Badgirl Vs Ketos

Badgirl Vs Ketos
#18. Masalah Baru, Selatan Aldinevaro Bastian!



Bruuuggh!!



Bel masuk belum berbunyi. Namun Selatan, murid baru yang pindah ke SMA Generasi Bangsa sudah membuat masalah hanya karena Zean menyandung kakinya ketika lewat.



"Otak itu dipake! Kaki buat jalan bukan nyandung orang!!!" teriak Selatan tersulut emosi.



Sebuah pukulan melayang tepat di perut Selatan, Zean tidak tinggal diam saja setelah wajahnya kena bogem cap tapak badak dari Selatan.



"Anak baru mau kelihatan jagoan, ya?" cibir Zean menarik sedikit senyum ketika melihat Selatan kesakitan memegang perutnya.



Dugh!



Gabriel tidak terima atas perlakuan Zean pada temannya, hingga ia menyenggol dengan keras bahu Zean membuat cowok tengik itu hampir jatuh dan memelototinya



"Apaan sih lo?"



"Lo yang apaan! Berdiri di tengah jalan, orang juga mau lewat!!" gaharnya dengan mata lebar.



Baru saja datang sekolah ada aja masalah. Sekarang dia menarik lengan Selatan dengan kasar membawanya menjauh dari cowok tengil itu.



"Maen kabur aja lo! Pengecut," ketus Zean di lapangan, Selatan membalas perkataannya dengan mengacungkan jari tengah.



"Lo... Mau nge fak sama itu bocah?" tanya Gabriel sambil memerhatikan jari tengah Selatan dan ekspresinya seperti anak kecil, mau kelihatan sangar jatuhnya malah kayak setan onlen, si Momo.



"Ih jijik," jawab Selatan bergidik ngeri.



"Lo kelas mana?"



"Emm... Apa yak?" dengus Selatan sembari berpikir.



"Sumpah, ni anak kalo bukan temen udah gue jadiin umpan ikan koi gue di rumah," batin Gabriel. Ini ni yang namanya teman rasa kampret, ngeselin.



"Kelas apa bengek?" Gabriel semakin tak sabaran, bukan penasaran tapi muka tuh anak minta dicakar.



"Masih gue pantau sebentar lagi gue sleding tu anak," lagi-lagi Gabriel membatin, wajahnya menatap Selatan dengan wajah lama-lama-gue-tabok-lo-njeng.



"Cakep ih!"



"Siapa sih cewek itu, kegatelan banget sama cowok ganteng!"



"Liat aja pasti jadi bahan bullyan dia ckck."



Begitu ucapan adik kelas yang sedang berdiri tepat di samping mereka tanpa malu sedikit pun. Lagian yang diomongin tak peduli, dia berjalan dengan cepat tanpa menoleh.



"Em... Tangan lo, gue capek lo tarik mulu kayak anak ayam," ujar Selatan. Dengan cepat Gabriel melepas pergelangan tangan Selatan yang daritadi dipegangnya.



"Lupa! Pantesan diomongin tadi," pikir Gabriel berjalan makin cepat.



"Sebelas IPA 1," ucap Selatan tiba-tiba membuat mata Gabriel hampir menggelinding di koridor.



"What the heck!? Gimana bisa bocah tengik macam lo masuk situ? Sekelas pula, alah mak jang!" cerocos Gabriel menepuk jidat.



"Jadi lo ngeremehin gue? Gini-gini gue kalo belajar sehari aja bisa diterima kerja di NASA, lah lo apa kabar?" ucap Selatan nusuk pake sangat.




Kini mereka sudah sampai di kelas mereka, 11 IPA 1. Sedikit rasa tak nyaman menyerang Gabriel saat memperhatikan Selatan yang benar-benar akan jadi santapan Elang. Lihat saja penampilannya. Memakai jacket, sepatu warna hijau lumut, dan rambut yang dicat sedikit pirang. Tentu sangat menyalahi aturan sekolah.



Elang berdiri di depan pintu, sambil menyenderkan bahunya seraya memerhatikan Selatan dari bawah sampai atas dengan wajah datar.



Selatan menatap Gabriel seolah bertanya,



"Ni anak kenapa? Suka sama gue?"



Tanpa banyak basa-basi Elang mengucapkan kata yang sangat menjatuhkan harga diri Selatan. "Berandal macam lo masih jamannya ya sekolah? Pulang aja sana tawuran sama tukang warnet," ujarnya datar lalu menghalangi pintu agar dua orang di hadapannya tidak bisa masuk.



"Lo mau ngajak gelud? Lapangan luas tuh!" Selatan mulai naik pangkat, ralat naik darah dan sukses membuat si pemilik mata Elang menarik sudut bibirnya.



"Gue bisa buat lo keluar dari sekolah ini, jadi lo harus patuh sama aturan."



"Aturan kalo gak dilanggar gak seru, jadi buat apa kalo dibuat dan semuanya bakal patuh gitu? Halo, bang jangan ngimpi." Selatan mempraktekkan gaya Mak-Emak rempong membuat Gabriel senang.



"Gak rugi juga nih anak pindah, bisa ada temen gue buat ngerecokin di tiang ckckck," batin Gabriel kesem-sem dan dibalas pelototan oleh Elang.



"Si dengkul monyet, semangat banget sekolah lo ya!" sapa Luke dan Hans yang tasnya kembaran, sama-sama warna biru tua dan sepatu yang sama persis bentuk dan ukurannya, membuat mereka semakin unyu di mata cewek-cewek yang melihat mereka.



Kecuali yang matanya kebanyakan belek, macam Gabriel. Cogan mah leuwat sama dia yang ganteng cuma ayam peliharaannya seorang. Yap, dia cinta mati sama Ayam!



Hans merangkul Selatan masuk ke kelas sembari memperkenalkannya pada murid IPA 1 walaupun guru belum masuk, Gabriel apa kabar?



Dia masih cengo berdiri di depan Elang yang sedang membaca buku motivasi. Covernya Kak Seto, yang tukang sleding itu, eh.



Saat melangkahkan kaki memasuki kelas Elang berbisik pelan, mumpung telinga Gabriel masih bersahabat dia bisa mendengar jelas ucapan cowok tersebut.



"Ngajak teman? Mau gue lempar lagi temen lo ke sekolah asalnya?"



"Idih siapa yang ngajak, lo aja yang ditakdirin buat ketemu anak curut. Gue gak pernah ngajak dia," bela Gabriel tanpa sedikitpun berbohong.



"Hm." Elang menutup buku bacaannya lalu berjalan ke mejanya karena guru Kimia sedang on the way.



"Siap-siap lo hari ini, ketua geng udah datang," ancam Gabriel pada Elang yang acuh.



Lihat saja apa yang akan diperbuat Selatan, bahkan Kepala Sekolah SMA Gajah Mada sampai mengrukyah Selatan karena tingkahnya yang hampir kayak Setan, plesetan namanya.



Ibu Decy, guru pelajaran Kimia masuk dengan langkah pelan. Ia berwajah manis dengan postur tinggi dan kulit bening. Membuat seluruh murid cowok sangat hormat padanya.



Namun hari ini dunia berkata lain, Selatan mulai berulah. Dia melempar cicak mainan ke kepala guru tersebut membuat Ibu Decy kaget setengah hidup lalu berteriak,



"Kurang ajar!"



Selatan tertawa puas, dan Ibu Decy masih sibuk dengan cicak sialan yang menempel di kepalanya.



"Habis ini apa yaa?" batin Selatan sembari senyum lebar.



****