
"Ingin mengajakmu ketitik temu, supaya kamu tahu kamu pernah semenyenangkan dulu."
- Gabriel. S.A. (sarjana ayam)
• • •
Elang's Pov.
"Lo punya mulut, kan?"
"Maaf." kata dia, gue terdiam sebentar.
.
.
.
"Berarti benar?"
Dia menunduk dalam, membuat perasaan gue campur aduk. Marah, kecewa, dan senang.
Nafas gue gak beraturan, saat pikiran gue mulai memanas gue memilih buat mendinginkan kepala.
"El..." suara dia membuat langkah gue berhenti, gue belum siap ngelihat dia. Ngelihat masa lalu gue, indah tapi berduri.
"Maafin gue," tangan gue mengepal kuat. Marah. Dia gak pantas ngucapin kata maaf. Gak menunggu lama, lalu pergi dari ruangan yang menjadi saksi bisu fakta yang menyakitkan.
***
Cukup lama gue terdiam, memerhatikan langit sore yang didominasi warna emas. Indah, tapi hanya sebentar. Seperti Ann, hanya sebentar datang lalu pergi. Apa itu disebut indah?
Tapi, sebelum gue sadar dia datang tanpa bilang apa apa. Diam, dan gak menjelaskan apapun setelah ngirim gue kerumah sakit sendirian, Dia pindah sekolah dan rumah.
Setelah dia pindah gue sempat ngalamin yang namanya pembullian oleh teman sekelas, hari hari gue yang ceria diganti dengan mendung. Setelah lulus SMP gue memutuskan pindah ke rumah, melupakan diri gue yang dulu. Menggantinya dengan diam.
"Woi Dora Gondolan! Lo apain mantan gue?!" sahut seorang cowok pirang disamping gue.
"Hm."
"Hm? Maksud lu apa? Ngajak gelud?" nyaho dia sekali lagi, gue memerhatikan kresek sampah berharap ada orang yang mau nyumpal mulut Selatan.
"Dia pingsan."
"Bukan urusan gue," jawab gue, Selatan tiba tiba tertawa lepas. Tawanya terhenti lalu bersuara,
"Walaupun gue bukan Kang Rhoma Irama lagi banjir duit,, gue tahu.." dia diam sebentar, menatap gue dengan wajah tengilnya. Gak nyambung.
"Lo suka Gabriel, kan?"
"Gak!"
"Lo panik. udah berhenti sok jadi batu, Lo bukan manekin bro, sebelum dia pergi gue kasih tau lo sebelum menyesal."
"Gak peduli."
"Oke, beli cireng yok!" tunjuk dia ke pedagang Es doger.
Sehat?
"Ogah," dengus gue berjalan menuju parkiran rumah sakit, pulang kerumah.
"Elang, sebagai sesama cowok yang pernah merjuangin dia. Gue tahu masalah lo sama Gabriel, dia udah cerita kok." suara Selatan tiba tiba, membuat dada gue terasa aneh.
"Dia masih sayang lo, lo harus tau dia udah berjuang mati matian buat berubah."
"Dan satu lagi, dia sakit. Lo kenal dia jauh lebih baik dari gue, jadi lo tahu apa yang dia alamin sampai trauma gitu."
Dia menghela nafas, menepuk pundak gue. "Hilangin keegoisan lo, gue juga sayang dia Lang. Tapi gue tahu, bahagia dia cuma buat lo, bukan buat gue. Tolong jangan buat dia nangis. Gue mohon sebagai cowok yang ngenyayangin dia."
Sekarang apa yang harus gue lakuin?
___________
06.30
Mata gue gak berhenti pada layar pipih dimeja, setelah mengirim pesan ke Gabriel tadi malam, paginya masih belum dibalas.
"Ck," decak gue kesal, gak seperti hari senin biasanya, hari ini hujan deras. Gue mengeluarkan mobil menuju ke sekolah.
"Bro..." sambut cowok pirang, Selatan.
"Nih, buat lo. Selamat atas penyesalan lo hari ini dan hari kemudian." ucap dia, wajahnya murung. Sebuah buku kecil berwarna hitam dia sodorkan, gue sedikit terkejut.
"Apa maksud lo?"
"Dia pindah, ini buat lo. Tolong hargai kalau lo masih punya hati."
.
.
Deg.
Apa?!
Karena merasa gak yakin gue buru buru keruang kepala sekolah tanpa peduli rasa takut terhadap Papa.
"Pa," panggil gue, menatap seorang pria dingin yang duduk didalam ruangan.
"Gabriel pindah?"
"Ya. Apa ada masalah?" jawab dia curiga, gue menggeleng singkat.
"Gak, Papa gak mindahin dia, kan?"
"Jangan salah paham, dia kemarin datang sendiri kesini mengurus surat pindah."
"Hm."
Jantung gue masih berdetak keras, pikiran kacau. Beberapa kali sahutan cewek cewek gatal yang beradu adu saling menyapa gue hilang. Apa sesakit ini? Dua kali dia pergi tanpa alasan. Sial!
Rooftop menjadi pelarian gue, dengan tidak sabar gue menelepon Gabriel, namun nomornya udah gak aktif, sama seperti dulu. Hilang ditelan bumi. Ck.
Gue yakin bahkan dia pindah rumah tanpa ninggalin sedikitpun jejak. Gue memerhatikan sebuah buku kecil yang selalu dia bawa belakangan ini, jadi dia udah merencanain semuanya dari awal?
Apa dia lagi menertawakan gue? Berhasil ngebuat gue kecewa lagi? Dia satu satunya orang yang paling lihai ngebuat pikiran gue sakit.
"Arrgh!" decak gue memukul lantai.
"Beneran nyesal toh? Gue kira lo betul betul batu hahah." sahut Selatan tiba tiba.
"Diam."
"Jadi apa yang bakal lo lakuin sekarang?" tanya cowok yang dari kemarin gak ada habisnya nguntitin gue. Selatan bengek.
"Cari dia."
"Ha? Lo sehat?"
"Kenapa?" ketus gue gak suka.
"Lo mau pergi cari dia di London yang luasnya naudzubillah? Kalo lo udah gak sehat ya terserah lo deh." kata dia duduk disebelah.
"London?" kaget gue.
"Yap. Ikut Papanya." kata dia menatap kelangit.
"Lo sendiri?" tanya gue penasaran.
"Gue?" Dia berhenti sebentar, mengalihkan tatapannya kelangit, lalu bersuara. "Yah, gitulah. Mungkin gue bakal berhenti berjuang sesuai keinginan dia, tapi gue gak akan berhenti mencintai dia, apapun alasannya, hehe." Selatan nyengir lebar, gue tahu perasaan dia lebih tulus daripada gue.
"Tapi kalau lo masih mau merjuangin dia, sebaiknya lo pikir baik baik." Dia bangkit, lalu menepuk pundak gue, tanpa bacot lagi dia pergi dengan bunglon di atas rambut yang lagi natap gue, ironis.
Setidaknya ucapan dia membuat pikiran gue mendingin lagi. Apa yang harus gue lakuin udah jelas.
1 tahun lagi.
Setelah lulus sekolah, gue akan cari dia disana. Lihat apa yang bakal gue lakuin kalau ketemu cewek cicak itu.
Gak peduli berapa tahunpun disana, seberapa luasnya disana, ataupun nasib sial apa yang menunggu gue disana. sebelum menemukan dia, gue pastikan gak akan pernah menapak di Indonesia kecuali bersama dia, Ann-nya El.
*****
Bingung? Sama saya jugak 😞