
Terik matahari membuat mata Gabriel panas belum lagi tatapan para siswa-siswi SMA Generasi Bangsa, setajam pisau cukur! Dan dedemit yang menjadi partnernya dalam hukuman ini malah goyang kayak cacing-cacing di got, lasak bat sumpah.
"Panas beut njir... Si pak tuek malah enak sandaran di sana. Kesel gue, oi kantin yok," ajak Selatan sambil hormat ke Kepala Sekolah yang duduk di kursi dan tempat yang teduh, dia menatap duo curut sedang met-mot macam ulat panah.
"Buset dah lu kancut miper, masih mending lu dihukum beginian daripada didepak sama dia," bisik Gabriel sesekali tangan kanannya pura-pura menggaruk badannya yang tidak gatal, pegal tangan disuruh hormat hampir satu jam.
"Alah kalo bukan karena Buk Decy sama Pak pitak pasti dah diusir kita, lo mah gak percaya sama orang ganteng."
Yap, Bu Decy dipihak Gabriel dan Selatan karena apa? Karena Selatan 'jodoh simpanannya' dan Pak Pitak sangat sayang pada duo anak dugong yang dangdutan demi cari nafkah ralat, sumbangan.
Tiba-tiba seorang pria tua dengan setelan jas rapi menghampiri The Boss, nampaknya ada urusan penting, Angkasa bangun dari tempatnya bersemayam meninggalkan lapangan tanpa sepatah kata pun.
Senang? Jelas. Muka Gabriel udah kesenangan dan Selatan kayak orang mau nahan berak. Cowok bernama Selatan itu lari pontang-panting menuju toilet dan masuk dengan sembarangan.
Plaak
"Anjir salah masuk gue, selo lah neng!" dengus Selatan memegangi pipinya yang ditampar.
"Sorry gue kira mantan gue tadi," jawab Andri dengan muka polos-polos buangsad.
"He? Mantan lo?! Buyut lo nungging?! Muka ganteng gini bekas anak biawak macem lo? Ampun Dijah, hiii!!!" Selatan buru-buru ngibrit sebelum orang tak dikenal ngamuk.
"Emang setan lo ya!" pekik Andri dilihat banyak orang yang cengengesan.
"Apa lo ketawa-ketiwi?! Gue cukur juga itu bulu bawah lo!" teriak Andri melongos kembali ke kelas. Positif thinking aja mungkin maksud dia bulu kaki.
Sedangkan di lapangan semua murid sudah bubar dari acara eksekusi anak dugong yang dilakukan untuk menghukum mereka.
"Sorry gak bisa bantu lo, capek gak?" ucap Nauval duduk di samping Gabriel yang sedang cabut rumput, ralat duduk.
Gabriel mengangguk pelan tanpa menoleh, Nauval tersenyum jahil.
"Kalo capek nyandar di bahu gue aja, gue siap sedia lo."
Ini nih, ini, kalo tutup yakult dikasih nyawa, bikin usus buntu. Gabriel menoleh sebentar dengan tatapan jijik.
"Lo ngundang jelangkung tadi?" ujar Gabriel sambil menatap sinis cowok yang berdiri sambil menatap mereka, tajam.
"Enggak tuh, EH SOHIB GUE LU KATA JELANGKUNG!?" pekik Nauval melihat Elang menghampiri mereka lalu duduk di samping Nauval.
"Beruntung lo kali ini."
"Apaan sih lo dari jaman ke jaman gak bosannya ngerecokin gue!" bentak Gabriel nge gaspoll.
Mantap, gaskeun.
"Bukannya kebalik?" tantang Elang.
"Lo yang luan coy! Eh mas bro emang siapa yang maen ngusir gue pas baru nyampe sini?" kata Gabriel dengan mata melotot, Elang diam sebentar bukan karena ucapan celurit yang lagi kemakan kobaran api. Ia seperti mengingat sesuatu tapi,.. ah bodo!
"Ah bikin mood gue ancur aja lo," decak Gabriel beranjak dengan muka asem.
"Eh bang, bini lu ngambek tuh gak lu kasih uang belanja wakakakka," ledek Nauval lari ngibrit dan tanpa sengaja menabrak...
Jodoh? Bukan.
Gebetan? Bukan ugha.
Tetangga? Ngaco, lu Bambang.
