
"Gue akan jadi rumah lo, dan lo akan jadi rumah gue."
• • •
Setelah menutup telepon, gue gusar sendiri. Kok malah gak seneng sih?
Seorang wanita muda datang dengan setelan jas rapi, tak lama duduk di sebelah gue yang kebetulan kosong.
Dia memainkan gadget sebentar sambil sesekali mengumpat, kalau dilihat-lihat mukanya mirip seseorang... Tante itu melirik ke gue lalu ******** senyum.
"Hei, Nice to meet you.. Ariana," ucapnya menyodorkan tangan, ramah. Gue menyambut uluran tangannya.
"Too, Elang," jawab gue sekedar basa-basi. Biasanya di Indonesia gue ogah begini, entahlah. Rasanya gue kembali ke diri gue empat tahun yang lalu.
"Elang? Are you indonesian?"
"Yap, that's right."
"Ah... Tante juga orang indonesia, cuma campuran aja, kebetulan kuliah langsung kerja di London. Kamu ngapain di sini? Lagi cari seseorang ya?" ucap dia tersenyum memerlihatkan lesung pipinya yang manis, beneran mirip.. Ah bodo, gue baru pertama ngelihat orang seterbuka ini. Baru kenal langsung cerocos melebar sana-sini.
"Haha iya, darimana tahu?"
"Tante sering liat kamu duduk bengong di sini terus bilang 'Gabriel lo di mana sih?' haha kamu gemesin." kata Tante bernama Ariana itu, gue tersenyum kecut.
Kok gue gak ingat yah pernah manggil-manggil si cicak itu?
"Ngomong-ngomong Gabriel itu pacar kamu?" tanya Tante itu terlihat antusias. Kacamatanya hampir melorot saking penasarannya.
"Em.. Bukan, cuma sahabat. "
"Nama panjangnya siapa?" tanyanya lagi, gue menengok Tante itu dengan tenang, entah kenapa dia tertarik dengan masalah gue kek Komo Ricky katakan putus, eh gak deng.
Rasanya bibir gue kelu buat ucapin namanya, gue menarik nafas dalam buat ngucapin nama cewek yang udah gue cari setahun itu. Bahkan sampai rela relaan jadi barista buat bisa tinggal di London lebih lama.
"Namanya?" desak dia, penasaran luar biasa.
"Gabriel, " ucap gue tertahan, kayaknya tante itu gak kenal.
"Gabriellea surya ananda," lanjut gue menyebut seluruh namanya, yakali setengah-setengah.
"Ananda?" tanya dia menaikkan alis, seolah berfikir keras. Darah gue berdesir, apa Tante ini ingat sesuatu?
"Ada apa tante?"
"Ah, enggak. Tante lupa belum jenguk ponakan tante, namanya Ananda juga." ucap dia membawa tas.
"Yaudah, tante duluan ya." lanjut dia dadah-dadah.
"Tante, saya ikut."
Watefak?
Kok makin lama gue makin bego, sih? Kenal aja enggak udah main ikutan.
"Memangnya kenapa mau ikut?" Tante itu mengernyit, walau gak begitu keberatan.
"Em... Apa ponakan tante juga dari indonesia?" ucap gue refleks.
"Iya," jawab dia aneh.
"Nama panggilan dia siapa?"
"Tante manggilnya Ananda, kamu mau kenalan?" ucap dia, entah kenapa feeling gue benar-benar kuat. Satu pertanyaan lagi, kalau benar itu artinya semua bakal selesai. Gue bakal culik dia ke Indonesia.
"Apa dia datang dengan Papanya?" tanya gue lagi, Tante itu berfikir sebentar.
"Em... Dia yatim piatu, dek," jawab Tante itu, dan kayak sebelumnya semua petunjuk hilang tanpa bekas. Walaupun si cicak melarang mencari tapi gue gakkan menyerah, sumpah gue setahun lalu masih harus ditepatin.
"Kalau mau ikut gak papa juga, dia gak punya teman.." bujuk Tante itu, gue nurut saking kacaunya. Bodo amat mau diculik, dijual, dianu-anu. Gue marah tanpa sebab.
Rumah sakit jiwa.
Beberapa dari mereka melihat gue diam, ada yang hampir mencakar bahkan ketawa macam kerasukan. Semua aura negatif masuk dari celah jendela yang kusam karena debu. Cahaya yang menembus jendela cuma samar-samar, begitu terlantar walaupun jumlah pasien banyak. Atau mungkin pekerjanya memang banyak yang mengundurkan diri?
Tante itu berdiri di depan sebuah ruangan yang dikunci rapat lalu bersalaman dengan dokter berumur dengan seragam putih.
