Badgirl Vs Ketos

Badgirl Vs Ketos
Bonus Chapter #2- Galaksi Alvaro



Galaksi yang saat itu berumur dua belas tahun terlelap dengan buku ensiklopedia bergambar menutup wajahnya, mungkin akibat membaca di tempat gelap matanya jadi sakit. Mereka pindah rumah setelah kejadian penampakan hantu yang terjadi di rumah sebelumnya membuat Galaksi agak trauma. Gama sudah tertidur sejak tadi di kasurnya sedangkan Galaksi baru ingin memejamkan mata.


Gedebum!


Galaksi terbangun kaget, buku di wajahnya jatuh ke paha. Anak itu menatap Gama yang masih tertidur dengan tenang di kasurnya. "Gam.."


"Balikin kaos kuning gue dulu..." Gama mengigau sambil garukin perutnya.


"Hoy!" Galaksi lompat ke kasur Gama yang ada di sebelahnya, mereka satu ruangan tapi beda kasur. Katanya biar gak berantem terus masalah desak-desakan.


"Ehmm.."


Gama tak kunjung bangun membuat Galaksi kesal bukan main, ia mencoba memberanikan diri menuju pintu kamar.  Saat mengintip di celah-celah pintu, alangkah kagetnya Galaksi ketika mendapati sosok perempuan yang berkeliaran di lorong utama. Ia menutup pintu cepat-cepat lalu menarik napas


"Gama, dengerin." Galaksi mendekati adiknya takut. "Kayaknya hantu di rumah kemarin ngikutin kita."


Gama terbangun dengan mata layu, dia mengumpulkan nyawa. "Apa? Bang Dedi jualan cacing?"


"Bukan. Hantu kemarin ngikutin kita "


"Minyi minyi minyi, gak denger gue suara lu kek semut."


Dah lah males.


Tapi Galaksi gak berani sendiri, secara Gama yang lebih pemberani dibandingkan dirinya. Setan aja takut sama Gama. Pas di kampung, Galaksi pernah kesirupan abis minum Marjan. Bukan. Galaksi pernah kesurupan di hutan pas lagi main-main, cuma sebentar sebelum Gama dateng sambil bilang; "Oi setan keluar lah! Sebelum lu yang gue rasuki!"


Setannya langsung minder. Gama punya bakat jadi setan, paling gak jadi tuyulnya aja noh suruh keliling di pasar 'kan lumayan. Gabriel sempat berpikir seperti itu juga.


"Gam, gue serius."


"Ngapain serius kali sih, emang itu setan minta diseriusin?"


Gama bangun dengan wajah kusut, dia memakai baju yang dilepasnya karena kepanasan. Padahal udara di kamar sangat dingin, tapi emang Gama aja berdarah panas. Maklum, kan dia cita-cita nya jadi buaya.


Galaksi mendengus kesal, dia pergi ke pintu.


"Mau ke mana bang?"


"Panggil dukun Gam." Ia bersuara datar. Gama bertanya lagi, "buat apa sih?"


"Buat nyantet lo!"


Sekarang Gama yang kicep. Dia hendak membalas tapi rasa kantuk kembali menyerangnya. Saat itu hampir jam dua belas malam, keduanya sama-sama pakai baju Winnie the Pooh yang warna kuning *** kucing itu.


"Makan nasi campur ketan."


"Bodo. Gak denger." Galaksi menulikan telinganya.


"Abang gue kayak setan! Aowowkokwok!"


Prangg!


Kaca di dapur jatuh menghantam lantai, Gama dan Galaksi ikutan kaget. Galaksi yang tadinya pengin ke pintu langsung putar balik mendekati Gama


"Takut ye.. meh sini dempetan kita bang."


"Gak takut!"


"Setan, oooo setan! Kemari yuk bang Galak pengen silaturahmi katanya!"


Galaksi langsung memelototi adiknya gemas, dia memukul kepala Gama yang gak ada isinya. Pas diketok aja bunyinya nyaring begitu, kalo pun ada isinya paling cuma angin doang.


"Gak lucu!" Mata hitam Galaksi membulat, alis tebalnya menyatu garang. Tapi sama sekali Gama tidak takut, bahkan dia ikutan garang juga. Kalau diliat baik-baik dua bocah itu lebih mirip ikan ****** mau kelahi.


"Kita harus liat ke dapur." Gama mengalihkan matanya ke pintu, Galaksi seketika setuju. "Kalau dia setan yang kemarin gimana?"


"Suruh dia mundur aja. Karena ada hati yang harus kujaga."


"Modelmu!" Abangnya kembali darah tinggi, ini adiknya kebanyakan nonton pilm sinetron +62 sih. Coba nonton sinetron Jepang yang ada kakek Sugiono nya itu.


