Badgirl Vs Ketos

Badgirl Vs Ketos
Bonus Chapter#1 - Gamaliel Alvaro



Delapan tahun setelah pernikahan Gabriel dan Elang, mereka mempunyai dua anak kembar yang sama-sama lucu dengan karakter yang bertolakbelakang. Gamaliel yang dominan mirip Mamanya, sedangkan Galaksi yang udah pasti mirip Papanya.


Gabriel gak pernah nyangka, punya anak dua biji begini kayak pelihara bebek congek sekabupaten. Ributnya minta dibacain surah Yasin mereka, terlebih-lebih Gamaliel yang aslinya blangsak, tengil, kutil, kadas, kutu air. Kenapa jadi iklan sih amnjir. 


Gama yang memiliki warna rambut dan mata cokelat menyala kini sibuk merecok paret orang yang lagi panen anak kecebong. Anak itu terus merengek dari seminggu yang lalu, Elang bahkan menawarkan nya robot-robotan mahal tapi Gamaliel membuangnya seperti tak peduli.


"Aku mau kecebong!"


Elang terlonjak kaget mendengar teriakan Gama yang masih menginjak tujuh tahun itu, alisnya bertaut dengan wajah memerintah. Gabriel datang dari arah dapur membawa toples berisi ikan ******.


"Yang ini kan udah ada."


"Bosen! Aku maunya yang kaya kecebong!"


Gabriel makin tidak tahan melawan Gama yang memiliki sifat persis seperti dirinya sendiri, dia seperti sedang melawan Gabriel kedua.


"Gama.. kamu jangan nyelup di paret orang ya, emang kamu Oreo apa diputar, dijilat terus dicelupin?"


"Gak!!"


Semakin ngeyel anak itu ternyata. Gabriel memijat keningnya pusing, sedangkan Elang yang sedang sibuk mengurus perusahaannya memilih pergi setelah pamit. Selain sibuk, dia sebenarnya takut Gama menyuruhnya nyodok-nyodok isi paret demi sekeluarga kecebong amis bau pipis itu. Gabriel mendecak penuh kesabaran. "Kecebong itu kalau besarnya jadi kodok, Gama."


"Ya udah aku pengen kodok!"


Gabriel ketawa ngenes dalam hati.


"Ini anak gue nemuinnya di kaleng Khong Guan ape ye? Gini amad bentukannya."


"Ma! Aku mau kecebong, kalo gak aku gak mau ke pengajian, titik! Pake tanda seru biar ngegas!!"


"Heh!" Gabriel mencubit telinga Gama yang masih kecil itu, ia memasang wajah tegas. "Kalo kamu gak ngaji kek mana? Gimana mau masuk surga?"


"Pahalanya download aja lah Ma, kok ribet."


"Ohh... Jadi itu yang kamu dapat di pengajian?" Ia menampol pantat Gamaliel pelan, anaknya itu bersungut-sungut.


"Ada.. pak ustad ngajarin kok tapi Gama gak inget.."


"Terus apa yang kamu inget?"


"Inget paret depan pengajian ma.."


Gabriel geleng-geleng gak percaya, jangan-jangan ini anak kerasukan penghuni paret itu kali ya. Tapi kalo dipikir-pikir, itu setan juga bakal mikir dua kali kalo mau ngerasukin Gama. Dia aja ogah.


"Gama mau cebong ma..." Gamaliel akhirnya merengek, ia tak henti-hentinya merajuk, memelas bahkan bergelantungan di kaki Mamanya.


Gabriel menggaruk pelipisnya pelan, mungkin mengiyakan ajakan Gamaliel akan memalukan dirinya sendiri. Tapi Gabriel juga udah ridho, dia emang malu-maluin.


***


"Tuhh itu mah!" Gama menyeret-nyeret mamanya ke depan rumah pak Ustad sambil menunduk ke dalam paret, di pinggir paret itu terdapat gumpalan telur berwarna pink, telur kodok kayaknya. Gabriel menelan ludah susah payah saat dilihatnya banyak ibu-ibu berkerudung besar memerhatikan mereka dengan bingung.


"Mah ambilin!"


Gabriel ingin menangis. Apa ini karma? Karena dulu suka nyeruduk kakek-kakek? Kenapa? Dia menutup muka penuh penyesalan.


Anak itu semakin gencar menarik tangannya, sampai-sampai rambut belah tengahnya yang kaya korden pesta pernikahan itu bergerak-gerak tertiup angin. Gabriel mematung ketika seorang pria tua berjenggot putih menghampiri dari halaman depan. Tampaknya ia penasaran dengan apa yang terjadi. Dia adalah Pak Ustadz pemilik pengajian ini.


Lelaki bersorban itu berbicara tenang.


"Ada perlu apa buk?"


Gabriel lantas tertawa keki.


Masa dia harus bilang, "*anak saya lagi demen cebong nih pak, minta barang satu dua ekor ya?"


MALU-MALUIN*!


"Ehmm... Ini, kaus kaki Gama jatuh ke sini katanya." Ia mengelak kikuk. Lantas anaknya mendongak heran, "bukannya–"


"Udah, udah kita lanjut besok aja ya!"


"Ihh kok gitu sih?"


"Ayok cepet pulang, nanti Mama beliin tuyul deh buat kamu."


"Lah buat apa ma?"


"Buat temenin kamu main."


Mamanya tidak menjawab. Padahal dia membatin sendiri, hanya Gabriel dan Tuhan yang tahu jeritan hatinya.