"She's fine, maybe. " kata dia sembari tersenyum ke gue.
"Elang, " jabat gue ke dia, tersenyum kaku. "Jeff, nice to meet you." kata dia lalu mengambil kunci, membuka semua pengaman ruangan itu lalu menyuruh tante itu masuk.
Gue juga masuk, tapi sebuah kengerian membuat lutut gue keram.
Cewek seumuran gue, kurus, tangan gemetaran dan kantong mata yang sangat dalam. Tante itu menangis tertahan, entah kenapa cewek itu terus melihat gue, sayu.
Langkah gue terus terhenti, seakan ada sesuatu yang membuat gue sakit.
Jadi ini yang namanya penjara dunia? Atau gue yang terlalu berlama-lama dengan kebahagiaan?
Dokter itu menjelaskan sedikit apa yang terjadi pada cewek itu, dia mengidap kemunduran mental karena pembullian ditambah dengan kematian Mamanya. Papanya yang belum ini kecelakaan membuatnya menjadi yatim. Dia gak punya siapapun lagi kecuali sahabat Papanya.
"Hiks..."
Airmata jatuh di pipi tirusnya, menatap gue makin rapuh. Bibirnya bergetar hebat membuat gue gak tega.
Gue memegang tangan gadis malang itu berusaha menenangkan.
"Hei, kamu gak papa?" ucap gue selembut mungkin membuat tangisannya makin terdengar menyakitkan.
"Pe..pergi... " bibirnya bergetar, menunduk membuat rambut cokelatnya jatuh. Gue menatap lama, dengan gak karuan. Gak mungkin, yang rambutnya modelan gini juga banyak. Mungkin salah.
Cewek di hadapan gue hanya menunduk dengan tatapan kosong, memerhatikan lantai putih yang menjadi teman lamanya di ruangan kelam ini.
"Dia butuh teman, mungkin," ucap Tante itu mengelus punggungnya, bahunya masih gemetaran.
Dokter Jeff memberi kode agar meninggalkan ruangan, waktu berkunjung sudah habis walaupun dengan berat hati gue melangkah.
Gue yang paling terakhir keluar, menarik knop pintu dan segera menutupnya,
"El... "
Halusinasi.
Gue gak begitu peduli sampai melihat ekspresi tante Ariana dan Dokter Jeff, gue membuka kembali pintu dan menatap cewek kurus itu, makin lama makin nyata hingga suara tenggelamnya membuat gue sadar.
Gue menemukan cewek kampret yang udah kehilangan rumahnya, orangtua bahkan tempat tinggalnya. Tanpa ragu gue memeluk Gabriel, gak peduli badan dia bakal remuk gue peluk, gue benci lihat dia begini.
"Ann... ?" panggil gue menenangkan, tangisannya masih belum selesai. Begitu juga bahunya masih berguncang. Gue mengelus punggungnya dengan perasaan lega, saat dia benar-benar di sini berarti sepenuhnya gue bisa jagain dia.
Gue terlambat mengerti keadaan dia sebenarnya, dan hari ini setelah berhasil nemuin dia, gue akan jaga dia gimana pun caranya.
Beberapa saat, dia masih sedikit kesal. Mencoba mengusir gue dengan keras. Emang gue anak kucing? Disuruh hush hush langsung kicep.
"Oi Ann, dengar baik-baik. Walaupun lo pergi ke kutub utara juga bakalan gue cari, gue gak akan pulang sebelum nemuin lo walau cuma sehelai rambut pun."
"Dan gue gak akan peduli gimanapun keadaan lo, gue tetap cinta dengan Ann."
Gue menarik nafas, menatap bola matanya yang makin cokelat.
"Satu lagi, gue gak akan cari Ann baru. Cukup lo, gue gak butuh siapapun, lo akan jadi rumah gue, dan gue akan jadi rumah lo. Sekarang kita pulang ke Indonesia, oke. Lo tahu? Bangku taman di sana masih mengharapkan kepulangan lo, bukan gue."
Tangisannya mereda, sedikit lekukan bibirnya membuat gue tenang. Mau dikayak gimanapun senyumannya masih bisa menghipnotis gue, itu sebuah fakta bukan khayalan lagi.
Sedangkan Dokter Jeff, dan Tante Ariana masih belum mengerti situasi. Gue akan cerita setelah semuanya mereda, gue akan usaha ngebuat Ann dan Gabriel pulih. Ya, Ann yang kalem dan Gabriel yang kurang ajar. Mereka hanya satu orang, dan sayangnya orangnya lagi kekurangan tenaga buat bicara.
××××××××