar nyaring.
Semua ingatan mulai terulang, seperti film horror yang nyata. Ruangan hitam yang sempit, sepi dan lembab. Tempat pembullyan dan wajah penuh dendam teman masa SMP, darah dan luka.
Semua terulang begitu jelas.
Bully.
Selalu gak pernah lepas dari kata itu, gue jongkok menutup telinga, berusaha meredam serbuan dentingan lonceng yang memekakkan. Tubuh gue semakin gemetaran seiring menggemanya makian di luar sana. Gue lemah.
.
.
.
"Ngapain lo?"
Seisi sekolah seperti bungkam ditelan bumi, entah suara darimana gue membuka mata. Gak ada siapapun, mungkin cuma imajinasi namun sukses membuat suara sialan itu meredam.
"Di belakang lo," ucap seorang cowok dengan nada berat dan menjengkelkan.
Si Tiang Tower!
Gue menengadah memerhatikan wajahnya yang gak terlalu sadis dari biasanya.
"Ikut gue."
Lah?
****