
"Hans!!!" seru Luke panik melihat hidung adiknya mengeluarkan darah, guru olahraga selaku wasit berdiri di tengah untuk melerai Luke yang hampir saja meninju Vero.
"Loser!" teriaknya lagi, tubuhnya ditahan oleh Daniel. Kali ini Daniel benar-benar merasa bersalah karena demi ia keadaan menjadi kacau seperti ini.
"Gara-gara gue adek lo pingsan, sorry." Daniel menatap Hans yang sedang dibawa ke UKS oleh PMR.
"Gak usah lebay," sahut Gabriel membawa sebotol air mineral yang tidak ia beli seperti tadi, cuman mungut lalu memberinya pada Luke yang sedang marah. Tanpa pikir panjang Luke meneguk habis minuman tersebut.
Tentu semua orang yang melihat kejadian itu akan menilai Vero sebagai pecundang belum lagi oleh pelatih mereka sendiri. Yang sudah kelewat malu atas perbuatan Vero yang tidak sportif.
"Kami minta maaf," kata Debran seraya menyeret Vero dari lapangan, saat sedang berjalan Anne menampar keras pipi Vero membuat semua orang terkesima dengan kejadian langka tersebut.
"Kita putus!" teriak Anne menunjuk wajah Vero dan Vero mendahuluinya dengan menabrak tubuh mungil Anne hingga ia hampir jatuh.
Daniel segera menghampiri Anne "Lo gak papa?" tanya Daniel ngos-ngosan.
"Gak, thanks." ujar Anne lalu membalik badan menuju kelas walaupun Daniel sudah berharap mendapatkannya, namun ya sudahlah... Cewek itupun tak peduli. Mau bagaimana lagi cinta tidak harus memiliki.
Dibanding itu ia punya teman yang lebih peduli padanya ditambah lagi dengan si kembar itu. Jujur Daniel salut pada Luke dan Hans yang bela-belaan ikut bertanding agar ia menang dan tidak malu.
Daniel memerhatikan temannya yang sedang berkumpul di pinggir lapangan. Tim Vero telah pergi tanpa pembelaan. Sedangkan para supporter balik ke kelas mereka masing-masing.
"Cemen!" bentak Kiki kecewa.
"Ngomong doang si kecebong, disuruh gak bisa," celetuk Rafael.
"Dribble doang siapa kagak bisa, abang kusayang gak pulang-pulang..." nyanyi Kiki mempraktekkan goyang dribble.
"Balik." Elang bergumam dengan cepat, Nauval agak budek jadi yang terdengar olehnya hanya 'Bali'.
"Ngapain ke Bali bang?" Nauval mengerutkan alis lalu mulai paham sembari mengangguk.
"Lo mao liat cewek pake kutang eaaa?" tuduh Nauval alay.
Elang membalas perkataan Nauval dengan tatapan tajam lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.
"Anjir, si Elang diam-diam sange rupanya!" gerutu Nauval membuat orang yang dibicarakan marah lalu mengejar Nauval yang terkedjoet karena di kejar tiba-tiba.
"Anying, dikejar woi dikejar!!! Kerasukan apaan si Elang tu?" gumam Kiki memerhatikan Elang dan Nauval yang berlarian di lapangan. Sekilas matanya melihat cowok itu tersenyum sedikit.
"Kerasukan kecebong." Rafael refleks menyahut dengan muka bingung.
"Dia berubah," sambung Daniel mengembangkan senyum lalu ikut berlarian bersama kedua temannya.
"Ikuuutt!" kata Luke dengan antusias lalu ikut kejar-kejaran seperti anak kecil.
"Eehh copot...copot." batin Kiki. Ya kali dia beneran mau sama sesamanya.
"Senyum lagi gue iris itu lo!" bentak Kiki, Luke ngibrit.
"Wleek!" Luke memeletkan lidah lalu tertawa cengegesan.
×××
Bel berbunyi pertanda berakhirnya jam pelajaran dengan cepat Luke, Daniel, Rafael, Kiki, dan Nauval beranjak ke UKS menengok Hans. Sedangkan Elang harus pergi ke ruang OSIS untuk menghadiri rapat.
Tinggal lah Gabriel sendiri di kelas yang telah sepi, dia memilih untuk tidur di kelas daripada pulang ke rumah.
Hari ini Bunda akan pindah rumah, begitu juga dengan Papa. Gabriel tidak mau bertemu dengan mereka yang ada nanti dia akan membunuh mereka termasuk orang baru dalam keluarganya.
Angin bertiup memasuki jendela, memenuhi ruang sepi di tempat Gabriel berada. Dua puluh menit ia pura-pura tertidur di sana sedangkan ponselnya terus bergetar karena panggilan dari orang tuanya.
Braaak!
Ia menepis jauh benda persegi pipih tersebut hingga pecah, kali ini ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Seandainya ia bisa menghapus semua ingatannya paling tidak bisa membuatnya lega.
Itupun hanya "seandainya".
Air mata jatuh tanpa ia sadari, Gabriel menutup mata lalu menetralkan emosi. Seseorang memasuki kelas dan Gabriel masih menutup matanya seperti orang tertidur.
"Pura-pura tidur ajalah," batinnya.
Langkah kaki itu mendekat perlahan lalu berhenti tepat di meja Gabriel. Tak lama langkah itu pergi lagi keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Gabriel mengangkat wajahnya, mencoba melihat siapa yang datang dan meninggalkan sebotol air mineral di atas meja.
Ia berjalan cepat menuju pintu lalu melihat orang tersebut yang sudah jauh membelakanginya.
"Luke?" desis Gabriel menajamkan penglihatannya.
"Luke 'kan rambutnya cokelat, kalau hitam siapa?" tanya Gabriel acuh lalu mengambil air mineral yang tadi ditaruh di atas meja.
Saat berjalan di parkiran dia melihat cowok tadi, memakai hoodie hitam dan motor sport. Mereka beradu pandang cukup lama sampai Kiki menyahut dari kejauhan.
"Elang! Lo ngapain pacaran di sana?"
****