Badgirl Vs Ketos

Badgirl Vs Ketos
#23. Kotak Kenangan



Matahari baru berada tepat di atas kepala, dan Elang sudah melepas seragam sekolah karena SMA Generasi Bangsa yang sedang amburadul karena ulah duo curut yang hobi meracau.



Gimana mau belajar? Muridnya pada nyungsep di kamar. Mau ngajarin siapa emang, ngajarin monyet membaca dan ngitung? Aelah kalo gitu caranya bisa-bisa bangsa manusia dijajah sama bangsa kera mah.



Elang untuk memutuskan pergi ke perpustakaan daerah meminjam beberapa buku paket fisika, ia mengelilingi deretan buku dan menemukan sebuah novel menarik dan tanpa sadar kakinya sudah sampai di sebuah kursi panjang yang bersebelahan dengan jendela.



Elang mengangkat wajah, menatap seorang cewek memakai kacamata bulat dengan rambut tergerai, tak lupa masker hitam menutupi hidung dan mulutnya. Sangat mirip dengan cosplayer namun Elang menyangkal pikiran anehnya, bahwa mata gadis itu sangat lucu.



Satu hal lagi yang membuat Elang heran, kebetulan aja atau memang buku yang mereka baca sama? Elang tidak peduli, dia memilih untuk fokus membaca namun matanya tanpa sengaja melirik ke cewek itu dan cewek itu balik menatap wajahnya dengan jutek.



Cewek berkacamata itu menutup wajahnya dengan buku sambil mendengar lagu dengan earphone. Elang baru sadar ternyata spesies yang beginian masih ada karena ia sudah dua kali ditatap dengan jutek begitu. Mungkin kacamatanya dihalang sama Mimi Peri kali, lah kok malah bawa-bawa si oncom sih?



Angin yang masuk melalui jendela membuat rambut cewek itu berterbangan, ia memejamkan mata sambil menikmati udara segar yang memasuki rongga paru-parunya.



Senyuman kecil terukir jelas di wajah Elang, ia merindukan sosok yang berhasil membuat hatinya menjadi beku seperti saat ini.



Sosok yang pernah menumpahkan banyak warna dalam hidupnya, sebuah warna yang sangat indah dan membuatnya bahagia. Lalu merenggut paksa semua warna itu dalam sekejap dan menyisakan warna hitam dan putih. Hitam seperti kehidupannya saat ini, kelam. Putih seperti es dan itulah wujud dari sifatnya saat ini.



Seorang gadis picik yang selalu mengotak-atik perasaan dan mengunci hatinya dalam sebuah kotak kenangan. Mata lucu dan wajah jutek serta sikap kasar itu membuatnya rindu dan masih mengharapkan kedatangannya. Sebuah cinta yang berhasil membuatnya terbang setinggi-tingginya dan jatuh terperosok hingga merubah sosoknya menjadi diam dan dingin.



Hanya sekali saja cukup bagi Elang untuk merasakan cinta. Tidak untuk yang kedua kalinya.



"Buku lo kebalik," ujar gadis itu tanpa menoleh.



Booom!




Elang tak mau menanggapi perkataan cewek itu, ia berjalan menuju pintu keluar namun suara cewek itu memberhentikan langkahnya,



"Kunci mobil lo tinggal."



Elang buru-buru mengambil kunci yang tergeletak diatas meja. Cewek itu beranjak menuju loker dan angin yang masuk dari jendela membuat anak rambutnya tertiup angin dan menampakkan belakang lehernya yang putih.



Dan Elang melihat itu, bekas luka sayatan dalam di leher jenjangnya. Semakin jauh cewek itu pergi, makin berkecamuk pikiran Elang hingga ia mengingat hari itu, saat SMP di taman sekolah seorang cewek duduk di bangku taman sendirian dengan banyak bekas luka sayatan di tangan, betis, termasuk belakang lehernya. Ia sangat dibenci satu sekolah dan terkenal kurang ajar, dia, Ann.



"Ann!" Panggil Elang berharap cewek itu menoleh dan membuktikan bahwa dia Ann yang Elang cari, Ann yang menjadi alasan ia membenci wanita, dan Ann yang masih ia harapkan.



Cewek itu berhenti sejenak lalu menengok kanan kiri. Elang benar-benar kalut, jantungnya berdetak sangat cepat dan ia pusing tanpa sebab, benarkah?!



Tak lama cewek itu membungkuk mengutip uang biru yang jatuh di lantai, dia melanjutkan langkahnya ke loker lalu keluar dari perpus.



Elang apa kabar?



Ia memasang wajah macam boneka chucky dapat jackpot.



"Kok kesel ya?" batin Elang meneguk saliva dengan susah payah.



****