
Hujan sudah reda sejak tadi, menyisakan rintikan hujan dan genangan air di sepanjang jalan.
Sebenarnya Elang malas mengabari teman-temannya kalau dia sedang di rumah sakit menemani si cicak sakit. Tapi mau gimana lagi? Daritadi suasana awkward banget apalagi ketika Ayahnya Gabriel datang.
Tanpa sepengetahuan Gabriel, Elang menghubungi Ayahnya hingga ia datang ke rumah sakit membawanya ke ruang rawat. Dan gadis itu sekarang masih ngorok entah apa yang dimimpikannya tapi tebakan Elang pasti bermimpi hal mesum.
"He...heh..he," Gabriel menggaruki perutnya.
"Bangun oi!" bentak Elang akhirnya. Jengah.
"U... waaaannng," sekarang Elang tahu si cicak mimpi apa, jadi pawang uang.
Kali ini dia ingin sedikit usil memasuki uang sepuluh ribuan ke dalam mulut Gabriel.
"Cuih! Gak butuh gue sepuluh rebu," kata Gabriel dengan mata tertutup.
Elang menarik sebelah alisnya, ini si dedemit masih ngorok atau sengaja gak mau bangun? Mencurigakan.
Tak kehabisan akal Elang memasukkan uang 100 ribuan saat Gabriel mulai ngorok lagi. Alhasil gadis itu tersedak.
"Uhuuk... Eh buset, keselek uang darimana gue?!" cerocosnya. Saat Gabriel melihat lembaran merah itu langsung memasukkannya dalam saku celana.
"Kalo gue mati gara-gara keselek uang 100 rebu elit juga, ya?" tanyanya pada Elang yang asem melihat tingkah anehnya.
"Serah," jawab Elang cepat.
Dan suasana kembali awkward, Elang bingung harus apa sedangkan si cicak nyante, sibuk ngitung cicak yang nempel di dinding.
"Ayah lo datang tadi," sahutnya tiba-tiba.
"Teruss?" balas Gabriel sedikit mengejek, Elang menautkan alisnya. Yakin setelah ini Gabriel mendapat lemparan piring cantik.
"Dia titip pesan sama gue ka-" belum selesai ngomong Gabriel memotong ucapannya.
"Simpan buat lo aja, gue gak mau denger," potongnya enteng lalu beranjak dari tempat tidur.
"Ngapain?"
"Nyetor."
"Hah? Nyetor apaan?" kali ini Elang kepo, apa yang ia setor di kamar mandi tersebut? Dedemit ini gila juga kadang.
"Nyetor banana dudul," Elang memasang tampang datar tanpa pertanyaan lagi.
Saat sibuk mengotak-atik hpnya, seseorang masuk dengan sopan membuat Elang mengangkat wajah tampannya.
"Wah? Ini pacarnya Gabriel?" katanya sembari duduk di sofa, bersebelahan dengan Elang.
"Bukan, cuma teman," sanggahnya cepat.
"Ohh... Gabriel mana?" sambungnya.
"Kamar mandi," lanjutnya tanpa menengok. Wanita tersebut kini diam memerhatikan gerak-gerik Elang yang tak nyaman sejak kedatangannya.
"Tadi ayahnya udah duluan datang ya?" tanya wanita tersebut.
Elang mengangguk, mengiyakan ucapannya.
"Dia bilang apa?"
"Dia bilang bakal pergi ke London, kalau Gabriel mau dia boleh ikut." Elang memberi jeda sebentar.
Lalu ucapan terakhir Elang membuat wanita itu menahan isak tangisnya.
Saat ini wanita itu sedang menangis, hei apa urusan Elang di sini? Ngapain dia ikut campur masalah keluarga Gabriel? Sadar akan posisinya Elang meminta maaf. Lagian dia hanya menyampaikan amanah dari pria tua tadi.
"Bunda?" sahut Gabriel dari pintu toilet, terjadi jeda beberapa detik.
"Ngapain lagi di sini? Pulang aja sana sama suami baru Bunda," ucapan anaknya sukses membuat air matanya makin deras. Bahkan anaknya sendiri membencinya.
"Maafin bunda," pintanya walaupun Gabriel acuh malah lanjut menghitung jumlah cicak di dinding.
"Bunda yang pergi atau Gabriel yang pergi?" geramnya dengan wajah mengancam. Benar saja Bundanya pergi dengan isak tangis yang deras.
"Durhaka deh gue," batinnya melihat punggung Bunda yang pergi dengan badan gemetaran.
Tak lama suara gaduh mengisi jalan koridor di depan ruang rawat Gabriel dan datang 6 cogan membuat sempit ruangan.
"Gabrieeell.. Lihat gue bawa ayam... Nyom... Nyom," ucap Daniel gelagatnya seperti Upin Ipin kalau punya ayam.
"Udah gue bilang dia gak suka ayaam!!!" bentak Hans membawa daging mentah dalam plastik.
"Ini sob, gue bawa lu daging komodo asli dari jepang," lanjut Hans mengacungkan jempol seperti papa guy di anime Naruto, lantas Gabriel menaboknya dengan daging itu.
"Komodo apaan yang ada di Jepang?" tanya Nauval memberi teka-teki.
"Komodo jepun," jawab Luke namun salah.
"Komodo ikeh ikeh kimochi," Nauval cuma ngakak sendirian sementara yang lain merhatiin dia.
"Temen lo Pael?" celetuk Kiki.
"Bukan, ngutip kemaren di perosotan," jawab Rafael dengan wajah ala-ala meme yang ngenes itu. Rafael menaruh buah jeruk di atas meja. Cuma dia yang agak warasan dibanding temannya yang otaknya tinggal se-ons.
Gabriel menoleh ke arah Elang dengan maksud bertanya apa dia yang memberi tahu Gabriel di rumah sakit dan Elang mengangguk mengiyakan.
"Awww kode-kode...!" Kiki menarik senyum lebar, sambil mencubit pinggang Daniel.
"Ish, gatel banget sih jadi cowok!" begitu bentak Daniel membuat Kiki mengerucutkan bibirnya.
"Elu gatel yeee," balas Kiki mencubit pinggang Daniel makin kuat.
"Auuw!! Setan! pingsan nih gue, astoge! Gue iris batang lo!" bentak Daniel dengan wajah gue-makan-lo-anying!
"Btw anyway busway, Luke lo gak bawa apa-apa?" tanya Nauval sambil memakan jeruk yang dibeli Rafael.
"Gue rencana mau ke KFC tadi." Luke merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Terus?" kepo Kiki ikutan memakan jeruk tapi kulit sama bijinya doang tersisa.
"Gue tanya ada ayam? Ada, katanya. Terus gue diusir."
"Lah kok diusir? Orang mau beli juga," protes Hans.
"Nah itu masalahnya, soalnya gue bawa ayam juga, sekalian mau gue adu sama ayam di KFC."
GEDEBUUK!
"Abang lo dek?" tanya Rafael pada Hans yang hampir ketawa.
"Bukan, nemu kemaren di dalam lemari," balas Hans menertawai abangnya yang gesrek. Datang ke KFC malah ngajak adu ayam.
Ngana sehat?
****