Badgirl Vs Ketos

Badgirl Vs Ketos
#38. Putus



Gabriel's Pov.



"Ehem," sahut seorang cowok di belakang, gue terkepak sampe nampar rambut cetar Selatan.



"Lah! Lu ngapain datang sih?? Ganggu orang lagi menye-menye aja!" kesal Selatan dengan muka kayak orang kena gejala penyakit ayan, panas bat tangan gue pengen nampol.



"Briel," panggil si tiang tower, gue melirik.



"Gue dapat kabar, pertandingannya dimajuin dua hari lagi. Lo siap-siap." dia berbicara tanpa menatap, biasanya orang songong dengan omongan setinggi kayangan miper bicara gak pernah takut.



Aneh.



Muka datarnya mulai berubah.



"Gue duluan."



Gue dan Selatan saling menatap si tiang tower yang udah menjauh, tiba-tiba Selatan ketawa ngakak sendirian, lah bocah ngapa ya?



"Ngapa lu nyet? Kerasukan sayton darimane? Jahanamkah? Atau dari WC tetangga?" sewot gue, tumben ngeliat muka bengeknya. Belakangan sifat dia agak berubah dan ngebuat gue canggung buat ngomong doang.



"Tebakan gue bener kayaknya deh," ujar dia habis ketawa ngukuk.



"Tebak-tebakan? Lo menang kuis di indosiar?" tanya gue bego, yang ditanya juga bego.



"Bukan kaleng sarden!"



"Lo tau alasan gue maksa pacarin lo?" lanjut dia tiba-tiba dan gue... Entahlah. Gue menggeleng cepat.



"Buat mastiin, manusia tembok itu beneran punya rahasia atau enggak." Gue kaget sejenak, mencari maksud omongan onta afrika sebelah.



"Paan sih lo gak jelas," sungut gue. Karena gue dan Selatan sesama legenda tukang ngibul pasti gue paham arah pembicaraannya.



"Jadi, yang  dibilang si Nata itu? Lo gak kemakan omongan dia, kan?"



"Ya enggaklah, lo sahabat gue. Gak mungkin gue bisa meragukan lo, yah gue gak maksud buat egois sih, tapi lo berubah dan gue gak bisa jelasin rencana ni, sorry ya," jelas dia menepuk kepala gue.



"Aelah, gitu doang kudu minta maaf lo! Pantesan jomblo, Mimi Peri aja sembelit liat muka lo," ejek gue dan dia menautkan alis tebalnya, marah.



Tapi ekspresi marahnya berubah menjadi tenang dan teduh.



"Briel, kita putus."



Mata gue serasa keluar dari kandangnya, what? Jadi gini rasanya diputusin?



"Enggak!" tolak gue mentah-mentah.



"Lah?!"



.


.


.



"Kita putus!" ucap gue setelah beberapa detik.



"Berarti sekarang gue yang putusin lo. Hahaha dasar dedemit perosotan ciamis!" cerca gue memukul bahunya.



"Eh si anying! Spirtus mana spirtus? Pengen bakar muka seseorang nih!?"



"Gak pake minyak tanah aja mas?"



"Udah jaman itu mah, lah kok malah bahas ini?!?"



Gue terseyum sedikit dan itu ngebuat ekspresi kampretnya balik.



"Napa liat-liat? Lama-lama beneran suka loh," timpal dia sambil usap usap idung. Berasa paling mancung sedunia dia, pinokio mah leuwat sama si curut.



"Yeuh, minta dipacul palalo!"



"Briel, boleh minta sesuatu?" kata dia, gue menyipit.




"Serius cebonk!" hardik dia, gue ngangguk-ngangguk kayak gantungan dashboard.



"Senyum buat gue," kata dia dengan wajah manis, sumpah kerasukan apa tu bocah? Bisa ya tiba-tiba ganteng? Apa cuma mata gue aja yang kebanyakan belek?



Selatan. Entah apa yang membuat gue sebegitu senangnya dengan dia, mungkin karena dia orang yang paling ngerti keadaan gue. Paling cemas kalau gue kenapa-napa dan hobinya ngerjain gue.



Bukan berarti gue suka dia sebagai 'ehem ehem' atau apalah. Tapi, rasanya dia lebih kayak sosok Ayah.



Iya gak sih?



Kok gue linglung?



____________



"Eh, buset!" latah gue hampir nyungsep di lantai, gue hampir kesandung ayam celengan. Perlahan gue menengok jam yang menunjuk angka 05.30 sehabis subuh gue membuka ponsel dan menangkap sebuah keanehan.



Bibi nelpon sampe 27 kali jam dua pagi.



Gue mengusap pelipis, Bibi gak akan nelpon sebanyak ini kecuali karena satu hal.


Kayak yang terakhir kali dia nelpon gue sekitar delapan bulan yang lalu, karena Kakek meninggal.



Kok perasaan gue gak enak?



Bunda?



Detak jantung gue memburu, dengan gemetar gue menekan layar pipih yang tertulis nama Bunda, tapi gak dijawab.



Dua kali, gue cuma mendengar bunyi 'tuuttuut' yang seakan jadi bunyi yang menyakitkan, Gak mungkin! Gue percaya sama Selatan, Tuhan gak sejahat itu.



Suara sambungan masih terdengar jelas, jangkrik dan semesta seakan diam menyaksikan gue yang berada di ambang penyesalan.



"Bunda..." lirih gue hampir menangis, sial.



"Nomor yang anda tujui tidak menjawab..."



Gue menarik nafas dalam, mencoba meyakinkan kalau Bunda baik-baik saja.



Tuhan gak sejahat itu Briel!



Untuk yang ketiga kalinya gue mencoba menghubungi nomor Bunda dan suara sambungan semakin membuat emosi gue gak karuan.



Mual.



Pusing.



Gue mau lari.



"Hallo?" sahut seseorang di seberang gue menghela napas lega. Syukurlah. Tapi,..



"Gabriel, ya?"



Kok malah nanya nama? Dan suaranya rada beda. Ini Bunda?



"Bunda...?" ucap gue, menyembunyikan suara tangis.



"Gabriel, tenangkan diri nak."



Hah?



"Ini bibi?" tanya gue memastikan dan ternyata dugaan gue benar.



"Bunda mana? Gabriel mau bicara, Gabriel mau minta maaf, Gabriel mau kesan---"



"Gabriel, Tuhan sangat sayang sama ibumu, nak."



*****