Gama mendelik bingung, dia tidak bisa berpikir lebih jauh secara otaknya setengah lagi udah diambil Galaksi pas dalam kandungan. Galaksi sendiri lebih memilih berdiam di kamar untuk belajar ilmu-ilmu yang menurutnya menarik. Seperti ilmu sains, sejarah, buku ensiklopedia bergambar dan komik.


Tapi anehnya, biarpun Galaksi tergolong anak yang gak rewel namun kalau lawan bicaranya Gamaliel mereka bakal adu bacot terus. Dari jamannya manusia buat api pake batu sampe jamannya nenek-nenek berkutang maen tiktok. Gak ada yang mau kalah, sampai salah satunya udah ngambekan baru mereka diam terus baek-baekan.


Mereka kembali ke rumah dengan Gama yang memasang wajah cemberut, dia bahkan gak mau makan sampai malam. Di ruang keluarga Gama sangat diam, dia gak peduli kaus kakinya sebelah dipakai Galaksi, biasanya mereka bakal saling merepet.


Gimana enggak? Emaknya aja beli kaus bentuknya samaan. Jadi mereka saling curiga pas salah satunya pake kaus yang sama. Begitu juga dengan baju dan celana.


"Pa.."


Gama mendekati Elang, wajah pria dingin itu perlahan melunak saat melihat anaknya seperti itu. Di kantor wajahnya bisa terbilang tanpa ekspresi, ia juga sangat disegani oleh karyawan. Dengan kemampuannya memimpin perusahaan serta kepandaiannya mengelola semua hal, pantas saja banyak perempuan menginginkan dirinya.


Tapi setelah mereka melihat siapa istri Elang, para pelakor itu langsung berkecil hati. Modelan kayak Gabriel bukan standarnya maen jambak-jambakan, yang ada paling maen hajar-hajaran kayak pertarungan kocheng oyen. Bencong yang kaga ada salah aja didzolimi sama dia, anak sendiri aja sering mau dibawa ke tukang sembako buat diganti sama segoni beras. Kirain anaknya bahan pegadaian apa ya.


Melihat Gama yang kini menempel di kakinya Elang menatapnya lama sambil mengelus pucuk kepalanya pelan. "Kenapa?"


"Cebongnya tadi siang ga dapet."


Elang panasonic eh panas dingin.


"Pa, ambilin kecebong."


Jantung Elang berdetak lebih cepat, Gabriel yang tadinya jalan ingin bergabung malah putar balik buat menghindar.


Elang mengelus rambut anaknya pelan. "Papa beliin apa aja ya asal jangan kecebong."


Gama yang daritadi menahan kesal akhirnya mulai menangis kencang. "Huaahhh mama papa jahat! Gama cuma minta kecebong lho.. masa ga bisa?? Giliran Bang Galak dibeliin semuanya.."


Tangisnya pecah. Gabriel yang sedang di dapur harap-harap cemas. Takutnya Fir'aun yang lagi nyantuy di liang lahatnya jadi terbangun. Dikira udah waktunya dihisab kali.


"Papa beliin apa aja yang kamu mau."


"Aku maunya cebong pahhh...huahh.." tangisnya makin tersendat-sendat.


"Gak ada yang jual kecebong, Gama.." Elang jadi serba salah di hadapan anaknya itu.


"Papa yang ambilin.."


"Eh..." Papanya menggaruk telinganya berusaha mencari jalan keluar, tampaknya tidak ada. Ia menoleh ke arah Gabriel yang mengintip di dapur sambil mengacungkan jempol ala-ala politikus di TV.


"Smangads bosqueh!"


Mata elang milik pria itu terpejam layu, ia sama sekali tidak bisa berkutik dihadapan Gamaliel. "Iya.."


"Yeyhh!" Terlihat Gamaliel melonjak girang, anak itu memegang tangan papanya kencang menuju pintu.


"Mau ke mana?"


"Yok pahh ke depan pengajian pak Ustadz! Kita cari kecebongnya di sana!"


"Hah?!"


Elang terjebak dalam situasi rumit. Ini bukan konflik kaya sinetron Suara Hati Istri yang biasa Gabriel tonton. Masalah ini justru lebih parahmen! Bisa hancur reputasinya jika salah satu karyawannya melihat dia maen paret demi kecebong. Terlebih lagi rumah itu milik Ustadz Abdul Ghofur yang kondang di mana-mana. Bahkan mereka berdua sangat akrab.


Punya anak sebiji susahnya minta ampun.


"Ayook!"


Mau Elang dulu sering juara satu, menang lomba ini itu, bangun perusahaan sampai jadi pengusaha tersukses, semuanya kayak gak ada artinya kalau udah di depan si Gama kecil itu. Lebih tepatnya iblis kecil itu.


"Gak apa, pa. Sekarang kan jam delapan, di sana nanti biar dibantuin temen-temen Gama," celutuk anak itu riang


Elang menerima kenyataan pahit. Malam itu sebenarnya rumah Ustadz itu akan ramai oleh orangtua yang menitipkan anaknya di pengajian itu.


Satu kata untuk Elang.


**Miris.


###


Edisi nistain si elang aowokwokwok kek gak ada harga dirinya dia jadi bapak-bapak 😂**


A/N: pdhl aku mau sekali up, lgsg crazy up tpi gara2 bonus THR ya gmna lgi dah😂wkwk udh terlanjur, oiya pas malam takbiran jgn lupa yak aku bakal up (gk semua sih) cerita2ku yg sempet ngegantung. Bye sobat2 jomlo😂✌️