"Sirik nih netijen," ejek Gamaliel menghempaskan bantalnya ke Galaksi. Ia memeletkan lidah lalu menghampiri pintu. Jarum jam tepat menunjuk pukul dua belas malam, seketika suasana mencekam.


Bunyi derap kaki menggema di sepanjang lorong, Gama menempelkan telinganya di pintu. Posisinya kaya cicak nungging.


"Ada yang ke sini," ungkap Gama.


Galaksi ikut menempelkan telinganya, duo cicak itu sama-sama pasang wajah ngeri. Mereka berlari ke kamar lalu sembunyi dalam selimut.


Galaksi berdesis kecil, kepalanya dan Gama saling menempel saking takutnya. Di dalam selimut mereka mematung sampai terdengar bunyi knop pintu.


Cklek.


Jantung kedua anak cicak itu berhenti, punggung Gama yang tiba-tiba gatal membuat anak itu tersiksa. Dia bahkan gak bisa bergerak takut hantu itu menangkapnya.


Galaksi aja deh ambil pikir Gama. Nanti kalo Galaksi dibawa pergi kan lumayan kaos abangnya jadi punya dia semua. Ide bagus.


Bunyi tapak kaki semakin jelas, Galaksi memejamkan mata dengan jantung hampir resign dari badannya. Lagian jantungnya bosen, kerjaannya cuma mompa darah doang. Dia pengen jadi fekboi yang kerjaannya cuma ngasih harapan palsu ke cewek-cewek. Sungguh mulia cita-cita jantung itu.


Dan kenapa malah jadi bahas jantung sih amnjir.


Beberapa detik berselang, bunyi tapak itu menjadi lebih keras. Setannya berusaha mengendap-endap, pikir Galaksi yang sempat-sempatnya memperhitungkan.


Mendadak lampu kamar mati, mereka makin gemetaran di dalam selimut. Bahkan Galaksi sampai memeluk lutut, takut kakinya ditarik ke bawah. Dia gak berani keluar selimut, kalau boleh si Gama aja deh diambil. Biar kamar ini jadi hak milik sendiri. Memang dua kakak beradik ini punya dendam masing-masing.


Sedetik, dua detik, tiga detik, suasana hening. Hanya terdengar bunyi tarikan napas. Kedua anak itu berusaha tidak bersuara.


Saat Galaksi hendak mengintip, di saat itu juga wajah setan itu mengejutkannya tepat di mukanya sendiri.


"BA!!"


"MAMAAAA!"


Gabriel terkejut bukan main, niatnya pengen ngejutin eh malah dia sendiri yang terkejut. Untung dia gak latah kaya Ruben Onsu. E ayam e ayam e ayam.


"Mama?" Gama keluar dari selimut, di tengah kegelapan itu lilin bersinar terang di atas sebuah kue. Mereka berdua memasang wajah ceria. Tapi Galaksi tiba-tiba merusak suasana.


"Tapi kami kan gak ulang tahun, ma."


"Kan yang ulang tahun ayam mama. Yodah mama rayain bareng kalian."


"Kenapa gak ayamnya aja dikejutin!" Kesal Gama mengambek, ayam doang di otak Mamanya itu. Takut aja nanti kalo ibu-ibu komplek nanya siapa nama anaknya yang disebut malah si Udin–ayam Gabriel. Gabriel bahkan sering kebalik pas nyebut nama anaknya, Gama dibilang Galaksi, Galaksi dibilang Gama.


Anggap aja Gama dan Galaksi cuma tuyul piaraan.


"Ssst.. kasian si Udin kalo dibangunin, mending kalian aja. Si Udin mau bobok dulu."


"Emang kami gak butuh bobok apa ma? Lagian mana datangnya kayak setan aja bikin orang takut." Gama mendecak sebal.


"Kalo mama setan berarti kalian anak setan, ahahahah!"


Duo cicak itu terdiam. Gabriel menaikkan alisnya. "Dahlah males, kalian ga asik. Mama mau kasih kue ini ke Udin aja."


"Issh.. mama! Gama mau kuee!"


Walaupun Mamanya nyebelin, mereka tetap sabar diperlakuin kaya tuyul. Emang Mama gak ada akhlak, dulu pas SD nilai aqidah ahklaknya anjlok tuh.


Mereka tetap memakan kue itu. Sampai sesaat sebelum Elang juga terbangun dan sampai ke ruang tamu. Mereka bertiga yang sibuk makan kue mendadak takut dengan penampilan Elang dengan acak-acakan serta baju serba hitam itu.


"Setan yang kemaren ngikutin kita maaa!"


"Itu Papamu, Galaksi!"


Elang mengernyitkan dahinya.


Jadi selama ini dia setan?


Asdfghjkl.


***


#edisi nistain elang yang kedua 😂✌️ntaps