Badgirl Vs Ketos

Badgirl Vs Ketos
Extra Part 03–Terjebak Baper



Hari ini gue mulai dengan memantapkan hati, setelah bicara dengan Sheila gue mulai mengerti.



Dari tatapan matanya dia bukan lagi pengen ngebunuh gue tapi lebih dari itu. Sorot matanya kayak bilang,



MUNDUR MAS, KAMU BURIQ.



Ah syakit.



Gue sempet minder sih, buat cewek secantik Sheila muka kayak gue ini gak ada apa-apanya, jadi gue penasaran sendiri sama Thor yang ngasih gue peran kayak gini, kan asw.



Thor : Muka lu kan emang buriq, ngapain ngeles oi!



Critical hit!



Jadi sebenarnya peran gue di sini apa? Orang cantik maunya sama orang ganteng terus gue ngapain disuruh nembak tuh cewek. Apa peran orang jelek gak ada yang lain selain jadi sekurity, robot gedek, banci kaleng, atau tukang sekoteng?



Paling tinggian mereka cuma main sinetron itupun dialognya udah kayak orang sakit gigi. Pokoknya enggak adil! Orang jelek gak ada tempatnya di dunia ini.



"Bambang... Oi Bambang!" panggil Nauval dari depan kosan, setelah masuk kuliah gue gak lagi tinggal sama Bokap Nyokap melainkan hidup ngenes bareng adek lucknut bin kampret si Hans.



"BAMBANG LU BUDEK YAH? WOI TONG, SELAMETIN GUE OI DI LUAR BANYAK ZOMBIE!" pekik Nauval kekanakan. Dia kira gue bocah sedeng yang masih mempan ditakutin.



"Kalau ada zombie ngapain lo kelayapan tong?!" hardik gue sambil membuka pintu melihat Nauval, Aldi, Ghaza, Selatan, Rafael dan terakhir Gabriel udah buat barisan depan kosan gue.



Datangnya temen, kok rasanya kek digrebek Satpol PP. Anjay!



"Kan zombienya lagi cari jodoh."



"Jodoh palelo peyang! Lu semua berdiri kek gitu mau gue pacul satu-satu?"



Mereka semua tersenyum smirk.



SUDAH GUE DUGONG! TERNYATA MEREKA MERENCANAKAN SESUATU.



"Lo masih belum nembak Sheila."



Htpp://error.shisqknsizqkkalaowsjqn.com



"Woi! Cepet elaah! Gue denger Sheila anak farmasi loh, sekampus sama kita!" ucap Ghaza dengan gaya santainya.



Elu nyantai gua dibantai!



"Bujug buset besok bilang sama Tuhan, gue pensiun aja jadi manusia."



"Proposal lu ditolak tong!" celutuk Gabriel membuat gue nangis darah.


.


.


.



Sesampainya di kampus benar aja, gue baru sadar kalau Sheila sekampus sama gue. Dia datang dianterin cowok.



Wanzay, itu cowok cakep. Arrrrghh gue alergi cowok cakep. Kenapa? Gak suka aja, karena cowok cakep peran lelaki buriq kayak gue gak diperlukan lagi di masyarakat.



Cowok itu pergi, Sheila tersenyum singkat.



Cantik tapi misterius.



Gue samperin dia sambil gaya-gaya sok ganteng.



"Cacingan lo gayaan kayak gitu?"



"Yeeh... Orang lagi berpose cakep juga," elak gue percaya diri. Bodo amat dibilang saraf malu gue putus.



"Gak usah kebanyakan gaya, nanti meninggal."



Jleb.



Kalau gue cewek udah tereak sambil ngejambakin nih anak. Untung cantik.



"Eh, cowok lo tuh? Cakep ya."



"Ha? Pffft... Haha, itu paman Alan, bukan pacar gue," kata dia cengengesan. Gue terdiam beberapa saat sebelum tersadar.



Pertama kali ngelihat dia ketawa, gue ngerasa bahagia. Tentunya tanpa alasan.



"Ah-eh, paman lo, haha sorry fullface sih pake helmnya." gue menggaruk aspal, gak lah, gue garuk telinga sampe rasanya pengen lepas nih telinga.



"Kenapa emang?" tanya dia, walaupun tanpa melirik gue sedikitpun. "Gak, gue cembu--- maksud gue penasaran aja."



Ember bat mulut gua. Alahmak bujang! Kenapa mulut ini gak pake saringan kek? Hayati lelah, oi!



Sheila melirik gue dengan sorot curiga, lalu berbelok menuju fakultasnya. "Sheila! Ntar mau makan siang bareng gue gak? Gue tunggu yah di depan nanti!" serobot gue seenak jidat.



Dia menoleh dengan wajah khasnya yang ketus sambil mengangguk kecil lalu buru-buru menuju ruangannya.



