Badgirl Vs Ketos

Badgirl Vs Ketos
#20. Marahnya Orang Tamvan!




"Selatan?!" panggil pak Azhar dengan muka sangar sangad kuadrat.



"Mamvus! Ketahuan gue!" batin Selatan menatap Gabriel yang kelihatan cemas.



"Kalo kamu mau bapak bisa siapin mikrofon sama loudspeaker buat kamu dan Gabriel pungut sumbangan."



"Aelah kirain apa, boleh dong pak!" bacoet Selatan semangat kayak monyet dapat pisang.



Dan jadilah Selatan joged sampai 15 menitan di sana sedangkan Gabriel mengutip sumbangan, niat mereka memang untuk mengutip sumbangan karena Gabriel sering melihat Selatan menangis menonton tsunami di Palu belum lagi kalau nonton tsunami di Aceh yang merupakan tempat lahirnya. 12 kali nonton dan dia tetep nangis bombay kalo nonton yang begituan.



Mereka melakukan hal ini, karena mereka juga peduli karena gak punya keluarga itu menyakitkan cuy. Selatan dan Gabriel berandal namun juga punya hati. Luke bahkan sempat menjuluki mereka,



Bajingan Berkelas.



×××



Setelah puas joged ajeb Selatan memilih buat istirahat dengan keringat yang bercucuran, Gabriel membelikannya minuman gratis membuat ia heran, tumben baik.



"Idih tumben traktir gue…" Selatan meneguk minuman itu macam orang balas dendam kesumat.



"Orang gue ditraktir tadi sama adek kelas," jawab Gabriel meneguk minuman sodanya.



"Siapa? Gebetan lo? Idih selera lo berondong?" tuduh Selatan tak suka.



"Gak kenal siapa, tapi dia culun kayaknya. Walaupun ganteng sih tapi gue gak suka," kata Gabriel duduk di sebelah Selatan.



"Lo normal, kan?" tanya Selatan was-was.



"Ahelaaah, lo meragukan gue? dasar jigong bekantan!" gertak Gabriel memutar botol minumannya tadi hingga tutup botol terlempar mengenai mata Selatan.



"ASU! Gabriel sini lo gue nikahin!" Selatan menutup matanya sambil mengejar Gabriel yang ngibrit duluan. Sampai di kantin Bu Markonah ia mencomot chiki kemudian berteriak,



"Buk! Yang rambutnya kayak bongkol jagung itu yang bayar, bye!" ia berlari secepat kilat dan menghilang di antara gedung sekolah yang berjejer rapi.



Sedangkan Selatan, ia dipaksa berhenti dan membayar chiki yang dirampok Gabriel dulu baru lanjut ngejar.



"Retak ginjal gue ngejar tuh anak, lari kayak kuntilanak ditagih utang," decak Selatan namun bahunya di dorong oleh cowok tengil tadi pagi.



Yap, Zean. Satu masalah anak cicitnya berjejer kayak pagar istana presiden. Dan pastinya kalau berurusan dengannya, sampai bangkotan pun masalahnya gak bakal kelar, kalo kuburan Zean dan Selatan disatuin mungkin mereka juga bakal tetep tinju-tinjuan.



"Paan lagi sih? Lo naksir sama gue?" celoteh Selatan lagi, congornya sibuk mendumel gak jelas.



Bughk!



Sebuah tinju mendarat sempurna di wajah Selatan membuat lelaki itu terjatuh lalu memegang pipinya yang perih.



"Gue gak suka liat lo, balik sana ke sekolah asal lo!" kata Zean sambil menarik kerah baju Selatan.



"Emang lo emak gue!!!? Kalo iya minta uang jajan dungs," kumat sudah begonya, saat serius begini dia malah ngajak bercanda.



"Pokoknya lo harus pindah dari sini atau temen cewek lo bakal kena imbasnya!"



Kali ini Selatan marah, ia memukul rahang Zean berkali-kali tanpa jeda membuat para siswi yang melihatnya berteriak dan memanggil guru BK.



"Jangan sentuh dia atau lo gue seret ke neraka!" ancam Selatan lalu pergi meninggalkan Zean yang sudah babak belur, mereka sama kuat. Tapi perbedaannya Selatan rada-rada sengklek sedangkan Zean bajingan yang sebenarnya.



Gabriel berjalan di koridor dengan santai tiba tiba seseorang memanggilnya membuat ia menoleh ke belakang.



"Kak!" panggil Alaska Jefrea Dilyan. Cowok dengan wajah tampan dan kacamata. Dia kelihatan culun namun tetap keren, merupakan ketua kelas X IPA 1, dan peringkat dua di kelas saat semester satu.