"Eh ada abang ganteng, so far away no cipika cipiki cyin..." Nauval bergaya ala-ala mak rempong arisan, ini ni bangsat rasa emak-emak, gaul coy!
Pak pitak menatap Nauval dengan marah, kumisnya itu lo menggeliat kek ulat bulu.
"Bandel lagi bapak cubit pentil kamu!" peringat Pak pitak sedangkan Nauval memegangi dadanya dengan rasa geli-geli wanjay.
"Amboii.. rambut bapak abis disemir pak? kinclong beut kek dadar gulung!" Nauval ketawa guling-guling dan benar saja pentilnya ditarik Pak pitak membuat ia meringis kesakitan.
"Ih bapak, kita bukan mahram lo," Nauval makin menjadi membuat Pak pitak kesal warbyasah hingga membacakannya Yasin.
"Bapak ganteng," panggil Selatan dari kejauhan, satu celurit datang dan cepet almarhum si Pak pitak.
Selatan berlagak pura-pura baik dengan menyalam beliau lalu memasang muka sedih sambil memegangi pipi, nah ini dia otak kambing niat banget ganggu orang.
"Pak tadi kan saya lewat di kantin bantuin buk Markonah jaga kedai eh bokong saya dipites abistu muka saya dibaku hantam sama Zean, kerad emang siswa di sini ya pak," adu Selatan dengan ngibul no jutsunya.
"Nanti bapak hukum dia," ucap Pak pitak bergegas meninggalkan mereka berdua.
"Saudara gue...." ucap Nauval dengan derai airmata tumpah kek air terjun. Nemu orang yang satu pemahaman emang paling menyenangkan, tul gak?
"Saudari gue..."
"Anjir lu kira gue ladies?!" Ucap Nauval ngambek.
"Iya... Eh, enggak maksudnya."
"Kantin yok dek gue traktir lo yang bayar,"
"Sama aja gue yang bayar, monyet terbang... Pinter atau pinter sihh?" Dan sejak saat itu dua celurit sah jadi kakak-adek.
Saat berjalan ke arah kantin suara cempreng cewek membuat para siswa nutup hidung, ralat again, nutup telinga berjamaah.
"DASAR B*TCH! MUKA JELEK GITU MASIH KUAT NGEHINA ORANG, DIAZAB LO NTAR MASUK IND*SIAR!" teriak Andri kesal sambil naik meja mirip Shaolin lagi ngejutsu.
"KOK LO YANG SEWOT SIH??! EMANG TEMEN LO ITU BISU APA!!?" Teriak Sandra beserta gengnya yang dulu juga pernah membully Gabriel di WC.
"Gue gak jago adu mulut, tapi kalo adu fisik silahkan. Gue ladenin," ucap Gabriel membuat pasang mata yang melihatnya berbinar-binar seperti sedang menonton bioskop film laga.
Karena bukan hanya Gabriel, seluruh rakyat SMA Generasi Bangsa juga eneg dengan geng terasi begituan. Kenapa terasi? Karena cuma keliatannya doang pedes pas dirasa ada rasa tomatnya gitu, bikin eneg!
"BISA ADU FISIK? DIHAJAR KEMAREN LO KAYAK ANAK CULUN HAHAH!" Teriak Sandra tertawa dengan dayang-dayangnya.
BRUUGGHH!!!
Kali ini Gabriel tidak lagi seperti anjing yang diikat lehernya, majikannya sudah pergi dan sifat aslinya mulai timbul di permukaan, ekspresi murid-murid yang melihat pukulan Gabriel menjadi saksi bahwa gadis itu tidak main-main dengan ucapannya. Dia, Ratu Psikopat.
Darah mengalir deras di tangan cewek itu, kepalan tangannya membuat garis tulangnya semakin nampak disertai tetesan darah yang mengalir segar di jari-jarinya. Bahkan, guru sekalipun terdiam melihat pertengkaran hebat yang baru saja terjadi.
Sandra memegangi mulutnya yang mengeluarkan darah dan melihat dua benda berwarna putih berdarah jatuh dilantai,
Gigi.
"APA! GIGI GUE??!" Sandra lari pontang-panting. Hening sejenak sampai suara tepuk tangan sayup-sayup terdengar mengiringi langkah Sandra yang lari entah ke mana.
"Gue lebih bahaya dari penglihatan lo," ucap gadis itu dengan kepalan tangan berdarah menatap Elang sinis, sangat sinis.
****