Di ujung jalan dia tersandung, melirik gue dengan wajah merahnya dan berlari kecil.



Lucu.



Kenapa orang kayak dia dicap buruk sih? Gue bahkan gak percaya sedikitpun kalau dia yang ngebunuh kedua orangtuanya. Gak mungkin kalau Sheila psikopat.


.


.


.



"Tembak woi, kelamaan lu tong!" teriak batin gue gak tahan harus dipaksa deket-deket Sheila, para cowok yang notabene-nya famous sampai gedeg lihat gue SKSD sama Sheila.



Kami berjalan melewati kerumunan lalu keluar menyeberang jalan, gue berjalan anteng dengan kedua tangan di saku lalu bersiul pelan.




Sampai di tepi jalan gue menoleh ke samping, "Shei--- what the...?"



Gue lihat Sheila terdiam di ujung sana, dia gak menyeberang melainkan berdiri dengan muka takut di sana.



Takut nyebrang nih anak kayaknya.



Dia menunduk menatap binder di dekapannya, kasihan sih lihat nih anak. Kayak kucing dibuang.



Tanpa berpikir dua kali gue menyeberang lagi ke tempat Sheila, menatap dia dengan senyum kecil lalu memegang lengannya. Dia menyumpah serapah di sana.



"G-gak usah sok peduli!" ketus dia menghempas tangan gue kasar. "Yaudahlah, ikutin gue aja," ucap gue mengalah.



Mata gue menoleh kanan kiri, setelah menunggu agak lengang gue berjalan cepat.



"T-tunggu!" panggil dia yang agak jauhan di sana. Dia mendekat dengan takut sambil melirik kanan kiri.



Setelah agak dekatan gue lanjut berjalan sampai ngerasa ujung kaos gue tertarik ke belakang.



"Gak usah ge-er!" bentak dia kesal seraya memalingkan muka.



Dasar. Tsundere.


.


.


.



"Lo serius cuma minum orange juice doang? Gue traktir loh," kata gue setelah pesanan datang. Sheila menatap ketus.



"Diet."



"Ngapain diet lagi? Badan lo udah pas segitu," ucap gue yang kemudian membuat wajah Sheila berangsur cerah. "Beneran?"



"Bohong," jawab gue sembari ketawa senang, dia menatap gue hina. "Sialan! Dasar cowok ampas lo!"



Addaw.



Suckid nengs.



"Ehem," gue berdehem ria membuat cewek di depan gue menoleh dengan wajah kesalnya. "Apa?!"



Aya-aya wae lu, kan dia ngegas.



"Lo... Tau gak alasan gue ngajak lo ke sini?"



"Mau nembak gue."



Gue tersedak air ludah sendiri, menyorot mata Sheila dengan kebingungan. "Kok tempe?"



"Ck!" dia cuma berdecak sambil mengaduk makanannya.



"Cowok kayak lo... Deketnya cuma pas ada maunya doang!"



"Iya! Kalau gak ada maunya ngapain gue nguntilin elu?!" ketus gue dengan kesal, tentunya cuma dalam hati. Bhaaaks.



"Sheila, gue mau bicara."



"Itu lagi bicara."



Ish. KZL.



"Gue.... Em..." mulut gue tergagu, bisu mendadak. Sedangkan tatapan para mahkluk ganas di depan cafee udah membunuh keberanian yang gue kumpulkan tadi. Temen-temen gue bersorak tanpa suara di sana.



"Gue---"



"Sheila!"



Anjir temennya! Kampret moment lu bgst, ngapain sih ngambil celah segala! Arrrggh!



"Dengerin gue!" bentak gue tajam, gak, ini bukan film movie di mana cowok ganteng lagi nembak ceweknya terus keburu terdengar bunyi bel.



Ini orang buriq lagi berfantasi elah, jan macam-macam.



"G-gue suka sama lo!" suara gue tanpa peduli dengan temannya Sheila yang menatapngue terkejut.



"Cieeeee....." sorak beberapa temen sefakultas gue yang tiba-tiba nangkring di situ.



MALU, ASW.



"Lo---" ucap Sheila menggantung, dia kelihatan lagi menunggu sesuatu entah buat apa. Yang penting gue udah selesaikan dare dari game sialan itu.



Hah! Mamvus!



Tapi, Sheila masih berdiri membatu di depan gue. Semua orang bingung, termasuk gue. Gue kan cuma nyelesaikan tantangan—



Whutzz?!



Jangan bilang dia baper!



Yah, gue lihat pipinya bersemu merah. Dia gak mungkin demam karena cuacanya baik-baik aja. Gue menilik kepada temen-temen gue, mereka menatap gue hina lalu meludah di sana.



"Cuih!"



BAZENG LU SEMUA!



×××