"Gue?" jawab Gabriel takut kalau dia salah orang, soalnya sering digituin, dulu.




"Em... Kakak punya waktu pulang sekolah?" tanya adik kelas itu tak berani untuk kontak mata dengan kakak kelasnya.



"Muka-muka kayak gini udah hafal gue," pikir Gabriel memikirkan cara buat menghindari situasi yang paling ia benci saat ini.



"Enggak, soalnya pacar gue cepet banget jemputnya," jawab Gabriel berusaha berbohong, ia masih 16 tahun tapi pengalamannya dalam berinteraksi dengan macam-macam orang sudah banyak apalagi seperti urusan cinta-cintaan begini.


Ia bahkan difitnah lesbi oleh cowok yang pernah menyatakan perasaannya karena tidak terima, maka pembullyan pada Gabriel semakin membludak.



"Kakak udah punya pacar?!" kata Alaska sedikit berteriak, ia tidak percaya. Setahunya Gabriel tidak pernah pacaran. Itupun dia tahu dari Hans saking penasarannya dengan cewek mafia hongkong tersebut.



"Bohong," jawab Gabriel tidak mau dosanya makin numpuk. Yang ada jadi umpan nereka kalau sering-sering bohong.



"Jadi?"



"Gue cuman mau kasih tau, jangan pernah percayain perasaan lo ke gue. Gue gak pernah bisa kasih kepastian buat lo," jelas Gabriel dan pastinya memiliki banyak arti di dalamnya.



Namun Alaska hanya ingin satu hal,



"Aku gak minta apa apa kak, cu–cuma mau bilang kalo AKU SUKA KAKAK!" ucapnya lalu lari melewati jejeran kelas sebelas sambil melepas kacamatanya untuk mengelap cairan bening yang jatuh tanpa ia minta.



"Why do i pull you close and ask you for space?"



Alaska sadar bahwa ia seharusnya berfikir bahwa tidak semua orang bisa ia miliki.


Saat merasa sudah jauh ia mengelap kacamatanya yang berembun. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya membuat ia menoleh namun masih kabur. Sampai ia memakai kembali dengan kacamatanya, ia melihat Gabriel, cewek yang berhasil membuatnya kelilipan saat pertama kali melihatnya berjalan di lampu merah membantu anak tk menyeberangi jalan.



"Lo nangis? Ah cemen-cemen biawak lo! Gitu doang nangis belum liat lagi gue jadian sama patung pancoran," canda Gabriel berharap adik kelas itu tertawa dan benar saja, Alaska tertawa dengan lesung pipi yang sangat imut. Satu kata untuknya,



Tampan.



Namun Gabriel tidak begitu peduli dengan hal itu.



"Nama lo siapa?" tanyanya, nah akhirnya ide cemerlang nongol juga.



Kayaknya ni anak bisa dipake nih, pikirnya tersenyum iblis.



"Alaska, Alaska Jefrea Dylan," ujarnya sambil membenarkan posisi kacamata.



"Lo mau gak jadi temen gue? Gue jamin seru." ucap Gabriel dengan senyum mautnya membuat Alaska mengangguk tanpa sadar.



"Okey, mana hp lo? Gue mau nulis kontak WA biar bisa chat lo buat rencana seru yang bakal kita lakuin!" seru Gabriel dengan semangat berkoar-koar. Setelah mengetik nomornya Gabriel bertanya,



"Lo punya kamera?"



"Punya, emang buat apa?" tanya Alaska balik.



"Kita bakal buat sekolah gempar dengan video vlog yang judulnya 'setan SMA Generasi Bangsa' gue jadi setannya hahaha!" ucap Gabriel puas.



"Serius kak?" Alaska mulai semangat dengan ide gila Gabriel.



"Yap! Kita bakal buat sekolah gempar dengan video kita!" semangat Gabriel sedang meluap-luap.



"Apa?!" seru Selatan nimbrung tiba-tiba.



Alaska memperkenalkan diri lalu menjelaskan apa yang akan menjadi rencana mereka nanti malam dan Selatan ketawa setan karena jarang jarang loh ide beginian muncul. Apalagi dengan otak Selatan yang minim pencerahan, alias gelap.



"Oke! Kita bakal buat satu sekolah libur karena video kita nyiahahhaah," Selatan tertawa renyah lalu kembali ke kelas bersama Gabriel karena bel sudah berbunyi, begitu juga Alaska.



"Besok, gue pastiin lo bakal tersiksa, tiang sialan!" batin Gabriel menarik sudut bibirnya dengan lebar.



****