
1 tahun berlalu....
"Arrrggh!!!" kesal gue, mengacak-acak rambut sambil duduk di jalanan teduh yang dipenuhi pohon. Walaupun hampir setahun gue mencari cari tapi semua petunjuk habis musnah, dia pergi tanpa jejak! Sial!
Kemarin gue dapat kabar, kalau Gabriel pernah menjadi Mahasiswi di Universitas ternama di London, Oxford. Tapi semuanya hilang. Dia berhenti kuliah dan pupus sudah semua yang gue cari.
"Sialan, ke mana sih lo?!" decak gue, beberapa cewek yang bule yang lewat memasang wajah sok peduli, bodo amat. Gue mau nangkap cicak itu, cuma susahnya kayak bangun Candi Borobudur.
Bahkan empat bulan yang lalu gue bertemu dengan Ayahnya di sebuah minimarket, tapi gue hilang jejak lagi dan malah hampir ketabrak truk.
Angin dingin membuat gue makin kalut, apa gue berjuang sia-sia?
Sial!
Gue udah janji, gak akan pernah menapak di Indonesia kecuali dengan dia. Apa dia memang udah gak ada lagi di bumi? Atau perlu gue cari di saturnus?
"Hei? What are you doin' here?" sahut seorang cewek dengan tas selempang di bahu kiri, Jessica. Gue berteman hampir 5 bulan dan dia tahu alasan gue ke sini. Dengan baik hati dia mau bantu gue cari Gabriel.
"Doing nothing, are you have some idea? I was tired to found her."
Rasanya sifat lama gue udah gak diperlukan buat nyari tuh cewek. Gue gak bisa jadi cowok dingin yang membiarkan cintanya pergi, kalau Tuhan baik pasti gue lah sumber bahagianya, dan itulah alasan gue ke sini. Mencarinya untuk dibahagiakan.
"Umm... Kinda you should be patient more and more haha, just kidding."
"Are you loving her?"
"Sure, what's wrong?" gue menatap dia, mata birunya memang unik dan bibir pink naturalnya bagus. Sayangnya semua ketutupan sama wajah tembok cicak itu, arrgh.
"Listen to me," kata dia, gue merubah posisi menghadap Jessica. Siapa tahu dia udah dapat petunjuk.
"I love you. I wouldn't hurting you, but honestly i scared. You're wasting your time for somebody who wants your gone,"
Perkataan Jessica membuat gue tercengang. Dia nasehatin gue? Gue berdecak kesal membuat dia takut, rambut pirangnya terhembus udara dingin perkotaan London.
"Leave me, give me time. Please."
Dia pergi dengan wajah tertekuk, dia memang baik, cantik dan ramah. Tapi, gue udah punya satu orang yang berkuasa di hati.
"Apa yang dia bilang benar? Gue berjuang buat seseorang yang gak menginginkan kehadiran gue?"
Buku hitam itu jadi pelarian, memang semua isinya udah gue baca semua dan itu buat gue makin menyesal menyiakan waktu dengan dia di rumah sakit, hari dia mengaku kepura-puraannya. Gue gak mau munafik lagi, gue rindu dan pengen dia balik.
Lembar terakhir di buku itu menggambarkan Ann yang puitis, inilah Ann yang sebenarnya. Berbeda dengan Gabriel, namun mereka sama.
Ya, aku percaya semua hal asing di dunia ini termasuk cinta, rindu dan perasaan. Meskipun jagad tercipta dari kepingan kecemasan namun tetap saja, cinta akan menjadi perihal yang paling aku cemaskan.
Aku melihatnya dan tak bisa memeluknya, kamu dan aku tahu, ada hal di dunia ini yang tidak dipisahkan jauh.
Kursi taman menjadi saksi, ia tidak beranjak ke mana-mana, El. Ia tidak menginginkan apa-apa selain kepulanganmu. Kita pernah saling membenci, memaki dan bahkan meninggalkan karena tak pernah sejalan.
Kita seperti reruntuhan masa lampau, yang tak dikenal waktu yang berkelana. Mungkin ini hanya antara kita dan Tuhan, percaya saja semesta akan merindukan waktu kita bersama.
Aku ingin pergi, El. Menyakitkan memang pergi tanpa memberi kabar padamu. Tapi akan lebih menyakitkan kalau kamu lupa denganku, itu hanya menjadi kesepian yang tak berujung, aku sama sekali tidak menginginkan itu.
Tapi, El berhak untuk bahagia. Tidak bersama lebih lagi untuk Ann, El harus percaya kalau Ann sudah berubah tapi belum bisa sembuh.
Aku sudah beberapa kali meyakinkan, bukan? El harus cari Ann yang baru. Ann yang punya masa depan, aku hanya ingin El bahagia dengan itu aku bisa pulang dan menceritakannya pada Tuhan. Kamu harus bahagia dan berhenti mencariku, bukannya sudah kubilang beberapa kali di buku ini? Aku takut kamu kecewa ketiga kali, dengan itu semesta akan mengutukku. Mereka akan membenciku lagi...
El...
Aku ingin kamu pergi dari London, berhenti mencariku. Aku tahu kamu di sana. Tolong pulang dan cari bahagiamu.
Datangnya kamu akan membuat aku tambah sakit, aku bersalah atas semua hal yang menyakitkan. Tolong benci aku. Aku tidak apa apa, itu pantas bagiku. tapi jangan lupakan Ann ya? Aku takut kesepian.
Bagaimana? Sudah ingin pulang, atau masih menyiakan waktu? Kamu sudah berjuang El, sayangnya untuk manusia yang hidup tapi mati.
Sekali lagi aku memohon, El, lupakan Ann. Cari Ann yang baru. Aku tidak menginginkanmu, bahagia sudah cukup untuk sisa umurku. Pergi, dan bahagialah dan itu adalah keputusan yang terbaik.
Ah iya, sayangnya tidak ada ruang menulis lagi di sini, kuharap kamu mau mencairkan es kutubmu itu untuk cewek lain, oke? Janji?
Dari Ann.
01 November 20XX.
Sekuat tenaga gue mengumpulkan oksigen, nafas tercekat setelah membaca tulisan itu berkali-kali, tapi gue masih ingin berjuang..
Kok gue jadi mulai cengeng sih? Arrggh!
Tanpa sadar, langit mulai berwarna emas teduh. Mungkin ucapan Jessica perlu dipertimbangkan, gue gak perlu pulang dengan Ann lama. Mungkin dengan Ann yang baru, dia pantas menjadi Ann karena gue pun gak keberatan.
Tapi...
Sakit.
Gabriel lo di mana sih!!?
Oke gue nyerah, lo berhasil membuat gue nunduk seperti anjing. Kasar? Memang.
Sekarang saatnya gue harus membuka lembar baru, dengan menelpon Jessica..
"Hello..?"
Nada dia rada serak, dan gue tahu dia barusan menangis.
"Jessica,.. Maybe i should be with you. Hope you give me a second choice," kata gue campur aduk, namun suara di seberang sana membuat sesuatu terenggut dari hidup gue.
"Um... Of course."
******